Sabtu, 31 Oktober 2009

Lelaki Itu…

Oleh Abdullah Alawi

Mobil angkot 35 terseok-seok kelelahan di bawah sengatan matahari. Warnanya kusam, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Bannya sudah gundul dengan sopir setengah baya yang di kepalanya melingkar handuk kecil. Mukanya kemerahan dialiri keringat. Di mulutnya terselip sebatang rokok yang hampir menjadi puntung. Hanya beberapa orang saja isi penumpangnya. Angkot itu berhenti di sebuah pangkalan ojeg. Beberapa tukang ojeg menyerbu angkot itu dengan gesitnya. Seperti magnet menarik besi-besi kecil. Dari dalam angkot itu keluar seorang lelaki. Beberapa tukang ojeg langsung mengerubungi lelaki itu seperti semut mengerubungi gula. Satu orang memegang tangan kirinya. Satu orang memegang tangan kanannya. Yang lain mngambil tasnya. Dan yang lain lagi membawa kantong plastiknya. Dan yang lainya lagi menarik-narik bajunya. Dia seperti maling yang kepergok yang pasrah siap menerima hakim massa. Lelaki itu kemudian membayar ongkosnya. Angkot itu kemudian berlari.

Sebagai tukang ojeg baru, aku hanya memperhatikan saja. Dalam beberapa hari ini aku hanya memperhatikan kejadian-kejadian, kebiasaan-kebiasaan di pangkalan ini. Aku selalu kalah dalam rebutan penumpang. Menjadi tukang ojeg adalah pilihan terakhir setelah aku bosan membikin surat lamaran kerja dan mendengar kata, ‘tak ada lowongan’. Aku melihat lelaki itu tenang-tenang saja. Dia seperti tidak kuatir akan barang-barangnya. Aku tahu ada saja temanku yang berlaku jahil dengan mencuri barang penumpang ketika terjadi ribut-ribut seperti itu. Sebenarnya dulu sudah ditertibkan, tapi setelah BBM naik, jadi tidak teratur lagi.

“Bang, Bojong, Bojong, ya.”

“Cilulumpang kan?!”

“Ciseupan?!”

Lelaki itu dengan sikap tenangnya menepis tangan-tangan tukang ojeg itu. Kemudian dia bicara,
“Tenang, abang-abang tukang ojeg. Tenang!”Kata lelaki itu seperti seorang pemimpin di hadapan anak buahnya. “Saya cuma satu orang dan Saudara-saudara begitu banyak. Kalau aku naik ojeg pada satu orang, berarti aku tidak adil.”

Mendengar kata-kata lelaki itu, aku kaget. Tapi tak semuanya tukang ojeg menyimaknya. Mereka lebih asyik

“Jadi sekarang bagaimana?”

“Berapa jumlah tukang ojeg di pangkalan ini?”

Sumin, seorang tukang ojeg yang paling tua yang sering dijadikan pemimpin dalam urusan-urusan tukang ojeg bicara,

“Kira-kira 23 orang.”

“Berarti saya harus naik ojeg 23 kali.”

“Bagaimana maksudnya ini?”

“Begini, Saudara siapa namanya?”

“Sumin.”

“Nah, saya pertama naik motor bang Sumin sampai di rumah saya. setelah itu, bawa lagi saya ke pangkalan ojeg ini. Mengerti?

Para tukang ojeg itu diam, setengah tak percaya bercampur heran. Ini mungkin pengalaman pertama selama hidupnya. Bang Sumin, tukang ojeg kawakan pun tak berbicara. Selama bertahun-tahun jadi tukang ojeg, baru kali ini mengalami peristiwa seperti itu. Mereka sebenarnya ingin saling menanyakan, tapi mereka sudah tahu tak ada yang bisa menjawabnya. Mereka hanya saling pandang seperti kena hipnotis. Tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Bagaimana Sudara-saudara, setuju?”

Mereka masih terdiam.

“Begini kalau kurang paham, Setelah abang itu membawa saya ke rumah dan membawa kembali ke pangkalan, kemudian…, abang ini siapa namanya?”

“Japar,” orang itu menyahut juga meski tak sepenuhmya mengerti.

“Nah, kemudian saya naik motor bang Japar sampai ke rumah saya juga. Setelah sampai di rumah, bawa lagi saya ke pangkalan ojeg ini. Begitu seterusnya hingga tukang ojeg terakhir. Setuju?”

“Setuju!” Tapi suara itu tidak serempak, bahkan cuma satu orang.

“Begini, saya punya usul,” kata salah seorang tukang ojeg memberanikan diri, “Bagaimana kalau duitnya saja yang dibagikan dan Saudara tak perlu naik ojeg kami seluruhnya. Itu jauh lebih mudah”

‘Iya, lagi pula Saudara tak perlu capek, Saudara kan habis perjalanan jauh dan perlu istirahat dan kami bisa irit bensin. BBM naik. Bensin mahal!”

“Iya,” kata yang lain hampir serentak

‘Itu berarti enak buat Sudara-saudara, dan tidak adil bagi saya. Saya sudah lama tidak naik ojeg. Saya senang naik ojeg. Saya sudah lama tidak pulang kampung. Masalah saya capek atau tidak, atau perlu istirahat dan tidak, itu masalah lain. Saya ingin naik ojeg sepuas-puasnya.”

“Wah, itu namanya Saudara menyiksa diri. Saudara bisa sakit. Berobat sekarang mahal.”

“Ini bukan masalah menyiksa diri atau tidak karena itu masalah saya. Apalagi masalah sakit dan rumah sakit. Dan Saudara-saudara tak perlu mempermasalahkannya. Permasalahannya sekarang adalah, Saudara-saudara mau atau tidak. Kalau mau katakan mau, kalau tidak katakan tidak. Selesai urusan.”

“Kalau ditanya masalah mau atau tidak, ya jelas kami mau daripada bengong di pangkalan ini.”

“Tapi ngomong-ngomong, berapa ongkos ojeg sekarang?”

“Lima ribu.”

“Karena saya bolak-balik, berarti saya membayar sepuluh ribu per orang, setuju?”

“Setuju!”

“Tapi saya punya satu permohonan lagi, kata lelaki itu.”

“Apa itu?”

“Selama di perjalanan Saudara-saudara harus setuju dengan kenaikan harga BBM. Jangan mengeluh, apalagi memaki. Itu bisa subversif. Itu keputusan pemerintah. Kita harus menghormatinya.”

Kontan saja kata-kata itu membuat tukang ojeg itu pada kaget. Hal yang kontradiktif dengan keinginan mereka. Selama ini mereka merasa tercekik dengan keputusan itu.

“Siapa sebenarnya Saudara ini?”

“Saudara pejabat?”

“ Intel?”

“ Propagandis kenaikan BBM?”

“Bukan! Saya bukan siapa-siapa. Saya sebenarnya orang daerah sini juga, tapi sudah sejak lama merantau. Saya warga negara yang baik, pengamal Pancasila seratus persen, pernah mengikuti penataran P4, hapal nama-nama menteri, bebas dari kasus G 30 S/PKI, menganut salah satu agama, keluarga ikut program KB, punya kartu tanda penduduk dan taat pada pemerintah.

Bukankah kita harus taat pada mereka?”

“Kenapa Saudara setuju atas kenaikan harga BBM? Bukankah kita malah kelabakan?

Harga-harga jadi naik!” Kata yang lain.

“Coba lihat saja. Sekarang orang banyak yang jalan kaki. Penghasilan kami berkurang.”

“Di kampung saya sekarang banyak beralih ke kayu bakar.”

“Pertanyaan Saudara-saudara itu seperti pertanyaan orang waras. Saya maklum pertanyaan orang-orang waras seperti Saudara. Dan seandainya saya waras, saya pasti akan bertanya seprti itu.”

“Sudah, sudah! Kita tidak usah berdebat tentang masalah yang bukan wilayah kita. Apalagi permasalahan waras dan tidak waras. Tidak ada untungnya dan tidak akan ada yang mendengarnya,” kata Sumin kesal. “Kalau ngojeg, ya ngojeg.”

“Iya, kita bukan politikus, atau pengamat. Mereka didengar omongannya, pemikirannya ditulis dalam buku tebal, dijadikan rujukan oleh kaum akademisi dan ada duitnya pula. Kita?”

“Saya setuju dengan bang Sumin. Lebih baik kita mulai saja ngojeg bolak-balik itu.”

Kemudian bang Sumin menyalakan mesin motornya yang sudah tua. Mesin menjerit. Knalpot memuntahkan asap. Kemudian berlari membawa lelaki itu meninggalkan pangkalan dilepas oleh pandangan tukang ojeg yang masih kurang percaya dan sedikit geli. Pangkalan yang biasanya ramai dengan sumpah-serapah, makian, dan guyonan cabul, kini sepi saja. Lelaki itu telah merampasnya. Mereka tak habis pikir ada orang deperti itu. Mereka lebih baik memilih diam. Diam lebih baik. Atau menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat. Beberapa saat mereka menunggu kedatangaan bang Sumin kembali. Ada kecemasan yang menyergap. Pikiran yang bukan-bukan menggerayangi batok kepalanya. Terasa begitu lama. Menunggu memang menyengsarakan. Pangkalan terasa mencekam. Yang tidak kuat menunggu, lebih baik pulang tanpa basa-basi. Kemudian dia akan menceritakan kejadian di pangkalan ojeg kepada setiap orang yang ditemuinya.

Lima belas menit kemudian, bang Sumin datang bersama lelaki itu. Kemudian lelaki itu menaiki motor bang Japar, kemudian bang Pokel, kemudian bang Bayan. Tidak tergurat di wajahnya keadaan lelah. Dia menikmatinya. Tukang ojeg sudah tidak canggung lagi. Mereka kadang-kadang ngobrol. Dan hingga aku yang terakhir.

Matahari sudah di barat. Cahaya emasnya masih menyemburat. Langit kelabu saja. Awan berarak menggumpal-gumpal menjelajah angkasa. Angin semilir bertiup. Sore semakin sore. Mendekati maghrib.

“Kalau boleh saya tahu, kenapa Saudara menyetujui dengan kenaikan harga BBM?”
“Begini, karena harga BBM naik, teman-teman saya di rumah sakit jiwa semakin banyak. Peningkatannya mencapai seratus persen. Saya tidak tahu persisnya kenapa demikian. Saya adalah mantan orang waras. Seandainya saya orang waras, saya juga tidak akan setuju. Sebelum mati, sempatkan dulu tidak waras, saudara pasti setuju kenaikan BBM”


Ciputat, 23 Desember 2005

Lelaki Itu…

Oleh Abdullah Alawi

Mobil angkot 35 terseok-seok kelelahan di bawah sengatan matahari. Warnanya kusam, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Bannya sudah gundul dengan sopir setengah baya yang di kepalanya melingkar handuk kecil. Mukanya kemerahan dialiri keringat. Di mulutnya terselip sebatang rokok yang hampir menjadi puntung. Hanya beberapa orang saja isi penumpangnya. Angkot itu berhenti di sebuah pangkalan ojeg. Beberapa tukang ojeg menyerbu angkot itu dengan gesitnya. Seperti magnet menarik besi-besi kecil. Dari dalam angkot itu keluar seorang lelaki. Beberapa tukang ojeg langsung mengerubungi lelaki itu seperti semut mengerubungi gula. Satu orang memegang tangan kirinya. Satu orang memegang tangan kanannya. Yang lain mngambil tasnya. Dan yang lain lagi membawa kantong plastiknya. Dan yang lainya lagi menarik-narik bajunya. Dia seperti maling yang kepergok yang pasrah siap menerima hakim massa. Lelaki itu kemudian membayar ongkosnya. Angkot itu kemudian berlari.
Sebagai tukang ojeg baru, aku hanya memperhatikan saja. Dalam beberapa hari ini aku hanya memperhatikan kejadian-kejadian, kebiasaan-kebiasaan di pangkalan ini. Aku selalu kalah dalam rebutan penumpang. Menjadi tukang ojeg adalah pilihan terakhir setelah aku bosan membikin surat lamaran kerja dan mendengar kata, ‘tak ada lowongan’. Aku melihat lelaki itu tenang-tenang saja. Dia seperti tidak kuatir akan barang-barangnya. Aku tahu ada saja temanku yang berlaku jahil dengan mencuri barang penumpang ketika terjadi ribut-ribut seperti itu. Sebenarnya dulu sudah ditertibkan, tapi setelah BBM naik, jadi tidak teratur lagi.
“Bang, Bojong, Bojong, ya.”
“Cilulumpang kan?!”
“Ciseupan?!”
Lelaki itu dengan sikap tenangnya menepis tangan-tangan tukang ojeg itu. Kemudian dia bicara,
“Tenang, abang-abang tukang ojeg. Tenang!”Kata lelaki itu seperti seorang pemimpin di hadapan anak buahnya. “Saya cuma satu orang dan Saudara-saudara begitu banyak. Kalau aku naik ojeg pada satu orang, berarti aku tidak adil.”
Mendengar kata-kata lelaki itu, aku kaget. Tapi tak semuanya tukang ojeg menyimaknya. Mereka lebih asyik
“Jadi sekarang bagaimana?”
“Berapa jumlah tukang ojeg di pangkalan ini?”
Sumin, seorang tukang ojeg yang paling tua yang sering dijadikan pemimpin dalam urusan-urusan tukang ojeg bicara,
“Kira-kira 23 orang.”
“Berarti saya harus naik ojeg 23 kali.”
“Bagaimana maksudnya ini?”
“Begini, Saudara siapa namanya?”
“Sumin.”
“Nah, saya pertama naik motor bang Sumin sampai di rumah saya. setelah itu, bawa lagi saya ke pangkalan ojeg ini. Mengerti?
Para tukang ojeg itu diam, setengah tak percaya bercampur heran. Ini mungkin pengalaman pertama selama hidupnya. Bang Sumin, tukang ojeg kawakan pun tak berbicara. Selama bertahun-tahun jadi tukang ojeg, baru kali ini mengalami peristiwa seperti itu. Mereka sebenarnya ingin saling menanyakan, tapi mereka sudah tahu tak ada yang bisa menjawabnya. Mereka hanya saling pandang seperti kena hipnotis. Tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Bagaimana Sudara-saudara, setuju?”
Mereka masih terdiam.
“Begini kalau kurang paham, Setelah abang itu membawa saya ke rumah dan membawa kembali ke pangkalan, kemudian…, abang ini siapa namanya?”
“Japar,” orang itu menyahut juga meski tak sepenuhmya mengerti.
“Nah, kemudian saya naik motor bang Japar sampai ke rumah saya juga. Setelah sampai di rumah, bawa lagi saya ke pangkalan ojeg ini. Begitu seterusnya hingga tukang ojeg terakhir. Setuju?”
“Setuju!” Tapi suara itu tidak serempak, bahkan cuma satu orang.
“Begini, saya punya usul,” kata salah seorang tukang ojeg memberanikan diri, “Bagaimana kalau duitnya saja yang dibagikan dan Saudara tak perlu naik ojeg kami seluruhnya. Itu jauh lebih mudah”
‘Iya, lagi pula Saudara tak perlu capek, Saudara kan habis perjalanan jauh dan perlu istirahat dan kami bisa irit bensin. BBM naik. Bensin mahal!”
“Iya,” kata yang lain hampir serentak
‘Itu berarti enak buat Sudara-saudara, dan tidak adil bagi saya. Saya sudah lama tidak naik ojeg. Saya senang naik ojeg. Saya sudah lama tidak pulang kampung. Masalah saya capek atau tidak, atau perlu istirahat dan tidak, itu masalah lain. Saya ingin naik ojeg sepuas-puasnya.”
“Wah, itu namanya Saudara menyiksa diri. Saudara bisa sakit. Berobat sekarang mahal.”
“Ini bukan masalah menyiksa diri atau tidak karena itu masalah saya. Apalagi masalah sakit dan rumah sakit. Dan Saudara-saudara tak perlu mempermasalahkannya. Permasalahannya sekarang adalah, Saudara-saudara mau atau tidak. Kalau mau katakan mau, kalau tidak katakan tidak. Selesai urusan.”
“Kalau ditanya masalah mau atau tidak, ya jelas kami mau daripada bengong di pangkalan ini.”
“Tapi ngomong-ngomong, berapa ongkos ojeg sekarang?”
“Lima ribu.”
“Karena saya bolak-balik, berarti saya membayar sepuluh ribu per orang, setuju?”
“Setuju!”
“Tapi saya punya satu permohonan lagi, kata lelaki itu.”
“Apa itu?”
“Selama di perjalanan Saudara-saudara harus setuju dengan kenaikan harga BBM. Jangan mengeluh, apalagi memaki. Itu bisa subversif. Itu keputusan pemerintah. Kita harus menghormatinya.”
Kontan saja kata-kata itu membuat tukang ojeg itu pada kaget. Hal yang kontradiktif dengan keinginan mereka. Selama ini mereka merasa tercekik dengan keputusan itu.
“Siapa sebenarnya Saudara ini?”
“Saudara pejabat?”
“ Intel?”
“ Propagandis kenaikan BBM?”
“Bukan! Saya bukan siapa-siapa. Saya sebenarnya orang daerah sini juga, tapi sudah sejak lama merantau. Saya warga negara yang baik, pengamal Pancasila seratus persen, pernah mengikuti penataran P4, hapal nama-nama menteri, bebas dari kasus G 30 S/PKI, menganut salah satu agama, keluarga ikut program KB, punya kartu tanda penduduk dan taat pada pemerintah. Bukankah kita harus taat pada mereka?”
“Kenapa Saudara setuju atas kenaikan harga BBM? Bukankah kita malah kelabakan? Harga-harga jadi naik!” Kata yang lain.
“Coba lihat saja. Sekarang orang banyak yang jalan kaki. Penghasilan kami berkurang.”
“Di kampung saya sekarang banyak beralih ke kayu bakar.”
“Pertanyaan Saudara-saudara itu seperti pertanyaan orang waras. Saya maklum pertanyaan orang-orang waras seperti Saudara. Dan seandainya saya waras, saya pasti akan bertanya seprti itu.”
“Sudah, sudah! Kita tidak usah berdebat tentang masalah yang bukan wilayah kita. Apalagi permasalahan waras dan tidak waras. Tidak ada untungnya dan tidak akan ada yang mendengarnya,” kata Sumin kesal. “Kalau ngojeg, ya ngojeg.”
“Iya, kita bukan politikus, atau pengamat. Mereka didengar omongannya, pemikirannya ditulis dalam buku tebal, dijadikan rujukan oleh kaum akademisi dan ada duitnya pula. Kita?”
“Saya setuju dengan bang Sumin. Lebih baik kita mulai saja ngojeg bolak-balik itu.”
Kemudian bang Sumin menyalakan mesin motornya yang sudah tua. Mesin menjerit. Knalpot memuntahkan asap. Kemudian berlari membawa lelaki itu meninggalkan pangkalan dilepas oleh pandangan tukang ojeg yang masih kurang percaya dan sedikit geli. Pangkalan yang biasanya ramai dengan sumpah-serapah, makian, dan guyonan cabul, kini sepi saja. Lelaki itu telah merampasnya. Mereka tak habis pikir ada orang deperti itu. Mereka lebih baik memilih diam. Diam lebih baik. Atau menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat. Beberapa saat mereka menunggu kedatangaan bang Sumin kembali. Ada kecemasan yang menyergap. Pikiran yang bukan-bukan menggerayangi batok kepalanya. Terasa begitu lama. Menunggu memang menyengsarakan. Pangkalan terasa mencekam. Yang tidak kuat menunggu, lebih baik pulang tanpa basa-basi. Kemudian dia akan menceritakan kejadian di pangkalan ojeg kepada setiap orang yang ditemuinya.
Lima belas menit kemudian, bang Sumin datang bersama lelaki itu. Kemudian lelaki itu menaiki motor bang Japar, kemudian bang Pokel, kemudian bang Bayan. Tidak tergurat di wajahnya keadaan lelah. Dia menikmatinya. Tukang ojeg sudah tidak canggung lagi. Mereka kadang-kadang ngobrol. Dan hingga aku yang terakhir.
Matahari sudah di barat. Cahaya emasnya masih menyemburat. Langit kelabu saja. Awan berarak menggumpal-gumpal menjelajah angkasa. Angin semilir bertiup. Sore semakin sore. Mendekati maghrib.
“Kalau boleh saya tahu, kenapa Saudara menyetujui dengan kenaikan harga BBM?”
“Begini, karena harga BBM naik, teman-teman saya di rumah sakit jiwa semakin banyak. Peningkatannya mencapai seratus persen. Saya tidak tahu persisnya kenapa demikian. Saya adalah mantan orang waras. Seandainya saya orang waras, saya juga tidak akan setuju. Sebelum mati, sempatkan dulu tidak waras, saudara pasti setuju kenaikan BBM”


Ciputat, 23 Desember 2005

Kamis, 17 September 2009

"Bedug"

Oleh Abdullah Alawi

Masjid yang tak ada bedugnya seolah sayur tanpa garam. Hambar. Tawar. Sepi. Dingin. Dan, abai akan sejarah Nusantara dengan persinggungannya dengan budaya lain.

Konon, bedug berasal dari China dibawa bersama Chengho. Laksamana Ming yang Muslim itu memperkenalkan bedug di masjid-masjid, seperti halnya penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di China. Sebagian ada yang berpendapat bedug berasal dari tradisi drum China yang menyebar ke Asia Timur, kemudian masuk Nusantara. Tapi ada pula yang berpendapat sebanarnya nenek moyang kita juga sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu. Pemakaiannya berhubungan dengan religi minta hujan. (http://blog-sejarah.blogspot.com/2008/10/sejarah-beduk.html)

Terlepas dari pendapat-pendapat tersebut, bedug telah ratusan tahun memanggil kaum muslim bercengkrama dengan yang Maha Welas Asih. Ketika teknologi memperkenalkan pengeras suara, (di banyak masjid) bedug masih tetap dipertahankan. Sebagai konsekuensi pendatang baru, pengeras suara mesti “tahu diri(!)”. Dia tidak berkumandang sebalum saudara tuanya berbunyi.

Kemudian persinggungan bedug terus berkecambah. Dia bercangkerama dengan gitar dalam kesenian kombinasi Tardug (gitar dan bedug) di Indramayu. Menjadi model dalam festival atau iklan. Dan di malam lebaran nanti, akan ada pesta dulag (memukul bedug):

Dag dug dug dug dag dug
Dag dug dug dug dag dug
Dag dug dug dug dag dug...

Sebenarnya suara itu seperti gunung, seperti pasir, seperti air, seperti malaikat, seperti lidah manusia yang sedang berfitri melafal takbir:

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaaha illallah Wallahu Akbar
Allahu Akbar Kabiro
Wal hamdulillahi katsiro
Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila
Laa Ilaaha Illallahu La Na`budu Illaa Iyyah,
Muhklishina Lahud-din, Walau Karihal Kafirun.
Laa Ilaaha Illallahu wahdah,
Shadaqo Wa`dah,
Wa Nashara `Abdah,
Wa A`azza Jundahu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah.
Laa Ilaaha Illallahu Wallahu akbar
Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H/2009 M
Mohon maaf lahir dan bathin.
..

Ciputat, September 2009

"Ngabuburit, Godin dan Ngadulag"

Oleh Abdullah Alawi

Tarawih, tadarus, imsak merupakan istilah “tenar” di bulan puasa. Orang menulis, menukil, mengucapkannya di koran, buku, TV atau radio. Tapi di Sunda, khususnya daerah saya, ada istilah “lain” yang muncul seolah berkontestasi dengan istilah-istilah tersebut. Misalnya: ngabuburit, godin, ngdulag. Kalau tiga istilah pertama berasal dari bahasa Arab; mempunyai arti yang sudah (di)baku(kan), dan kita bisa mencari rujukan dalam teks-teks keagamaan (fiqh). Sedangkan istilah terakhir merupakan khas lokal, tak jelas asal-usul dan batasannya. Tapi tetap digunakan dan menjadi kebiasaan.

Kata ngabuburit berasal dari kata dasar burit yang berarti waktu menjelang tenggelamnya matahari. Ngabuburit berarti menunggu saatnya berbuka puasa. Berbagai hal yang dilakukan; biasanya jalan-jalan membaca buku, nongkrong, tadarus atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak ada batasan tertentu dengan harpan melupakan perut lapar sampai tiba waktnya buka puasa. Tapi anehnya, orang yang tidak berpuasa sekali pun bisa melakukan ngabuburit.

Godin. Saya mengira, kata ini berasal dari bahasa Arab. Saya menemukan kata ini pada niat puasa, demikian; “Nawaitu shauma ghadin an adai pardhi sahri ramadana hadihi sanati pardalillahi taala.” Dalam kalimat ini, ghadin berarti esok hari. Tapi ternyata kata ini diselewengkan dengan semena-mena, artinya menjadi berbuka puasa. Dan yang lebih mengherankan, berbuka sebelum waktu maghrib. Penyelewengan yang berlapis-lapis. Mungkin awalnya penyelewengan ini tidak sengaja, tapi kemudian menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi kesepakatan.

Ngadulag adalah tabuh-tabuh khas bedug dan pentungan (kohkol) dengan bunyinya yang berirama dan musikal. Biasanya terdengar sehari sebelum masuk bulan puasa, pada malam hari bulan puasa dan pada hari raya idul fitri atau lebaran. Tidak ada aturan khusus untuk menabuhnya. Tapi biasanya diusahakan supaya suaranya terdengar unik dan menarik. Di beberapa daerah ngadulag ini biasanya dilombakan selepas lebaran.

Masyarakat memang bukan ceret kosong yang jika diisi air kopi akan keluar kopi persis. Ketika bersentuhan dengan istilah-istilah dari luar kebudayaannya, mereka akan menerima, menolak, mengawinkan atau apalah istilahnya, sehingga lahir kreasi-kreasi baru yang unik dan khas. Tapi kemudian dari masyarakat itu sendiri lahir orang anti-kreasi dengan menggunakan senjata bidah.

Waallhu 'alamu bi al-shawab.

Sukabumi, September 2009

Selasa, 15 September 2009

"Ya Sudahlah..."

Oleh Abdullah Alawi

Milan Kundera pernah menganjurkan agar berjuang untuk melawan lupa. Saya telah mencobanya, tapi tetap saja lupa. Lupa bahwa negeri ini adalah tanah perjanjian, penjajahan terus berganti kulit, kapitalisme selalu memperbaiki diri, dan aku pun menikmatinya pula. Ya sudahlah...


Di bulan puasa ini, saya telah berjuang untuk lupa, tapi tetap saja tidak lupa. Tidak lupa makan, minum kopi, dan menghisap rokok. Ya sudahlah...

Ciputat, September 2009


Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Wedding Gowns. Powered by Blogger