Sabtu, 21 Januari 2012

"Karyo Mengadu kepada Gus Dur"

Oleh Abdullah Alawi

Seorang berpeci merah berjalan tergesa. Nafasnya terengah karena tubuhnya tambun tapi pendek. Ia mengenakan kaos oblong warna kuning ketat, tampak kekecilan karena perutnya buncit. Sarung coklatnya dilinting tinggi-tinggi. Hampir menyentuh dengkulnya. Ia menuju rumah Pak RT.

Di perjalanan, Karyo dicegat Kampret, pemuda kurus, berambut gondrong, berkaos oblong dan bercelana jeans. Tak lama berselang, lewat Ki Sidik yang berblangkon, berbaju lurik panjang dan bersarung batik hitam. Ketiganya terlibat dalam obrolan.

Karyo menceritakan maksudnya. Ia akan melabrak Pak RT. Soalnya, ia satu-satunya warga yang tidak kebagian kompor gas.
“Pak RT tidak salah. Ia hanya menjalankan petunjuk dari atasannya,” Ki Sidik berpendapat.

“Siapa atasan Pak RT?” tanya Karyo lantang.

“Pak RW,” jawab Ki Sidik.

“Kalau begitu, saya mau melabraknya juga.”

“Pak RW juga menjalankan tugas atasannya.”

“Siapa atasan Pak RW?”

“Pak Lurah.”

“Sekalian saya mau menghajarnya,” tegas Karyo berapi-api.

Itulah satu adegan kemarahan rakyat kecil, dengan nasib kecil, kecele dan kere. Adegan tersebut terdapat dalam lakon Tragedi Jual-Beli Mimpi dari Wayang Kampung Sebelah besutan dalang Ki Jlitheng Suparman pada acara bertajuk Semalam Bersama Gus Dur di Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Ciputat, Tangerang, pada Jumat malam (13/1).

Acara yang dipandu Wong Zolim tersebut dalam rangka haul kedua Gus Dur, diselenggarakan berbagai organisasi mahasiswa, forum studi, dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UIN Jakarta.

Hadir pada kesempatan itu, Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid dan sahabat-sahabat Gus Dur, diantaranya Bondan Gunawan, Adhi Massardi, dan AS. Laksana.

Acara tersebut dimeriahkan penampilan penyanyi Ivan Nestorman, hadrah el-Kafi, Marawis Irmafa, dan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UIN Jakarta dan pembacaan puisi Hendri Yetus Suswono.

Adegan berikutnya, Pak Lurah lewat di antara Karyo, Kampret dan Ki Sidik. Ia berpakaian rapi dengan rambut klimis ala Beatles. Air mukanya setenang telaga.

Ki Sidik kaget bukan main karena justru yang dicari Karyo ada di hadapan mata. Keributan bisa terjadi. Tapi kemudian dia tenang ketika Karyo justru gemetar, dagunya gemeretak laiknya orang kedinginan.

Ki Sidik menyuruh Karyo untuk segera menyampaikan maksudnya kepada Pak Lurah.

Setelah mengumpulkan keberanian, Karyo bercerita kepada Pak Lurah.

“Begini, Pak Lurah…”

“Begitu juga boleh,” jawab pak Lurah kalem.

“Saya serius.”

“Saya juga duarius.”

“Apa ada lurah lain?” bisik Karyo kepada Ki Sidik.

“Itulah masalahnya kalau lurah duapuluh ribuan.”

“Dua puluh ribuan gimana?”

“Pas pemilihan kan kamu menerima uang dua puluh ribu untuk mencoblosnya.”

Karyo melengos. Ia merasa terpojok dan niat maksudnya dipermainkan Pak Lurah. Lagi pula ia ditertawakan penonton.

“Kalau begini, saya benar-benar marah. Tak ada pak RT, pak Lurah yang akan saya hajar,” ungkap Karyo sambil ancang-ancang dan pasang kuda-kuda. Tapi Pak lurah tetap tenang, seperti tugu. Dia yakin sekali rakyatnya yang satu itu tak mungkin melakukan apa-apa.

Ketika Karyo benar-benar akan menghajarnya, pesinden dan penabuh gamelan wayang Kampung Sebelah bernyanyi syahdu. Nyanyian itu, seolah menyiram kemarahan Karyo. Ia termenung beberapa saat.

Astaghfirullah robbal baroya…
Astaghfirulloh minal khootooya…
Robbi zidni`ilmannaafii’a…
Wawaffikni`amalansoliha…

Lalu datang seseorang. Ia berkacamata, berambut rapi di sisir ke pinggir, berkemeja pendek bercalana panjang dan bersandal. Ia hadir sambil bersenandung…

Ngawiti ingsun nglaras Syiiran
Kelawan muji marang Pangeran
Kang paring rahmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan

Suara ini sangat akrab di telinga penonton. Ya, suara Gus Dur. Mereka tepuk tangan sambil mengikuti syair Tanpo Waton tersebut.

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mong ngaji Syare'at bloko
Gur pinter ndongeng, nulis lan moco
Tembe mburine bakal sengsoro

Kebetulan Gus Dur datang,” ungkap Karyo sumringah. “Begini, Gus, saya mau minta keadilan,” lanjut karyo.

“Memangnya saya nyimpen keadilan? Minta keadilan kok ke saya. Saya nggak punya,” jawab Gs Dur enteng.

“Ah, podho, bae,” kata Karyo.

“Saya ini, Gus, saya ini tidak kebagian kompor gas. Begitu lho, Gus.”

“Itu kan sudah takdir. Harus diterima dengan ikhlas. Tak usah-marah-marah. Gitu. Nggak ada kompor gas, memangnya nggak bisa masak? Gitu aja kok repot,” lagi-lagi Gus Dur menjawab enteng.

“Sebanarnya bukan hanya masalah kompor gas, Gus. Tapi saya ini merasa benar-benar hidup ini menyakitkan. Saya ini sejak lahir sampai tua, melaraaaaaattt… Hidup di negara yang katanya kaya raya. Tapi saya melarat terus. Saya bosen dengan melarat. Tapi si melarat tak bosen-bosen dengan saya. Saya mohon petunjuknya, Gus,” jelas Karyo.

“Nggak usah kamu bingung. Kalau kamu sejak lahir sampai tua itu melarat, justru kamu jadi orang melarat yang profesional. Kamu jadi orang melarat yang ahli. Tingkatanmu itu master. Tingkatanmu itu syekh. Syekh kemelaratan. Nanti kalau ada seminar tentang kemiskinan, pasti kamu akan diundang,” jawab Gus Dur.

“Disuruh jadi narasumber ya, Gus?”

“Dijadikan sempel…”

“Gus, kok bercanda sih. Saya ini ini benar-benar pedih, katanya undang-undang mengamanatkan; fakir miskin dan orang terlantar dipelihara negara. Tapi mana? Buktinya saya sama sekali tidak pernah merasakan sentuhan kebijakan negara.”

“Negara itu sudah menjalankan undang-undang,” jawab Gus Dur. “Fakir miskin dan anak-anak yatim memang dipelihara negara. Dipelihara supaya tetap miskin dan terlantar. Yang namanya dipelahara itu kan supaya tetap terjaga kelestariannya,” tambahnya.

“Katanya negara itu mengklaim, sudah berhasil. Angka kemiskinan menurun. Mana, Gus? Kok saya tetap miskin begini?” tanya Karyo lagi.

“Itu juga benar. Pemerintah mengklaim angka kemiskinan menurun itu sudah betul. Menurun ke anak cucu!”

“Bukan itu, Gus, maksudnya, bukan itu,” kata Karyo kesal. “Katanya orang miskin di Indonesia ini sudah berkurang. Artinya pembangunan itu sudah berhasil karena jumlah orang miskin sudah berkurang.”

“Itu tidak salah. Jadi memang jumlah orang miskin di Indonesia ini sudah berkurang karena banyak yang mati bunuh diri akibat miskin. Begitu juga banyak yang mati ditembaki.”

“Hah…!” kelauh karyo sambil meninju udara. “Terus nasib seperti saya ini harus bagaimana, Gus?”

“Maka, yang terpenting sementara ini, terima dulu keadaan. Sekarang kalian harus melakukan konsolidasi pikiran. Setelah konsolidasi pikiran, konsolidasi sosial untuk perubahan besar dan mendasar bagi Indonesia, sebab tanpa ada perubahan besar dan mendasar, tidak mungkin Indonesia ini akan berubah. Tetap saja keadaan akan seperti ini. Maka Indonesia kelak hanya ada dua pilihan, kepemimpinan yang kuat, atau kekuatan yang memimpin. Kalau sudah ada pemimpin yang kuat, berarti dibutuhkan kekuatan yang dipimpin. Nah, inilah salah satu yang diharapkan. Komunitas Gus Durian, jadilah kekuatan yang memimpin bangsa,” terang Gus Dur.

“Ya, wejangan Gus Dur cukup lega sebenarnya,” ungkap Karyo.

“Ya syukur kalau lega,” kata Gus Dur.

“Tapi perut tetap keroncongan. Nah, ini persoalannya.”

“Ya harus bersabar. Begitu lho. Yang terpenting pesan saya itu tadi pada Lek Karyo dan saudara-sdauara.”

“Cuma itu, Gus? “

“Ya itu yang saya bisa. Mau apa?”

“Kalau ada, jangan cuma pesan, tapi pesan ngon, Gus…“


Ciputat, 13 Januari 2012

2 comments:

Ayu Welirang mengatakan...

^^
waaaaaah ini tho cerita lengkapnya.. sayang, saya datang terlambat.. :( mogok dulu di parkiran..

Abdullah Alawi mengatakan...

Ayu> hehe betul. ini juga cerita belum lengkap. masih ada yang menarik. mudah-mudahan bisa diposting