Oleh Abdullah Alawi
Padahal hari menjelang sore dengan suasana tak seindah dalam cerita Seno Gumira Ajidarma. Di langit awan bergumpal-gumpal. Di barat, matahari redup kehilangan bahan bakar. Orang-orang hampir mengakhiri pesta kerja, menuju pulang. Sementara di kamar suntuk ini, saya mencangkung berjam-jam di bibir jendela. Tak ada yang dilakukan selain mengasapi paru-paru dengan berbatang-batang rokok. Tapi kurang afdol, belum ngopi seteguk pun. Wah, bagaimana hukumnya, hampir malam kok belum ngopi?
Supaya afdol, saya ngeloyor ke warung kopi 24 jam yang ternyata lengang. Saya memesan kopi pahit dan sebungkus rokok kretek. Setelah di tangan, saya pun merogoh saku celana. Uang yang kudapti telah bergulung-gulung ringsek. Saya merapihkannya. Ketika hendak menyerahkannya, sudat mata saya melihat kejanggalan pada selembar uang itu. Saya pun menariknya. Ketika diperhatikan, ternyata ada tulisan tangan dengan tinta warna biru.
Seketika, pikiran saya tergelitik untuk membacanya. Tulisan itu berbunyi demikian:
cinta kadang menyenangkan
kadang menyakitkan.
ketika hendak jujur qukatakan
kepadamu bahwa kamu
yang paling mengerti. tak akan ada
yang lain yang menggantikan
dirimu disini
Tak ada paragraf, huruf kapital dan hanya satu tanda baca, titik. Dan pada kata ‘kukatakan’, huruf ‘K diganti dengan ‘Q’. Ukuran hurufnya kecil-kecil dengan kualitas bagus.
Jika Saudara pernah memegang uang seribuan, di belakang gambar Pattimura, di sebalah kiri, ada ruang kosong berwarna putih. Di sudut atas ada angka seribu vertikal. Di bagian kosong itulah kalimat-kalimat itu tertulis.
Sebagai keterangan lain, di bawah tulisan itu tertulis NKL 908007. Di tengah terdapat sebuah danau dengan dua nelayan di atas perahu. Latarnya dua buah gunung. Di sudut kiri atasnya ada keterangan; pulau Mataira dan Tidore. Di bawahnya, ada tulisan demikian dengan huruf kapital DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BANK INDONESI MENGELUARKAN UANG SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN YANG SAH DENGAN NILAI SERIBU RUPIAH.
Di sudut kanan atas ada tulisan Bank Indonesia. Dibawahnya; WCY046048 dengan warna merah. Di sudut kanan bawah, lagi-lagi menegaskan bahwa uang ini benar-benar 1000 rupiah, bukan 6,7 triliun.
Saya pun menukar uang itu dengan yang lain. Setelah membayarnya, saya kembali ke kamar dan mencangkung di bibir jendela. Pikiran terpaut pada uang yang saya baca berulang-ulang.
Siapa penulisnya? Apa jenis kelaminnya? Orang mana? Tinggal dimana? Pertanyaan berhambur berdesak-desak.
Alamak, muskil sekali memecahkannya. Saya bukan filolog, arkeolog, atau intelejen. Tapi tak menyerah, saya berkhayal seperti ini; pertama, jika ditinjau (sebenarnya saya tidak kerasan menggunakan kata ini) dari kreatifitasnya, catatan ini barangkali hanya sepenggal dari tulisannya yang berjilid-jilid. Penulisnya sedang melawan EYD. Atau seorang penulis muda berbakat tak punya ruang hingga mengekspresikannya pada uang itu. Suatu saat dia mendapat Nobel. Karyanya menginspirasi karya-karya lain dari para kritikus.
Kedua, jika ditinjau dari isinya, barangkali dia sedang curhat pada seseorang, tapi dengan pertimbangan tertentu, dia mengungkapkannya pada uang ini.
Dan ketiga jika ditinjau dari sudut serampangan, barangkali penulisnya seorang yang sedang iseng saja.
Saya menahan uang itu berminggu-minggu. Pertimbangannya, barangkali dipertemukan dengan catatan lain menjadi semacam curhat bersambung seperti cerita bersambungnya Negeri Senja di sebuah surat kabar. Tapi tak kunjung datang.
Entah di minggu ke berapa, uang saya semakin menipis. Sementara ngopi tak bisa ditunda. Saya gelagapan karena sudah menahan diri banyak hal, masak untuk ngopi saja mesti ditahan. Tapi bukankah saya sedang menunggu curhat bersambung?
Saya gelap mata, ternyata ngopi lebih urgen dan mendesak. Keputusan tanpa mufakat, saya melepasnya. Tapi saya menginginkan alasan yang lebih kuat. Saya pun berpikir demikian. Berdasar tinjauan yang kedua di atas, saya berkesimpulan demikian; "jika saya menahan uang ini, berarti curhat ini akan semakin lama sampai kepada orang yang dimaksudnya. Saya bisa berdosa karena telah berbuat zalim pada penulisnya. Sudah banyak dosa saya dan tak ingin menambahnya."
Saya pun melepasnya untuk kopi. kemudian menghisap rokok sambil mencangkung di bibir jendela menjejalkan asap ke rabu sekuat-kuatnya.
Jika selembar uang itu sekarang berada di tangan Saudara, percayalah uang itu pernah saya tahan berminggu-minggu. Saya berpesan janganlah Saudara melakukannya. Segeralah melepasnya supaya lebih cepat sampai kepada yang berhak. Berarti Saudara telah membuat kebajikan. Meski sepele, tapi begitu berharga bagi yang berkepentingan.
Jika Saudara yang menulisnya, maafkan saya telah menahannya berminggu-minggu...
Jumat, 29 Januari 2010
Jejak Cinta(?) yang Berliku atawa Curhat pada Selembar Uang
Label: catatan
Diposkan oleh Abdullah Alawi di 11:01 0 komentar Link ke posting ini
Selasa, 26 Januari 2010
Sejarah Tafsir Klasik di Indonesia
Oleh Abdullah Alawi
Pendahuluan
Islam masuk ke Nusantara –sekarang disebut Indonesia. Istilah Indonesia digunakan setelah mendapat kemerdekaan dari Belanda. Sebelumnya, dinamakan Hindia Belanda.- dengan membawa kitab sucinya, al-Quran. Umat Islam kemudian mempelajarinya, menelaahnya kemudian mempraktikannya dalam kondisi lokalnya masing-masing. Umat Islam Indonesia mengapresiasinya dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sebenarnya kalau dilacak lebih jauh interaksi Nusantara dan Timur Tengah sudah terjalin sebelum mereka memeluk Islam.
Interaksi antara muslim Indonesia yang belajar di di Timur Tengah khususnya Makkah dan Madinah –dua kota yang dianggap suci oleh umat Islam seluruh dunia karena di sanalah Islam lahir dan menjadi qiblat dalam salat- menciptakan semacam jaringan – meminjam istilah Azyumardi Azra-keilmuan. Pada waktu kedua kota ini pusat bertemunya para filosof, penyair, sejarawan muslim. Pada gilirannya interaksi tersebut mendorong untuk meneruskan tradisi penafsiran seperti di Timur tengah atau wilayah-wilayah lain. Pergulatan mereka dengan al-Quran membuahkan tafsir dalam bahasa Melayu Kuno, Jawa, Sunda Makasar dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga yang mengapresiasinya lewat sastra. Maka lahirlah syair-syair sufistik. Tetapi pada dasarnya masih tercium aroma saduran dalam wacana di mana Islam itu dilahirkan. Bahkan pada periode modern sekali pun sampai kontemporer bau itu masih terasa. Cuma pada era kontemporer, aroma Baratnya sangat kentara. Itulah mungkin yang menegaskan bahwa Islam Indonesia seperti yang disinyalir kuntowijoyo sebagai lampiran dari Islam di daerah lain. Dan pantas dikatakan sebagai periferal atau pinggiran.
Sekilas Sejarah Islam Indonesia
Sejak akhir abad ke-13 atau mungkin juga abad ke-12 atau bahkan abad ke-11 di Samudera Pasai atau di daerah Leran Jawa Timur telah ada yang sudah masuk Islam. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya makam yang bertuliskan Arab di kedua tempat tersebut yang bertahun 1297 (Pasai) dan (1102) Leran. Selain itu, Marco Polo menyebutkan bahwa daerah Perlak sudah masuk Islam. Ibn Batuta, seorang pengembara muslim asal Maroko mengatakan hal yang serupa tentang perjalanannya yang mengunjungi Pasai tahun 1345 bahwa masyarakat setempat sudah masuk Islam. Bahkan ada yang menyebutkan Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7 dan terjadi gaung yang luar biasa perkembangannya ketika abad ke-13. pada masa ini Islam memberikan ruh untuk mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
Ada beberapa teori tentang kemunculan Islam ke daerah Melayu atau kawasan Asia Tenggara. Pertama, adalah teori yang menyatakan bahwa Islam langsung datang dari Arab atau tepatnya dari Hadramaut. Teori ini pertama kali dikemukaan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Nieman (1861), de Hollander (1861) dan Veth (1878). Teori semacam ini hampir senada dengan yang dikemukakkan oleh Hamka dalam seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia tahun 1962. yang kedua, ada yang mengajukan teori bahwa Islam datang ke Indonesia melalui India. Teori ini dikemukakkan oleh Pijnapel tahun 1872 berdasarkan terjemahan Prancis tentang catatan perjalanan Sulaeman, Marco Polo dan Ibn Batuta. Teori inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh Snouk Horgrunje. Ketiga, teori yang dikembangkan Fatimi menyatakan bahwa Islam datang dari Benggal (sekarang yang disebut dengan Bangladesh).
Pada akhirnya, tidak ada teori yang bisa dianggap paling final. Penafsiran-penafsiran akan sejarah masuknya Islam ke Asia Tenggara masih terbuka karena sejarah adalah masalah penafsiran. Karena masa lalu bisa mempengaruhi masa kini dan masa depan, atau masa depan bisa berdampak pada masa lalu dan masa kini. Masa lalu tidaklah hadir dengan sendirinya, tapi 'dihadirkan'. Masa lalu baru berarti apabila ada yang membutuhkannya, ketika ada yang berkepentingan dengannya. Maka terjadilah penafsiran dan makna-makna baru. Maka ditulislah, lalu terbentuk teks. Tapi setidaknya teori-teori yang dikemukakan di atas bisa menggambarkan apa yang terjadi waktu itu. Karena sejarah tidak mungkin menghadirkan masa lalu secara detail dengan segala hiruk-pikuknya.
Pada makalah ini kami tidak bermaksud membeberkan tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia, tetapi lebih menekankan sejarah tafsir klasiknya.
Sejarah Tafsir Klasik Indonesia
Fase klasik berselang antara abad ke-16 hingga penghujung abad ke-19. fase ini ditandai oleh lahirnya karya-karya yang tidak cukup banyak, yang rata-rata adalah saduran dari satu atau beberapa literatur berbahasa Arab, dan berkutat pada terjemah, tafsir, atau tajwid al-Qur'an. Masa ini bisa dilacak sejak munculnya Hamzah Fansuri. Dia merupakan penyair yang masyhur pada saat itu. Meski dia tidak menafsirkan al-Qur'an secara keseluruhan, namun dia sering mengutip ayat-ayat al-Qur'an dalam syairnya. Dia dianggap sebagai salah seorang tokoh sufi awal paling penting di wilayah Melayu dan juga seorang perintis terkemuka tradisi kesusastraan Melayu. Memasuki abad ke-17, kajian al-Quran di Nusantara semakin berkembang. Pada masa ini, Syams al-Din al-Sumatrani -muridnya Hamzah Fansuri- melanjutkan tradisi yang dilakukan oleh gurunya, yaitu menukil ayat-ayat dalam belantara syairnya. Diperkirakan pada awal abad ini pula ditemukan suatu manuskrip tafsir surat al-Kahf yang berbahasa Melayu. Manuskrip ini diperkirakan dari potongan yang lebih lengkap yang hilang. Tafsir lengkap berbahasa Melayu kuno yang ditemukan pada abad ini adalah Turjuman al-Mustafid karya Abd al-Rauf Singkel. Dia menduduki jabatan sebagai Qadhi Malik Al-'Adili atau mufti, yang bertanggung jawab atas administrasi masalah-masalah keagamaan di Istana pada masa itu. Pada abad ke-18 tidak banyak ditemukan karya-karya seperti sebelumnya. Nyaris tidak ada produk tafsir pada masa ini. Ulama-ulama yang hidup pada masa itu tidak lebih hanya melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Fansuri dan Sumatrani. Baru pada abad ke-19 ulama-ulama kita bergeliat kembali melakukan aktifitas penafsiran yang signifikan. Pada masa ini ditemukan tafsir anonim dalam bahasa Makasar tanpa mnyertakan teks Arabnya. Sejumlah karya tafsir sederhana juga muncul dalam bahasa Jawa pada masa ini (kitab Quran :Tetedhakanipun ing Tembung Arab Kajawekaken setebal 462 halaman yang ditulis dengan huruf pegon dicetak oleh Lange&Co, Batavia, pada 1858. Baru pada penghujung abad ke-19 muncul lagi ulama mumpuni kelahiran Banten, Nawawi al-Bantani (1815-1898) yang menulis tafsir Marah Labid. Tafsir ini lebih sempurna daripada Turjuman al-Mstafid yang merupakan saduran dari tiga tafsir. Para ahli memposisikan karyanya setarap dengan tafsir al-Jalalayn, al-Khazin, atau al-Baydhawi. Tetapi mereka merasa kerepotan dengan memposisikan dia sebagai mufasir asal Indonesia karena dia menulis tafsir disana hidup lama di Mekkah hampir 66 tahun hingga wafatnya.
Karakteristik Tafsir Periode Klasik
Dari karya-karya tafsir yang muncul pada periode ini, bisa ditengarai ada beberapa. Pertama, teknik penulisan yang digunakan tergolong elementer. Dalam naskah Cambridge misalnya, tidak ada pemisahan ruang antara teks Arab al-Qur'an , terjemah dan tafsir. Ketiganya diletakkan dalam halaman yang sama tanpa pemisahan yang tegas kecuali perbedaan warna tinta. Manuskrip tersebut menulis surat al-Kahf dalam tinta merah diiringi terjemahan serta komentar dalam tinta hitam. Kedua, tulisan yang dipakai rata-rata menggunakan hurufArab pegon meski dalam bahasa Melayu atau Jawa. Ketiga, karya-karya yang ada cukup kaya rincian cerita, tapi cenderung mencampurkan penafsiran teks-teks al-Qur'an dengan bahan-bahan yang tidak sahih. Karya-karya tersebut menampakan pengaruh isra'illiyat yang kental. Bahkan dalam manuskrip tangan surat al-Kahf di sana-sini terdapat selingan panjang berupa anekdot-anekdot yang berasal dari budaya Melayu. Keempat, pengaruh literatur atau tafsir-tafsir Arab sangat tinggi. Hal itu disebabkan akses ke ulama-ulama selain Timur Tengah masih belum terbuka.
Selain itu, karya-karya pada periode klasik ini ditengarai adanya aroma sufistik. Hal ini menjadi mungkin karena pada masa itu nuansa sufi mewarnai keberislaman penduduk nusantara (utamanya Melayu, Jawa) dalam segi tertentu Islam sufistik ada kecocokan dengan latar belakang masyarakat setempat yang dipengaruhi asketisme Hindu-Budha dan sinkretisme kepercayaan lokal. Pada kasus Jawa pengaruh Islam menimbulkan jenis teks-teks Jawa yang mengandung ajaran Islam. teks-teks Jawa ini disebut primbon, serat, suluk dan wirid yang seluruhnya disebut dengan teks Islam Kejawen. Islam tahap pertama ini kental aspek tasawufnya atau mistik ajaran islam, namun hal ini tidak berarti aspek hukum (shari'ah) terabaikan sama sekali. Tokoh yang refresentatif tentang kesufian pada tahap awal ini adalah Hamzah Fansuri dan yang dari kubu shari'ah adalah Nur al-Din al-Raniri.
Beberapa karya dari luar Melayu yang ditulis pada masa klasik diantaranya adalah manuskrip cetak kitab Kor'an yang merupakan terjemahan al-Quran dalam bahasa Jawa dengan huruf pegon, sebuah teks berasal dari dari awal abad ke-19 yang tertulis dalam bahasa Makasar yang merupakan parafrase al-Qur'an .
Perkembangan tafsir di Indonesia tergolong sangat lamban. Ada beberapa penyebab dari kondisi demikian, di antaranya:
a. Tafsir tidak termasuk pelajaran utama dalam kurikulum pesanteren mengingat banyak ulama yang berpandangan bahwa yang memenuhi persyaratan khusus sajalah yang boleh menerjemahkan al-Qur'an.
b. Penerjemahan al-Quran dianggap haram oleh sebagian kalangan.
Penutup
Tentunya gambaran tentang sejarah tafsir klasik Indonesia masih belum lengkap. Masih banyak naskah-naskah yang luput dari para peneliti. Sejarah adalah sesuatu yang diam dan bisu hanyalah kita yang mengungkap dan menyuarakannya. Banyak yang mengeluhkan kelangkaan data yang menggmbarkan era klasik ini. Itu disebabkan tiadanya tradisi pemeliharaan naskah dalam waktu lama. Kendatipun demikian, kita mesti berbangga hati ada naskah yang bercecer yang sampai ke tangan kita.
Pada periode klasik tafsir di Indonesia muncul ulama-ulama yang tergabung dalam jaringan Timur Tengah -contoh refresentatif adalah al-Raniri dan al-Sinkili- yang menciptakan karya tafsirnya dalam berbagai bahasa. Tetapi jumlahnya tidak cukup signifikan. Kebanyakan karya muncul adalah saduran dan terjemahan dan Timur Tengah sentris. Tradisi penafsiran agaknya masih menjadi milik mereka yang mengenyam pengetahuan dari kawasan pusat Islam sehingga wacana lokal tidak banyak merasuk dalam karya tafsir waktu itu. Bahkan tingkat ketergantungan akan referensi dari luar berlanjut pada masa-masa selanjutnya.
Kecenderungan penulisan tafsir pada masa ini masih tergolong elementer. Tulisan yang digunakan adalah huruf Arab pegon dalam bahasa Melayu atau Jawa. Aroma israilliyatnya sangat kentara.
Meski animo untuk melakukan studi al-Quran cukup baik, namun tradisi penafsiran masih tergolong ketinggalan daripada wilayah-wilayah lain. Hal ini bisa disebabkan tafsir tidak menjadi menu utama kajian di pesantren-pesantren. Kemudian diperparah dengan anggapan bahwa penerjemahan al-Qur'an hukumnya haram.
Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, "Perspektif Islam di Asia Tenggara", (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia: 1989)
Azra, Azyumardi, "Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, Akar Pembaruan Islam di Indonesia" (Jakarta: Prenada Media, edisi revisi, 2004)
Nahrowi, Izza Rohman, "Karakteristik Kajian al-Qur'an di Indonesia" (Refleksi, Vol.V, No. 2 2003)
Izza Rohman, Nahrowi, Profil Kajian al-Qur'an di Nusantara Sebelum Abad Kedua puluh", (Al-Huda, Vol. 2, No. 6, 2002)
Nurtawab, Ervan, " Senarai Tafsir dan Terjemah al-Quran Klasik di Jawa dan sunda sebelum Abad ke-20", (Refleksi, Vol. V, No. 2, 2003)
Label: makalah
Diposkan oleh Abdullah Alawi di 11:55 0 komentar Link ke posting ini
Minggu, 24 Januari 2010
"Selamat Jalan, Gus"*
Oleh Abdullah Alawi
Di penghujung 2009, segenap anak bangsa di tanah air ini terperangah. Putera terbaik, bunga bangsa, wafat. Air mata dan bela sungkawa pun tumpah menggenangi Sabang hingga Merauke. Karangan bunga, rombongan ziarah, doa lintas iman, tahlilan, hingga anjuran presiden untuk kibarkan sang Saka setengah tiang selama tujuh hari, mengiringi kepergian sang Guru Bangsa.
Selama hidupnya, Gus Dur melakukan banyak hal untuk bangsa ini. Hal itu tidak terlepas dari keluasan horison pengetahuannya dan keluwesan pergaulannya. Dengan racikan kejeniusannya, beliau tuangkan dalam berbagai bentuk perjuangan: mulai sebagai kiai, aktifis pejuang demokrasi, pemikir, komentator sepak bola, budayawan, penulis, presiden, hingga negarawan.
Saat menjadi presiden, sering kali beliau membuat keputusan kontroversial; seperti pencabutan ketetapan pelarangan komunisme, marxisme dan leninisme, UU Kebebasan Pers, pembubaran Depsos dan Deppen, pencabutan Dwifungsi ABRI, menetapkan tahun baru Saka sebagai libur nasional, Dekrit Presiden membubarkan MPR, lawatan ke luar negeri hampir sebulan empat kali.
Sebenarnya, kalau diteliti, keputusan beliau itu selalu berdasar pada UUD 45. Tindakannya bervisi kebangsaan. Tujuannya adalah keutuhan bangsa. NKRI adalah harga mati. Pancasila sudah final.
Tapi upaya beliau tidak “gayung bersambut kata berjawab”, malah ancaman, cemooh, hinaan, hingga hujatan menyerang dari berbagai arah. Risiko yang pahit dan getir. Puncaknya, beliau serta-merta dilengserkan MPR, setelah 20 bulan memerintah.
Di Kick Andy, beliau mengaku bahwa kasus pelengserannya murni politis karena tidak pernah dibuktikan secara hukum. Dengan intonasi sesak beliau mengatakan, “Bangsa ini adalah bangsa penakut! Bangsa ini adalah bangsa penakut, karena tidak menindak orang yang bersalah. ”
Sejarah akan membuktikan, jasanya yang tak terbantahkan untuk bangsa ini akan terus dikenang. Bak gelombang samudera, visi kebangsaannya akan terus menerus hidup.
Label: catatan
Diposkan oleh Abdullah Alawi di 00:47 0 komentar Link ke posting ini
Kamis, 31 Desember 2009
"Posting"
Oleh Abdullah Alawi
Sudah dua bulan tidak posting tulisan; November kosong, dan masak Desember kosong pula. Saya mau posting tulisan tanggal 30 Desember, tapi mendengar Gusdur meninggal, bersama teman-teman takziyah ke Ciganjur hingga pagi, otomatis gagal posting tulisan malam itu.
Saya berencana posting tanggal 31 malam, selepas tahlilan buat Gusdur, tapi pas di warnet, tulisan itu dihajar virus. Tak ada satu pun tulisan yang bisa dibuka. Ya sudahlah, saya bikin tulisan ini untuk sekedar mengisi catatan bulan Desember...
Selamat jalan 2009
selamat jalan Gusdur
Kapan kita kongkow lagi....?
Label: catatan
Diposkan oleh Abdullah Alawi di 07:42 0 komentar Link ke posting ini
Sabtu, 31 Oktober 2009
Lelaki Itu…
Oleh Abdullah Alawi
Mobil angkot 35 terseok-seok kelelahan di bawah sengatan matahari. Warnanya kusam, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Bannya sudah gundul dengan sopir setengah baya yang di kepalanya melingkar handuk kecil. Mukanya kemerahan dialiri keringat. Di mulutnya terselip sebatang rokok yang hampir menjadi puntung. Hanya beberapa orang saja isi penumpangnya. Angkot itu berhenti di sebuah pangkalan ojeg. Beberapa tukang ojeg menyerbu angkot itu dengan gesitnya. Seperti magnet menarik besi-besi kecil. Dari dalam angkot itu keluar seorang lelaki. Beberapa tukang ojeg langsung mengerubungi lelaki itu seperti semut mengerubungi gula. Satu orang memegang tangan kirinya. Satu orang memegang tangan kanannya. Yang lain mngambil tasnya. Dan yang lain lagi membawa kantong plastiknya. Dan yang lainya lagi menarik-narik bajunya. Dia seperti maling yang kepergok yang pasrah siap menerima hakim massa. Lelaki itu kemudian membayar ongkosnya. Angkot itu kemudian berlari.
Sebagai tukang ojeg baru, aku hanya memperhatikan saja. Dalam beberapa hari ini aku hanya memperhatikan kejadian-kejadian, kebiasaan-kebiasaan di pangkalan ini. Aku selalu kalah dalam rebutan penumpang. Menjadi tukang ojeg adalah pilihan terakhir setelah aku bosan membikin surat lamaran kerja dan mendengar kata, ‘tak ada lowongan’. Aku melihat lelaki itu tenang-tenang saja. Dia seperti tidak kuatir akan barang-barangnya. Aku tahu ada saja temanku yang berlaku jahil dengan mencuri barang penumpang ketika terjadi ribut-ribut seperti itu. Sebenarnya dulu sudah ditertibkan, tapi setelah BBM naik, jadi tidak teratur lagi.
“Bang, Bojong, Bojong, ya.”
“Cilulumpang kan?!”
“Ciseupan?!”
Lelaki itu dengan sikap tenangnya menepis tangan-tangan tukang ojeg itu. Kemudian dia bicara,
“Tenang, abang-abang tukang ojeg. Tenang!”Kata lelaki itu seperti seorang pemimpin di hadapan anak buahnya. “Saya cuma satu orang dan Saudara-saudara begitu banyak. Kalau aku naik ojeg pada satu orang, berarti aku tidak adil.”
Mendengar kata-kata lelaki itu, aku kaget. Tapi tak semuanya tukang ojeg menyimaknya. Mereka lebih asyik
“Jadi sekarang bagaimana?”
“Berapa jumlah tukang ojeg di pangkalan ini?”
Sumin, seorang tukang ojeg yang paling tua yang sering dijadikan pemimpin dalam urusan-urusan tukang ojeg bicara,
“Kira-kira 23 orang.”
“Berarti saya harus naik ojeg 23 kali.”
“Bagaimana maksudnya ini?”
“Begini, Saudara siapa namanya?”
“Sumin.”
“Nah, saya pertama naik motor bang Sumin sampai di rumah saya. setelah itu, bawa lagi saya ke pangkalan ojeg ini. Mengerti?
Para tukang ojeg itu diam, setengah tak percaya bercampur heran. Ini mungkin pengalaman pertama selama hidupnya. Bang Sumin, tukang ojeg kawakan pun tak berbicara. Selama bertahun-tahun jadi tukang ojeg, baru kali ini mengalami peristiwa seperti itu. Mereka sebenarnya ingin saling menanyakan, tapi mereka sudah tahu tak ada yang bisa menjawabnya. Mereka hanya saling pandang seperti kena hipnotis. Tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Bagaimana Sudara-saudara, setuju?”
Mereka masih terdiam.
“Begini kalau kurang paham, Setelah abang itu membawa saya ke rumah dan membawa kembali ke pangkalan, kemudian…, abang ini siapa namanya?”
“Japar,” orang itu menyahut juga meski tak sepenuhmya mengerti.
“Nah, kemudian saya naik motor bang Japar sampai ke rumah saya juga. Setelah sampai di rumah, bawa lagi saya ke pangkalan ojeg ini. Begitu seterusnya hingga tukang ojeg terakhir. Setuju?”
“Setuju!” Tapi suara itu tidak serempak, bahkan cuma satu orang.
“Begini, saya punya usul,” kata salah seorang tukang ojeg memberanikan diri, “Bagaimana kalau duitnya saja yang dibagikan dan Saudara tak perlu naik ojeg kami seluruhnya. Itu jauh lebih mudah”
‘Iya, lagi pula Saudara tak perlu capek, Saudara kan habis perjalanan jauh dan perlu istirahat dan kami bisa irit bensin. BBM naik. Bensin mahal!”
“Iya,” kata yang lain hampir serentak
‘Itu berarti enak buat Sudara-saudara, dan tidak adil bagi saya. Saya sudah lama tidak naik ojeg. Saya senang naik ojeg. Saya sudah lama tidak pulang kampung. Masalah saya capek atau tidak, atau perlu istirahat dan tidak, itu masalah lain. Saya ingin naik ojeg sepuas-puasnya.”
“Wah, itu namanya Saudara menyiksa diri. Saudara bisa sakit. Berobat sekarang mahal.”
“Ini bukan masalah menyiksa diri atau tidak karena itu masalah saya. Apalagi masalah sakit dan rumah sakit. Dan Saudara-saudara tak perlu mempermasalahkannya. Permasalahannya sekarang adalah, Saudara-saudara mau atau tidak. Kalau mau katakan mau, kalau tidak katakan tidak. Selesai urusan.”
“Kalau ditanya masalah mau atau tidak, ya jelas kami mau daripada bengong di pangkalan ini.”
“Tapi ngomong-ngomong, berapa ongkos ojeg sekarang?”
“Lima ribu.”
“Karena saya bolak-balik, berarti saya membayar sepuluh ribu per orang, setuju?”
“Setuju!”
“Tapi saya punya satu permohonan lagi, kata lelaki itu.”
“Apa itu?”
“Selama di perjalanan Saudara-saudara harus setuju dengan kenaikan harga BBM. Jangan mengeluh, apalagi memaki. Itu bisa subversif. Itu keputusan pemerintah. Kita harus menghormatinya.”
Kontan saja kata-kata itu membuat tukang ojeg itu pada kaget. Hal yang kontradiktif dengan keinginan mereka. Selama ini mereka merasa tercekik dengan keputusan itu.
“Siapa sebenarnya Saudara ini?”
“Saudara pejabat?”
“ Intel?”
“ Propagandis kenaikan BBM?”
“Bukan! Saya bukan siapa-siapa. Saya sebenarnya orang daerah sini juga, tapi sudah sejak lama merantau. Saya warga negara yang baik, pengamal Pancasila seratus persen, pernah mengikuti penataran P4, hapal nama-nama menteri, bebas dari kasus G 30 S/PKI, menganut salah satu agama, keluarga ikut program KB, punya kartu tanda penduduk dan taat pada pemerintah.
Bukankah kita harus taat pada mereka?”
“Kenapa Saudara setuju atas kenaikan harga BBM? Bukankah kita malah kelabakan?
Harga-harga jadi naik!” Kata yang lain.
“Coba lihat saja. Sekarang orang banyak yang jalan kaki. Penghasilan kami berkurang.”
“Di kampung saya sekarang banyak beralih ke kayu bakar.”
“Pertanyaan Saudara-saudara itu seperti pertanyaan orang waras. Saya maklum pertanyaan orang-orang waras seperti Saudara. Dan seandainya saya waras, saya pasti akan bertanya seprti itu.”
“Sudah, sudah! Kita tidak usah berdebat tentang masalah yang bukan wilayah kita. Apalagi permasalahan waras dan tidak waras. Tidak ada untungnya dan tidak akan ada yang mendengarnya,” kata Sumin kesal. “Kalau ngojeg, ya ngojeg.”
“Iya, kita bukan politikus, atau pengamat. Mereka didengar omongannya, pemikirannya ditulis dalam buku tebal, dijadikan rujukan oleh kaum akademisi dan ada duitnya pula. Kita?”
“Saya setuju dengan bang Sumin. Lebih baik kita mulai saja ngojeg bolak-balik itu.”
Kemudian bang Sumin menyalakan mesin motornya yang sudah tua. Mesin menjerit. Knalpot memuntahkan asap. Kemudian berlari membawa lelaki itu meninggalkan pangkalan dilepas oleh pandangan tukang ojeg yang masih kurang percaya dan sedikit geli. Pangkalan yang biasanya ramai dengan sumpah-serapah, makian, dan guyonan cabul, kini sepi saja. Lelaki itu telah merampasnya. Mereka tak habis pikir ada orang deperti itu. Mereka lebih baik memilih diam. Diam lebih baik. Atau menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat. Beberapa saat mereka menunggu kedatangaan bang Sumin kembali. Ada kecemasan yang menyergap. Pikiran yang bukan-bukan menggerayangi batok kepalanya. Terasa begitu lama. Menunggu memang menyengsarakan. Pangkalan terasa mencekam. Yang tidak kuat menunggu, lebih baik pulang tanpa basa-basi. Kemudian dia akan menceritakan kejadian di pangkalan ojeg kepada setiap orang yang ditemuinya.
Lima belas menit kemudian, bang Sumin datang bersama lelaki itu. Kemudian lelaki itu menaiki motor bang Japar, kemudian bang Pokel, kemudian bang Bayan. Tidak tergurat di wajahnya keadaan lelah. Dia menikmatinya. Tukang ojeg sudah tidak canggung lagi. Mereka kadang-kadang ngobrol. Dan hingga aku yang terakhir.
Matahari sudah di barat. Cahaya emasnya masih menyemburat. Langit kelabu saja. Awan berarak menggumpal-gumpal menjelajah angkasa. Angin semilir bertiup. Sore semakin sore. Mendekati maghrib.
“Kalau boleh saya tahu, kenapa Saudara menyetujui dengan kenaikan harga BBM?”
“Begini, karena harga BBM naik, teman-teman saya di rumah sakit jiwa semakin banyak. Peningkatannya mencapai seratus persen. Saya tidak tahu persisnya kenapa demikian. Saya adalah mantan orang waras. Seandainya saya orang waras, saya juga tidak akan setuju. Sebelum mati, sempatkan dulu tidak waras, saudara pasti setuju kenaikan BBM”
Label: Cerpen
Diposkan oleh Abdullah Alawi di 10:07 0 komentar Link ke posting ini


