Rabu, 28 Desember 2011

"DRH, Penyambung Lidah MAN Cibadak 2003"

Oleh Abdullah Alawi

Undangan Menikah:Aceng Hendi dengan Lilis Lisnawati. Hari Minggu: 18 Desember 2011. Tempat: Kp Cikiwul Lebak Rt 03/02, Desa Sekarwangi, Cibadak, Smi. Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami pabila berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kami.


Beberapa waktu lalu, saya mendapat undangan serupa.

Undangan menikah: Siti Muawanah R. dengan Ence Zaenal Ramdan, Sabtu 10 Desember 2011, pkl 08 s.d. selesai. Tempat: Jl. Perintis Kemerdekaan No. 28, Kubang Hegarsari 02/12 Cibadak.

Undangan via pesan singkat ini bisa dipastikan siapa pengirimnya: Dahlan Rahmat Hidayat selanjutnya DRH, lulusan MAN Cibadak 2003. Dialah juru kabar tak kenal lelah angkatan tersebut.

Ketika kelas satu, saya sering tertukar antara DRH dan Adi Asparudin. Juga Muhammad Yasin dan Ayi Wiharja. Kecuali Adi, ketiganya pernah sekelas di II. 2 dengan wali kelas Undang Hartono, guru Biologi yang ahli seni yang sering mengenakan topi ala Putu Wijaya. Di kelas ini, saya baru sadar sahabat-sahabat mirip itu ternyata jauh sekali perbedaannya.

Kelas II 2 terletak di antara II. 1 dan dan II.3. Lokasinya paling selatan sekolah bekas PGA ini. Di hadapannya terdapat laboratorium kimia yang sebelah utaranya lapangan serba guna. Kelas tersebut, baru dibuka tahun 2002. Angkatan kamilah pertama menghuni kelas ini. Sebagaimana biasanya, yang pertama selalu menadapat ujian. Setidaknya dua hal.

Pertama, ketika masuk tahun ajaran, hanya disediakan kursi tanpa meja berbulan-bulan. Menulis dengan meja dengkul seperti waktu di madrasah diniyah di kampung. Betapa sabarnya kami. Tak protes, tak walkout. Murid kelas. II. 2 memang teladan, bukan? Atau memang tak punya nyali? Tak tahulah. Barangkali teladan dan tak punya nyali tipis beda dan persamaannya.

Waktu itu, belum ada pagar mengelilingi MAN Cibadak sehingga siapa pun bisa lewat, termasuk ayam milik tetangga sekitar. Makanya akan mudah menemukan tahi ayam di halaman.

Di kelas ini, ada ketua umum OSIS, Ujang Abdul Muhyi asal Gudang, Karang Tengah, bersama sekira 9 pengurus hariannya. Ada ketua PKS (Polisi Keamanan Sekolah), Aden Badruddin, asal Tenjolaya, Cicurug dan beberapa pengurus pramuka aktif.

Kelas ini berpenghuni 49 orang dengan formasi bangku-meja 4 baris. Masing-masing berderet ke belakang 6 kursi dan meja. Setiap bangku dihuni 2 orang. Tapi ada bangku yang dihuni tiga orang. Murid yang sial adalah DRH. Dia harus berdempetan bersama Chiko Permana Sidik, Cibalung, dan Asep Kamaludin, Kalapa Carang. Tapi kemudian salah seorang siswi meninggalkan kelas ini karena menikah sehingga murid genap 48.

Kedua, di kelas ini pernah terjadi kecelakaan. Sang KM, Ujang Rahmat, asal Selajambe yang ahli bulu tangkis, pernah menaiki langit-langit untuk membetulkan genteng bocor. Rupanya ia kurang hati-hati hingga terpeleset dan jatuh. Kakinya terkilir. Tugas mulianya sebagai KM, digantikan wakil karena berhari-hari absen.

Perlu diceritakan sedikit perihal kecelakaan ini. Pembaca mungkin bertanya, kok bangunaan baru, begitu cepat ada genteng yang bocor? Apa mungkin pemborong bangunan ini berbuat licik?

Mulanya ada kesalahpahaman antara pemuda sekitar dan murid II. 4. Keduanya hampir berkelahi. Ternyata ini berbuntut panjang. Mereka melempar batu ke genteng-genteng. Salah satu korbannya kelas II.2. Karena itu musim penghujan, di kelas sering banjir. Pak Indrakilla yang mengingatkan supaya itu segera diatasi. Sebagai KM, dan karena murid lain tak ada yang mau, Ujang Rahmat turun tangan. Terjadilah kecelakaan itu.

Suatu hari, penghuni kelas II. 2 tertekur dengan pelajaran matematika. Kelas demikian sepi, karena Bu Guru berdiri megah di muka kelas. Saya paling tersiksa sendiri dengan pelajaran ini. Ya ampun, rimba angka itu menjelma genderuwo berkuku tajam, bergigi taring runcing siap terkam.

Tak dinyana, masuk seorang anak muda innocent. Usianya tak lebih 20 tahun. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Ia berdiri di depan kelas, membelakangi Bu Guru yang wajahnya langsung pucat. Kelas ini sesepi kuburan.

Tanpa sepatah kata pun, anak muda itu keluar kembali. Hingga kini, peristiwa itu tak terjelaskan!

Patut dicatat pula, bahwa kelas II. 2 pernah juara pertama perlombaan drama se-MAN Cibadak yang diselenggarakan OSIS. Pesertanya cuma 2 kelas. Kelas II. 2. Dan IPA 2. Dewan jurinya adalah guru PPKn dan guru olah raga.

Beberapa nama alias DRH

Di antara sahabat-sahabat, DRH dipanggil si ucing. Ada pula yang menyapa Dahlan Munir atau Dayang. Barangkali di rumah, di kampungnya, dia punya sapaan lain juga. Saya tidak pernah tahu asal-usul kenapa dipanggil demikian. Tapi sepertinya dia tak keberatan dengan nama itu.

Perawakan DRH mungil. Rambitnya ikal. Kalau tersenyum, matanya ikut terpejam. Gaya jalannya lincah. Dia mudah bergaul dengan siapa saja; guru, murid, laki atau perempuan, lintas kelas dan lintas angkatan.

Satu hal yang saya tahu, dia sering menyingkat namanya jadi DRH. Ini saya ketahui, ketika menuliskan sesuatu di buku harin saya. Ah, sebenarnya bukan buku harian seperti anak-anak sekarang, tapi lembaran buku-buku yang tak terpakai, saya kumpulkan. Kemudian dijepit. Jadilah untuk coret-coret. Beberapa teman pernah menulis di situ, hingga kini terawat dengan baik, sebagai kenangan 9 tahun lalu. Tak terasa, sewindu lebih. Ah, waktu memang brengsek!

Sebenarnya saya sempat saru, karena ada sahabat lain yang berinisial sama, yaitu Dede Rahmawati. Dia menyingkat DRH pula. Tapi saya yakin itu tulisan Dahlan atau Ucing, atau Dayang atau Munir.

Hanya setahun sekelas dengan DRH. Perpisahan dirayakan di gunung Salak. Ah, bukan perayaan juga. Kami tak meniatkan itu. Sebelas orang berangkat diangkut angkot sewaan. Sopirnya DRH. Dia lihai mengemudi. Perbekalannya sederhana saja; beras, ikan asin, lilin, minyak goreng dan sekilo jengkol; DRH pula yang bawa. Di gunung, tidak ngapa-ngapain, hanya memindahkan tidur dan makan. Tidak ada kata saling berpisah yang mendayu-dayu seolah hidup akan berakhir begitu saja. Tidak! Kami berkumpul, ya berkumpul saja. Selesai urusan!

Oh, iya, kami membawa gitar. Chiko dan Efe adalah gitaris nomor wahid di antara kami. Kami nyanyi-nyanyi lagu dangdut. Sayang sekali Abdul Azis tidak ikut. Kalau ada, pasti joged. Saya pernah menyakasikan sendiri di Gunung Walat, jogednya lain dari yang lain. Tapi sayangnya, saya kesulitan menggambarkannya.

Kelas tiga, DRH masuk jurusan IPS. Intensitas pertemuan bersamanya berkurang. Tapi tetap sering ngobrol jika ketemu.

Dan perpisahan pun tak bisa dihindarkan. Sahabat-sahabat menggulati rimba masing-masing, dengan nasib sendiri-sendiri. Seperti doa yang diungkap salah seorang guru di buku album angkatan 2003. Ka kulon sing moncorong, ka wetan sing mencrang. Ka kidul sing punjul. Ka kaler ulah epes meer. Bagaimana yang di tengah? Karena itu tidak didoakan, saya berdoa sendiri saja, semoga genah merenah tuma’ninah. Amin…

Tentu saja pertemuan sukar untuk didapatkan. Tidak seperti angkatan sekarang, di buku album pasti terdapat nomor ponsel, FB atau Twitter. Waktu itu hanya tertera nama, alamat, pesan dan kesan. Selesai!

Dalam pada itu, entah dengan motif apa, muncul sosok DRH. Entah bagaimana caranya, ia memiliki nomor ponsel hampir seluruh angakatan 2003. Kemudian mengabarkan kondisi sahabat-sahabat; mulai menikah, sakit, meninggal atau apa pun. Dan sudah jadi rahasia umum, seseorang yang dapat berita, pertama kali yang dikirim SMS adal DRH, kemudian secara mekanis, ia menyebarluaskannya.

Adi Asparudin pernah berkomentar,” Si Dahlan mah Dinas Perhubungan angkatan 2003.” Luqman, asal Garunggang, mantan wakil MPK, pernah berkomentar mirip, tapi beberapa tingkat lebih tinggi, Dahlan Mentri Perhubungan 2003. Barangkali sahabat-sahabat lain, punya julukan tersendiri. Saya sendiri punya gelar khusus, DRH, penyambung lidah angkatan 2003.

Kenari, 27 Desember 2011

2 comments:

Effe mengatakan...

anjrit...

ga nyangka bah ingatan-mu kuat banget
atau ingatan-mu kmu titipkan pada sebuah kertas, mengutip kata2 " Tapi kemudian salah seorang siswi meninggalkan kelas ini karena menikah sehingga murid genap 48" klo boleh tau siapa ya? ... sy juga ex II2 tapi ko bisa lupa ya..

Abdullah Alawi mengatakan...

terima kasih, sahabat. itu berkat catatan-catatan kecil yang pada waktu itu, saya sendiri menyepelekannya. tapi sekarang, ada manfaatnya.

teman sekelas yang keluar sbnarnya ada 2 orang. salah satunya yang inisial DRH itu. nuhun,