Oleh Abdullah Alawi
Hampir tiap hari kita berkaitan dengan tulis-menulis; melalui pesan singkat, ngetwit, BBM, dst. Jadi, pada hakikatnya, kita penulis. Karena ita, punya karya.
Tapi, kenapa kita tidak disebut “penulis” dan, karya-karya kita tidak dibilang karya tulis? Pertanyaan ini mudah untuk dijawab, karena “media” dan “cara”.
Pertama, media. Tempat kita menuangkan tulisan seperti ponsel dan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, tidak “lazim” dinyatakan sebagai media untuk menulis. Kedua, caranya kita menuliskan. Mengenai “cara” ini berkaitan dengan bagaimana kita menampilkan, memperlakukan sesuatu dalam menuliskannya.
Sebenarnya penggolongan ini serampangan saja. Tapi setidaknya, begitulah.
Soal media, publik hampir (!) sepakat bahwa seseorang dikatakan penulis jika menuangkannya di koran, buku, majalah atau jurnal.
Sedangkan perihal cara, penulis diibaratkan seorang koki. Koki yang hebat adalah memasak yang sederhana menjadi tidak sederhana. Bagaimana caranya? Ini bicara soal proses.
Pada mulanya, seorang koki sama saja seperti kita. Dia tidak memasak, tidak tahu caranya. Tapi kenapa dia bisa memasak dan kemudian memiliki pengemar dengan lidah ideologis?
Koki tersebut memulainya dengan menyukai. Kemudian bertanya, bagaimana cara membuatnya, mencari tahu sifat-sifat perangkat untuk memasak dan dimasak, harga bahan makanan sedetail-detailnya, dst. Untuk memperolehnya dia bertanya kepada pihak-pihak yang bisa diminta resep, buku, dan koki lain yang masyhur.
Kemudian memasak! Memasak! Memasak!
Tentu saja koki tersebut tidak langsung mashur di delapan penjuru mata angin. Dia pernah gagal, dicaci atau bangkrut. Tapi dia tak patah arang, melainkan memasak! Memasak! Memasak!
Dari sini, kesempulannya, kunci jadi penulis adalah berproses; mau bergerak, mencari tahu, berlatih. Menulis bukan berada di sana, tapi di sini, dekat, sedekat urat membelit leher, daki yang menempel di kulit.
Ingat, William Forester pernah memberi resep menulis kepada Jamal. Resep itu bukan kalimat berbuih-buih yang panjang bergelombang seperti jeram. Tapi cuma tiga kata. Pertama, Menulis. Kedua, menulis. Ketiga, menulis.
Kalau saudara/i hendak menambahkan resep itu hingga nomor seratus. Mudah saja. Cuma akan berderer kata yang sama, yaitu menulis!
Artinya, menulis adalah kata kerja. Praktik! Selesai urusan!
Minggu, 18 Desember 2011
"Menulis Adalah Kata Kerja!"
Kenari, 15 Desember 2011
Gambar di atas diambil dari: http://katasapril.wordpress.com/2010/11/12/nenek-mengajariku-tentang-pensil/
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
2 comments:
kalo kata orang bule, practice makes perfect hihihiii....
Mila> oh, begiru ya. terima kasih mila, dah mampir...
Poskan Komentar