Sabtu, 17 Desember 2011

"Mat Subversif Mahbub Djunaidi"

Oleh Abdullah Alawi

Mahbub Djunaidi, kolumnis terkemuka berjuluk Pendekar Pena, pernah menulis esai berkepala Mat Subversif. Dalam esai tersebut, Mat Subversif adalah nama yang ditahbiskan kepada seorang anak sebuah keluarga Betawi.

Di Betawi, tempat lahirnya mantan ketua umum pertama PMII ini, memang lumrah nama seseorang diawali Mat, misalnya Mat Item, Mat Solar, atau Mat Peci.

Tapi dalam esai yang terkumpul dalam buku Kolom Demi Kolom tersebut, ada Subversif di belakang Mat. Nama tak lazim, aneh, dan pada titik tertentu, terlarang dan haram.

Subversif dalam arti sebenarnya, sangat ditakuti pemerintah Orde Baru saat Mahbub menulis esai itu. Subversif adalah menggerogoti kewibawaan pemerintah. Salurannya bisa demonstrasi; tulisan di buku, koran, atau majalah.
Karena "makhluk" ini membahayakan, tak sedikit buku dinyatakan terlarang, surat kabar dibreidel dan pelakunya dipenjara. Mahbub sendiri pernah mengecapnya ketika menerjemahkan (perlu dicek lagi).

Untuk menyiasati pemerintahan demikian, Mahbub mengemas tulisannya dengan humor. Walhasil, tulisannya bebas melenggang tanpa kehilangan kritisnya –yang pada dasarnya subversif . Di sisi lain, pihak yang disubversif, pada posisi gamang. Membekuk salah, karena hampir tak ada bukti. Dibiarkan, berbahaya.

Pada titik ini, betul apa yang dikatakan Gus Dur, dalam bukunya Melawan dengan Lelucon, humor merupakan jalan pintas melawan pemerintahan tiran.

Dalam serial Wiro Sableng, hal ini nyaris seperti sarung tangan “penyedot tenaga dalam” milik Datuk Lembah Akhirat. Siapa pun yang melawan, akan tersedot kekuatannya. Dewa Tuak, tokoh silat golongan puith, salah seorang korbannya.

Tentang strategi humor Mahbub dianggap sebagai cara melawan Orba, Ahmad Makki, dalam esainya, yang dimuat di: http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/13/34151/Tokoh/Kata_kata_Haji_Mahbub.html, membenarkan. Tapi tak sepenuhnya demikian. Mahbub tetaplah Mahbub. Tanpa Orba pun tetap demikian.

Ciputat, 18 Desember 2011
potret Mahbub Djunaidi di atas, diunduh dari: http://reksokata.multiply.com/photos/album/2



0 comments: