Oleh Abdullah Alawi
neng nelengnengkung
geura gede gera jangkung
gera nganjang ka Bandung
Saya mengenal Bandung lewat ungkapan ini. Dalam ungkapan ini, yang biasanya sambil ditembangkan, seorang anak diharapkan untuk mengenal Bandung. Kenapa demikian? Mungkin karena kota ini jadi pusat kebudayaan Sunda setelah Galuh (kerajaan Galuh), Pakuan (Pajajaran), Sumedang (Sumedanglarang) “menurun”.
Karena itulah seorang anak yang baru lahir, sejak kecil, gaya berpikir dan sikap hidupnya ditautkan dengan kebudayaan Sunda. Supados nyunda panginten.
Tapi ini hanya dugaan saya belaka karena hingga kini belum mendapat keterangan lebih detil tentang ungkapan ini.
Kata Bandung juga dikenal dalam istilah sepak bola. Di kampung saya, ada tendangan “balik Bandung”, yaitu tendangan ke belakang lewat atas kepala. Jika melakukan tendangan ini dengan baik, apa lagi sambil salto, akan mendapat tepuk tangan dari segenap penonton.
Selain itu, Bandung terdapat pula dalam istilah pengajian dan madrasah diniyah atau pesantren salaf Sunda, dan tajug-tajug, yaitu “bandungan”, artinya menyimak. Mungkin kata ini dari kata “bandongan” yang diadaptasi dari pesantren-pesantren di Jawa.
Ini tidak mengherankan, karena banyak ajengan atau kiai Sunda yang berguru ke Jawa. Faktor lain (mungkin) adalah karena invasi Mataram Jawa zaman Sultan Agung.
Tentang Bandung, saya dapat juga dari lirik lagu Doel Sumbang. Tapi lupa judulnnya. Yang jelas, lagu itu ada Bandung di riung ku gunung. Menurut Pramudya Ananta Toer, gunung-gunung itu berkumpul seolah sedang rapat abadi.
Ari imut-imut Bandung kota di riung ku gunung
Dikantun montel katineung paanggang muntang kamelang
Wilayah yang bergunung-gunung dengan sungai mengalir di sela-sela bukit yang dirimbuni pepohonan menghijau; siapa pun tak bisa menahan diri untuk mengatakan indah. Ramdahan KH tak tahan menulis puisi Priangan Si Jelita:
Seruling berkawan pantun,
Tangiskan derita orang priangan,
Selendang merah, merah darah
Menurun di Cikapundung.
Bandung, dasar di danau
Lari bertumpuk di bukit-bukit.
Seruling menyendiri di tepi-tepi
Tangiskan keris hilang di sumur
Melati putih, putih hati,
Hilang kekasih dikata gugur.
Bandung, dasar di danau
Derita memantul di kulit-kulit.
Atau sedikit melirik irama keroncong
Bandung Selatan di waktu malam
Berselubung sutra mega putih
Laksana putri lenggang kencana
Duduk menanti akan kekasih
Bandung Selatan di waktu malam
Dalam asuhan Dewi purnama
Cantik mungil Kesuma
Melati Putri manja
Ibunda pertiwi
Tak ayal, kota ini digelari juga Paris van Java. Parisnya pulau Jawa. Sering juga disebut Kota Kembang.
Menurut Zawawi Imron, penyair Madura berjuluk Clurit Emas, Muhammad Syaltout (agamawan Mesir) tahun 60-an, pernah berkunjung ke Indonesia dan melihat pemandangan di Priangan. Dia pun berkomentar, “Inilah sorga yang nyelonong ke bumi.” Dalam ungkapan lain yang lebih luas, lagi-lagi menurut Zawawi, Tuhan menciptakan tanah Sunda dengan tersenyum.
Tapi, Kang Doel Sumbang, dalam lagu lain menggambarkan Bandung dengan cerita yang berbeda dan bertolak belakang. Ia menyatakan bandung sebagai kota kambing. Dan di lagu lain lagi Bandung borok dan kusta, tata kota yang tak rapi dan sering juga terjadi banjir. Bandung yang sudah lain dari citranya yang dulu. (Masih ingat kasus Leuwi Gajah?)
Saya tidak faham tentang Bandung. Hanya dengar dari cerita-cerita saja. Bisa jadi panggang jauh dari api. Ibarat buah kelapa, saya hanya bercerita kecil dari sabutnya saja.
Itu karena saya tak pernah tinggal di Bandung. Berkunjung memang pernah, tapi paling banter cuma dua hari. Itu pun hanya pinggiran kota saja. Yang paling lama adalah tahun lalu, ketika mengikuti PKPS 8 selama seminggu. Tapi tak pernah keluar karena bertempat di asrama tentara.
Beruntung tiga hari terakhir saya dan peserta lain bisa keluar, tapi soalnya berada di hutan Jayagiri dan Situ Lembang. Di tempat seperti itu, mana mungkin menganal peuyeum bandung yang kamshur atau mengikuti cerita Macedes 165.
Meski demikian, Banadung adalah kota kenang-kenangan yang selalu dinyanyikan ketika saya SD. Sosok Muhammad Toha menempel di benak.
Halo halo Bandung Ibu kota priangan Halo halo Bandung Kota kenang-kenangan
Ketika kecil, saat nonton TVRI Bandung, sering diperlihatkan Gedung Sate. Gedung yang dibikin Belanda ini konon diperuntukan untuk istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda karena rencananya Bandung hendak dijadikan ibu kota negeri ini. Namun, karena mereka keburu diusir, niat itu tidak jadi.
Pernah terlintas tanya, kenapa Gedung Sate? Setahu saya, yang terkenal dengan satenya adalah orang Padang dan Madura.
Sabtu, 03 Desember 2011
"Bandung"
Kenari, 3 Desember 2011
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
2 comments:
saya pernah tinggal di Bandung 5 tahun hehehe....
hehe mila emang penjelajah dan selalu bercerita...
Poskan Komentar