<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579</id><updated>2012-01-29T15:53:14.829-08:00</updated><category term='Profil'/><category term='Cultural Studies'/><category term='sumbang-fals'/><category term='Lirik'/><category term='makalah'/><category term='catatan'/><category term='Cerbung'/><category term='kabar'/><category term='Membaca Lemah Cai'/><category term='Cerpen'/><category term='Kutipan'/><category term='Musik'/><category term='Kisah'/><category term='Kiat'/><title type='text'>Pamanah Rasa</title><subtitle type='html'>tidak untuk, bukan karena</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>131</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-9005118957105100983</id><published>2012-01-25T04:06:00.000-08:00</published><updated>2012-01-25T04:10:38.850-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lirik'/><title type='text'>"Jejak Kenang Bulan Madu"</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan madu di awan biru &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;tiada yang mengganggu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Bulan madu di atas pelangi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Hanya kita berdua &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pertama kali saya dengar lagu ini justru bukan dari mulut primer tapi sekunder, seorang gadis tetangga, ketika saya belum masuk SD. Dia begitu menikmati lagu ini sambil menanak nasi di rumahnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Gadis tersebut mengetahui lagu Inca Creistie dan Amy Search tidak melalui kaset, tapi dari radio. Saking seringnya diputar, beberapa bait dia hapal. Dan, wasilah dia, saya “mengikat” lagu itu dalam benak. Hingga sekarang, ingat lagu itu, bukan ingat penyayinya, tapi rumah saya, rumah dia, kampung saya, suasananya, orang-orangnya, sawah-sawahnya, di tahun 90-an. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Tentang lagu itu, ketika pertama kali mendengarnya, saya dihinggapi aneh, terutama ungkapan “bulan madu”. Pertanyaan berbaris di kepala saya. Apakah bulan madu itu? bukankah bulan itu adalah Januari, Februari... atau Syawal, Muharam...., atau bulan purnama dan bulan sabit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu tak pernah saya ajukan kepada sipa pun. Makanya tak pernah ada yang menjawab. Saya biarkan mengendap di balik tempurung kepala. Untungnya, pertanyaan itu tak merusak masa kanak-kanak, apalagi menginginkannya. Bisa berantakan hidup saya jika ingin bulan madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanehan lagu itu bertambah dengan pertanyaan selanjutnya, bukankah madu dihasilkan tawon? Apakah di bulan ada tawon? Apakah bulan menghasilkan madu? Otak saya tidak sampai ke situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, tentu saja saya belum bisa menautkan bulan madu dengan urusan pengantin. Makanya tidak begitu heran ketika ungkapan bulan madu dikaitkan dengan awan biru karena keduanya sama-sama di langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya tahu bahwa bulan madu adalah kebahagian pengantin baru, mungkin saya juga akan bertanya, bisakah sepasang pengantin berbulan madu di awan biru, di atas pelangi, sementara terbang saja tak mungkin? Tapi untunglah saya tak paham. Kadang tidak paham lebih baik dan menguntungkan daripada memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bulan madu di awan biru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tiada yang mengganggu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; hanya kita berdua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu ketika sudah agak dewasa, saya mengembangkan pertanyaan lain. Bukankah Adam dan Hawa juga pernah berdua di sorga? Berdua! Mereka mendapat pelayanan dan penghidupan yang layak di sana? Tapi ternyata keduanya seolah tak betah hingga pada suatu ketika, karena sedikit pelanggaran, terlempar ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya selanjutnya, apakah di awan biru dan di atas pelangi seperti di sorga? Kalau tidak, lantas mau apa berbulan madu di sana? Apakah di sana ada ranjang? Apa ada makanan? Ada tivi? Bisa internetan? Kalau tidak ada, mau sengsara di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;demi cintaku padamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kemanapun kaukan ku bawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;walau harus kutelan lautan bara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;demi cintaku padamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ke gurun ku ikut denganmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;biarpun harus berkorban jiwa dan raga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa mungkin ada yang mau menelan bara, sedang menyentuhnya saja takut? Siapa yang mau ikut ke gurun, berkorban jiwa raga demi cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali mungkin karena cinta, semua hal jadi sepele! Memang cinta tak bermata, ungkap Poppy Mercury. Dan mungkin tak berotak. Tapi jangan kaitkan hal itu dengan kenyataan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;andai dipisah laut dan pantai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tak akan goyah gelora cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;andai dipisah api dan bara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tak akan pudar sinaran cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait terakhir lagu berjudul Cinta Kita ini, menyuratkan pengandaian. Ya, memang pengandaian. Pengibaratan radikal cinta seseorang pada kekasihnya; berani berkorban. Saling menerima dan memberi sejauh yang bisa dan diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terkesan lebay dan berlebihan, tentu dimaafkan karena syair punya logikanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, slow rock ala 90-an ini adalah jejak kenang saya ketika kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenari, 25 Januari 2012&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-9005118957105100983?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/9005118957105100983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=9005118957105100983&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/9005118957105100983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/9005118957105100983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2012/01/jejak-kenang-bulan-madu.html' title='&quot;Jejak Kenang Bulan Madu&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-8044905991673376767</id><published>2012-01-22T10:52:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T11:45:14.317-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>"Menyimak Perempuan Bercelak Tebal"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Seumur-umur, saya tidak pernah menaiki gedung bertingkat, mencakar langit. Wasilah seorang teman, 21 Mei 2009 lalu, saya merasakannya. Hingga ke lantai 39 malah. Di lantai tersebut, saya masuk ke salah satu ruangan yang asri dan segar.&lt;/span&gt; Di situ terdapat sekelompok orang berkumpul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya ingin mengetes Saudara/i dengan satu pertanyaan. Satu saja. Apa yang mereka lakukan di situ? Jika bisa menebaknya, saya menjura, membungkuk hormat 45 derajat. Saya yakin Saudara/i sebagai orang luar biasa memiliki daya linuih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi kalau tidak bisa, mau tidak mau, saya harus menjawabnya sendiri. &lt;/span&gt;Ah, merepotkan saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;  Di lantai tersebut, mereka sedang berlatih menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah, jangan banyak pertanyaan. Boleh percaya atau tidak. Tapi saaya sarankan percaya sajalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, saya duduk di kursi, di samping teman saya yang mengajak. Beberapa kursi kosong karena mereka lesehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di deretan kursi tersebut, ada seorang perempuan berambut panjang bergelombang. Wajahnya bermake-up tebal. Kelopak matanya bercelak tebal hitam dengan alis lurus, dengan ujung melengkung ke atas. Ia berbaju putih dan bercelana jens hitam ketat. Tubuhnya sintal. Sesekali ia menyimak pembicaraan narasumber. Tapi lebih sering memainkan ponselnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya mendekatinya. Rupanya dia kenal. Keduanya bercakap akrab. Entah apa yang diobrolkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyimpulkan perempuan itu bukan seorang peserta. Mungkin salah seorang teman dari peserta, atau pembicara. Atau entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memerhatikan narasumber yang bercerita tulisan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Watergate&lt;/span&gt; di Amerika. Membahas bagaimana menulis liputan panjang dan detail dan enak dibaca. Peserta berjumlah belasan orang itu tekun menyimak. Sekali dua, muncul pertanyaan. Si narasumber menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam saya menyimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu istirahat, seluruh pesarta dan narasumber makan siang. Saya pun ikut. Ingin merasakan masakan lantai 39.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang menikmati makanan, sengaja saya duduk dekat perempuan bercelak tebal. Ia sedang bercakap dengan narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam saya menyimak Perempuan Bercelak Tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata yang diobrolin adalah pasangan hidup. Dalam hal ini Perempuan Bercelak Tebal sedang membeberkan ciri-ciri dambaan calon suaminya. Ternyata bukan harta, tahta, atau rupa yang diinginka. Tapi warna kulit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue ingin cowok bule!” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan bicaranya, si Narasumber terdiam sebentar. Tapi kemudian bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ingin bule? Pria lokal juga masih banyak, kayak gue...haha,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama pria lokal, gue nggak nafsu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ama gue berarti lu nggak nafsu?” tanya Narasumber sambil ketawa lagi. Tapi perempuan itu tak menanggapinya. Ia dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Ya. Sudah melakukan upaya apa untuk dapat bule?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada sih yang udah mau. Tapi di negaranya, dia polisi. Gue takut sama polisi. Takut disiksa. Males!" tegasnya sambil mengangkat bahu. "Padahal dia sudah mau ikut agama gue,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus ada orang New Zealand. Dia siap menikah, tapi sayang, tidak mau disunat. Dia tidak mau ikut agama gue. Gue nggak mau juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm... lesbi aja gimana, hahaha?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, itu kan menyimpang dan dilarang sama agama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ saya menyimak Perempuan Bercelak Tebal karena Narasumber mengajak  mengisi perut. Kemudian &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;keduanya &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;duduk jauh dari saya. Jadi tidak tahu cerita selanjutnya. Kalau Saudara/i ingin tahu, silakan dekati saja keduanya sekarang. Mumpung mereka masih ngobrol. Simak baik-baik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pulang, meninggalkan gedung lantai 39, saya mendapati keterangan dari teman saya, bahwa perempuan itu berasal dari Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan masih terngiang percakapan Perempuan Bercelak Tebal dengan Narasumber. Tak sadar kaki saya hampir menendang botol air mineral. Saat itu, tiba-tiba ingat istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: right;font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat, 21 Mei 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-8044905991673376767?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/8044905991673376767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=8044905991673376767&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8044905991673376767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8044905991673376767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2012/01/menyimak-perempuan-bercelak-tebal.html' title='&quot;Menyimak Perempuan Bercelak Tebal&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-5451885958400956022</id><published>2012-01-21T09:12:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T09:40:28.013-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>"Karyo Mengadu kepada Gus Dur"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-1fdEjOqvJPs/Txr3FgTb_PI/AAAAAAAAAJY/-l9yym-FM2A/s1600/P1140110.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 241px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-1fdEjOqvJPs/Txr3FgTb_PI/AAAAAAAAAJY/-l9yym-FM2A/s320/P1140110.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700139952333651186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang berpeci merah berjalan tergesa. Nafasnya terengah karena tubuhnya tambun tapi pendek. Ia mengenakan kaos oblong warna kuning ketat, tampak kekecilan karena perutnya buncit. Sarung coklatnya dilinting tinggi-tinggi. Hampir menyentuh dengkulnya. Ia menuju rumah Pak RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan, Karyo dicegat Kampret, pemuda kurus, berambut gondrong, berkaos oblong dan bercelana jeans. Tak lama berselang, lewat Ki Sidik yang berblangkon, berbaju lurik panjang dan bersarung batik hitam. Ketiganya terlibat dalam obrolan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyo menceritakan maksudnya. Ia akan melabrak Pak RT. Soalnya, ia satu-satunya warga yang tidak kebagian kompor gas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  “Pak RT tidak salah. Ia hanya menjalankan petunjuk dari atasannya,” Ki Sidik berpendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa atasan Pak RT?” tanya Karyo lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak RW,” jawab Ki Sidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, saya mau melabraknya juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak RW juga menjalankan tugas atasannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa atasan Pak RW?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Lurah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalian saya mau menghajarnya,” tegas Karyo berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah satu adegan kemarahan rakyat kecil, dengan nasib kecil, kecele dan kere. Adegan tersebut terdapat dalam lakon Tragedi Jual-Beli Mimpi dari Wayang Kampung Sebelah besutan dalang Ki Jlitheng Suparman pada acara bertajuk Semalam Bersama Gus Dur di Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Ciputat, Tangerang, pada Jumat malam (13/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang dipandu Wong Zolim tersebut dalam rangka haul kedua Gus Dur, diselenggarakan berbagai organisasi mahasiswa, forum studi, dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UIN Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir pada kesempatan itu, Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid dan sahabat-sahabat Gus Dur, diantaranya Bondan Gunawan, Adhi Massardi, dan AS. Laksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara tersebut dimeriahkan penampilan penyanyi Ivan Nestorman, hadrah el-Kafi, Marawis Irmafa, dan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UIN Jakarta dan pembacaan puisi Hendri Yetus Suswono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan berikutnya, Pak Lurah lewat di antara Karyo, Kampret dan Ki Sidik. Ia berpakaian rapi dengan rambut klimis ala Beatles. Air mukanya setenang telaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Sidik kaget bukan main karena justru yang dicari Karyo ada di hadapan mata. Keributan bisa terjadi. Tapi kemudian dia tenang ketika Karyo justru gemetar, dagunya gemeretak laiknya orang kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Sidik menyuruh Karyo untuk segera menyampaikan maksudnya kepada Pak Lurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengumpulkan keberanian, Karyo bercerita kepada Pak Lurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, Pak Lurah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu juga boleh,” jawab pak Lurah kalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya serius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga duarius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ada lurah lain?” bisik Karyo kepada Ki Sidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah masalahnya kalau lurah duapuluh ribuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua puluh ribuan gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pas pemilihan kan kamu menerima uang dua puluh ribu untuk mencoblosnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyo melengos. Ia merasa terpojok dan niat maksudnya dipermainkan Pak Lurah.  Lagi pula ia ditertawakan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begini, saya benar-benar marah. Tak ada pak RT, pak Lurah yang akan saya hajar,” ungkap Karyo sambil ancang-ancang dan pasang kuda-kuda. Tapi Pak lurah tetap tenang, seperti tugu. Dia yakin sekali rakyatnya yang satu itu tak mungkin melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Karyo benar-benar akan menghajarnya, pesinden dan penabuh gamelan wayang Kampung Sebelah bernyanyi syahdu. Nyanyian itu, seolah menyiram kemarahan Karyo. Ia termenung beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Astaghfirullah robbal baroya…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Astaghfirulloh minal khootooya…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Robbi zidni`ilmannaafii’a…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wawaffikni`amalansoliha… &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu datang seseorang. Ia berkacamata, berambut rapi di sisir ke pinggir, berkemeja pendek bercalana panjang dan bersandal. Ia hadir sambil bersenandung…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngawiti ingsun nglaras Syiiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelawan muji marang Pangeran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kang paring rahmat lan kenikmatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rino wengine tanpo pitungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara ini sangat akrab di telinga penonton. Ya, suara Gus Dur. Mereka tepuk tangan sambil mengikuti syair Tanpo Waton tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Duh bolo konco priyo wanito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ojo mong ngaji Syare'at bloko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gur pinter ndongeng, nulis lan moco&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tembe mburine bakal sengsoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan Gus Dur datang,” ungkap Karyo sumringah. “Begini, Gus, saya mau minta keadilan,” lanjut karyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya saya nyimpen keadilan? Minta keadilan kok ke saya. Saya nggak punya,” jawab Gs Dur enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, podho, bae,” kata Karyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ini, Gus, saya ini tidak kebagian kompor gas. Begitu lho, Gus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kan sudah takdir. Harus diterima dengan ikhlas. Tak usah-marah-marah. Gitu. Nggak ada kompor gas, memangnya nggak bisa masak? Gitu aja kok repot,” lagi-lagi Gus Dur menjawab enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebanarnya bukan hanya masalah kompor gas, Gus. Tapi saya ini merasa benar-benar hidup ini menyakitkan. Saya ini sejak lahir sampai tua, melaraaaaaattt… Hidup di negara yang katanya kaya raya. Tapi saya melarat terus. Saya bosen dengan melarat. Tapi si melarat tak bosen-bosen dengan saya. Saya mohon petunjuknya, Gus,” jelas Karyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak usah kamu bingung. Kalau kamu sejak lahir sampai tua itu melarat, justru kamu jadi orang melarat yang profesional. Kamu jadi orang melarat yang ahli. Tingkatanmu itu master. Tingkatanmu itu syekh. Syekh kemelaratan. Nanti kalau ada seminar tentang kemiskinan, pasti kamu akan diundang,” jawab Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disuruh jadi narasumber ya, Gus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan sempel…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, kok bercanda sih. Saya ini ini benar-benar pedih, katanya undang-undang mengamanatkan; fakir miskin dan orang terlantar dipelihara negara. Tapi mana? Buktinya saya sama sekali tidak pernah merasakan sentuhan kebijakan negara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Negara itu sudah menjalankan undang-undang,” jawab Gus Dur. “Fakir miskin dan anak-anak yatim memang dipelihara negara. Dipelihara supaya tetap miskin dan terlantar. Yang namanya dipelahara itu kan supaya tetap terjaga kelestariannya,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya negara itu mengklaim, sudah berhasil. Angka kemiskinan menurun. Mana, Gus? Kok saya tetap miskin begini?” tanya Karyo lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu juga benar. Pemerintah mengklaim angka kemiskinan menurun itu sudah betul. Menurun ke anak cucu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan itu, Gus, maksudnya, bukan itu,” kata Karyo kesal. “Katanya orang miskin di Indonesia ini sudah berkurang. Artinya pembangunan itu sudah berhasil karena jumlah orang miskin sudah berkurang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu tidak salah. Jadi memang jumlah orang miskin di Indonesia ini sudah berkurang karena banyak yang mati bunuh diri akibat miskin. Begitu juga banyak yang mati ditembaki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah…!” kelauh karyo sambil meninju udara. “Terus nasib seperti saya ini harus bagaimana, Gus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka, yang terpenting sementara ini, terima dulu keadaan. Sekarang kalian harus melakukan konsolidasi pikiran. Setelah konsolidasi pikiran, konsolidasi sosial untuk perubahan besar dan mendasar bagi Indonesia, sebab tanpa ada perubahan besar dan mendasar, tidak mungkin Indonesia ini akan berubah. Tetap saja keadaan akan seperti ini. Maka Indonesia kelak hanya ada dua pilihan, kepemimpinan yang kuat, atau kekuatan yang memimpin. Kalau sudah ada pemimpin yang kuat, berarti dibutuhkan kekuatan yang dipimpin. Nah, inilah salah satu yang diharapkan. Komunitas Gus Durian, jadilah kekuatan yang memimpin bangsa,” terang Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, wejangan Gus Dur cukup lega sebenarnya,” ungkap Karyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya syukur kalau lega,” kata Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi perut tetap keroncongan. Nah, ini persoalannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya harus bersabar. Begitu lho. Yang terpenting pesan saya itu tadi pada Lek Karyo dan saudara-sdauara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma itu, Gus? “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya itu yang saya bisa. Mau apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ada, jangan cuma pesan, tapi pesan ngon, Gus…“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat, 13 Januari 2012&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;gambar diunduh dari data pribadi &lt;a href="http://namakuayuu.blogspot.com/2012/01/wayang-kampung-sebelah-at-semalam.html"&gt;http://namakuayuu.blogspot.com/2012/01/wayang-kampung-sebelah-at-semalam.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-5451885958400956022?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/5451885958400956022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=5451885958400956022&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5451885958400956022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5451885958400956022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2012/01/karyo-mengadu-kepada-gus-dur.html' title='&quot;Karyo Mengadu kepada Gus Dur&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-1fdEjOqvJPs/Txr3FgTb_PI/AAAAAAAAAJY/-l9yym-FM2A/s72-c/P1140110.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-5716056491140443872</id><published>2012-01-20T13:39:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T14:30:10.724-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Nobar Final Liga Champion di Kebun Binatang"</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesanggrahan sepi. Semua penongkrong menonton pertandingan MU vs Barca di layar lebar, seperti layar tancap, di Student Center UIN Ciputat. Hiruk-pikuk memecah malam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku memilih di pesanggrahan (pinggir kampus) saja karena ada beberapa orang nonton pertandingan asuhan Guardiola dan Ferguson di tv 14 inci. Saya menggelesot ke situ. Skor sementara 1-1. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi kemudian lewat seorang penongkrong, sahabat sepemalaman, sepengopian dan seperokokan. Tanpa basa-basi, dia langsung menarik tangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Ayo nonton bareng sama teman-teman. Ngopi di sana.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;  Saya tak bisa menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di SC, suasana gelap. Tapi justru itu, layar lebar yang menampilkan pertandingan liga Champion tersebut tampak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, saya membaca posisi penonton. Sepertinya pendukung ini terpisah. Sebelah kanan pendukung MU dan Barca sebalah kiri. Saya bergabung ke pendukung MU karena teman yang mengajak ke situ. Saya nonton tidak dengan maksud mendukung tim mana pun. Saya nonton karena memang ingin nonton. Titik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang pas babak kedua dimulai. Barca kembali mengurung MU. Hampir setiap lini dikuasainya. Pada saat itu, saya berpendapat, Barca sewenang-wenang terhadap lawannya. Ini kezaliman. Menyiksa lawan berlari ke sana ke mari tanpa bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin MU mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berbisik kepada teman di samping, “Kenapa MU sedemikian jeleknya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan menit babak kedua, tendangan kaki kiri Messi bersarang di kiri gawang MU. Tangan panjang Van Der Sar tak kuasa mencegatnya. Bergetarlah jaring gawang. Kiper jangkung itu memungut bola dengan lesu. Mukanya mirip pesakitan yang baru divonis penjara seumur hidup. Mukanya tampak lucu ketika dipecundangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Messi lari dikejar teman-temannya seperti maling jemuran kepergok. Pecahlah tabu bahwa dia selalu gagal menggetarkan gawang di Wembley saat final. Skor 2-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendukung Barca meloncat-loncat. SC bergemuruh. Tentu saja pendukung MU bungkam. Mengatupkan bibir. Guardiola mengangkat kedua tangan. Sementara Fergie  mengunyah permen membasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertandigan terus berjalan. Tapi tetap pemain bertubuh kecil-kecil bermarkas di Camp Nou itu trengginas menggiring bola membahayakan. Lapangan tengah MU keropos. Paul Scholes pun dimasukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dia masuk, satu suara penonton memaki. Entah dari pendukung  mana. Penonton lain menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas, aki-aki masuk,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya yakin itu suara pendukung Barca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, kemudian mata kamera membidik kedua tangan Fergie yang gemetar. Mungkin karena permainan beberapa menit lagi. Meski mulutnya mengunyah, tapi tak bisa menyembunyikan kekuatirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan penonton bola yang baik, apalagi komentator handal. Jadi, tidak mampu menganalisis permainan dengan cermat. Misalnya, dalam posisi demikian, apa kekurangan dan kelebihan jika Scholes dimasukkan. Strategi apa untuk mengalahkan Barca. Dan bagaimana Barca kalau sudah menang 2-1. Mesti bertahan atau tetap menyerang. Saya tidak tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya penonton biasa saja. Cuma penyaksi 22 orang berlari-lari mengejar bola. (Oh, bukan, tapi 20 orang. Kiper kan cuma menunggu gawang). Dan takjub bagi pemain yang akuarat mengumpan, senang jika gol indah tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba saya berpikir begini, jika saya jadi pemain bola, dan mencipta gol, saya tak akan berlari seperti Messi, atau merayakan gol berlebihan. Saya akan biasa-biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit menjelang akhir, saya berpendapat, masuknya Scholes, tak mengubah apa-apa. MU tetap kelabakan. Dan Baca makin zalim. Karena itulah tiba-tiba sebel juga sama asuhan Guardiola ini. Mereka melumpuhkan syetan merah. Tapi saya tetap tidak dukung MU. Sebel karena sebel saja. Titik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Barca, ajarin MU. Ajarin!” ungkap satu suara ketika pemain MU mengejar-ngejar bola. Tapi si kulit bundar tak didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjing!” jawab suara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Babi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Monyet!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama binatang disambat seragunan berbalas-balas, nyaris koor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wedus!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Barca tetap membabi buta. Haus gol. Dan tentu haus minum juga karena pasti kecapekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, beberapa meter dari kotak penalti, David Villa mendapat bola. Ia menendangnya ke arah kiri gawang. Dan lagi-lagi, tangan Van Der Sar perlu disambung. Ia tak bisa menjangka kulit bundar. Jaring bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat 2011  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-5716056491140443872?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/5716056491140443872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=5716056491140443872&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5716056491140443872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5716056491140443872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2012/01/nobar-final-liga-champion-di-kebun.html' title='&quot;Nobar Final Liga Champion di Kebun Binatang&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-5235728092677413630</id><published>2012-01-09T07:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T09:29:23.238-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>"Berebut Kepalsuan"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family:georgia;" &gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dendam Prabu Bumiloka kepada Pandawa Lima kian berkecambah. Terlebih kepada Arjuna yang membunuh ayahnya, Prabu Niwatakawaca.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dan, segenap pikiran raja dari Kerajaan Manimantaka ini dihabiskan untuk membalasnya. Begitu pula Dewi Mustokoweni, adik perempuannya. Tapi, keduanya sadar, kelima putra Pandu itu terlalu sakti. Apalagi  mereka dibekali senjata andalan, Jimat Kalimasodho. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Kita punya dendam kesumat. Tapi dendam kita besar pasak daripada tiang, Adikku” ratap Bumiloka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kebuntuan kakak-adik itu, Togog menganjurkan untuk berembuk dengan Resi Kala Pujangga dari Pertapaan Guwa Dumung.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p&gt;Sang resi membeberkan data yang dimilikinya. Menurutnya, untuk mengalahkan Pandawa, mesti merebut Jimat Kalimosodho. “Sekarang adalah waktu yang tepat, karena jimat itu sedang dititipkan kepada Dewi Drupadi. Sementara Pandawa sedang membangun candi Saptarenggo di Pertapaan Sapta Arga.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;Lebih jauh, resi menuturkan bahwa Kresna sudah berpesan agar Drupadi tidak menyerahkan jimat tersebut kepada siapa pun, kecuali Gatotkoco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk mendapatkannya, seseorang harus menyamar jadi Gatotkoco. Dan,  Mustokowenilah yang mampu menjalankannya karena memiliki ilmu Kamayan yang bisa beralih rupa sesuai kemauan,” simpul Resi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustokoweni menyanggupi. Ia pergi ke Amarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, lakon “Ilange Jimat Kalimosodho” yang dibawakan dalang Ki Enthus Sumono mulai: yang palsu berebut kepalsuan, yang didapat kepalsuan. Lakon yang sarat intrik, perkelahian, tipu-menipu, saru-menyaru, juga dibumbui asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagelaran yang berlangsung Rabu-Kamis (21-21/12) ini bertempat di gedung Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta, pukul 19.30. Pagelaran kerja sama Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU ini diiringi kelompok musik religi Ki Ageng Ganjur dan Sapta Kusbini Orchestra dari ISI Yogyakarta.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita berlanjut dengan kedatangan Gatotkoco kepada Drupadi di Amarta. Ia langsung meminta Jimat Kalimosodo. Meski ragu, Drupadi tak bisa menolak ketika diterangkan bahwa ia diperintah Kresna untuk kebutuhan Pandawa. Pembangunan Candi Saptarenggo bermasalah, setiap pagi dibangun, malamnya rubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gatotokoco pergi tanpa pamit, menggondol Jimat Kalimosodho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srikandi menyambangi Drupadi. Ia menceritakan baru saja ketemu Gatotokoco. Drupadi kaget, karena baru saja didatangi Gatotokoco. Malah mengambil jimat. Keduanya sadar telah tertipu. Dan, negara dalam bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srikandi mengejar Gatotokoco palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkelahian hebat antara Srikandi dan Gatotkoco tak terhindarkan. Srikandi meloloskan anak panah. Gatotkoco bersulih jadi Mustokoweni. Ia langsung terbang. Srikandi kehilangan jejak. Tapi ia tak putus asa, didatanginya Semar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lurah Tumaritis ini cepat tanggap. Segera ia mengatur siasat untuk merebut kembali jimat tersebut. Semar pergi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mostokoweni berpapasan dengan Resi Kala Pujangga di perjalanan pulang. Ia gembira dan langsung memberikan jimat. Tapi kemudian, yang tampak adalah Semar. Semar pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semar bersiasat. Ia meduplikat jimat tersebut. Kemudian, yang asli dipegang Petruk agar dijaga dan disimpan, yang palsu dipegangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srikandi datang menanyakan jimat. Semar segera menyerahkannya. Beberapa detik kemudian, Srikandi berganti jadi Mustokoweni. Dan, langsung kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas Mustokoweni enyah, datang Srikandi asli menanyakan hal serupa. Semar menceritakan kejadian sebelumnya. Ia menyarankan Srikandi untuk meminta bantuan Bambang Priyambodo, pemuda dari pertapaan Galagah Wangi. Ia anak Arjuna dari istri lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srikandi bergegas menemui pemuda itu. Sementara itu, Mustokoweni tiba di Manimantaka.  Ia segera menghadap Prabu Bumiloka dan menyerahkan Jimat Kalimosodho. Setelah pindah tangan, prabu lenyap, jadi Bambang Priyambodo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyambodo langsung menuju Sapta Arga untuk menyerahkan jimat kepada Kresna. Namun, sekarang giliran dia tertipu. Kresna salin jinis jadi Mustokoweni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi perang tanding antara keduanya. Priyambodo melesatkan panah. Tepat sasaran. Tapi tidak membuatnya terbunuh, melainkan membeset pakain Mustokoweni. Seketika, cinta tumbuh di antara keduanya. Pertempuran sengit bersabung nyawa berubah jalinan asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon berdurasi tiga jam ini ditutup dengan pernikahan Priyambodo dan Mutokoweni di Amarta. Saat itu, hadir Semar yang memberi penjelasan Jimat Kalimosodho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jimat Kalimosodho jerih-payah Priyambodo adalah palsu belaka. Sementara yang asli di tangan rakyat,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk mendapatkannya kembali, temanilah rakyat! Perjuangkan kepentingannya! Tiada guna berebut jimat untuk mempertahankan kekuasaan. Apalagi dengan cara licik, saling menipu. Sementara nasib rakyat dibaikan!” pungkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember, 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tulisan ini pernah di muat di NU Online: &lt;a href="http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/35473/Warta/Ki_Enthus_Ingatkan_tentang_Kepalsuan_.html"&gt;http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/35473/Warta/Ki_Enthus_Ingatkan_tentang_Kepalsuan_.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-5235728092677413630?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/5235728092677413630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=5235728092677413630&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5235728092677413630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5235728092677413630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2012/01/berebut-kepalsuan.html' title='&quot;Berebut Kepalsuan&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-8507058623862000259</id><published>2012-01-02T15:55:00.000-08:00</published><updated>2012-01-02T16:05:17.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kiat'/><title type='text'>"Siasat Menyebrang Jalan"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-AWK3uBYUaPo/TwJFrSpYA-I/AAAAAAAAAJI/iWJRMmnMG7Y/s1600/zebra-cross-dijarah-pemotor.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 160px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-AWK3uBYUaPo/TwJFrSpYA-I/AAAAAAAAAJI/iWJRMmnMG7Y/s320/zebra-cross-dijarah-pemotor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693189488991798242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota besar seperti Jakarta, kendaraan roda dua dan empat seperti diternak dan menetas tiap hari. Terus bertambah, dan terus bertambah. Jalanan acap diperlebar, dibikin jembatan layang, sia-sia belaka.  &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan-kendaraan itu, setiap hari berlomba saling mendahuli seperti syetan berebut nyawa. Apalagi ketika pagi (berangkat kerja) dan sore hari (pulang kerja). Pikiran para pengendara sudah bukan di jalanan. Kecelakaan bisa terjadi sekatika.  &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran selepas bertamu dari saudara, teman, atau pacar, kita selalu diperingatkan,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;”Hati-hati di jalan!”&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kalau kalimat itu dikirim via pesan singkat, akan diakhiri tanda seru labih dari tiga. Itu menganjurkan kewaspadaan berlebih karena nyawa tak ada depot isi ulangnya. &lt;/span&gt;  &lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk kewaspadaan itu adalah saat menyebrang jalan. Makanya, menyebrang jalan, perlu siasat tersendiri. Kalau tidak, kecelakaan bisa menimpa. Risikonya kematian, cacat seumur hidup atau geger otak. Yang mengerikan, pelaku ambil langkah seribu, korban sekarat ditinggal begitu saja seperti tikus. Brengsek, bukan? Masih mending jika dilanggar seorang kaya dan budiman. Ia mau bertanggung jawab hingga titik terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, namanya kecelakaan perlulah dihindari sedini mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa siasat untuk menyebrang jalan. Siasat ini barangkali sering Saudara pakai, tapi saya mencoba menuliskannya. Siasat ini memang tak sehebat siasat perang Jendral Soedirman atau Cut Nyak Dien yang memukul mundur penjajah bajingan, ditulis berjilid-jilid buku dikenang sepanjang zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang pertama, pastikan Saudara tidak sedang mengantuk berat. Kalau iya, jangan dipaksakan. Lebih baik menepi dulu, lalu makan rujak. Sebagian sambal, dioles di bawah kelopak mata, biar melek. Panas sedikit, tak apa, daripada Saudara dilanggar kendaraan. Kalau tak punya uang, tampar pipi kiri-kanan. Jangan keras-keras. Entar Saudara punya gigi rontok. Jadi jelek deh, kalau senyum. Cobalah pikir baik-baik dengan hati yang jernih dan pikiran bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, carilah jembatan penyebrangan. Ini merupakan yang paling aman. Kalau jauh sedikit, tak apalah, jalan kaki kan olah raga. Biar sehat begitu. Kecuali jika Saudara bisa membangun jembatan sendiri seketika. Itu soal lain. Saudara yang sakti tak masuk dalam siasat menyebrang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau jembatan penyebrangan jalan tidak ada, carilah zebracross. Tempat ini, tandanya ada garis-garis putihnya, memang khusus untuk penyebrang jalan. Jika Saudara terlanggar di situ, setidaknya dilindungi undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebrang di zabracros ada siasatnya pula. Berbarenganlah bersama penyebrang lain. Nah, dalam hal ini ada tekniknya pula. Ketika arah kendaraan melaju dari kanan, Saudara mesti di sebelah kiri rombongan. Ketika di pertengahan jalan, segeralah berjalan di sebelah kanan rombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana kalau cara-cara itu tak memungkinkan, sedangkan Saudara harus segera menyebrang? Saatnya Saudara dituntut berani. Hidup memang begitu, kadang dihadapkan pada pilihan pahit. Tapi jangan mundur. Hadapilah dengan penuh pertimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jangan menyebrang di tikungan. Tempat demikian sangat berbahaya, sebab kemungkinan si pengendara berkonsentrasi ke tikungan, bukan ke penyebrang. Cari jalan lurus yang bisa memperhatikan laju kendaraan dan kecepatannya. Ukurlah kecepatan kendaraan yang paling dekat dengan jarak tempuh Saudara menyebrang. Kalau dihitung-hitung, Saudara yang menang, maka lakukakanlah dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, berdoalah kepada tuhan yang maha menyebrangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenari, 2 Desember 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;Gambar di atas bersumber: http://edorusyanto.wordpress.com/2011/10/24/pejalan-kaki-%E2%80%98dirampok%E2%80%99/&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-8507058623862000259?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/8507058623862000259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=8507058623862000259&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8507058623862000259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8507058623862000259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2012/01/siasat-menyebrang-jalan.html' title='&quot;Siasat Menyebrang Jalan&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-AWK3uBYUaPo/TwJFrSpYA-I/AAAAAAAAAJI/iWJRMmnMG7Y/s72-c/zebra-cross-dijarah-pemotor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-2363857328092062444</id><published>2012-01-01T13:30:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T13:43:48.582-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Kisah Cinta Priyambodo dan Mustokoweni"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-N8Mb1E3lh78/TwDSg3Qif1I/AAAAAAAAAI8/THr_uRdfpQM/s1600/DSC_0127.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 265px; height: 206px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-N8Mb1E3lh78/TwDSg3Qif1I/AAAAAAAAAI8/THr_uRdfpQM/s320/DSC_0127.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5692781391027273554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana pun ada bayanganmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;Di mana pun ada bayanganmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;Di semua waktuku ada bayanganmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;Kekasihku…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Evie Tamala melantunkan lagu ini dengan khusuk, meyirap sekira 500 penonton gedung teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Rabu-Kamis malam (21-21/12) pukul 19.30. Suara emas penyanyi asal Tasikmalaya ini diiringi tetabuhan Ki Ageng Ganjur dan Sapta Kusbini Orchestra. Gendang dan drum beriringan. Sesekali melodi melengking bermesraan denga biola meliuk-liuk. Alat musik tradisional bergandengan tangan dengan musik modern.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;  Kedua grup musik ini sebagai gamelan pertunjukan wayang kulit yang diselenggarakan Lesbumi dan Lazisnu Nahdlatul Ulama dalam kemasan Wayang Simfoni Muharam. Pagelaran ini dibawakan ki dalang Enthus Susmono, asal Tegal, Jawa Tengah, yang juga pengurus Lesbumi. Ia melakonkan Ilange Jimat Kalimosodo. Lakon sarat intrik, perkelahian, tipu-menipu, saru-menyaru, juga dibumbui kisah percintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu tumbuh antara Priyambodo dan Mustokoweni. Cinta yang hadir seketika. Seketika! Dan rupanya cinta itu berbalas. Mustokoweni mencintainya pula seketika. Seketika!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal beberapa detik sebelumnya, keduanya adalah seteru; bertempur habis-habisan bersabung nyawa. Hingga kemudian Priyambodo melolos satu anak panah. Tepat sasaran di tubuh Mustokoweni. Tapi anehnya, panah itu tidak merenggut nyawa, melainkan menelanjangi. Segenap busana Mustokoweni tanggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Priyambodo gemetar. Ada kekuatan hebat mengalir dalam darahnya. Mengobrak-abrik tulang sumsum, dan mengacak isi tempurung kepalanya. Kekuatan itu pernah dialami Adam kepada Hawa, Romeo kepada Juliet, Guruminda kepada Purbasari, Kais kepada Laila, Minke kepada Annelis dan Abdullah Zuma Alawi (AZA) kepada Perempuan Penunggang Angan (PPA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priyambodo adalah salah seorang anak Arjuna, pentolan Pandawa, dari istri yang lain (tidak disebutkan namanya). Ia mengemban tugas dari ibu tirinya, Srikandi, untuk merebut Layang Jamus Kalimosodo yang dicuri Mustokoweni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya memiliki ilmu kamayan yang bisa mengubah jasad sesuai kemauan. Ketika jimat itu di tangan Mustokoweni, Priyambodo mengubah jasad jadi Prabu Bumiloka (kakak mustokoweni) hingga Mustokweni menyerahkan jimat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Priyambodo juga dikelabui ketika menyerahkan jimat itu kepada Kresna yang ternyata Mustokoweni. Tipu-menipu, saru menyaru, bertempur. Lalu, jatuh cinta. Cinta yang melenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah kekuatan lain yang lebih hebat dari cinta? Bisa mengubah semena-mena? Seketika? Mengubah cara pandang sewenang-wenang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah cinta Priyambodo itu hadir karena keindahan jasad Mustokoweni? Wallahu a’lam. Lalu bagaimana cara Mustokoweni mencintai Priyambodo? Apakah karena Priyambodo cinta, lantas ia mencintainya pula? Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan–pertanyaan itu tak layak diajukan untuk menggambarkan cinta di antara keduanya. Cinta, ya cinta saja. Tak butuh pertanyaan dan penjelasan. Bahasa gugur sebagai medium penjelas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: right;font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenari, 2 Januari 2012&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-2363857328092062444?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/2363857328092062444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=2363857328092062444&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2363857328092062444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2363857328092062444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2012/01/kisah-cinta-priyambodo-dan-mustokoweni.html' title='&quot;Kisah Cinta Priyambodo dan Mustokoweni&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-N8Mb1E3lh78/TwDSg3Qif1I/AAAAAAAAAI8/THr_uRdfpQM/s72-c/DSC_0127.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-6660823921952661532</id><published>2011-12-28T03:40:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T04:13:18.791-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>"DRH, Penyambung Lidah MAN Cibadak 2003"</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undangan Menikah:Aceng Hendi dengan Lilis Lisnawati. Hari Minggu: 18 Desember 2011. Tempat: Kp Cikiwul Lebak Rt 03/02, Desa Sekarwangi, Cibadak, Smi. Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami pabila berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Beberapa waktu lalu, saya mendapat undangan serupa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;Undangan menikah: Siti Muawanah R. dengan Ence Zaenal Ramdan, Sabtu 10 Desember 2011, pkl 08 s.d. selesai. Tempat: Jl. Perintis Kemerdekaan No. 28, Kubang Hegarsari 02/12 Cibadak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Undangan via pesan singkat ini bisa dipastikan siapa pengirimnya: Dahlan Rahmat Hidayat selanjutnya DRH, lulusan MAN Cibadak 2003. Dialah juru kabar tak kenal lelah angkatan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ketika kelas satu, saya sering tertukar antara DRH dan Adi Asparudin. Juga  Muhammad Yasin dan Ayi Wiharja. Kecuali Adi, ketiganya pernah sekelas di II. 2 dengan wali kelas Undang Hartono, guru Biologi yang ahli seni yang sering mengenakan topi ala Putu Wijaya. Di kelas ini, saya baru sadar sahabat-sahabat mirip itu ternyata jauh sekali perbedaannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;  Kelas II 2 terletak di antara II. 1 dan dan II.3. Lokasinya paling selatan sekolah bekas PGA ini. Di hadapannya terdapat laboratorium kimia yang sebelah utaranya lapangan serba guna. Kelas tersebut, baru dibuka tahun 2002. Angkatan kamilah pertama menghuni kelas ini. Sebagaimana biasanya, yang pertama selalu menadapat ujian. Setidaknya dua hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ketika masuk tahun ajaran, hanya disediakan kursi tanpa meja berbulan-bulan. Menulis dengan meja dengkul seperti waktu di madrasah diniyah di kampung. Betapa sabarnya kami. Tak protes, tak walkout. Murid kelas. II. 2 memang teladan, bukan? Atau memang tak punya nyali? Tak tahulah. Barangkali teladan dan tak punya nyali tipis beda dan persamaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, belum ada pagar mengelilingi MAN Cibadak sehingga siapa pun bisa lewat, termasuk ayam milik tetangga sekitar. Makanya akan mudah menemukan tahi ayam di halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelas ini, ada ketua umum OSIS, Ujang Abdul Muhyi asal Gudang, Karang Tengah, bersama sekira 9 pengurus hariannya. Ada ketua PKS (Polisi Keamanan Sekolah), Aden Badruddin, asal Tenjolaya, Cicurug dan beberapa pengurus pramuka aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas ini berpenghuni 49 orang dengan formasi bangku-meja 4 baris. Masing-masing berderet ke belakang 6 kursi dan meja. Setiap bangku dihuni 2 orang. Tapi ada bangku yang dihuni tiga orang. Murid yang sial adalah DRH. Dia harus berdempetan bersama Chiko Permana Sidik, Cibalung, dan Asep Kamaludin, Kalapa Carang. Tapi kemudian salah seorang siswi meninggalkan kelas ini karena menikah sehingga murid genap 48.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, di kelas ini pernah terjadi kecelakaan. Sang KM, Ujang Rahmat, asal Selajambe yang ahli bulu tangkis, pernah menaiki langit-langit untuk membetulkan genteng bocor. Rupanya ia kurang hati-hati hingga terpeleset dan jatuh. Kakinya terkilir. Tugas mulianya sebagai KM, digantikan wakil karena berhari-hari absen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diceritakan sedikit perihal kecelakaan ini. Pembaca mungkin bertanya, kok bangunaan baru, begitu cepat ada genteng yang bocor? Apa mungkin pemborong bangunan ini berbuat licik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya ada kesalahpahaman antara pemuda sekitar dan murid  II. 4. Keduanya hampir berkelahi. Ternyata ini berbuntut panjang. Mereka melempar batu ke genteng-genteng. Salah satu korbannya kelas II.2. Karena itu musim penghujan, di kelas sering banjir. Pak Indrakilla yang mengingatkan supaya itu segera diatasi. Sebagai KM, dan karena murid lain tak ada yang mau, Ujang Rahmat turun tangan. Terjadilah kecelakaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, penghuni kelas II. 2 tertekur dengan pelajaran matematika. Kelas demikian sepi, karena Bu Guru berdiri megah di muka kelas. Saya paling tersiksa sendiri dengan pelajaran ini. Ya ampun, rimba angka itu menjelma genderuwo berkuku tajam, bergigi taring runcing siap terkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, masuk seorang anak muda innocent. Usianya tak lebih 20 tahun. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Ia berdiri di depan kelas, membelakangi Bu Guru yang wajahnya langsung pucat. Kelas ini sesepi kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sepatah kata pun, anak muda itu keluar kembali. Hingga kini, peristiwa itu tak terjelaskan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut dicatat pula, bahwa kelas II. 2 pernah juara pertama perlombaan drama se-MAN Cibadak yang diselenggarakan OSIS. Pesertanya cuma 2 kelas. Kelas II. 2. Dan IPA 2. Dewan jurinya adalah guru PPKn dan guru olah raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa nama alias DRH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sahabat-sahabat, DRH dipanggil si ucing. Ada pula yang menyapa Dahlan Munir atau Dayang. Barangkali di rumah, di kampungnya, dia punya sapaan lain juga. Saya tidak pernah tahu asal-usul kenapa dipanggil demikian. Tapi sepertinya dia tak keberatan dengan nama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawakan DRH mungil. Rambitnya ikal. Kalau tersenyum, matanya ikut terpejam. Gaya jalannya lincah. Dia mudah bergaul dengan siapa saja; guru, murid, laki atau perempuan, lintas kelas dan lintas angkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang saya tahu, dia sering menyingkat namanya jadi DRH. Ini saya ketahui, ketika menuliskan sesuatu di buku harin saya. Ah, sebenarnya bukan  buku harian seperti anak-anak sekarang, tapi lembaran buku-buku yang tak terpakai, saya kumpulkan. Kemudian dijepit. Jadilah untuk coret-coret. Beberapa teman pernah menulis di situ, hingga kini terawat dengan baik, sebagai kenangan 9 tahun lalu. Tak terasa, sewindu lebih. Ah, waktu memang brengsek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sempat saru, karena ada sahabat lain yang berinisial sama, yaitu Dede Rahmawati. Dia menyingkat DRH pula. Tapi saya yakin itu tulisan Dahlan atau Ucing, atau Dayang atau Munir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya setahun sekelas dengan DRH. Perpisahan dirayakan di gunung Salak. Ah, bukan perayaan juga. Kami tak meniatkan itu. Sebelas orang berangkat diangkut angkot sewaan. Sopirnya DRH. Dia lihai mengemudi. Perbekalannya sederhana saja; beras, ikan asin, lilin, minyak goreng dan sekilo jengkol; DRH pula yang bawa. Di gunung, tidak ngapa-ngapain, hanya memindahkan tidur dan makan. Tidak ada kata saling berpisah yang mendayu-dayu seolah hidup akan berakhir begitu saja. Tidak! Kami berkumpul, ya berkumpul saja. Selesai urusan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, iya, kami membawa gitar. Chiko dan Efe adalah gitaris nomor wahid di antara kami. Kami nyanyi-nyanyi lagu dangdut. Sayang sekali Abdul Azis tidak ikut. Kalau ada, pasti joged. Saya pernah menyakasikan sendiri di Gunung Walat, jogednya lain dari yang lain. Tapi sayangnya, saya kesulitan menggambarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas tiga, DRH masuk jurusan IPS. Intensitas pertemuan bersamanya berkurang. Tapi tetap sering ngobrol jika ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perpisahan pun tak bisa dihindarkan. Sahabat-sahabat menggulati rimba masing-masing, dengan nasib sendiri-sendiri. Seperti doa yang diungkap salah seorang guru di buku album angkatan 2003. Ka kulon sing moncorong, ka wetan sing mencrang. Ka kidul sing punjul. Ka kaler ulah epes meer. Bagaimana yang di tengah? Karena itu tidak didoakan, saya berdoa sendiri saja, semoga genah merenah tuma’ninah. Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja pertemuan sukar untuk didapatkan. Tidak seperti angkatan sekarang, di buku album pasti terdapat nomor ponsel, FB atau Twitter. Waktu itu hanya tertera nama, alamat, pesan dan kesan. Selesai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, entah dengan motif apa, muncul sosok DRH. Entah bagaimana caranya, ia memiliki nomor ponsel hampir seluruh angakatan 2003. Kemudian  mengabarkan kondisi sahabat-sahabat; mulai menikah, sakit, meninggal atau apa pun. Dan sudah jadi rahasia umum, seseorang yang dapat berita, pertama kali yang dikirim SMS adal DRH, kemudian secara mekanis, ia menyebarluaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi Asparudin pernah berkomentar,” Si Dahlan mah Dinas Perhubungan angkatan 2003.”  Luqman, asal Garunggang, mantan wakil MPK, pernah berkomentar mirip, tapi beberapa tingkat lebih tinggi, Dahlan Mentri Perhubungan 2003. Barangkali sahabat-sahabat lain, punya julukan tersendiri. Saya sendiri punya gelar khusus, DRH, penyambung lidah angkatan 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenari, 27 Desember 2011&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-6660823921952661532?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/6660823921952661532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=6660823921952661532&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6660823921952661532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6660823921952661532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/12/drh-penyambung-lidah-man-cibadak-2003.html' title='&quot;DRH, Penyambung Lidah MAN Cibadak 2003&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7272032930254180984</id><published>2011-12-18T18:07:00.000-08:00</published><updated>2011-12-18T18:17:51.976-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kiat'/><title type='text'>"Menulis Adalah Kata Kerja!"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-xAWjrSd0gU0/Tu6dgZ_RDDI/AAAAAAAAAIw/5Y4QlvFtejw/s1600/pensil.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-xAWjrSd0gU0/Tu6dgZ_RDDI/AAAAAAAAAIw/5Y4QlvFtejw/s320/pensil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5687656559473134642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiap hari kita berkaitan dengan tulis-menulis; melalui pesan singkat, ngetwit, BBM, dst. Jadi, pada hakikatnya, kita penulis. Karena ita, punya karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kenapa kita tidak disebut “penulis” dan, karya-karya kita tidak dibilang karya tulis? Pertanyaan ini mudah untuk dijawab, karena “media” dan “cara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, media. Tempat kita menuangkan tulisan seperti ponsel dan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, tidak “lazim” dinyatakan sebagai media untuk menulis. Kedua, caranya kita menuliskan. Mengenai “cara” ini berkaitan dengan bagaimana kita menampilkan, memperlakukan sesuatu dalam menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya penggolongan ini serampangan saja. Tapi setidaknya, begitulah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Soal media, publik hampir (!) sepakat bahwa seseorang dikatakan penulis jika menuangkannya di koran, buku, majalah atau jurnal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perihal cara, penulis diibaratkan seorang koki. Koki yang hebat adalah memasak yang sederhana menjadi tidak sederhana. Bagaimana caranya? Ini bicara soal proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya, seorang koki sama saja seperti kita. Dia tidak memasak, tidak tahu caranya. Tapi kenapa dia bisa memasak dan kemudian memiliki pengemar dengan lidah ideologis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koki tersebut memulainya dengan menyukai. Kemudian bertanya, bagaimana cara membuatnya, mencari tahu sifat-sifat perangkat untuk memasak dan dimasak, harga bahan makanan sedetail-detailnya, dst. Untuk memperolehnya dia bertanya kepada pihak-pihak yang bisa diminta resep, buku, dan koki lain yang masyhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian memasak! Memasak! Memasak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja koki tersebut tidak langsung mashur di delapan penjuru mata angin. Dia pernah gagal, dicaci atau bangkrut. Tapi dia tak patah arang, melainkan memasak! Memasak! Memasak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, kesempulannya, kunci jadi penulis adalah berproses; mau bergerak, mencari tahu, berlatih. Menulis bukan berada di sana, tapi di sini, dekat, sedekat urat membelit leher, daki yang menempel di kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, William Forester pernah memberi resep menulis kepada Jamal. Resep itu bukan kalimat berbuih-buih yang panjang bergelombang seperti jeram. Tapi cuma tiga kata. Pertama, Menulis. Kedua, menulis. Ketiga, menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saudara/i hendak menambahkan resep itu hingga nomor seratus. Mudah saja. Cuma akan berderer kata yang sama, yaitu menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, menulis adalah kata kerja. Praktik! Selesai urusan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenari, 15 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;Gambar di atas diambil dari: http://katasapril.wordpress.com/2010/11/12/nenek-mengajariku-tentang-pensil/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7272032930254180984?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7272032930254180984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7272032930254180984&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7272032930254180984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7272032930254180984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/12/hampir-tiap-hari-kita-berkaitan-dengan.html' title='&quot;Menulis Adalah Kata Kerja!&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-xAWjrSd0gU0/Tu6dgZ_RDDI/AAAAAAAAAIw/5Y4QlvFtejw/s72-c/pensil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-3689283825974216702</id><published>2011-12-17T12:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-17T12:16:47.415-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>"Mat Subversif Mahbub Djunaidi"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-G7sm_PQpGmQ/Tuz2P_zyJhI/AAAAAAAAAIk/2HYvn7QfYDc/s1600/mahbub-djunaidi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-G7sm_PQpGmQ/Tuz2P_zyJhI/AAAAAAAAAIk/2HYvn7QfYDc/s320/mahbub-djunaidi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5687191184149194258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mahbub Djunaidi, kolumnis terkemuka berjuluk Pendekar Pena, pernah menulis esai berkepala Mat Subversif. Dalam esai tersebut, Mat Subversif adalah nama yang ditahbiskan kepada seorang anak sebuah keluarga Betawi. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Betawi, tempat lahirnya mantan ketua umum pertama PMII ini, memang lumrah nama seseorang diawali Mat, misalnya Mat Item, Mat Solar, atau Mat Peci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi dalam esai yang terkumpul dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kolom Demi Kolom &lt;/span&gt;tersebut, ada Subversif di belakang Mat. Nama tak lazim, aneh, dan pada titik tertentu, terlarang dan haram. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subversif dalam arti sebenarnya, sangat ditakuti pemerintah Orde Baru saat Mahbub menulis esai itu. Subversif adalah menggerogoti kewibawaan pemerintah. Salurannya bisa demonstrasi; tulisan di buku, koran, atau majalah.&lt;/span&gt;  &lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;  Karena "makhluk" ini membahayakan, tak sedikit buku dinyatakan terlarang, surat kabar dibreidel dan pelakunya dipenjara. Mahbub sendiri pernah mengecapnya ketika menerjemahkan (perlu dicek lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyiasati pemerintahan demikian, Mahbub mengemas tulisannya dengan humor. Walhasil, tulisannya bebas melenggang tanpa kehilangan kritisnya –yang pada dasarnya subversif . Di sisi lain, pihak yang disubversif, pada posisi gamang. Membekuk salah, karena hampir tak ada bukti. Dibiarkan, berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini, betul apa yang dikatakan &lt;a href="http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/09/gus-dur-mewarisi-kebijaksanaan-nabi.html"&gt;Gus Dur&lt;/a&gt;, dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Melawan dengan Lelucon, &lt;/span&gt;humor merupakan jalan pintas melawan pemerintahan tiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam serial Wiro Sableng, hal ini nyaris seperti sarung tangan “penyedot tenaga dalam” milik Datuk Lembah Akhirat. Siapa pun yang melawan, akan tersedot kekuatannya. Dewa Tuak, tokoh silat golongan puith, salah seorang korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang strategi humor Mahbub dianggap sebagai cara melawan Orba, Ahmad Makki, dalam esainya, yang dimuat di: http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/13/34151/Tokoh/Kata_kata_Haji_Mahbub.html, membenarkan. Tapi tak sepenuhnya demikian. Mahbub tetaplah Mahbub. Tanpa Orba pun tetap demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat, 18 Desember 2011&lt;br /&gt;potret Mahbub Djunaidi di atas, diunduh dari: http://reksokata.multiply.com/photos/album/2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-3689283825974216702?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/3689283825974216702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=3689283825974216702&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/3689283825974216702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/3689283825974216702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/12/mat-subversif-mahbub-djunaidi.html' title='&quot;Mat Subversif Mahbub Djunaidi&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-G7sm_PQpGmQ/Tuz2P_zyJhI/AAAAAAAAAIk/2HYvn7QfYDc/s72-c/mahbub-djunaidi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-8829178100203796850</id><published>2011-12-13T13:59:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T15:07:09.233-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lirik'/><title type='text'>"Bertanya Kepada Rumput yang Bergoyang, Jawabannya di Angin Lalu "</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-_pHHbNOdZP8/TufMRbX2ppI/AAAAAAAAAIU/s72_2me71-A/s1600/Question-Mark-Red.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-_pHHbNOdZP8/TufMRbX2ppI/AAAAAAAAAIU/s72_2me71-A/s320/Question-Mark-Red.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685737654356190866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family:georgia;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali di sana&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-family:georgia;" &gt;ada jawabnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family:georgia;" &gt;Mengapa di tanahku terjadi bencana&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebait lirik lagu yang berjudul Berita Kepada Kawan buah karya Ebiet G. Ade ini  bercerita tentang bencana. Lagu ini menjadi seolah-olah soundtrack ketika terjadi bencana di negeri ini. Misalnya, ketika terjadi tsunami di Nagggroe Aceh Darusalam, tv-tv swasta menurunkan berita diiringi lagu ini. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak lagu bercerita tentang bencana. Tapi hingga kini, sependek pengetahuan saya, (sepertinya) belum ada yang menandingi lagu ini. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang menarik (mungkin juga biasa saja) di akhir lagu ini, Ebiet bertanya, mengapa di tanahku terjadi bencana?&lt;/span&gt;  &lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;  Dia menjawab dengan kemungkinan-kemungkinan. Sepertinya dia tidak berniat untuk menjawabnya. Atau barangkali ini sejenis  jawaban juga? Coba perhatikan lirik ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mungkin Tuhan mulai bosan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Melihat tingkah kita&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Atau alam mulai enggan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Bersahabat dengan kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menentukan apakah ini jawaban atau bukan, kita “tamasya” dulu barang sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lirik ini, sebagai kemungkinan pertama, Ebiet mengaitkan bencana dengan tuhan yang bosan melihat tingkah laku manusia. Manusia yang mana? Manusia yang berdosa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbul pertanyaan iseng, apakah tuhan senang dengan manusia yang tidak berdosa (beribadah)? Kalau menggunakan logika biner, berarti tuhan senang. Artinya, tuhan itu terpengaruh sama makhluknya. Ada aksi dan reaksi, begitu kalau memijam istilah fisika. Dia bisa senang, bosan, sekali waktu juga benci, kangen, galau atau gundah-gulana seperti di Twitter begitulah; tak jauh beda dengan manusia yang melata di mayapada ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau merujuk ilmu kalam, faham semacam ini disebut mujassimah. Silakan buka-buka kembali buku teologi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini pikiran saya yang serampangan bin ngawur. Jelas, lirik tersebut adalah metafora. Tujuannya barangkali untuk lebih akrab dengan penikmat lagu ini. Amir Hamzah pun menggambarkan tuhan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Engkau ganas &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Engkau cemburu &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Mangsa aku dalam cakarMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kembali lagi ke lirik Berita Kepada Kawan. Kemungkinan kedua (dari adanya bencana) itu adalah karena alam yang tidak bersahabat dengan kita. Pertanyaannya kemudian, kenapa alam tidak mau lagi bersahabat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini sekaligus menyiratkan “akibat”. Setiap akibat, membutuhkan “sebab”. Untuk memperolehnya, kita bisa menimba dari Iwan Fals, misalnya di lirik Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raung buldozer gemuruh pohon tumbang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berpadu dengan jerit isi rimba raya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tawa kelakar badut-badut serakah&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dengan HPH berbuat semaunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Suara meraung di hutan, bukan aum harimau. Tapi buldozer menumbangkan pohon-pohon. Isi rimba raya pun menjerit. Burung-burung terbang meninggalkan anak-anaknya di sarang. Pelanduk berlari ke semak-semak. Ular menggelesot ke rumpun bambu. Kunyuk tak jadi melempar buah. Singa geleng-geleng kepala di kejauhan, kerajannya dijarah semena-semena. Sementara ada makhluk yang tertawa sambil kelakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, pohon boleh saja ditumbangkan. Tapi masalahnya, “badut-badut” itu serakah. Sudah tanpa HPH, mereka berbuat semaunya. Mereka tak berniat menanam kembali pepohonan dan mengabaikan kelangsungan hidup penghuninya. Pada titik tertentu, mereka tak ingat rezeki generasi nanti. Intinya: alam raya dan segala isinya, tak cukup untuk seorang serakah! Percayalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lirik ini, kita mendapat penjelasan bahwa alam yang tidak lagi mau bersahabat dengan kita (manusia) karena manusianya sendiri tak mau menyahabatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak setiap manusia pelakunya, ya itu tadi: badut-badut (brengsek) serakah. Siapa badut serakah ini? Dalam Balada Orang-Orang Pedalaman Iwan menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manusia yang datang dari kota&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan baru segera menyusul, manusia yang datang dari kota mana? Iwan tidak menjawabnya. Tapi saya yakin, setiap kota yang di dalamnya ada perselingkuhan antara kekuasaan dan pemilik uang yang “tangan-tangannya” bisa menjangkau laut, hutan, gunung dan isi perut bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban pertama dari badut-badut serakah yang dibosani tuhan ini adalah orang-orang pedalaman. Simak lirik Balada Orang-Orang Pedalaman selanjutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimana lagi cari hewan buruan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Yang pergi karena senapan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dimana mencari ranting pohon&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Kalau sang pohon tak ada lagi . . . . . .&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Pada siapa mereka tanyakan hewannya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ya . . . . .  pada siapa tanyakan pohonnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dalam Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi, Iwan menjelaskan, (efek tidak langsungnya) adalah tanah kering kerontang dan banjir siap datang dikala musim hujan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah sudah. Tuhan bosan kepada badut-badut serakah yang berbuat semaunya ini. Tapi, atas nama saya pribadi, saya memohon kepada tuhan, janganlah hanya membosani &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt;. Tapi ambil tindakan dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hukumlah mereka sesuai dengan tindakan mereka. Jangan hanya di nereka, tapi tunjukkan di sini, didi mana pun bumi di pijaknya dan langit di junjungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutunggu campur tanganmu, tuhan! Tolong diperhatikan, ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi Berita Kepada Kawan. Tadi sudah dijelaskan bahwa Ebiet bertanya kenapa bencana terjadi di tanah ini. Kemudian dia mengajukan kemungkinan-kemungkinan yang barangkali jawaban, yaitu tuhan yang bosan dan tak bersahabanya alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh saya menyimpulkan (emang siapa yang tidak membolehkan?), Ebiet tidak yakin kemungkinan-kemungkinan yang diajukannya itu sebagai jawaban. Buktinya dia malah mengajak bertanya kepada pihak lain, yaitu “rumput yang sedang bergoyang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Coba kita bertanya pada&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Rumput yang bergoyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tapi ternyata, Ebiet hanya mengajak. Belum sempat rumput itu menjawab, ia sudah kembali kepada lirik sebelumnya. Jawaban rumput itu sendiri masih misterius seperti kasus hukum para koruptor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya mencari sendiri. Tapi susah dan hampir putus asa. Sampai sempat berpikir bahwa tanya ini terbawa hingga tutup usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu, saya bertemu dengan ujung lirik lagu Melati dari Jayagiri buah karya Iwan Abdurahman yang dipopulerkan Bimbo. Begini bunyinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawabnya tertiup di angin lalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melonjak kegirangan seolah Archimedes menemukan hukum berat di perut air. Barangkali inilah jawaban dari rumput yang bergoyang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah saya pikir-pikir, menimbang-nimbang, ternyata bukan jawaban juga, karena lirik ini hanya memberi tahu siapa yang menjawab. Tapi jawabannya itu sendiri masih tak terjelaskan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat, 14 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left; font-style: italic;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;gambar di atas diambil dari http://agenk23.blogspot.com/2010/10/keep-alone.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-8829178100203796850?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/8829178100203796850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=8829178100203796850&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8829178100203796850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8829178100203796850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/12/bertanya-kepada-rumput-yang-bergoyang.html' title='&quot;Bertanya Kepada Rumput yang Bergoyang, Jawabannya di Angin Lalu &quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-_pHHbNOdZP8/TufMRbX2ppI/AAAAAAAAAIU/s72_2me71-A/s72-c/Question-Mark-Red.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4152294068840386438</id><published>2011-12-03T00:56:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T01:06:46.394-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>"Bandung"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-kMx-y4X74-E/TtnlKjf2wsI/AAAAAAAAAII/9ssL5AAb_no/s1600/bandung.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-kMx-y4X74-E/TtnlKjf2wsI/AAAAAAAAAII/9ssL5AAb_no/s320/bandung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681824374394897090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;neng nelengnengkung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;geura gede gera jangkung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;gera nganjang ka Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya mengenal Bandung lewat ungkapan ini. Dalam ungkapan ini, yang biasanya sambil ditembangkan, seorang anak diharapkan untuk mengenal Bandung. Kenapa demikian? Mungkin karena kota ini jadi pusat kebudayaan Sunda setelah Galuh (kerajaan Galuh), Pakuan (Pajajaran), Sumedang (Sumedanglarang) “menurun”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Karena itulah seorang anak yang baru lahir, sejak kecil, gaya berpikir dan sikap hidupnya ditautkan dengan kebudayaan Sunda. Supados nyunda panginten.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;  Tapi ini hanya dugaan saya belaka karena hingga kini belum mendapat keterangan lebih detil tentang ungkapan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Bandung juga dikenal dalam istilah sepak bola. Di kampung saya, ada tendangan “balik Bandung”, yaitu tendangan ke belakang lewat atas kepala. Jika melakukan tendangan ini dengan baik, apa lagi sambil salto, akan mendapat tepuk tangan dari segenap penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Bandung terdapat pula dalam istilah pengajian dan madrasah diniyah atau pesantren salaf Sunda, dan tajug-tajug, yaitu “bandungan”, artinya menyimak. Mungkin kata ini dari kata “bandongan” yang diadaptasi dari pesantren-pesantren di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak mengherankan, karena banyak ajengan atau kiai Sunda yang berguru ke Jawa. Faktor lain (mungkin) adalah karena invasi Mataram Jawa zaman Sultan Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Bandung, saya dapat juga dari lirik lagu Doel Sumbang. Tapi lupa judulnnya. Yang jelas, lagu itu ada Bandung di riung ku gunung. Menurut Pramudya Ananta Toer, gunung-gunung itu berkumpul seolah sedang rapat abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ari imut-imut Bandung kota di riung ku gunung&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dikantun montel katineung paanggang muntang kamelang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Wilayah yang bergunung-gunung dengan sungai mengalir di sela-sela bukit yang dirimbuni pepohonan menghijau; siapa pun tak bisa menahan diri untuk mengatakan indah. Ramdahan KH tak tahan menulis puisi Priangan Si Jelita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seruling berkawan pantun,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tangiskan derita orang priangan,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Selendang merah, merah darah&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Menurun di Cikapundung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bandung, dasar di danau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lari bertumpuk di bukit-bukit.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Seruling menyendiri di tepi-tepi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tangiskan keris hilang di sumur&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Melati putih, putih hati, &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Hilang kekasih dikata gugur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bandung, dasar di danau&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Derita memantul di kulit-kulit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sedikit melirik irama keroncong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bandung Selatan di waktu malam&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Berselubung sutra mega putih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laksana putri lenggang kencana&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Duduk menanti akan kekasih &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Bandung Selatan di waktu malam&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam asuhan Dewi purnama&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Cantik mungil Kesuma&lt;br /&gt;Melati&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Putri manja&lt;br /&gt;Ibunda pertiwi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal, kota ini digelari juga Paris van Java. Parisnya pulau Jawa. Sering juga disebut Kota Kembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zawawi Imron, penyair Madura berjuluk Clurit Emas, Muhammad Syaltout (agamawan Mesir) tahun 60-an, pernah berkunjung ke Indonesia dan melihat pemandangan di Priangan. Dia pun berkomentar, “Inilah sorga yang nyelonong ke bumi.” Dalam ungkapan lain yang lebih luas, lagi-lagi menurut Zawawi, Tuhan menciptakan tanah Sunda dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Kang Doel Sumbang, dalam lagu lain menggambarkan Bandung dengan cerita yang berbeda dan bertolak belakang. Ia menyatakan bandung sebagai kota kambing. Dan di lagu lain lagi  Bandung borok dan kusta, tata kota yang tak rapi dan sering juga terjadi banjir. Bandung yang sudah lain dari citranya yang dulu. (Masih ingat kasus Leuwi Gajah?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak faham tentang Bandung. Hanya dengar dari cerita-cerita saja. Bisa jadi panggang jauh dari api. Ibarat buah kelapa, saya hanya bercerita kecil dari sabutnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu karena saya tak pernah tinggal di Bandung. Berkunjung memang pernah, tapi paling banter cuma dua hari. Itu pun hanya pinggiran kota saja. Yang paling lama adalah tahun lalu, ketika mengikuti PKPS 8 selama seminggu. Tapi tak pernah keluar karena bertempat di asrama tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung tiga hari terakhir saya dan peserta lain bisa keluar, tapi soalnya berada di hutan Jayagiri dan Situ Lembang. Di tempat seperti itu, mana mungkin menganal peuyeum bandung yang kamshur atau mengikuti cerita Macedes 165.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Banadung adalah kota kenang-kenangan yang selalu dinyanyikan ketika saya SD. Sosok Muhammad Toha menempel di benak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Halo halo Bandung &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibu kota priangan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Halo halo Bandung &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kota kenang-kenangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kecil, saat nonton TVRI Bandung, sering diperlihatkan Gedung Sate. Gedung yang dibikin Belanda ini konon diperuntukan untuk istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda karena rencananya Bandung hendak dijadikan ibu kota negeri ini. Namun, karena mereka keburu diusir, niat itu tidak jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah terlintas tanya, kenapa Gedung Sate? Setahu saya, yang terkenal dengan satenya adalah orang Padang dan Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: right;font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenari, 3 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4152294068840386438?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4152294068840386438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4152294068840386438&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4152294068840386438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4152294068840386438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/12/bandung.html' title='&quot;Bandung&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kMx-y4X74-E/TtnlKjf2wsI/AAAAAAAAAII/9ssL5AAb_no/s72-c/bandung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4178849277264425473</id><published>2011-12-01T10:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T23:15:37.754-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Diajarkan Mencintai Produk Dalam Negeri"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-oqfUzkcQbi8/TtfIT3GPz4I/AAAAAAAAAH8/UDyX_2q6KtA/s1600/20110423_015955_ANT-200705-001499-D.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-oqfUzkcQbi8/TtfIT3GPz4I/AAAAAAAAAH8/UDyX_2q6KtA/s320/20110423_015955_ANT-200705-001499-D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681229698484391810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini saya lihat baliho sebesar gajah bergambar perempuan berbaju batik. Isinya imbauan untuk mencintai produk dalam negeri. Alasannya karena mencintai produk dalam negeri sama halnya dengan mencintai diri sendiri. Imbauan itu dipersembahkan Kementrian Perindustrian dan Perdagangan.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran, kenapa pemerintah harus menganjurkan mencintai produk dalam negeri; mencintai diri sendiri. Bukankah itu sama halnya menggarami lautan, mengajar kunyuk naik pohon? Atau barangkali sekarang sudah lain. Laut tak asin, kunyuk tak bisa merangkak? Dan masyarakat jangankan mencintai negerinya, diri sendirinya sudah tidak dicintai. &lt;/span&gt;  &lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati hal itu, saya memastikan, bahwa kalau begini ceritanya, pasti ada masalah. Nah, masalahnya itu sendiri belum jelas benar, dan saya tak mau mengira-kira. Apalagi tunjuk batang hidung orang atau lembaga. Saya bisa dituntut mencemarkan nama baik, dibilang menagada-ada, dan tak berdasar. Subversif itu namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sebaiknya kita mendengarkan nyanyian saja. Buat apa pusing-pusing, berpikir masalah yang sudah jelas-jelas ada yang mengurusnya. Saya sebagai rakyat, tak kurang-kurang bingung sendiri dengan urusan hidup sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil dengar nyanyian, saya persilakan tangan Saudara diketuk-ketuk ke meja. Kalau tak punya meja, kursi atau pintu pun, tak apa. Kalau itu pun tak ada, ketuk apa saja kek, asal jangan jidat politikus. Masak, yang begitu saja, mesti dipandu? Tidak kreatif banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah Saudara-saudara, marilah kita dengarkan dendang suara emas dari penyanyi yang ditunggu-tunggu: Rya Resti Fauzi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sepatu dari kulit rusa) Itu aku tak minta&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;(Tas hitam kulit buaya) Itu juga ku tak minta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Selendang dari benang sutra) Itu juga ku tak minta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang kuinginkan hanya buatan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa penyanyi ini tidak menyanyi dengan penuh. Hanya bait-bait itulah yang dilantunkan. Heran! Tapi tak apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Mbak Resty. Tepuk tangan buat Mbak Resty. Mbak Resty, silakan duduk manis kembali. Kalau kursinya diduduki orang, lesehan sajalah. Asal jangan duduk di paha kakek tua bangka berkacamata itu, bisa naik dongkraknya. Kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang saya persilakan kepada Mas Ari Wibowo dan Bilboard. Sebetulnya lagu ini milik Gomloh, dan Ari ikut memopulerkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Parfummu dari Paris&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Sepatumu dari Itali&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Kau bilang demi gengsi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Semua serba luar negeri&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Manakah mungkin mengikuti caramu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Yang penuh hura-hura&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Aku suka jaipong kau suka disko&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Aku suka singkong kau suka keju&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara, sebenarnya, ketika kecil, saya pernah mendengar lagu kasidah. Lagu itu bercerita tentang orang Indonesia, seperti kita-kita ini, yang pergi ke Jepang. Niat utamnya adalah belanja. Salah satunya adalah sepatu. Setelah dipilih-pilih, dia menetapkan diri mengambil satu sepatu yang ada tulisan USA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil merk ini bukan tanpa pertimbangan. Sudah dipikir bolak-balik seperti akan menimang calon isteri atau sebaliknya. Ya, USA: United States of America. Melihat merk ini, ia ingat TTS (Teka-Teki Silang) yang diproduksi Sandro Agency, Senen, Jakarta yang biasa dijual di toko majalah dan buku. TTS ini sering mengajukan pertanyaan; negara adidaya, maka jawabannya adalah USA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adidaya itu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalan adi artinya paling. Disambung dengan daya jadi paling berdaya atau adikuasa. Dan kalau kata ini dikaitkan dengan negara, maka jawabanya selalu tiga huruf: USA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan membeli produk USA, sedikit banyak, derajat si pembeli akan terkatrol jadi “berdaya”. Tetangganya bertekuk lutut, sahabat-sahabatnya merangkak di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, dibelilah sepatu itu dengan harga mahal. Tapi tak apa, karena derajat dia akan terangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun pulang. Sepanjang perjalanan, di pesawat terbang, pantantnya terasa gatal karena ingin segera sampai ke kampung halamannya di tanah air. Terbayang di benaknya, sahabat dant tetangganya akan bertekuk lutut dan berdecak kagum di hadapan USA yang dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun sampai. Sebelum pamaer, dia menimang-timang sepatu tersebut barang sebentar. Matanya mebeliak ketika melihat USA itu bukan made in, tapi merk belaka. Dan ternyata USA adalah nama seorang pembuat sepatu berasal dari Cibaduyut, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian lagu kasidah itu bercerita. Tapi sayang, Saudara-saudara, saya tidak ingat judul lagu dan nama group-nya? Yang jelas, lagu itu memang ada. Sering diputar kala kenaikan kelas dan terakhir saya dengar di radio amatir kampung tetangga saya tahun 2000-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, ini barangkali, sekali lagi barangkali, pemerintah kita dan masyarakatnya jarang mendengar lagu ini. Sehingga mereka harus diajarkan kembali mencintai dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenari, 2 Desember 2011&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;gambar di atas bersumbar dar&lt;/span&gt;i : http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/04/220213/4/2/Cinta-Produk-Dalam-Negeri-Dongkrak-Perdagangan-Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4178849277264425473?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4178849277264425473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4178849277264425473&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4178849277264425473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4178849277264425473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/12/diajarkan-mencintai-produk-dalam-negeri.html' title='&quot;Diajarkan Mencintai Produk Dalam Negeri&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-oqfUzkcQbi8/TtfIT3GPz4I/AAAAAAAAAH8/UDyX_2q6KtA/s72-c/20110423_015955_ANT-200705-001499-D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7513932162377207815</id><published>2011-11-19T12:11:00.000-08:00</published><updated>2011-11-19T13:14:14.857-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Masyitoh"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-8KUxDLYDS9M/TsgRLYF5B_I/AAAAAAAAAGM/PE3bk1QOpmk/s1600/masyitoh.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8KUxDLYDS9M/TsgRLYF5B_I/AAAAAAAAAGM/PE3bk1QOpmk/s320/masyitoh.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676806217443903474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti Masyitoh, puteri Islam yang mulia &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;br /&gt;Imannya teguh kepada Allah Ta’ala&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;br /&gt;Fir’aun tahu  dia marah kepadanya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;br /&gt;Dia disiksa dengan kejam tak terhingga&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reff&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyitoh soleh diberi hukumaan yang mengerikan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;Ia disiksa dengan api besar &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;br /&gt;Ketabahan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;br /&gt;Ketabahan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;&lt;br /&gt;Ketabahan…&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berlima menyanyikan lagu itu; berdiri di hadapan hadirin saat perayaan muludan &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;atau barangkali rajaban. Lupa juga waktunya. Itu tidak terlalu penting, justru &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;bernyanyinya itulah. &lt;/span&gt;   &lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu kami memakai peci hitam, mengenakan sarung dan berbaju panjang putih.Tak ada panggung. Maklum acara anak-anak. Tapi tetap banyak yang hadir karena para orang tua ingin melihat anaknya gengganm mikropon, mengangkat jari telunjuk, urat leher tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau teman saya bersemangat, seperti menyanyikan Indonesia Raya tiap Senin pagi, suara saya rendahkan karena merasa paling tidak berbakat dalam urusan tarik suara. Saya menekurkan muka, menatap ibu jari. Itu tak lain karena  hadirin, menatap atau atau tidak, begitu mengerikan. Mereka seolah siap tertawa jika ada kesalahan. Dan yang duduk agak belakang itu siap melempar sandal jepit, seperti Kruschev di majelis PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, saya merasa fungsi hadirin dalam perayaan apa pun, tak lain dari itu. Ini teror yang kejam; kehadiran yang melumpuhkan!  Padahal, &lt;a href="http://kobong2011.blogspot.com/2011/03/ajengan_01.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mama ajengan &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;selalu memberi resep; anggap saja hadirin itu tunggul atau embe. Terus baca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Robbis rohli shodri&lt;/span&gt;…Tapi bagi saya, tak manjur sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal saya dan sahabat-sahabat menyanyi, itu di luar kebiasaan. Biasanya yang nyanyi itu perempuan. Entahlah waktu itu seperti itu. Tapi kami mendobrak kebiasaan itu. Luar biasa, bukan? Saya bangga jadi salah seorang dari rengrengan pendobrak. Bagaimana dengan Saudara? Sudah mendobrak apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini lain lagi. Barangkali, kalau menyanyi kami terus diasah, kami adalah boy band. Tapi terbetik di benak Saudara pertanyaan seperti ini, kenapa belum pernah melihatnya di TV? Itu tidak aneh. Karena bernyanyi di hadapan hadirin, adalah pertama dan belum pernah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain waktu, saya bertemu dengan entah apa judulnya, tapi isinya berkisah Masyitoh. Bukunya berwarna gading. Pinggirnya kribo karena seringnya pindah tangan. Di dalamnya terdapat ilustrasi sehingga disukai anak-anak seperti saya. Gambar Fir’aun itu adalah raja bermahkota, bermuka sangar, berjanggaot lancip dan tebal. Di halaman lain, Masyitoh mengambil ancang-ancang loncat sambil memeluk anaknya. Yang lain tak ingat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, saya buta huruf karena belum dimakan TK atau SD. Tapi beruntung bibi saya mau membacakan buku itu. Terima kasih, Bibi! Betapa mengharukan kisah ini. Tak terasa air mata menetes seperti ketika dibacakan kisah Purbasari dan Guruminda dari kerajaan Pasir Batang dalam lakon Lutung Kasarung. Tak kuasa menahan sesenggukan ketika Purbasari diasingkan ke hutan sendirian hanya ditemani lutung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain waktu, untuk perayaan entah muludan atau rajaban, anak-anak dewasa berencana membikin drama Masyitoh. Ini penting dicatat, karena menandakan kampung saya beradab. Buktinya  mengenal drama. Sebenarnya tak heran, dalam tradisi Sunda sendiri, khususnya Sukabumi, ada bentuk drama yang bernama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Uyeg&lt;/span&gt;. Dalam drama ini, menurut Anis Djatisunda, selalu dihadirkan Sang Hyang Uyeg. Siapakah dia? Makhluk jenis apakah? Hingga kini, saya tidak tahu. Dan, tak pernah sekali pun menontonnya. Konon, drama tradisional berasal dari Cisolok, Pelabuanratu, Sukabumi, ini telah berpulang ke rahmatullah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inna lillahi wainna ilahi ro’jiun…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, barangkali harus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;legowo&lt;/span&gt;, ada sesuatu yang hadir, dan hilang. Kebudayaan memang seperti manusia itu sendiri; lahir, berkembang, mundur, mati! Persoalan waktu saja. Tapi kenapa ya, orang Jepang, China, India masih bisa mempertahankan aksara kunonya? Ada apa? Sekali waktu, barangkali harus berziarah kepada Sutan Takdir Alisyahbana. Seusai berdoa, bertanya perihal itu kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang seribu kali sayang, pentas drama itu urung. Padahal kami, anak-anak, ingin sekali menontonnya. Usut punya usut, tak ada yang bersedia jadi Fir’aun. Persoalannya adalah dua hal. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; berperan sebagai Fir’aun pasti ada percakapan mengaku sebagai tuhan. Pemerannya bisa musyrik! Status pendosa tak terampuni ini, jelas sangat dihindari. Apalagi dalam perayaan muludan atau rajaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;peran jelek akan dimusuhi tidak hanya di drama, tapi dalam kehidupan sehari-hari, setidaknya dikecengin. Latihan baru beberapa kali, pemeran Fir’aun, disapa Fir’aun dimana pun ia berada. Pantas saja dia tidak mau. Seperti enggannya disebut Advent Bangun atu Yoseph Hungan. Maunya Barry Prima atau George Rudy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang riwayat Masyitoh ini, selintas, diceritakan juga dalam kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dardir 'Ala Qishotil Isro' Wal Mi'roj&lt;/span&gt;. Ketika saya dan sahabat melek aksara latin dan Arab, ajengan menyuruh kami menyalin ulang kitab itu di buku tulis masing-masing. Tapi antara baris satu dengan lainnya diberi jarak untuk terjemahan. Inilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngalogat&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai saat itu, saya belajar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;utawi, iki, iku, sopo, maring, kangden&lt;/span&gt;. Akan terdengarlah ajengan bertutur misalnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alkalamu, utawi arane kalam&lt;/span&gt;. Dan kata-kata itu memiliki kode-kode tersendiri supaya memperpendek kalimat. Sedangkan anak dewasa, ngalogat langsung di kitab berwana kuning yang kalau jatuh bisa berpencar-pencar. Alat tulisnya bernama pena, dan tintanya disebut mangsi yang baunya tak sedap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bahasa Jawa bisa sampai ke kampung saya di bawah kaki gunung Bongkok, yang menurut sahabat saya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jauh ka bedug anggang ka dulag&lt;/span&gt;? Betapa rumitnya, kalimatnya bahasa Arab, diterjemahin dengan bahasa Jawa. Ini butuh penjelasan tentang silsilah keilmuan seperti sanad hadis. Karena itu, mulai sekarang, saya bikin iklan: "Dibutuhkan mahasiswa Tafsir Hadis di kampung Cilulumpang. Bagi yang berminat, segera hubungi Zuma!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu, saya ketemu buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masyitoh&lt;/span&gt; yang disunting Ayip Rosidi. Buku ini berbeda dengan yang saya temukan ketika kecil. Buku ini diklaim sebagai drama, tapi bentuk penulisannnya seperti novel saja. Saya habiskan semalam karena bukunya tipis, bahasanya ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melayang ke masa kecil, saya putar kacapi suling &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kembang Tanjung&lt;/span&gt;. Satu lagu saja. Segelas kopi hitam pahit, rokok kretek bersanding. Rasanya barangkali, ini barangkali, sekali lagi barangkali, seperti saat Rafilus menunggangi kuda cameo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenari, 20 November 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7513932162377207815?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7513932162377207815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7513932162377207815&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7513932162377207815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7513932162377207815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/11/masyitoh.html' title='&quot;Masyitoh&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-8KUxDLYDS9M/TsgRLYF5B_I/AAAAAAAAAGM/PE3bk1QOpmk/s72-c/masyitoh.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-257600909455904545</id><published>2011-10-17T21:50:00.000-07:00</published><updated>2011-10-20T13:48:23.648-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Tikus, Kodok, dan Kucing"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Ada kesedihan mendalam jika aku pulang menjelang pagi. Jalanan kota ini adalah arena pembantaian. Bangkai-bangkai tikus bergelimpangan. Tubuhnya ringsek. Ususnya jebol. Moncongnya penyok. Kakinya penggal. Bulunya beterbangan. Nyawa melayang tak jelas nyangkut dimana. Aspal jadi kubur tanpa nisan. Tanpa bunga tertabur. Sonder peziarah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sebentar lagi, ribuan ban kembali menggilasnya, tanpa secuil pun belas kasihan. Pergi begitu saja bagai pesawat tempur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Makhluk pengerat masyhur ini ternyata tak paham seninya nyeberang, mengukur laju kendaraan, dan kecepatan dirinya melintas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Bagitu pula dengan kodok. Makhluk yang meloncat-loncat ini tak jauh beda nasibnya. Maksud hati hendak nyebrang, apa daya ban menggilasnya. Sretttt… hancur luluh tubuh korodoknya. Gepeng, pengsret dan tak sempat sekarat.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Keduanya mati tanpa dikebumikan sebagaimana mestinya. Tak ada tangis, ucapan bela sungkawa, bendera kuning di gang, upacara khidmat pemakaman, apalagi tahlilan. Dia mengering, jadi abu di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kucing. Dia lebih beruntung karena mitos. Fatwanya demikian, jika kita menabrak kucing, segeralah kebumikan dengan wajar. Malah ada yang berbunyi demikian, kebumikan dengan kapan baju kesayangan supaya terhindar sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mitos sering dihajar banyak orang. Tapi kadang menguntungkan, setidaknya bagi kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat, 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-257600909455904545?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/257600909455904545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=257600909455904545&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/257600909455904545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/257600909455904545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/10/tikus-kodok-dan-kucing.html' title='&quot;Tikus, Kodok, dan Kucing&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-2433091384143808437</id><published>2011-10-13T02:46:00.000-07:00</published><updated>2011-10-13T03:46:05.188-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Al-Risalah al-Zuma</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-family: georgia;" href="http://4.bp.blogspot.com/-fhQTIGz6Pl8/Tpa1uRkWAjI/AAAAAAAAAGA/faHT2SB-S9s/s1600/re665.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 259px; height: 194px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-fhQTIGz6Pl8/Tpa1uRkWAjI/AAAAAAAAAGA/faHT2SB-S9s/s320/re665.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662913388059427378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;untuk: Roni Tua &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Roni Tua Harahap menghela nafas berkali-kali seolah musafir yang lolos dari gurun pasir ratusan mil. Tapi kini yang dihadapinya adalah tanjakan maut, tebing curam membahayakan. Sementara tenaga terkuras dan perbekalan di kantungnya menipis. Helaan nafasnya mirip juga seorang perokok berat dikejar anjing edan. Beberapa kali mulutnya mendesis “astaga” seolah yang dihadapinya pembantaian sadis paling kejam tak terampuni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bukan! Bukan itu. Itu sekadar umpama, tapi memang mirip seperti itu. Padahal ia sedang bersila rapi seolah petapa agung, menanti ilham. Tapi matanya menganga menatap monitor jebot kusam 14 inci. Sesekali kepalanya mengeleng-geleng seolah berzikir. Tapi dari mulutnya tidak keluar kalimah-kalimah toyyibah atau pujian ke hadirat tuhan, melainkan babi, anjing tak ketinggalam teman-temannya seragunan diabsen! Sekali waktu, temannya yang lebih akrab disambat juga: syetan dan iblis!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Roni dibantai Zuma berkali-kali. Permainan yang sebelumnya dilecehkannya. Begini ceritanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Waktu itu menjelang subuh. Saya asyik bermain Zuma sendirian diiringi Ayu Tingting, Bang Haji, sesekali Ermy Kulit, Bob Marley dan Iwan Fals. Muncul pula The Panas Dalam. Berjam-jam menembak bola warna-warni hingga tangan pegal. Berbatang-batang rokok memuntung. Tapi cukup segelas kopi. Dan saya menang terus. Tak henti-hentinya. Sampai bosan. Tapi tak bosan-bosan!&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian muncul teman sekosan saya, Pagar Dewo, panglima Yapentush, menjinjing Roni. Ia sudah faham duduk perkaranya jika saya sendirian, yaitu main Zuma. Jadi, tak berkomentar apa-apa. Sementara bagi Roni, merasa ada peluang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngecengin&lt;/span&gt; saya. Tanpa pikir panjang, dia berkomentar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alamak, kau bermain Zuma. Permainan cupu. Mainan anak-anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum. Tanpa sepatah kata pun, saya serahkan mouse dalam genggaman. Roni faham. Mulailah bermain Zuma, mainan cupu, mainan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa yang terjadi, belum genap satu menit, bola warna-warni  itu tersungkur ke lubang kematian, ditelan mulut genderuwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemanasan!” kilahnya sambil mengulang permainan itu. Tapi hal serupa terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemanasan!” ia berkelit. Ia mulai lagi. Tapi kalah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemanasan!” sekarang saya mendahului berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roni tak berkomentar. Ia membetulkan letak duduknya. Mukanya mulai tampak merengut. Berkali-kali ia bermain, bekali-kali juga kalah. Kemudian menghela nafas, mendesis astaga, dan memanggil teman-teman seperjuangan di Ragunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, keringat sebesar biji jagung meleleh, merayapi wajah mahasiswa kadualuarsa ini. Ia tak sadar cairan kental asin itumenyentuh bibirnya. Tanpa tedeng aling-aling, diisapnya. Sementara jemarinya mulai mengklik mouse dengan segenap konsentrasi yang pernah dimilikinya. Ia abaikan semua yang terjadi di alam raya ini. Pikirannya fokus ke Zuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ternyata bermental pejuang tangguh. Gamer sejati. Ia mengulang lagi. Dan kalah lagi. Mengulang lagi dan kalah lagi. Bola warna-warni tak bisa dikendalikannya sama sekali. Hanya bertahan beberapa detik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ketawa sama sekali karena itu sudah diperkirakan sebelumnya. Saya sebagai seorang pemain Zuma kawakan hanya berkomentar, “Rasain lu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;asbabul wurud &lt;/span&gt;kenapa tulisan ini diturunkan. Tujuannya untuk menjelaskan bagaimana  bermain Zuma yang baik dan benar. Sebenarnya dikhususkan untuk teman saya itu. Tapi jika Saudara tertakdirkan membacanya, kemudian menimba manfaatnya, yakinlah tidak akan berdosa dan tak akan terkena “fasal” apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum itu, ada baiknya saya bercerita tentang dua hal, yaitu permainan Zuma dan biografi saya sebagai pemain Zuma pilih tanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Zuma adalah game yang berlatar belakang suku Maya di abad pertengahan. Cara memainkannya sangat mudah, yaitu mengendalikan patung katak yang dipuja suku Maya untuk menembakkan bola warna-warni ke dalam maze dan membentuk susunan bola dengan warna yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam permainan ini, menjadi individu justru kokoh tak tertandingi seperti semen Gresik, sementara berkelompok justru mudah dihancurkan. Berkelompok berarti kematian. Tidak berlaku pepatah, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Pepatah ini sering diibaratkan kepada sapu lidi. Sapu, jika sendirian akan mudah patah, tapi ketika berkelompok, bisa membershkan lantai dan memukul anak longor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rumus-rumus umum yang memang diajarkan oleh Zuma sendiri. Seperti bom, menghancurkan pergerakan bola. Ada juga bola yang bisa memperlambat gerakan bola dan menambah daya jangkau tembakan. Permainan ini terdiri dari beberapa tingkatan. Level awal sangat mudah untuk dimenangkan. Semakin tinggi level, makin susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Saudara, perlu diketahui, ketika Roni datang, saya bermain Zuma di level 12 dan 13. Tentu saja Roni yang amatiran muntah-muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pemula seperti Roni, ada baiknya bermain Zuma dengan versi yang sederhana, yaitu pada level 1 hingga 5. Kalau ingin naik level dengan instan, sebaiknya belajar pada situs ini: http://id.shvoong.com/internet-and-technologies/gaming/2170786-trik-curang-bermain-zuma/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; saya adalah pemain Zuma profesional. Sudah lama saya menggulati permainan ini. Dulu, saya juga seperti Roni, ditertawakan senior Zuma saya (sekarang sudah berguru juga kepada saya: Pagar Dewo). Tapi saya adalah seorang pembelajar Zuma yang ulet sampai tangan saya membengkak karena terlampau pegal. Saya mungkin mengikuti pepatah klasik: berpegal-pegal dahulu, mahir Zuma kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sering bermain, saya bisa menemukan trik-trik menaklukan permainan ini. Saya beri tahu strategi saya, yaitu “hit and run” dan “devide et impera”.  Strategi pertama,  digunakan TKR dalam pertempuran Bojong Kokokosan. Strategi ini adalah memotong ular bisa. Aplikasinya, jika ada konvoy bola panjang, segeralah potong dengan bola yang sewarna di perbatasan. Sementara strategi kedua, adudombakan bola yang sewarna dengan menyusupkan bola teliksandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya dua trik. Tentu saja ada teknik-teknik lain yang masih saya rahasiakan. Sebentar lagi, Zuma akan disertakan dalam PON, Sea Games, Asian games, Olimpiade sekali pun. Saudara jangan sekali-kali jadi peserta jika nama saya tercantum. Kecuali jika niatnya penggembira saja, karena menang mustahil (termasuk pencipta Zuma itu sendiri). Saudara lebih baik bersila memanjatkan doa sekhusuk-khusuknya supaya saya urung bertanding. Atau cara-cara haram lain, misalnya menyuap panitia supaya mencoret saya. Atau bisa juga menyuap saya. Tapi janga dilakukan, takut saya tak bisa menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, sekali lagi saya tegaskan, dalam permainan Zuma, sebenarnya saya sudah tidak memiliki level. Tapi untuk memudahkan, sebut saja level “susah kalah”. Pada titik ini, lawan saya bukan Zuma lagi, tapi saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, ketika pada level ini, ternyata hidup itu kesepian. Kemenangan bukan lagi prestise. Seperti di ruang hampa udara malah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, kembali lagi pada Roni, pemain Zuma amatiran. Setelah kemenangan tak mungkin, ia menyarahkan mouse pada ahlinya, kepada tangan yang benar: tangan saya. Kemudian saya mainkan bola-bola itu. Dan, hanya satu menit, level 12, track pertama saya selesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, elo main kayak koboy aja,” komentar Roni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bangga karena memang demikian adanya. Tidak seperti pemain bola bikin gol lalu berlari seolah maling jemuran dikejar warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi unik juga kehebatan saya dibilang koboy. Gelar yang spontan, keluar dari lubuk hati yang dalam dan tulus. Ini menunjukan ia tak memiliki perbendaharaan kata untuk menjelaskan kehebatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, terbetik di hati Saudara, bahwa saya pembohong belaka. Kalau demikian, sekali waktu, Saudara bisa menyaksikan kekoboyan saya. Tapi ingat, dengan bahasa yang layak dan bermartbat, jangan menantang saya. Ingat, saya bukan tandingan Saudara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh waktu lama untuk mengalahkan saya. Tapi saya sarankan dua hal. Pertama, berlatih yang keras. Kedua, berdoa kepada tuhan maha menembak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: right; font-weight: bold;font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ciputat, Oktober 2011  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-2433091384143808437?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/2433091384143808437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=2433091384143808437&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2433091384143808437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2433091384143808437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/10/al-risalah-al-zuma.html' title='Al-Risalah al-Zuma'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-fhQTIGz6Pl8/Tpa1uRkWAjI/AAAAAAAAAGA/faHT2SB-S9s/s72-c/re665.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-3075190327366179424</id><published>2011-10-07T02:33:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T02:39:35.354-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"510"</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk kuning bernomor punggung 510 itu berhenti di perempatan Pasar Rebo. Nyaris harimau luka, meraung. Tapi sebentar. Kemudian seperti air mendidih 100 derajat celcius. Tapi makhluk itu bukan harimau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sekarang mirip buaya lapar, menganga di tepi kali. Barangkali ada calon mangsa yang mendekat. Tapi bukan pula buaya karena mulutnya tidak di kepala, melainkan di sebelah kiri perutnya. Dua jumlahnya.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Bus 510!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Puji Tuhan. Satu per satu mangsa mendekat. Mereka ditelan tanpa seleksi. Laki atau perempuan. Muda atau renta. Dan faham, mustahil ada kursi kosong. Mereka berdiri. Berdesakan seperti kelereng dalam kaleng. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sekira 10 menit, makhluk kuning bernomor punggung 510 itu penuh sesak. Sudah saatnya pergi. Tapi dia seperti koruptor. Pantang  kenyang. Enggan ngeloyor sebelum koruptor di belakang setor muka. Sementara sopir seperti siluman, entah dimana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Dengus mesin bergetar, mengguncang-guncang seisi tubuhnya. Tapi ini gerak tipuan, seolah akan langsung pergi. Dia menepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni di dalam perutnya mengutuk dalam tujuh bahasa. Tapi tidak bisa berbuat banyak. Keringat meleleh di sekujur pori-pori. Jendela yang terbuka tak berfaedah karena angin malas datang. Dan nafas dari mulut dan hidung mereka seolah mengandung api. Mereka mengukus diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondektur berseragam personek berteriak, “Puta, Puta, Puta,” huruf “T” dilipatnya di ujung bibir. Dia belum puas hanya membuang “Ci”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah penuh, Bang!” sela satu suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang kondektur tak berkomentar. Ngeloyor ke lampu merah. Tak lama, dia membawakan kopor hitam. Di belakangnya seorang ibu berhias keringat terseret-seret. Mendapati penuhnya bus, ia tertegun sebentar. Pikirannya barangkali bertanya, bagaimana mungkin tulangngnya yang keropos mesti berdesakan dengan belulang bugar. Tapi masuk juga. Mau tidak mau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang geser, bang. Ke dalam, ke dalam! Tasnya di depan. Tasnya di depan! Dua baris! Itu masih ada yang kosong. Geser, Bu, geser!” kondektur seolah komandan merapikan barisan serampangan. Berhambur tanda seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu muda berhenti di ambang pintu. Menatap bus sejenak. Seolah menimang, bagaimana mungkin tubuh kenyalnya bergesekan dengan pria-pria tak bertuan. Tapi apa boleh buat. Muncul pula tanda seru: segera pulang! Matahari tunggang gunung. Suami dan anak-anak manis menunggu. Ia pun naik sambil meringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, jalan aja. Udah penuh!” satu suara menyeru. Tapi tak jelas raga wadagnya. Mungkin karena itu dia berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau pengen cepet, naik taksi aja! Suruh siapa naik bus? Ayo turun! Saya carikan taksi sekarang. Ayo, siapa mau turun?” tukasnya. Bernada ancaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat dia menunggu jawaban. Tapi Bungkam. Pemilik suara seolah menyesal dengan kata-katanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondektur bersungut-sungut pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penumpang kini memenuhi ambang pintu. Laiknya zaman revolusi fisik di tahun 45 saat negeri ini dicengkeram penjajahan. Tapi mereka tak ada yang teriak merdeka. Bungkam malah. Hanya mendengar ratap nafas sendiri yang sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib mereka tak beranjak dari penderitaan nenek moyangnya 66 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dari mana munculnya, sang sopir sudah bertengger di belakang kemudi. Saat itu, di belakangnya, makhluk kuning yang bernomor punggung sama, menggeram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian balas menggeram. Seolah tabik bermakna: ya, saya berangkat. Ia pun menggelesot sempoyongan. Masuk tol, menyatu dengan harimau-harimau lain yang gesit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah tol, bus rongsokan ibarat harimau tua kekenyangan. Dia berjalan meliuk-liuk, berderak, berdecit. Lambungnya mengeliat-geliat. Tapi penghuni di dalamnya tampak lega, sedikit terbebas dari kukusan atas belas kasihan angin yang menerobos jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondektur menelusup, menagih ongkos dengan ulet. Tak satu pun yang abai dari matanya. Uang Rp 3.000. 00 terulur dari tiap tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perempatan Lebak Bulus, harimau tua itu tak tahan. Perutnya menggeliat-geliat mual. Dia memuntahkan beberapa penumpang yang langsung pergi tanpa menatapnya. Seolah baru saja terbebas dari tempat terkutuk. Tapi besok naik lagi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di terminal Lebak Bulus, bus kembali muntah. Di Pasar Jumat, Gintung, Rempoa, Kampung Utan, Legoso, Ciputat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba Saudara tanya kepada setiap penumpang yang turun dari bus kuning serakah itu, berapa tahun Indonesia merdeka? Atau, apa benar-benar sudah merdeka?  Dan, kalau Saudara belum pernah dikukus, ada baiknya sekali waktu naik 510. Murah kok, cuma tiga ribu. Selamat mencoba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat, Oktober 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pernah dimuat di: http://www.angkringanwarta.com/2011/10/510.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-3075190327366179424?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/3075190327366179424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=3075190327366179424&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/3075190327366179424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/3075190327366179424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/10/510.html' title='&quot;510&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-809309035353385390</id><published>2011-09-29T00:09:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T00:24:26.901-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>"Gus Dur Mewarisi Kebijaksanaan Nabi Sulaiman"</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-CWvvTy7jc84/ToQdIEzbH2I/AAAAAAAAAF4/VLal4OhPBm0/s1600/Gus%2BDur_Ekspresi_4.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-CWvvTy7jc84/ToQdIEzbH2I/AAAAAAAAAF4/VLal4OhPBm0/s320/Gus%2BDur_Ekspresi_4.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657679056449773410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sejak usia dini, Gus Dur gemar membaca buku. Buku apa saja. Dan menyangkut ilmu apa saja. Tak heran kalau ia pandai. Dan kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kira banyak sekali orang yang bisa pandai dari membaca buku. Tidak hanya Gus Dur. Yang lebih kritis juga tidak kurang-kurang. Tapi untuk apa pandai dan kritis itu? Kalau nggak kuat, bisa minterin orang. Jadi fitnah. Pinter nggak ada gunanya. Nyolong ora ketok nyolong, ya pinter,” jelas kang Sobary pada peluncuran Pojok Gus Dur di gedung PBNU lantai 8 pada Ahad, 07/08 petang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir pada kesempatan itu sahabat-sahabat Gus Dur yang lain; Adi Massardi, Musdah Mulia, Budi Tanuwibowo, Muslim Abdurahman, dan Danarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pojok Gus Dur yang diresmikan ketua PBNU, Said Aqil Siroj ini berisi koleksi sebagian buku, audio books, kaset-kaset wayang, foto dan cakram padat (CD) milik Gus Dur, termasuk buku-buku yang ditulis Gus Dur dan buku-buku karya orang lain mengenai Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  Menurut Kang Sobary, pintar dan kritisnya Gus Dur dengan kiblat yang jelas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Pinter dan kritis harus jelas kiblatnya? Untuk diri sendiri? Gus Dur membaca buku itu tidak hendak pinter, tapi lebih dari itu, dia mengambil satu garis, mengambil satu posisi yang bagus, ia berbicara ketika orang lain tidak berani membicarakannya. Ketika dia menang, ia menang tidak untuk dirinya sendiri, tapi untuk memperjuangkan apa yang namanya kebenaran, kemanusiaan, keadilan,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus Dur pinter, saya tidak iri. Gus dur kritis, juga tidak iri. Tapi saya iri, Gus Dur itu bijaksana sekali. Itu warisannya kangjeng Nabi Sulaiman. Ini harus digarisbawahi, sikap bijaksana, adil, dan pelindungnya. Kita menyaksikan sendiri saat beliau meninggal, mendatangkan orang Kristen, orang Budha, Hindu, konhucu, orang yang tak beragama. Apa ada yang bisa demikian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku Jejak Guru Bangsa ini menambahkan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang bijaksana, bukan sekadar lulusan-lulusan sekolah. Tidak usah yang pinter, tidak usah yang rapi. Tidak ada gunanya. Tapi yang bijaksana. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-809309035353385390?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/809309035353385390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=809309035353385390&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/809309035353385390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/809309035353385390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/09/gus-dur-mewarisi-kebijaksanaan-nabi.html' title='&quot;Gus Dur Mewarisi Kebijaksanaan Nabi Sulaiman&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-CWvvTy7jc84/ToQdIEzbH2I/AAAAAAAAAF4/VLal4OhPBm0/s72-c/Gus%2BDur_Ekspresi_4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-9144934267234028206</id><published>2011-09-28T13:17:00.000-07:00</published><updated>2011-09-28T13:31:56.053-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>"Djamaluddin Malik: Berjuang dengan Pancawarna"</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-y6P8eYrwspU/ToOCl2Oh1uI/AAAAAAAAAFw/c4AaN-nme5w/s1600/Djamaluddin.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-y6P8eYrwspU/ToOCl2Oh1uI/AAAAAAAAAFw/c4AaN-nme5w/s320/Djamaluddin.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657509143630698210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;oleh Abdullah Alawi &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;&lt;i&gt;“Tadinya anak buah saya bermaksud, jika sudah sampai di daerah Republik, rombongan akan membubarkan diri. Lalu kami menerjunkan diri dalam badan-badan perjuangan. Ada yang di Hizbullah (pimpinan KH. Zainul Arifin) ada yang barisan pemberontakan rakyat (Pimpinan Bung Tomo)  dan sebagainya.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Itulah niat Djamaludin Malik yang dikemukakan kepada KH. Wachid Hasyim, tokoh NU sekaligus mentri agama pertama RI yang didokumentasikan KH. Saifuddin Zuhri  dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren. Selain Saifuddin, hadir KH Fattah Yasin, laskar Hizbullah yang bergabung ke Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan itu terjadi di Yogyakarta, saat ibukota pindah dari Jakarta sejak 4 Januari 1946 hingga 28 Desember 1949. Saat itu wilayah Indonesia menyempit akibat perjanjian Renville pada 8 Desember 1947. Karena itulah kabinet Amir Syarifudin jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjuang bukanlah milik para laskar dan tentara. Tapi juga para seniman, termasuk Djamal, pria kelahiran Padang, 3 Februari 1917 ini. Ia bersama kelompok sandiwara Panca Warna, yang didirkannya pada tahun 1942 ini berkeliling hampir ke seluruh kota besar Indonesia. Tujuannya untuk membangkitkan semangat juang dan cinta Tanah Air. Daya jelajahnya tidak hanya di pulau Jawa, melainkan Sulawesi dan Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  Rupanya hal itu tidak memuaskannya. Djamal bersama anak buanya berniat menetap di Yogyakarta, turut mengangkat senjata dan terjun ke kelaskaran dan tentunya meninggalkan pentas sandiwara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi niatnya ditolak Wachid Hasyim. Ia punya pandangan lain tentang perjuangan. Menurutnya, berjuang tidak harus dengan senjata atau kelaskaran. Perlu ada yang berjuang di wilayah lain. Lagi pula anggota kelaskaran sudah sangat banyak. Dan, orang-orang yang berjuang lewat seni, khususnya sandiwara, masih sangat kurang. Padahal itu amat penting dalam perjuangan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wachid menambahkan, dalam pementasan sandiwara, bisa dijadikan tempat bertemunya orang-orang Republiken (Indonesia) dan mengumpulkan senjata. Ia menyarankan supaya Djamal segera ke Jakarta, yang sudah dikuasai Belanda, karena kelompok sandiwara tidak akan dicurigia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan kiai jeniaus, putra rais akbar NU, Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asyari ini diterima Djamal.  Dia pun memantapkan diri dengan berjuang terus lewat kelompok sandiwaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari, setelah Wachid wafat (19 April 1953), Djamaludin melanjutkan minatnya dalam dunia kesenian dan budaya. Ia bersama bersama Usmar Ismail dan Asrul Sani bergabung di Lesbumi. Lembaga di bawah naungan Nahdlatul ULama (NU) ini diresmikan KH. Saifuddin Zuhri pada 28 Maret 1962.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedikasi terhadap kesenian, khususnya perfilman, ketiganya menjadi tokoh utama perfilman nasional. Djamaludin mendirikan Persari yang membuahkan 59 judul film. Usmar Ismail mendirikan Perfini dan ditetapkan jadi bapak film Indonesia. Sementara Asrul Sani, di samping jadi sastrawan, ia juga sutradara masyhur. Salah satunya film Nagabonar yang dibintangi Dedy Mizwar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di Lesbumi, Djamal pernah aktif di Gerakan Pemuda Ansor Anak cabang Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kemudian menggenapkan pengabdiannya di NU dengan menjadi pengurus Besar Nahldltul Ulama (ketua III, 1956–1959) pada masa Idham Khalid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djamal meninggal di Munchen, Jerman pada pada 08 Juni 1970. Atas perjuangan dan jasanya, presiden Republik Indonesia, pada tahun 1973, mengukuhkan Djamaludin Malik sebagai Pahlawan Nasional dengan mendapat Bintang Mahaputra Kelas II/Adipradhana. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Agustus, 2011&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;tulisan ini pernah dimuat di &lt;a href="http://www.nu.or.id/"&gt;NU online&lt;/a&gt; di kolom Fragmen:&lt;/span&gt;&lt;a href="http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/7/33424/Fragmen/Djamaludin_Malik__Berjuang_Lewat_Kesenian.html"&gt;http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/7/33424/Fragmen/Djamaludin_Malik__Berjuang_Lewat_Kesenian.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-9144934267234028206?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/9144934267234028206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=9144934267234028206&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/9144934267234028206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/9144934267234028206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/09/djamaluddin-malik-berjuang-dengan.html' title='&quot;Djamaluddin Malik: Berjuang dengan Pancawarna&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-y6P8eYrwspU/ToOCl2Oh1uI/AAAAAAAAAFw/c4AaN-nme5w/s72-c/Djamaluddin.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-664557290387006140</id><published>2011-09-27T19:56:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T20:06:36.224-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>“Pesan Kebhinekaan dari Seren Taun”</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Qce7cCpyob0/ToKPLhprm0I/AAAAAAAAAFo/aczGTiAeZj4/s1600/swrwren%2Btahu.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Qce7cCpyob0/ToKPLhprm0I/AAAAAAAAAFo/aczGTiAeZj4/s320/swrwren%2Btahu.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657241510105291586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;“Eu…eu…eu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eu…eu…eu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoyah…!”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah teriakan sekelompok anak-anak berseragam biru, bertelanjang kaki, berikat kepala hitam sambil menggetarkan angklung buncis. Sementara di depan mereka sekelompok penabuh gendang begitu cerianya. Dan paling depan, sebagai pemimpin, dua orang lengser berjalan sambil ngigel (menari) dengan jenaka. Suara angklung yang ditimpali suara gendang tersebut menghasilkan harmoni suara yang menakjubkan. Tak kalah dengan drum band dalam konvoi tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah barisan pertama parade Nusantara pada acara seren taun Akur Cigugur kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kemudian disusul pejalan kaki Dayak Losarang yang bertelanjang dada, tanpa alas kaki dengan kepala ditutupi cotom (caping) yang runcing. Semantara perwakilan dari komunitas adat Nusantara menaiki andong. Mulai dari komunitas adat Bali Aga, Merapu, Boti Nusa Tenggara Timur (NTT), Dayak Mangaju, Dayak Ma’anyan, Dayak Meratus (Kalimantan), Taulud Sulawesi Utara, Bissu dari Sulawesi Selatan, Tanimbar Kei dari Maluku, Akur Ciamis, Akur Garut, Akur Cireundeu, Akur Cigugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  “Cicing...., cicing.... ,” tiba-tiba kang Endang berteriak sambil mengacungkan tangannnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas ulah aya nu nabeuh angklung jeung gendang, sabab keur adan”  katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berjalan santai tanpa ada yang bersuara. Lengkingan azan dari masjid Syi’arul Islam Kuningan pun mengalun merdu tanpa patema-tema  dengan suara angklung dan gendang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyanyikan lagu dari Sabang Sampai Merauke,” kata kang Ira Wardana dari atas mobil pick up, setelah azan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angklung buncis...., mulai....!” teriak kang Endang&lt;br /&gt;Semua peserta parade pun bernyanyi penuh semangat diiringi angklung dan gendang. Di sela-sela nyanyiannya, kang Ira Wardana berteriak melalui mikropon bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan ngamumule (melestarikan) tradisinya dan budaya bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awan bergelayut tebal di langit Cigugur. Hujan deras sepertinya hendak mengguyur desa yang terletak di kaki gunung Ceremai itu. Angin lembab berhembus pelahan. Tapi semua itu tak menyurutkan peserta parade. Mereka terus berkeliling membelah kota Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hujan pun seolah tertahan di puncak gunung Ceremai. Kemudian, dengan perlahan awan yang bergulung tebal itu bergeser ke sebalah utara. Lambat laun, sinar matahari yang redup pun kembali kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai ke paseban Cigugur, peserta diajak makan siang khas Sunda, dengan lalapan dan sambal. Semua orang bercampur-baur dalam suasana keakraban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara Seren Taun diadakan setahun sekali setiap tanggal 22 Rayagung tahun Saka Sunda. Upacara ini merupakan rasa syukur warga desa Cigugur kepada yang Maha Kuasa atas hasil panen padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seren taun kali ini dimulai dari tanggal 16 sampai 21 Desember. Serentetan acara telah diadakan mulai dari penyalaan obor seribu atau damar sewu, pesta dadung, pembuangan hama, tari buyung, hingga pentas kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya upacara ini tidak hanya dilakukan di Cigugur saja. Di tempat lain, misalnya di masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar, Cisolok, Sukabumi, dan Masyarakat adat Sindang Barang, Bogor juga sering dilakukan. Cuma waktunya memang tidak bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas adat berteriak&lt;br /&gt;Di ruangan paseban Cigugur, komunitas adat bercerita tentang pengalaman dan kondisi mereka saat ini. Masing-masing perihatin atas terkiskisnya nilai budaya. Menurut mereka, penyebabnya adalah (kebijakan) negara dan globalisaasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya kami tidak butuh pengakuan dari siapa pun, termasuk pemerintah, karena kami adalah putra Nusantara, puteri bumi pertiwi. Pewaris sah negeri ini. Herannya, yang menghancurkan sendi-sendi adat adalah pemerintah sendiri. Sejak tahun 1987, misalnya, pemerintah membikin peraturan bahwa pemimpin di desa adalah kades. Kades kan tidak faham apa-apa tentang adat. Maka Hancurlah struktur adat, warisan leluhur yang dipertahankan sejak ratusan tahun yang lalu,” demikian ungkap peserta dari Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seoarang Bissu juga berpendapat, sekarang ini, komunitas adat mendapat ancaman yang luar biasa dari luar dan dalam. Dari luar misalnya, kuatnya pengaruh asing. Dan dari dalam, sedikitnya generasi muda yang peduli akan budaya. Selain itu, wewenang pemuka adat juga kadang disalahgunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada malam harinya, dalam suasana tenang, komunitas adat menyenandungkan doa untuk kedamaian negeri ini dengan bahasa dan cara masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan Seren Taun di Cigugur ini membuat kita tertegun sejenak, betapa kayanya budaya kita. “Meski beda warna kulit, beda bahasa, beda budaya, tetapi darah kita sama-sama berwarna merah dan tulang kita putih. Di bawah bendera Merah Putih dan Bhineka Tunggal Ika,” begitu kata seorang Bissu.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Cigugur, 26 Desember 2008&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-664557290387006140?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/664557290387006140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=664557290387006140&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/664557290387006140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/664557290387006140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/09/pesan-kebhinekaan-dari-seren-taun.html' title='“Pesan Kebhinekaan dari Seren Taun”'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Qce7cCpyob0/ToKPLhprm0I/AAAAAAAAAFo/aczGTiAeZj4/s72-c/swrwren%2Btahu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-6862077745506678219</id><published>2011-09-27T11:48:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T11:59:00.303-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Twitter"</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-bl4BnvyB6qY/ToIc3-mg21I/AAAAAAAAAFg/MMfQn0PmvdM/s1600/images.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 290px; height: 174px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-bl4BnvyB6qY/ToIc3-mg21I/AAAAAAAAAFg/MMfQn0PmvdM/s320/images.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657115829953682258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ada dua jejaring sosial yang digandrungi saat ini, setidaknya di Indonesia: Twitter dan Facebook. Twitter diciptakan Jack Dorsey, sementara Facebook Mark Zuckerberg. Keduanya masih muda dan kemudian kaya raya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Di Facebook, hubungan satu akun dengan lainnya, dinamakan berteman, sementara di Twitter, adalah ikut-mengikuti. Tulisan ini bercerita tentang hubungan pengikut dan yang diikuti di Twitter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Twitter, akun yang mengikuti disebut follower, yang diikuti following. Kata ikut, dalam kamus online berarti: 1) menyertai orang bepergian (berjalan, bekerja, dsb); turut; serta; 2 melakukan sesuatu sebagaimana dikerjakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menduga, dalam ikut-mengikuti, terdapat hubungan yang tidak setara. Yang diikuti lebih tingi derajatnya daripada pengikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Tentang kata “pengikut”, tiba-tiba di tempurung kepala saya melintas sejarah Nabi Muhammad. Sejarah itu menceriritakan bahwa “pengikut” Muhammad mula-mula hanya beberapa orang. Lambat-laun bertambah banyak. Tentu saja itu kerja keras tak kenal lelah menyampaikan risalah kenabiannya. Dalam waktu 23 tahun, pengikutnya melampaui jazirah Arab. Ketika dia wafat, pengikutnya terus menyebarkan ajarannya. Mereka berani berperang, bahkan mati untuk memperjuangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, setidaknya, ada dua hal lain tentang keberhasilannya, pertama, dia keturunan bangsawan Quraisy. Menurut Khalil Abdul Karim, Muhammad telah dipersiapkan leluhurnya, Qushay, untuk menguasai Madinah. Perlu dipertimbangkan pula ia dibimbing Gusti Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Muhammad dan pengikutnya jelas beda derajatnya. Dalam syair yang pernah saya dengar, Nabi bagaikan batu intan dicari banyak orang, disimpan di tempat tersembunyi, mahal harganya, sementara pengikutnya (umatnya), hanya batu kali untuk melempar anjing, atau sesekali jadi fondasi untuk rumah. Tak diingat-ingat lagi. Berlipat-lipat perbedaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kisah ini, saya ingin menunjukan bagaiman rumus pengikut dan mengikuti di Twitter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Twitter, akun yang “intan” akan diikuti banyak akun. Intan di sini artinya akun yang dimiliki nama terkenal misalnya artis, politisi, pejabat, intelektual, hartawan atau yang lainnya. Intinya memiliki prestise atau prestasi. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan dengan kerja keras. Sering-seringlah ngetwitt! Barangkali ada follower satu akun yang diikuti yang nyantol. Untuk yang satu ini, ngetwitt harus harus bermutu, bernas, unik dan ah, pokoknya menarik begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu karena ada hukum umum yang berlaku dalam Twitter, orang yang diikuti belum tentu mengikuti. Ya, namanya juga ikut-mengikuti. Dari sini bisa dilihat bagaimana “kedigjayaan” satu akun dibanding yang lainnya. Seorang publik figur akan diikuti banyak akun, sementara dia hanya mengikuti beberapa akun saja. Itu pun harus sederajat dengan dia, teman dekat, atau keluarga. Di luar itu, kemungkinannya kecil -untuk mengatakan jangan berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pada praktiknya antara akun pengikut dan diikuti bersahut-sahutan dengan setara bagai sahabat sepenongkrongan, tapi tetap akun “digjaya” malas jadi follower balik. Mungkin dia bertanya, buat apa? Atau elo siapa? Dan motif-motif lain; tak ada waktu, tak penting, lupa dan motif-motif lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan semacam ini, entah kenapa saya ingat kata “senioritas”, “feodal” dan entah apalagi. Untung saya ingat cumadua kata ini. Mudah-mudahan saya salah! Sekali lagi pasti saya salah! Tak ada hubungannya dengan Twitter!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu,  jejaring yang katanya sosial ini ternyata kadang asosial juga. Saya pernah berkumpul sama orang yang gemar ngetwitt, mereka membicarakan topik-topik hangat, kejeniusan satu akun bermain kata yang genius, indah dan melumpuhkan. Meski pemilik akun itu tak dikenal, entah dimana adanya, tapi begitu dekat, seperti urat yang membelit di leher. Sementara ia lupa ada makhluk masih beraga dan bernyawa di hadapannya: saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya menelan ludah saja, serasa leher ini dicekik jin iprit. Dan saya jadi merasa tak berdaya, ketinggalan zaman, dan bersalah, kenapa tidak rajin mengikuti para “digjaya” di Twitter. Mudah-mudahan hanya saya yang mengalami, siapa pun, moga-moga tak pernah merasakannya. Barangkali saya lebay? Ah, bukankah lebay, sedang digandrungi. Sesekali saya minta izin untuk berlebay ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan salah, jejaring sosial yang pergerakannya cepat ini, banyak manfaatnya pula. Ia hanyalah alat. Dan alat, akan berfungsi, bernilai, menggedor, tergantung di tangan siapa. Pisau kecil yang jelek akan berbahaya jika di tangan Li Sun Hoan. Tapi kapak Naga Geni 212 tak berarti apa-apa di tangan bayi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;27 September 2011&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-6862077745506678219?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/6862077745506678219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=6862077745506678219&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6862077745506678219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6862077745506678219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/09/twitter.html' title='&quot;Twitter&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-bl4BnvyB6qY/ToIc3-mg21I/AAAAAAAAAFg/MMfQn0PmvdM/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7654646579502435332</id><published>2011-09-27T07:14:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T07:16:13.513-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>"Sejarah"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" &gt;“Sejarah, apalagi bagian yang dalam, yakni mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat; yang menyebabkan kemajuan atau kemunduran suatu bangsa, tidak banyak diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Padahal, di sinilah padang penyelidikan yang maha-maha penting.” (Bung Karno)  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7654646579502435332?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7654646579502435332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7654646579502435332&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7654646579502435332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7654646579502435332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/09/sejarah.html' title='&quot;Sejarah&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7626591192306173447</id><published>2011-09-27T07:04:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T07:10:13.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Tokek, Semut, dan Aku"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;"Tek…tek..tek …tekek, tekek, tekek…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghitung suara tokek itu. Hingga tujuh kali berbunyi. Suara seolah mengatakan aku “ada disini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika aku kecil sering menghitungnya pula. Bahkan lebih dari itu, sebagai patokan waktu. Jika ia berbunyi tujuh kali, berarti jam tujuh. Jika berbeda, maka jamlah yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian makhluk berwarna gading bertotol kemerahan yang menempel di pojok langit-langit kamar itu terdiam. Dan kemudian sepi. Sepi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, makhluk itu sedemikian menyendirinya, ujarku dalam hati sambil menatapnya. Dan kesepian. Kemudian mengajakku bicara. Tapi bahasa tak mampu saling mengerti. Ah, seandainya aku Sulaiman, atau Angling Dharma. Mungkin aku bisa bertukar cerita dengannya; tentang kesendiriannya, kesendirianku, sepinya dan sepiku. Tentang apa saja. Sejauh yang ingin diceritakan, sejauh aku ingin mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, tokok itu bernyanyi, sambil menatap sebondong semut-semut kecil. “Semut-semut kecil saya mau tanya apakah dirimu sesepi diriku? Apakah dirimu sesepi diriku? Apakah dirimu sesepi diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semut kecil itu seperti mengabaikannya. Ah, barangkali lagu itu untukku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;27 September 2011&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7626591192306173447?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7626591192306173447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7626591192306173447&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7626591192306173447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7626591192306173447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/09/tokek-semut-dan-aku_27.html' title='&quot;Tokek, Semut, dan Aku&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-8252785375771301155</id><published>2011-08-14T18:52:00.000-07:00</published><updated>2011-10-05T04:26:26.520-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>"Celurit Emas Kepincut Nescafe 3 In 1"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-PiOY9WR8-iw/Tk7J9O2XDPI/AAAAAAAAAEU/G25XNzj-NSg/s1600/Copy%2Bof%2Bzawawi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 155px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PiOY9WR8-iw/Tk7J9O2XDPI/AAAAAAAAAEU/G25XNzj-NSg/s320/Copy%2Bof%2Bzawawi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642669436937112818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Malam ini, untuk kedua kalinya saya berjumpa sastrawan besar asal Madura, Si Celurit Emas, Zawawi Imron. Dia ke Jakarta atas undangan RRI untuk membaca puisi dan orasi kebudayaan menjelang buka puasa sore nanti, Senin, (14/08).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, saya pernah ketemu penulis antologi puisi Kelenjar Laut ini. Ia ke Jakarta dalam acara serupa di TIM. Sebelum pulang, ia dibelokan Hamzah Sahal ke Ciputat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat kabar ini, sahabat-sahabat Ciputat langsung gegap-gempita, bergerak untuk menjamunya. Jamuan kepada sastrawan adalah menimba semangat atas kreativitasnya, mengapresiasi karya-karyanya dan mempertemukannya dengan sastrawan lain. Diundanglah Yanusa Nugroho, penulis novel Di Batas Angin, dan AS Laksana, Bidadari yang Mengembara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Diskusi yang bertempat di asrama PMII Ciputat ini dipandu Ahmad Makki . Suasana berlangsung dengan santai dan cair. Peserta bertukar pikiran tentang kondisi sastra Indonesia, proses kreatif dan trik-trik menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela diskusi, Zawawi Imron melukis Yanusa da AS. Laksana. Ternyata penyair yang menulis Nenek Moyangku Airmata (1985) ini, lihai melukis juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali saya tidak dapat duduk manis mendengarkan diskusi mereka. Saya mondar-mandir untuk menyiapkan kopi dan cemilan yang memang tidak dipersiapkan sebelumnya. Kepanitiaan tidak dibentuk, urusan jadi kapiran memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, saya sempat menguping AS Laksana berucap ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menulis itu menyengsarakan. Bisa mimisan. Susah bikinnya, kalau sudah jadi, belum tentu hasilnya memuaskan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Yanusa Nugroho, entah dalam konteks apa, dia bilang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjalan sejauh-jauhnya, berteriak sejadi-jadinya, diam sebeku-bekunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi hangat pun ditebar ke lingkaran peserta yang berjumlah sekira 5o orang ini. Sama rasa karena keluar dari ceret yang sama. Kecuali dua gelas. Keduanya kopi minus gula. Untuk Yanusa yang mendapat penghargaan Kesetiaan berkarya Juli lalu dan AS Laksana. Keduanya sama-sama dalam golongan ahli isap rokok. jenisnya sama: kretek. Cuma berlainan merek. Yang satu Dji Samsoe yang kedua Gudang Garam Merah. Selama sesajen lengkap, sampai kapan pun bisa bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Zawawi Imron. Ia menolak kopi yang disodorkan; baik yang ada gulanya, maupun zonder. Ia minta yang lain. Kopi Nescape 3 in 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman langsung sidak, menjelajah warung di sekitar. Hasilnya nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah, kalau nggak ada, nggak apa-apa,” kata Zawawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu hampir tengah malam. Beberapa teman puisi karya masing-masing. Saya membaca cerpen saya berkepala &lt;a href="http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/01/jalan-aspal-bulan-lima.html"&gt;“Jalan Aspal Bulan Lima”&lt;/a&gt;. Pak Zawawi membacakan Puisi Ibu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;kalau aku merantau lalu datang musim kemarau&lt;br /&gt;sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting&lt;br /&gt;hanya mataair airmata ibu yang tetap lancar mengalir&lt;br /&gt;bila aku merantau…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, diskusi santai ini memakan waktu 4 jam lebih. Kami hampir lupa, jarum jam di dinding mendekati angka 12. Secara resmi, acara pun ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak benar-benar ditutup. Kami masih ngobrol ngalor-ngidul, sambil dipotret. Kemudian Yanusa undur diri. Tapi tak benar-benar pulang karena di beranda ngobrol lagi. Kami pun berkerumun lagi. Pak Zawawi pamitan. Tapi tak benar-benar pergi, di luar pagar halaman ketiganya juga masih ngobrol. Kami pun mengerumuninya lagi. Ah, kami separti sahabat sudah lama tidak bertemu, kemudian harus berpisah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;Malam ini Ahad, 14/08 saya ketemu Zawawi Imron lagi. Ia diajak Hamzah Sahal ke NU Online. Kebetulan pula saya sedang di situ. Kami pun ngobrol dengan santai sebagaimana anak dengan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zawawi bercerita tentang pesantren, tempat dimana ia dibesarkan. Menurutnya, nilai-nilai pesantren itu tetap relevan hingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kiai itu kan ulama. Al-Ulama warasatul anbiya.  Kiai tidak menyuruh berbuat baik sebelum berbuat baik terlebih dahulu. Kiai itu uswah hasanah. Gagalnya penataran P 4 zaman Orba itu karena mereka hanya bisa ngomong, tak bisa jadi uswah hasanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, yang relevan itu yang masih ada nilai-nilai uswah hasanahnya, yang hilang, dan ditinggakan orang yaitu pesantren yang nilai uswah hasanahnya hilang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi penyair yang pernah mendapat penghargaan dari Malaysia ini tampak lesu. Mendapati ini, Saifullah Amin menawarkan kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngopi, pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ngopi. Tapi jangan kopi hitam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung ingat keinginannya beberapa bulan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kopi Nescape 3 in 1, Pak?” tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Siapa yang mau beli?” tanya Hamzah Sahal sambil mengacungkan sejumlah uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski saya tidak tahu wujudnya, saya langsung mendaftarkan diri jadi relawan. Saya pikir, mencari benda seperti itu pasti tak sesulit menemukan jarum di gunungan sekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalian beli apa, kek,” kata Hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma mengiyakan sambil langsung pergi. Berdasar pengalaman, kopi jenis ini susah didapat di warung kecil. Makanya saya langsung ke mini market. Beruntung, benda itu ada. Saya ambil satu bungkus berjumlah 5 biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak susah ternyata. Yang susah justru saya harus membeli apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolak-balik di antara rak berisi makanan. Tetap tak bisa ambil keputusan. Ternyata membeli dengan tidak jelas apa yang harus dibeli sama susahnya dengan tidak punya uang sepeser pun. Tapi saya harus membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut mata saya melihat tumpukan korma. Tanpa banyak cingcong saya menjambret sebungkus. Langsung balik kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;“Ini kan, Pak,” kata saya sambil memperlihatkan benda yang baru saya beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ini? Ah, makanan orang Arab dibeli,” Hamzah berkomentar ketika di plastik dibuka benda hitam sukuran ibu jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi diganyang pula makanan gurun pasir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menanak air, obrolan pak Zawawi sudah pada buntutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetangga kita yang lapar sementara kita kenyang, itu bukan orang Islam. Orang miskin dan anak yatim dibiarkan, itu pendusta agama,” tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air pun mendidih 100 derajat selsius. Zawawi Imron sendiri yang menuang air dan mengaduknya. Tapi anehnya gelas yang justru banyak bergoyang. Sementara sendok sesekali saja bergerak dan kadang justru terdiam. Gelas bergoyang dengan aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah mengaitkan dengan perempuan Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa pun berderai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya di Madura itu tak ada istilah ketidaksetaraan jender. Mereka lebih aktif !” terang Zawawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setengah jam kami ngobrol, penulis Rembulan ditusuk Ilalang ini berniat pulang ke penginapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mendapat berkah karena dia berkenan membacakan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tuhan Engkau yang menciptakan malam yang gelap gulita&lt;br /&gt;tapi aku yang harus membuat lampu yang gemerlapan&lt;br /&gt;tuhan engkau yang membuat hutan belukar&lt;br /&gt;tapi aku yang mengubahnya&lt;br /&gt;membajaknya jadi ladang pertanian yang subur&lt;br /&gt;tuhan, engkau yang membuat batu, tapi aku yang memilihnya, dan mengasahnyamembuat kemilau&lt;br /&gt;tuhan engkau yang membuat racun&lt;br /&gt;tapi aku harus mencari, di laboratorium, obat penawarnya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya curiga, jangan-jangan puisi ini tercipta begitu saja. Dan kami orang pertama yang mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami dipeluknya satu per satu, seolah anak hilang baru ditemukan. Kemudian harus hilang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa di pikiran saya tiba-tiba digelayuti pertanyaan, kapan lagi saya bisa bertemu dengan Celurit Emas ini.  Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan tapi tak bisa memilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, apa keistimewaan 3 in 1?” tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngopi, tapi tidak seperti ngopi. Tapi tetap  ngopi”  jawabnya sambil terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum tahu maksudnya. Suatu saat saya harus mencicipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali dua, Saudara barangkali mesti mencicipinya juga. Atau barangkali sudah pernah? Kalau begitu, syukurlah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Kramat Raya, 14/08/11&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-8252785375771301155?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/8252785375771301155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=8252785375771301155&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8252785375771301155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8252785375771301155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/08/celurit-emas-kepincut-nescape-3-in-1.html' title='&quot;Celurit Emas Kepincut Nescafe 3 In 1&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PiOY9WR8-iw/Tk7J9O2XDPI/AAAAAAAAAEU/G25XNzj-NSg/s72-c/Copy%2Bof%2Bzawawi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4608708336666933673</id><published>2011-08-13T07:23:00.000-07:00</published><updated>2011-08-13T07:28:34.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>"Merdeka"</title><content type='html'>Merdeka berarti seribu perjuangan lagi...(&lt;b&gt;KH. Saifuddin Zuhri&lt;/b&gt;). &lt;span class="fullpost"&gt; Dikutip dari buku &lt;i&gt;Guruku Orang-orang dari Pesantren&lt;/i&gt; cet. ke-3, September 2008   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4608708336666933673?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4608708336666933673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4608708336666933673&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4608708336666933673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4608708336666933673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/08/merdeka.html' title='&quot;Merdeka&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4423339432330236459</id><published>2011-08-12T19:33:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T11:37:49.285-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>"Jelang Lebaran, Diobral Bintang Jasa"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Alkisah, ada seorang raja di negeri Antah-berantah. Pada suatu hari, dikabarkan ia diserang penyakit aneh yang ganas. Ia mendekati ajal. Tapi ia sempat ditemui tiga anaknya. Berwasiatlah dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ia menyuruh masing-masing anaknya untuk mengajukan permohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang pertama meminta kedudukan. Raja pun mengabulkan. Maka dinobatkanlah dia sebagai pengganti raja selanjutnya. Anak yang kedua meminta harta, diberikanlah seluruh harta kekakayaannya yang melimpah. Sementara si bungsu hanya terdiam di tengah suka cita kedua kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau minta apa, wahai bungsuku?” tanya raja dengan nafas tersengal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   “Saya meminta rasa malu, Ayah,” kata anak bungsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus kemudian raja itu terdiam. Lalu air mata meleleh dari kedua pipinya. Ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah yang ayah tidak punya, Nak. Kalau ada yang jual, sudah ayah beli dari dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah malakal maut merenggut nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Rasa malu. Sungguh mahal harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan pemimpin Indonesia. Anggota DPR meminta pergantian gedung, presiden mengeluh gaji tak naik, ketua DPR meminta supaya KPKdibubarkan dan ampuni koruptor. Dan baru-baru ini, presiden SBY memberikan bintang jasa kepada puluhan orang. Dua diantaranya adalah Ani Yudhoyono dan Aburizal Bakrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam mempertanyakan pemberian tanda jasa ini. Menurutnya, peran apa yang telah diambil para istri-istri pejabat itu sehingga layak mendapatkan penghargaan. Istri-istri pejabat itu memang sering tampil di hajatan sosial namun hal itu karena mereka mendampingi suami saat bertugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Persoalannya apakah sedimikan besar jasa istri-istri ini? Kok istri-istri yang diberi penghargaan apakah tidak ada orang lain?" kata Asvi lagi yang dikutip dari harian Duta Masyarakat pada Sabtu, 13/08.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy F. Awuy, pakar Filsafat di UI, ngetwitt di twitternya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Negeri subur lahan bagi para maling bertebaran bintang jasa tak punya visi setinggi bintang.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih jelas dua twit ini mengarah kepada Aburizal Bakri yang lolos dari kasus lumpur Lapindo di Siduarjo, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;@jarotdoso: Buat gw, alm Marsinah, Munir, Udin, Wiji Thukul lebih berhak atas bintang mahaputera drpd cecunguk2 itu #gilahormat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wigunadarmaLOL, for Aburizal right? RT @jarotdoso: Juragan lumpur ya tetap saja juragan lumpur meski diberi gelar mahaputera sekalipun #gilahormat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Selamat ya, Bu Ani dan dan Pak Ical. Makin keren deh. Jasa Kalian memang tiada taranya bagi kemajuan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Krmt, 13/08/2011&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4423339432330236459?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4423339432330236459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4423339432330236459&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4423339432330236459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4423339432330236459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/08/jelang-lebaran-diobral-bintang-jasa.html' title='&quot;Jelang Lebaran, Diobral Bintang Jasa&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-6437975436100165241</id><published>2011-08-12T17:27:00.000-07:00</published><updated>2011-08-12T17:31:23.025-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>“Mahbub Djunaidi?”</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;27 Juli lalu, sekelompok mahasiswa di Ciputat merayakan ulang tahun ke-78 sang pendekar pena, Mahbub Djunadi. Profesor Chotibul Umam, sebagai sahabat Mahbub di PB PMII dan harian Duta Masyarakat meniup lilin dan memotong kue ulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Chotib yang sudah renta mau menghadiri acara ini meski dihubungi beberapa jam yang lalu. Kehadirannya sebagai bentuk kecintaannya kepada sahabat, sebagaimana ia mencintai Zamroni yang telah gugur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak kesusahan ia mematikan lilin yang tertanam di atas kue tar yang bertuliskan Mahbub Djunaidi 1933-2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;  Tepuk tangan gegap-gempita dan rasa haru memenuhi aula asrama putri PMII Ciputat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di deretan belakang, seseorang celingukan dan keheranan. Kedua belah telapaknya beradu, tapi nyaris tak bersuara. Ia berbisik kepada kawan di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, yang mana sih Mahbub Djunaidi itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang lagi tiup lilin itu kali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan! itu kan pak Chotib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangkali belum datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai kejutan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangkali demikian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terdiam terfokus pada diskusi yang dimulai dengan testimoni pak Chotib. Ia bilang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Mahbub itu, kalau menulis, sekali jadi. Kalau ketahuan ada wartawan membuang tulisannya, dia marah! Menulis itu harus matang sejak dalam pikiran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi berlanjut, Amsar Dulmanan bilang, Mahbub itu ibarat kiai yang mampu menyederhanakan segala masalah musykil jadi dipahami siapa pun. Ahmad Makki menggeledah Mahbub dari segi bahasa. Menurutnya, Mahbub pemberontak literer, mengabaikan EYD. Tapi dia mengimpasinya dengan kekayaan metafor-metafor genuin, dan sublim. Dan jang lupa, rasa humornya. Pada titik ini, Mahbub adalah penyihir kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama diskusi berjalan, di belakang, seseorang masih gelisah. Benaknya berkecamuk, diseruduk tanda tanya sebesar gajah. Mahbubnya mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang memberi penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia mencoba menjawabnya dengan tanda tanya pula: barangkali Mahbub adalah yang baca esai “Kretek” tadi? Atau yang berbaju hitam kotak-kotak bergaris putih? Atau yang motret? Atau yang membawa kue tar? Atau yang bertanya apa mimpi Mahbub tentang Indonesia? Atau yang tak bisa hadir, tapi ingin menyumbang sekadar gorengan? Atau yang menyumbang air mineral? Atau yang sedang rapat di Cililitan? Ah, barangkali dia sedang ngerjain skripsi di Condet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 27 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-6437975436100165241?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/6437975436100165241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=6437975436100165241&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6437975436100165241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6437975436100165241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/08/mahbub-djunaidi.html' title='“Mahbub Djunaidi?”'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-2969975152160162581</id><published>2011-07-31T13:13:00.000-07:00</published><updated>2011-07-31T13:21:22.571-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>"Munggahan"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Entar munggahan bagaimana?” tanya ibu kepada ayah dengan nada sedikit menggugat. Aku dan adik-adik terdiam, menyimak, apa yang akan diucapkan ayah. Kata-katanya nyaris vonis hakim yang ditunggu. Tapi ditunggu beberapa saat, tak berkata juga dia. Seolah menimang-nimang keputusan mana yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munggahan sebenarnya lebih umum dari pertanyaan ibu. Ia bermakna start menghadapi hari pertama saum. Dan juga bermakna naik, barangkali secara spiritual atau ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi arah pertanyaan ibu sebenarnya mengerucut pada sahur. Dengan menu apa sahur nanti? Apakah mesti biasa saja; Ikan asin, lalaban, dan sambal. Dan sebenarnya ibu bukan bertanya, tapi minta kenaikan derajat. Munggah tidak hanya naik secara spiritual, tapi juga dalam urusan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Masuk akal karena ibu adalah jendral perdapuran. Jika urusan ini tidak selesai, bisa berdampak sistemik pada semua anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rindu, mengapa hatiku rindu tiada tertahan…” ayah malah melempar sebait lagu lawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja ibu merengut. Entah apa yang terbelit dalam pikirannya. Aku dan adik-adik hanya terdiam. Dengan pikiran masing-masing. Menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana entar aja,” jawab ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang ragu-ragu. Untuk sementara, ayah gugur sebagai hakim. Jawaban ini jadi mendua pula dalam pikiran kami; apakah akan ada kejutan, misalnya daging ayam, pepes ikan mas, atau dengan menu biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, aku pasti akan ditanya perihal sama oleh seorang perempuan yang ketemu dengan cara entah. Kemudian berjanji untuk membangun apa yang disebut keluarga. Jawaban ditunggu bocah-bocah manis, buah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ragu. Dan akan menunda jawaban. Ah, kulempar saja sebait lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walau kemana, akan kucari, kini aku berkelana, ke ujung dunia…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;1 Agustus, 2011&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-2969975152160162581?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/2969975152160162581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=2969975152160162581&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2969975152160162581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2969975152160162581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/07/munggahan.html' title='&quot;Munggahan&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-1127153978635988117</id><published>2011-07-19T01:56:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T11:37:49.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>"Whirling Sufi Pukau Pengunjung NU Expo 2011"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai alat musik berpadu dalam satu irama. Lalu asma Allah dan shalawat  masuk menggema di antara alunan itu. Beberapa orang berjubah putih, bertorbus, trance. Mereka berputar dengan tangan mengepak. Tatapan mata jauh seperti menempuh dunia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal, penampilan dari Rabbani Sufi Institute of Indonesia ini menyirep pengunjung NU Expo 2011 di JCC, Cenderawasih Hall Room 3, Jumat (15/07) pukul 17.40. Mereka menyemut di sekitar panggung, suasana jadi khidmat, tanpa suara, tanpa gerak, seolah mereka adalah penari itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;  Menurut Syahdan Hutabarat, salah seorang penari, whirling sufi biasa disebut whirling dervishes(darwis). Darwis adalah seorang yang melakukan perjalanan untuk menemukan kebenaran mutlak tentang Allah SWT. Dalam bahasa Turki, tarian ini disebut Sema, atau Sama', dalam bahasa Arab, artinya mendengarkan. Maksudnya, mendengarkan suara dari ruh kita yang mengandung cahaya Muhammad SAW yang suci, tiada hentinya memuji kebesaran Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, sementara gerak berputar, memiliki makna cinta yang dalam dari Allah SWT kepada hambanya. Kemudian disalurkan kembali kepada umat Rasulullah SAW. Seperti layaknya bumi, serta seluruh galaksi tata surya, berputar dengan arah yang sama atas rahmat Allah sekaligus memberikan manfaat bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fungsinya sebagai pengantar para darwis untuk mencapai trance, yaitu perpindahan pendengaran fisik ke pendengaran kalbu. Trance tak ada hubungannya dengan kesurupan atau kemasukkan roh,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini penampilan kami yang perdana!” ujar Adam, anggota yang lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengakui, penampilan ini adalah persembahan buat sang guru, Syekh Muhammad Hisyam Khabani yang diundang PBNU pada pertemuan sufi tingkat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berkhidmat kepada ulama-ulama NU yang mengundang guru kami,” tuturnya di sela-sela rehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berita ini pernah dimuat di NU Online: http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/32997/Warta/Whirling_Sufi_Pukau_Pengunjung_NU_Expo_2011.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-1127153978635988117?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/1127153978635988117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=1127153978635988117&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1127153978635988117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1127153978635988117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/07/whirling-sufi-pukau-pengunjung-nu-expo_19.html' title='&quot;Whirling Sufi Pukau Pengunjung NU Expo 2011&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-5794624166668493106</id><published>2011-07-13T15:54:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T11:37:49.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>"Umar Bin Khatab Coreng Muka Pesantren"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Senin, 11/07/11 pukul 15.30 WITA  warga Bolo, kabupaten Bima dikagetkan suara ledakan dahsyat. Ternyata bersumber dari sebuah pesantren, Umar Bin Khatab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi dan tim densus 88 segera menyisir kejadian. Tapi upaya mereka dihalang-halangi santri dan ustad yang dilengkapi senjata tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pihak menyesalkan tindakan pesantren ini. Menteri agama mempertimbangkan menutup pesantren ini. Sementara PBNU meminta pemerintah dan pihak kepolisian segera melakukan pemeriksaan. Selanjutnya harus memberikan penjelasan yang objektif kepada masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, PBNU melalui wakil ketuanya, Salamet Effendy Yusuf, seperti di lansir NU Online, meminta agar pihak kepolisian mengupayakan cara-cara persuasif untuk bisa memperoleh akses tersebut. Sebab, penyelidikan ini penting selama dilakukan secara persuasif. Untuk mengetahui apakah benar di pesantren tersebut berupaya merakit bom.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  Senada dengan Slamet, K. H. Malik Madani yang juga PBNU, menegaskan bahwa Pesantren Umar Bin Khatab bukan berkultur NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, pesantren-pesantren NU yang mengedepankan prinsip tawasuth, tasamuh dan tawazun. Sehingga tak pernah ada ceritanya pesantren berkultur NU melakukan kekerasan, apalagi merakit bom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, mereka hanya meniru pondok pesantren NU dari segi fisiknysa saja. Sementara ajarannya tidak,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senen, 14/07/11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-5794624166668493106?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/5794624166668493106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=5794624166668493106&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5794624166668493106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5794624166668493106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/07/umar-bin-khatab-coreng-muka-pesantren.html' title='&quot;Umar Bin Khatab Coreng Muka Pesantren&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7484170850541921656</id><published>2011-07-12T04:21:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T11:37:49.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>"Nenek Minah, Prita Mulyasari, Amirah, Siapa lagi?"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Tajuk Kompas, Senin 11/07 kemarin, kembli mengungkit masalah hukum di Indonesia. Harian ini merujuk kasus terbaru dari Madura. Yaitu kasus pencurian sebuah sarung seharga Rp 3 ribu rupiah. Pelakunya, Amirah, seorang pembantu rumah tangga dituntut mendekam di penjara selama lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ini mengingatkan kita pada nenek Minah yanga mencuri kakao di daerah Purwokerto, beberapa watu lalu. Kemudian kasus Prita Mulyasari yang mengeluhkan RS Omni via e-mail kepada temannya. Prita tetap dinyatakan bersalah oleh MK, meski menuai protes dari berbagai kalagan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; Kejadian ini justeru terhjadi di tengah carut-narut ketegasan hukum di Indinesia. Kasus-kasus besar makah terkesan tarik-ulur dengan kepentingan politik. Masih ingat dalam pikiran kita tentang kriminalisasi kasus Antasari Azhar, KPK, Susno Duadji. Tidak tuntasnya skandal bank Century, sakandal Melinda Dee. Dan, ah, saya lelah mengabsennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;Menurut analisa Kompas, kenapa hukum kita begitu tajam menjerat mereka yang  lemah? Padahal Gayus Tambunan bisa jalan-jalan ke Bali. Nunun Nurbaeti dam Nazarudin Azhar berkeliaran di luar negeri. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Tanya kenapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia; "&gt;&lt;b&gt;Kramat, 12/07/11&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7484170850541921656?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7484170850541921656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7484170850541921656&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7484170850541921656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7484170850541921656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/07/nenek-minah-prita-mulyasari-amirah.html' title='&quot;Nenek Minah, Prita Mulyasari, Amirah, Siapa lagi?&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-6183332743920948947</id><published>2011-07-11T03:18:00.000-07:00</published><updated>2011-07-11T03:21:29.211-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Piking dan Versonek"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;“Heran, orang Sunda itu jelas-jelas susah melafal F dan V. Tapi sungguh berani menggunakannya pada nama penggemar dan pendukung group sepak bola kesayangan mereka: Piking! Wah, patal. Ini bisa menimbulkan pitnah kubro dalam EYD,” demikian komentar sahabat saya orang Batak. Pelafalan huruf V dan F, ia lafalkan P, sebagaimana orang Sunda memuntahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin membalas kecengan memerahkan telinga ini. Tapi mau tidak mau harus mengakui juga secara jantan. Saya merenung beberapa saat karena dada sebelah kiri seolah pantat panci di atas bara api. Mendidih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi tertekan, saya tak bisa berfikir jernih. Malah reaksioner dan terkesan barbar.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  “Dasar Versonek , lu,” umpat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum. Tenang dan puas. Mungkin sudah mempersiapkan kalimat-kalimat itu sejak dalam sperma ayahnya. Kemudian dia mengolahnya selama berbulan-bulan sambil semedi di tepi situ Kuru. Dan tentu saja dia sudah menduga reaksi orang yang diajak bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak setiap orang Batak itu kondektur, Bung,” tegasnya laiknya seorang tengku gaek yang bijak. “Pengacara juga banyak. Dan “e” pada personek, itu sesuai prosedur kepribadian kami yang tak fasih melafal “e” dalam bunyi “e” pada elang dan esa. Lagian kau kan Sukabumi, kenapa dukung Persib, milik orang Bandung?” tanyanya menggugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersulut kedua kalinya. Prihal Persib, mungkin sejak di rahim ibu saya menyukainya. Tidak ada sangkut-pautnya dengan jauh tidaknya dengan markas Persib. Meski hingga kini menyeksikan permainan Maung Bandung belum pernah, kecuali di tv-tv.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya tetap tersenyum. Malah seperti menghayati penderitaan saya, seperti saat dia menyanyikan sebuah lagu syahdu di pentas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puta, Puta, Puta, Depo, Depo, Blo M , Blo M, Blo on, Blo on,” kembali saya melempar umpatan barbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haha haha” dia membalasnya dengan ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang Jawa juga tak bisa melapal G. Lafal yang keluar menjelma huruf K,” kilahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian kami ketawa-ketiwi ketika orang-orang  dari Dataran Tortila datang. Joe Potugis dengan celana longgar, Dany, Pablo, Pilon, Jesus Maria dan Bajak Laut. Mereka membawa segalon minuman dari Toreli. Datang pula Li Timhoa bersama Ah Fei. Keduanya menjinjing kendi tanah liat. Mirip milik sahabat saya di Pisangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira sepeminuman teh, muncul Wiro Sableng dan Dewa Tuak. Dia muncul dari arah tak terduga. Seperti tercipta dari ceracau Pilon yang mabuk. Tiba-tiba aroma  tabung arak kahyangan pun membuat tenggorokan kami naik turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah digerakan siluman mana, sahabat saya yang vokalis ini mengambil gitar. Sambil sempoyongan, ia menyanyi “&lt;i&gt;Trust Me Baby I Love You”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana jadi hangat, sehangat pagi beberapa saat matahari menyembul.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;b&gt;Kramat, 10 Juli 2011&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-6183332743920948947?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/6183332743920948947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=6183332743920948947&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6183332743920948947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6183332743920948947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/07/piking-dan-versonek.html' title='&quot;Piking dan Versonek&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4919983552846994730</id><published>2011-07-10T02:03:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T02:31:26.845-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Mengenggam Kebersamaan"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;Kepada: Ujang Abdul Muhyi, Ence Zainal Ramdhan, Chiko Permana Sidik dan Rahmat Effendi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan kami jatuhkan pada tiga ekor ikan nila bakar. Pada nasi liwet. Pada selembar daun. Pada kongkow-kongkow nikmat yang dihidangkan sepiring waktu dan segelas kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, hati-hati dengan dinding waktu. Dia akan mengoyak-moyak kebersamaan kita. Akan tersekat-sekatlah kita. Akan terseok-seoklah kita; mengundi pertemuan, mengingat-ingat wajah.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Cipuntang, 6 April 2002 &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;ditukil dari buku harian sewaktu kelas 2. 2&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4919983552846994730?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4919983552846994730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4919983552846994730&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4919983552846994730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4919983552846994730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/07/mengenggam-kebersamaan.html' title='&quot;Mengenggam Kebersamaan&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-8409858164346822140</id><published>2011-07-10T01:01:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T11:37:49.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>"Populasi Tanpa Kendali"</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Menurut situs http://tentangkb.wordpress.com/2010/04/27/perkembangan-kb-di-indonesia/ Program KB di Indonesia dimulai sekitar tahun 1957. Pada tahun tersebut didirikan perkumpulan Keluarga Berencana (PKB). Pada saat itu program KB masuk ke Indonesia melalui jalur urusan kesehatan (bukan urusan kependudukan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya adalah mengendalikan pertumbuhan penduduk. Karena semakin berdesakan penmghuni bumi ini, kian banyak permasalahan. Bahkan bencana. Kelaparan, kemiskinan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Pertumbuhan manusia yang tak bisa dikendalikan sama menakutkannya dengan wabah ulat bulu beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  Tapi tengoklah ke jalan raya, terutama Jakarta, dan kota-kota besar lainnya. Setiap detik macet. Perjalanan terganggu. Rencana-rencana tertunda. Aktivitas terganggu karena perjalanan tak bisa diprediksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lain dan tak bukan, penyebabnya adalah populasi kendaraan yang tidak terkendali. Menurut Yudhistira ANM Massardi dalam opininya di Kompas, Sabtu 09/07/1, setiap tahunnya, terjual 700.000 unit mobil. Jika dideretkan, memenuhi sekitar 1.500 km jalan. Ditambah pula membludaknya motor. Setahun terjual 7 juta unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudhistira menambahkan, hal itu disebabkan tidak terurusnya angkutan-angkutan umum. Sehingga orang tak bisa menahan hasyratnya untuk membeli kendaraan pribadi. Sementara pemerintah seperti adem-ayem saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah kendaraan tak bosannya diproduksi. Dipromosikan para salesman di tengah macet. Sorum-sorum berdiri bak jamur di musim penghujan. Kredit motor menelusup kampung-kampung. Entah sampai kapan tak terkendali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pemerintah lebih senang lahirnya motor dari pada seorang bayi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;Kramat, 10/07/11&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-8409858164346822140?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/8409858164346822140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=8409858164346822140&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8409858164346822140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8409858164346822140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/07/populasi-tanpa-kendali_10.html' title='&quot;Populasi Tanpa Kendali&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-6760694507147539922</id><published>2011-07-10T00:16:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T11:37:49.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>"Media+Money+Celebrity=Power=Berlusconi"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Akhir-akhir ini santer pemberitaan dibelinya situs berita Detik.com oleh konglomerat Chairul Tanjung (CT). Sebenarnya tak ada masalah dengan semua itu. Seperti kita membeli bakwan di pinggir jalan atau sebatang rokok di kios.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa persoalannya? Alexander Stille merumuskan: Media+Money+Celebrity=Power=Berlusconi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pula dengan rumus ini? Ignatius Haryanto dalam opininya di Kompas, sabtu 09/07/11 menguatirkan bahwa pembelian media online ini mengakibatkan dampak kurang baik pada industri media. Dia berkaca pada kasus Berlusconi yang mulanya pengusaha. Di kemudian hari jadi raja media. Lalu jadi perdana menteri Italia. &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Adakah hubungannya dengan pembelian Detik.com ini? Wallahu a’lam. Yang jelas, CT adalah pengusaha Grup Para. Sudah memiliki dua stasiun televisi, Trans TV dan Trans 7. Sekarang membeli media online dengan perkiraan harga Rp 533 milyar. Dahsyatullah alaih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;Smbil mengisap rokok dan secangkir kopi, saya membayangkan, bagaimana kalau uang itu dibelikan bakwan saja atau kerupuk? Barangkali beritanya akan lain.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kramat, 10/07/11&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-6760694507147539922?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/6760694507147539922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=6760694507147539922&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6760694507147539922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6760694507147539922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/07/mediamoneycelebritypowerberlusconi.html' title='&quot;Media+Money+Celebrity=Power=Berlusconi&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-9107033433589971542</id><published>2011-06-24T14:54:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T11:37:49.288-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>RIMASI Jakarta Ganti Kepengurusan ""</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pengurus Riuangan Mahasiswa Sukabumi (RIMASI) Jakarta berganti. Hal itu ditandai dengan acara serah-terima jabatan dari ketua sebelumnya, Ujang Wahyudin kepada ketua terpilih, Rahmat. Pergantian itu ditandai dengan penyerahan arsip-arsip RIMASI Jakarta.  Kemudian dilanjutkan dengan pelantikan pengurus oleh salah seorang anggota DPO, Bambang Rismayanto. Setelah itu, pidato perpisahan dari ketua lama. Ujang Wahyudin mengharapkan kepada kepengurusan yang baru supaya merevitalisasi organisasi yang menurutnya kembang-kempis. Sementara Rahmat, dalam sambutannya meminta kepada segenap pengurus, anggota dan alumni turut serta dalam membesarkan organisasi ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Acara yang dihadiri sekitar 50 orang mahasiswa/i asal Sukabumi, Jawa Barat ini dilaksanakan di aula Meunasah Aceh, BBS, Ciputat , pada kamis malam 24/06/11. Hadir dua mantan ketua RIMASI dan pengurus-pengurus periode sebelumnya, Abdullah Alawi dan Muhammad Rifki Afwan dan beberapa mantan pengurus, Denhas, Dadin dan Yosep. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Setelah acara serah-terima jabatan, dilanjutkan dengan ramah-tamah dan tukar cerita tentang organisasi kedaerahan yang didirikan tahun 2000 ini. Abdullah Alawi yang biasa akrab disapa Abah menjelaskan sejarah pendirian RIMASI dan merinci filosofi dari nama organisasi ini. Kemudian kang Rifki bercerita tentang bagaimana harapan dan tantangan RIMASI ke depan. Sementara itu, kang Denhas dan kang Bambang lebih menekankan peran mahasiwa yang harus jadi motor penggerak perubahan di masyarakat, terutama di Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-9107033433589971542?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/9107033433589971542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=9107033433589971542&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/9107033433589971542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/9107033433589971542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/06/rimasi-jakarta-ganti-kepengurusan.html' title='RIMASI Jakarta Ganti Kepengurusan &quot;&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-1946385019511961388</id><published>2011-05-31T08:01:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T08:08:36.333-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Kenapa Nama Grup Dangdut Selalu Ada huruf A-nya?"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family:georgia;" &gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saudara-saudara, cobalah periksa nama-nama grup dangdut yang ada di daerah Saudara! Pasti selalu berakhir huruf vokal  A? Atau setidaknya ada huruf A-nya? Kalau iya, tidak apa-apa. Kalau tidak, juga tidak apa-apa. Terserah si pemilik grup dangdut menamainya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di kampung saya terdapat dua grup dangdut dalam kondisi hidup tak mau, mati pun segan; namanya Arista dan Bahtera. Konon tahun 80-an terdapat pula grup serupa, namanya Nada Derita.  Terdapat huruf A-nya bukan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saudara masih belum percaya, dan menganggap saya mengada-ada? Coba perhatikan nama-nama grup dangdut di Youtube, maka Saudara akan mempercayainya. Saya sarankan Saudara berselancar dengan kata kunci ini. Supaya Saudara tidak kesulitan, saya urutkan berdasarkan abjad (coba, kurang baik apa saya kepada Saudara?): &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;  Adista Nada asal Tangerang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amelia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna Tangerang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belita Nada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blantika asal Rangkas Bitung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya Mega&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calawak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danista&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;El-Fata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;El-Riska&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah Mada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawara Nada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kharisma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mania&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Montesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nusa Indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onglista&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purnama Indah Cilegon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putradewa asal Jepara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reka asal Ciamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relaxa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanjaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria asal Tengerang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja hampir setiap orang mengenal Soneta, milik yang dirajadangdutkan Rhoma Irama. Dan berakhir dengan huruf A, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara barangkali bertanya, kenapa hal ini terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tak bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kesimpulan sementara saya adalah, bahwa, blog saya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pamanah Rasa,&lt;/span&gt; yang tinggal di http://abdullahalawi.blogspot.com/ sangat memungkinkan untuk nama grup dangdut atau organ tunggal. Hitung saja saja huruf A-nya! Ada empat! Melebihi yang dimiliki Soneta yang cuma satu. Meski demikian, &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt; grup ini besar, panjang dan tahan lama. Menjadi ikon tak terbantahkan dalam perdangdutan.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Saudara barangkali bertanya, apa rahasianya? Jawabannya adalah, karena ada huruf A-nya.&lt;br /&gt;Soneta yang cuma satu huruf saja, demikian jaya dan berumur panjang. Jika tahun 70-an dianggap kelahirannya, berarti sekarang sudah 40 tahun. Ingat, itu cuma dengan satu huruf A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pamanah Rasa&lt;/span&gt;, yang memasuki usia ketiga, setidaknya akan bertahan 160 tahun ke depan. Luar biasa bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya ingin mengguyurnya dengan air comberan dan melempar sebutir telur busuk. Tapi susah. Karena dia ada di sana. Menjadi tak terbatas dan sukar dikendalikan. Barangkali Saudara bisa membantu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, jika ucapan selamat ini terlambat. Tapi tidak apa-apa karena ulang tahun Nabi Muhammad juga tidak selalu tepat 12 Rabiul Awal. Bukankah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: right; font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat, 31 Mei 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NB:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Biasanya grup dangdut di atas, diawali O M atau diakhiri entertaiment. Misalnya OM Sanjaya atau Ceria Entertainmment. Yang diawali OM biasanya benar-benar grup dangdut, sedangkan entertaiment, adalah organ tunggal. Tapi kita samakan persepsi, bahwa kedua-duanya dangdut. Musik yang satu ini sangat terbuka disentuh alat musik mana pun sehingga dari waktu ke waktu terus bergeser. Sekarang dangdut sedang populer disentuh gendang. Di Jawa Timur terkenal dengan Koplo. Di Priangan Timur disebut Pongdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-1946385019511961388?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/1946385019511961388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=1946385019511961388&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1946385019511961388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1946385019511961388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/05/kenapa-nama-grup-dangdut-selalu-ada.html' title='&quot;Kenapa Nama Grup Dangdut Selalu Ada huruf A-nya?&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-1976905737431839650</id><published>2011-05-26T11:39:00.001-07:00</published><updated>2011-05-26T11:41:03.123-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>"Kenapa Maria Menangis?"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;untuk Maria &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Wah, kita terlambat,” kata pa Aang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Saya tidak menanggapi karena belum tahu terlambat apa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Di dalam, anak-anak Puspita; Key, Usman, Tommy, Epul, Linda, Tari dan Witri sedang duduk melingkar bersam pak Iwan, seorang relawan Puspita. Sepertinya mereka sedang mengomentari kegiatan talkshow yang baru saja usai. Sementara Veni sedang belajar baca al-Quran bersama kak Syahrozy. Di bagian terpisah Aisyah dan Maria duduk berhadapan. Keduanya menangis tersedu. Selintas keduanya sedang berlomba tangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kenapa kedua anak ini? Ah, barangkali habis berkelahi. Namanya juga anak-anak. Demikian bisik hati saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pak Aang berbisik sama Witri. Sementara Umi mendekati Maria. Dua telapak tangannya memegang pipi Maria yang memerah, sementara kedua ibu jarinya menyeka langsung dari sumber air mata itu. Ibu dua anak ini memang memperlakukan anak-anak Puspita sebagaimana anaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Sementara Maria masih sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ciluk,…..” tangan Umi menutup seluruh wajah Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ba…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria sedikit senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aisyah, kamu jangan menangis. Seharusnya kamu nyanyi Chaiya, Chaiya, menghibur Maria,” kata Umi pada anak di sampingnya sambil menirukan gerak tangan Briptu Norman yang tak asing lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diterangkan, sepertinya Umi sudah paham apa yang baru saja terjadi, meski dia tak menyaksikan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahalat Isya pun didirikan. Tapi saya masih penasaran kenapa Maria menangis. Pak Aang sepertinya paham pertanyaan saya. Dia memanggil Witri. Kemudian anak itu memberi penjelasan dalam bentuk tulisan, satu setengah halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan itu menjelaskan talkshow yang baru saja berlalu bertema “My Parent”. Beberapa anak tampil membawakan puisi tentang ayah dan nyanyian juga bertema ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, tema itu menyentuh dasar jiwa Maria. Dia bernama lengkap Maria Sahara Rangkuti. Sejak lahir sudah sebatangkara. Kemudian diangkat anak oleh sebuah keluarga. Di keluarga itu yang paling bisa menerimanya, adalah ayahnya. Sementara yang dia anggap ibu justeru sebaliknya. Bahkan dia sering menyiksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pada usia 13 tahun dia diberi tahu bahwa mereka bukan orang tua kandung. Sebenarnya Maria sudah menyadari hal itu sebelumnya. Tapi ketika mendengar langsung, dia pun sock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, orang yang selalu melindungi dan mengayom Maria, menderita stroke sejak dua tahun lalu. Selain itu, betapa susah dia ketemu ayah, karena selalu dihalang-halangi sama ibunya. Dan tema My Parents jelas-jelas menggugahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Puspita, April 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-1976905737431839650?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/1976905737431839650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=1976905737431839650&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1976905737431839650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1976905737431839650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/05/kenapa-maria-menangis_26.html' title='&quot;Kenapa Maria Menangis?&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-1476879334644590456</id><published>2011-05-26T10:55:00.000-07:00</published><updated>2011-05-26T10:57:27.150-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>"Dari Goodbye My Blues hingga Indonesia Raya"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Untuk Sahabatku: PEDE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; Goodbye my blues … menyambut kedatanganku ketika masuk ruangan 4x4 meter.  Lagu ini pula yang menyambutku beberapa waktu lalu. Mungkin suara milik Time bomb blues ini telah menyatu dengan penghuni dan segenap isi ruangan berdinding muram ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Aku mendapati penghuninya sedang tertekur membaca buku di pojok ruangan.  Melihat kedatanganku, dia melepas buku itu dengan enggan. Seolah pemburu yang mendapati buruannya terusik, dan kabur. Tapi ia berusaha menyungging sebentuk senyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Sorry gue ke toilet dulu,” katanya, seolah kedatanganku merangsangnya membuang sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Saat itulah aku gunakan untuk menyimak kamar kos-nya. Di samping pintu, di bawah jendela nako, berdiri dispenser berwarna putih merek Miyako. Di kepalanya bertengger galon yang tak bermerk. Isinya tinggal separuh lagi. Di sekitar dispenser, berserakan gelas-gelas kotor, seolah anak-anak kudisan tak terpelihara yang memengelilingi ibunya yang juga tak sehat. Satu gelas bertangan belepotan kopi mengering dan muk berukuran satu jengkal, terlihat sebagai anak yang paling tua, tapi nasibnya tak jauh beda. Tak terurus! di sampingnya tergantung kantung plastik putih, berisi cangkang rokok kretek berbagai merk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Di dinding sebelah timur terlihat ramai, kertas yang tergantung berisi tulisan dengan spidol,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kutanya Tuhan dengan rasioku&lt;br /&gt;kata kau tuhan seperti cinta susah dirasionalisasikan,&lt;br /&gt;Tapi kenapa kau gugat agama dan kepercayaan orang lain dengan rasiomu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan itu ditempel dengan lakban berwarna hitam. Di bawah kertas itu menancap satu paku, tergantung kaos oblong belum dicuci. Di sampingnya ditempel gambar perempuan yang menghadap siapa pun yang melihatnya. Gamber itu berwarna biru tua yang bercampur hitam. Di pojok atas gambar itu ada tulisan kopi dan rokok adalah teman ketika pekerjaan menggila. Di bawah gambar itu ada tulisan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One day death will come for use all.&lt;br /&gt;This is my ciose&lt;br /&gt;This my way&lt;br /&gt;Unforgiven for you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawahnya lagi, ada lingkaran yang penyok yang memiliki garis-garis diagonal. Di dalamnya terdapat sebuah nama yang diakhiri kata mampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding sebelah utara ada dua gambar tokoh berkaca mata. Tak ada penjelasan tentang tokoh itu. Di atas gambar itu ada perempuan yang sedang menangis merangkul ledua kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku beralih ke tembok sebelah barat. Dan langsung saja terkejut karena do sotu terdapat gambar tiga seni bunuh diri. Pertama satu pistol mengarah ke batok kepala, satu belati menghunjam perut, satu botol bermerk baygon menyentuh bibir. Saya yakin penghuni kamar ini yang membuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara gitar terompet Goodbye my blues mendayu-dayu menggiringku ke antah-berantah, menyeret ke kesendirian yang menikam, melunyah-lunyah kepedihan tak terperikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry agak lama” katanya. Dia kembali ke tempat semula dengan, pijik ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menanggapinya, tapi lebih tertarik perihal lukisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bung, kau yang melukis ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang sekali. Obsesimu tak akan kesampaian dengan tiga cara itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak memiliki semua perangkatnya. Pistol jelas nggk punya. Belati juga tidak ada? Gua juga tak bisa berbuat banyak untuk membantu elu. Baygon? Gue rasa sekarang elu nggak punya sepser pun. Untuk itu, gue bisa membantu, nih…!” kataku sambil menyerahkan beberapa lembar uang. “Semoga sukses! Selamat malam!”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung malam, tak biasanya jalan Pesanggrahan terasa sepi. Bertahun-tahun aku lewati jalanan ini. Tapi tak sesepi malam ini. Warnet, wartel, warteg, tutup. Tapi aku terus menyusurinya. Teman-teman sudah menempuh jalan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata masih ada kehidupan pada sebuah warkop. Kira-kira sepuluh meter lagi, aku melihat sosok berambut gondrong berpakaian serba hitam. Dari perawakannya, sepertinya aku kenal. Semakin dekat, sosok itu tampak jelas, Pede. Tapi agak ganjil terlihat. Dia sempoyongan, laiknya Wong Fei Hung menggunakan jurus mabuk. Tapi lawannya malam ini adalah dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh,” dia menghardikku. Tiba-tiba bulu kudukku merinding karena tatapan matanya lain dari biasanya. Mampir dulu. Kau mau minum apa? Gua bayarin! apa aja? Soda susu! Kopi! Teh manis! Elu mau rokok apa? Gua bayarin. Dji Samsu? Super? Gua bayarin. Duit gua kan banyak hahaha…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi diam-diam dia merebut rokok yang terselip di jari tanganku. Kemudian mengisapnya dengan rakus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh, kebetulan, elu kan suka nulis. Gua tunggu satu tulisan. Ceritakan keadaan gue sekarang. Terserah apa saja. Gua nggak akan nuntut apa pun. Gua nggak akan marah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke, oke, gua tulis. Peristiwa ini jadi ujung dari tulisan yang pernah gua ceritakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulisan yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu yang diawali Goodbye My Blues.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Terserah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elu tahu sendiri kan, gue anak kiai, gue anak ustad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menarik kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia meracau apa saja hingga terguling-guling. Celananya semakin melorot. Hingga kolornya yang juga berwarna hitam kelihatan. Resluting dol, sandal jepit warna biru putus, kaos yang dikenakannya dipenuhi debu. Di tengah itu dia berteriak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abdullah Alawi sebagai Sembara, Rony Tua Harahap sebagai Mardian, MS Wibowo Sebagai Tongkat Mak Lampir dan Pandi Merdeka sebagai kala Gondang…hahaha”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan semacam inilah yang sering dilakukan di luar kamarnya. Aku selalu heran sama sahabat satu ini. Prilakunya, secara sederhana bisa dibedakan antara luar kamar dan dalam kamar. Di dalam kamar, dia akan terlihat menyendiri kesepian, tak banyak bicara dan apatis. Tapi jika di luar, dia akan liar, kacau, sering berteriak seperti malam ini.&lt;br /&gt;Gerakannnya makin liar, beberapa kali hampir menubruk dinding, tapi dia berhasil melenturkan gerakan tangannya. Ketika sudut matanya melirik botol persegi, dia mengambilnya lagi, menenggaknya. Tak setetes pun. Tapi dia tetap menuangkan berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rupanya botol keparat itu penyebabnya” desisku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayan warkop menatap risih, tapi tak bisa berbuat banyak. Aku mengambil sebatang rokok. Menyhalakan geretan. Tapi secepat kilat dia mengambil, lalu melemparkannya. Kemudian tawa berderai. Saat itulah aku memerhatikan kaos oblong hitamnya. Di dada terdapat garuda dengan tinta emas, di bawahnya ada tulisan Indonesia raya berwarna putih.&lt;br /&gt;Sepertinya dia tahu aku memperhatikan kaosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiduplah Indonesia Raya...” dia mulai bernyanyi dengan bergerak lentur seperti dirigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia&lt;br /&gt;tanah airku&lt;br /&gt;Tanah tumpah darahku&lt;br /&gt;Disanalah aku berdiri&lt;br /&gt;Jadi pandu ibuku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu hingga kalimat mana dia menyanyikannya karena diam-diam aku pergi; menysur pagi di pesanggrahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Pesanggrahan, 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-1476879334644590456?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/1476879334644590456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=1476879334644590456&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1476879334644590456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1476879334644590456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/05/dari-goodbye-my-blues-hingga-indonesia.html' title='&quot;Dari Goodbye My Blues hingga Indonesia Raya&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-2670808330404354887</id><published>2011-05-09T19:37:00.000-07:00</published><updated>2011-05-25T10:47:47.600-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>"Sama-sama Berutang+Sama-sama Belum Dibayar=Impas!"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family:georgia;" &gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Memasuki kelas tiga, saya pastikan diri masuk jurusan bahasa. Tidak ada pertimbangan khusus sebelumnya, kecuali menghindari pelajaran hitungan dan lumayan senang bahasa Indonesia. Tak ada selain itu. Tapi celakanya, mesti berhadapan dengan tiga bahasa asing; Jepang, Inggris dan Arab. Setidaknya, masing-masing 10 jam pelajaran setiap minggu. Kecuali bahasa Arab, kalau tidak salah, berkisar antara 4-6 jam. Dan tak benar-benar suci dari hitungan karena masih ada pelajaran Fiqih perihal mawaris (teman yang menguasai pelajaran ini adalah saudara Rahmatullah, (semoga keselamatan baginya). Buah simalakama memang. Kadang manusia terjebak pada kondisi “mau tidak mau” dan “apa boleh buat.” Tapi hadapi saja karena tak ada jurusan lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hampir setiap hari, di kelas berdebu, dengan dinding kusam, bangku dan meja reyot (Mudah-mudahan sekarang lebih baik) terdengar gemeremang watashi, sensei, moshi moshi, belajar katakana, hiragana dan sebagian kanji.Sepertinya teman-teman langsung menikmati nihon go karena memang tujuan sedari awal. Di pojok lain terdengar how are you sementara dijawab temannya I am fine. Tapi jarang yang belajar hiwar bahasa Arab. Tidak tahu kenapa dan saya tak sempat menanyakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;  Sungguh beruntung anak bahasa diajari guru-guru mumpuni; dua guru bahasa Jepang. Dua guru bahasa Ingris dan satu bahasa Arab. (salam sejahtera untuk mereka). Ada satu iseng teman-teman (diantara iseng lainnya). Salah satu guru bahasa Jepang masih gadis. Jika masuk kelas sering menerlambatkan diri karena ingin bersalaman dengan guru tersebut. Bahkan tidak biasanya, sehabis istirahat pun teman-teman tetap ingin bersalaman. Perlu diketahui, saya bagian dari sindikat keisengan tersebut. Tapi memang bukan aktor intelektualnya. Tanyakan saja pada yang terhormat, Chicko cs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada bahasa Indonesia. Apakah saya menyenanginya berarti mahir dan menguasainya? Tentu saja tidak. Sama sekali tidak! Sekali lagi, tidak! Nilai saya tidak lebih tinggi diantara teman-teman. Dan tidak lebih rendah. Saya senang, ya senang saja. Selesai! Tidak ada sangkut-pautnya dengan kemahiran. Titik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditarik mundur, bintik-bintik kesenangan itu tumbuh subur ketika duduk di kelas 1.3. Waktu itu, pelajaran tersebut diampu pak Uyen Husiani. (Ada cerita khusus tentang nama belakangnya ini. Konon, asalnya Husaini, tapi karena salah penulisan, jadi Husiani. Repotnya,  tertera di dokumen resmi, makanya muskil diubah. Kesalahan itu menjadi bayang-bayang abadi di belakang namanya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai guru gaek, beliau sangat menguasai segala tetek-bengek pelajaran ini; mulai dari tata bahasa, apresiasi sastra, hingga wacana, dll. Maklum sudah puluhan tahun menekuninya.  Coba saudara tanyakan apakah partikel lah, kah, dan tah dipisah atau disatukan? Bagaimana menulis di imbuhan dan di kata depan? Abdul Muis dan Marah Rusli termasuk angkatan yang mana? Siapa pengarang Harimau! Harimau!, Pada Sebuah Kapal, Ateis? Siapa anak muda yang pandai bermain biola dalam Jalan Tak ada Ujung? Penyakit apa yang diderita Hasan dalam Ateis? Kenapa Lasiyah sering dipanggil Lasipang sama teman-temannya? Apakah tokoh cerpen mesti mengalami perubahan nasib? Apa perbedaan novel dan roman? Siapa penulis Senja di Pelabuhan Kecil? Dia pasti akan dengan mudah menjawabnya. Seperti kita membalik telapak tangan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang diingat dari penyampainnya adalah cara menghapal angkatan 45. Menurutnya, pelopor sastera angkatan 45 adalah Cahiril Anwar dengan puisi Aku. Sementara di prosa dipelopori Idrus dengan judul Aki. Aku dan Aki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa senang saya makin berkecambah ketika seorang kakak kelas bercerita nama besar guru bahasa dan Sastera Indonesia, Maman Badruzaman. Dia jebolan sastera Indonesia di ibu kota. Saya cuma mengangguk dan menunggu kesempatan bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali melihat sepak terjang wakamad bidang kurikulum ini ketika pelepasan kepala sekolah legendaris pak Mahmud Effendi (alm.) Dia membaca puisi yang memukau seluruh pasang mata aula MAN Cibadak. Termasuk saya. Selepas pembacaan itu, saya pun memungut puisi yang ternyata karyanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang satu ini sangat unik. Rambutnya selalu dicukur pendek, hampir plontos, (mungkin dendam atas aturan PNS yang mesti berambut rapi. Sementara dia ingin gondrong seperti saya. Maaf, ini cuma penafsiran serampangan). Dia sering terlihat sendirian di bawah rindangnya beringin dekat gerbang, dengan kepala tertekur. Seperti seorang pertapa meraih pencerahan. Dan jika kita mendatangi mejanya, akan didapati setumpuk majalah Horison dan antologi cerpen, puisi, dan novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berada di jurusan bahasa, ternyata, beliau jarang masuk. Usut punya usut, dia mengidap penyakit reumatik (semoga sudah sembuh) yang akut hingga jalannya tertatih-tatih.  Hingga  mengajar  bersandal jepit. Barangkali, dari Sabang sampai Merauke tak satu guru pun mengajar dalam kondisi seperti itu. Seandainya Malik Fadjar tahu, mungkin sudah melayang surat pemecatan, atau setidaknya teguran keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia cuma hadir tertatih-tatih ke kelas sebentar, menyuruh mencatat, berdiskusi. Kemudian pergi dengan kesibukannya yang lain, yang entah. Tapi kelas bahasa II ini tak bisa  menghindar penyakit kutukan leluhur mereka. Tak ada guru, tak ada belajar. Ada guru, menyebalkan. Maka lahirlah aktivitas mendadak di luar prosedur. Misalnya penyakit 3 N: Ngobrol, Nongkrong, Ngeluyur. Ketika jurusan lain mengepulkan asap dari kepalanya, berkutat dengan soal-sal,  kami asyik-asyik melemparkan sebutir kelapa di ruangan kelas. Ini perbuatan Chiko, Ence Efe Dian, dkk. (semoga kalian diampuni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu begitu cepat begulir. Berbagai peristiwa terlampaui, hampir tanpa refleksi. Seperti kita menghirup udara saja. Ya demikianlah. Hidup berjalan begitu saja. Sementara UAN di depan mata. Satandar  kelulusan dengan nilai minimal 3, 01 menjelma genderuwo. Tapi begitu cepat menguap jika asyik kongkow. Ketawa-ketiwi dan bermain-main. Hidup terasa lepas, mengggelegak, dan gemerincing.  Padahal kotoba bahasa Jepang menumpuk, vocabulary bahasa Inggis  menggunung, mufrodat bahasa Arab minta ampun. Sementara bahasa Indonesia jarang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu, sang guru bahasa Indonesia tersebut hadir juga di depan kelas. Dia mengajar aksara Melayu lama. Waktu itu dia menjelaskan tentang konteks kalimat untuk mendeteksi apakah kalimat itu dibaca kumbang, kambing, kembang.  Di sela penjelasannya terselip ungkapan Huruf Arab Pegon. Karena saya ngantuk, (katanya senang, tapi ngantuk. Aneh bukan?) di telinga saya terdengar Arab Bego. Maskun, teman sebangku saya terkekeh-kekeh ketika saya ceritakan perihal ini. Kemudian kembali dia hanya memberi tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intensitas pertemuan anak bahasa dengan beliau sangat kurang. Saya mencari siasat lain secara pribadi untuk bertemu dengannnya, yaitu mencoba meminjam buku-bukunya. Soal dibaca atau tidak, urusan belakang. Dan berhasil, sehingga saya pernah membaca karya Emha Ainun Nadjib, Seribu Masjid, Satu Jumlahnya yang pernah ia ceritakan. Seolah mendapat angin, saya pinjam lagi buku-buku lain; Cara Membaca Cepat, Kitab Cerpen yang isinya cepen-cerpen populer Indonesia mulai dari cerpen pertama M. Kasim “Teman Duduk” sampai yang terakhir diterbitkan Horison, kalau tidaksalah “Area X”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya poto copy beberapa cerpen yang memang sering disebutkan dalam bahasa Indonesia, misalnya “Anjing-anjing Menggali Kuburan”, “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” karya Kuntowijoyo, “Menjadi Batu Taufik Ikram Jamil,” “Lampor” Jony Ariadinata, “Pemahat Abad”. Oka Rusmini Tapi yang paling mengesankan bagi alam pikiran saya waktu itu adalah “Sentimentalisme Calon Mayat” karya Sony Karsono. Cerpen ini bercerita bahwa maut itu nyaris jazz Nate King Cole. Cerpen ini terbawa sampai lulus hingga mengilhami saya membuat cerpen “Sentimentalisme Orang Kalah”. Tapi ya sudahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pinjaman itu dihentikan total setelah buku Sayap-sayap Patah Kahlil Gibran lenyap di tangan saya. Padahal saya belum membacanya. (perlu diketahui, hingga menulis ini buku itu belum saya ganti. Silakan saudara mencerca saya dan melaporkannya kepada yang berwajib atau yang bersunat sekali pun). Mudah-mudahan dia masih ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, saya bertanya bagaimana memahami cepen Danarto Toh Mereka Tak Mampu Menjaring Malaikat yang dimuat di Horison. Kemudian dia menjelaskan. Tapi saya tidak paham. Sungguh tidak paham hingga saya tak bisa menuliskannya lagi. Saya cuma manggut-manggut yang pada hakikatnya geleng-geleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga menulis cerpen,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, saya ingin membacanya, pak. Boleh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi belum selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa judulnya, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Renjana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertegun sebentar. Renjana makhluk jenis apa itu? Apa nama makanan atau sejenis ulat bulu? Dia sepertinya paham akan pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahu artinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rindu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saya lulus, tak satu paragraf pun cerpen itu saya dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, saya bertemu dengannya. Syukur rhematik sudah pensiun dari kakinya. Tapi potongan rambutnya seperti dulu-dulu juga. Dendam tak terlampiaskan pada rambut gondrong...hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah bertanya kabar dan kesehatan, saya tanya kabar Renjana. Cerita yang selalu bikin penasaran. Seperti para kritikus sastera menanti terbitnya buku kedua William Forrester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terdiam sambil meyungging senyum. Entah apa maknanya. Tapi kemudian dia menanyakan Sayap-Sayap Patah. Saya langsung terdiam seperti petinju diuppercut di pojok ring. Tapi berusaha  mengulum senyum juga. Entah senyum jenis apa. Saya pun bilang begini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Pak, saya berutang buku Sayap-sayap Patah, sementara bapak berutang Renjana. Kita sama-sama berutang. Dan sama-sama belum membayarnya. Saya akan kembalikan buku itu, apabila saya mendapat cerpen tersebut. Impas, bukan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: right; font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ciputat, Mei 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-2670808330404354887?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/2670808330404354887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=2670808330404354887&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2670808330404354887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2670808330404354887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/05/sama-sama-berutangsama-sama-belum.html' title='&quot;Sama-sama Berutang+Sama-sama Belum Dibayar=Impas!&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-6680126678371880532</id><published>2011-03-21T03:57:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T11:37:49.288-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>"Koin Sastera Untuk Pusat Dokumentasi H. B. Jassin"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Dunia sastera di Indonesia, sungguh memprihatinkan. Selain jarang peminatnya, buku-buku yang berkaitan dengan sastera, terbilang jarang. Kalaupun ada, hanya sebatas dokumentasi pribadi segelintir orang. Misalnya dokumentasi kritikus sastera H. B. Jassin, sang Paus Sastera Indonesia. Koleksinya berisi sekitar 48.000 buku. Dokumentasi tersebut, sejak 28 Juni 1976 dibuka untuk umum dengan nama Pusat Dokumentasi H. B. Jassin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Tapi kondisi PDS tersebut sekarang terancam gulung tikar, karena subsidi untuk biaya operasional dari pemerintah terus-menerus "disunat". Berbagai kalangan pun, terutama pecinta buku dan sasterawan berteriak, karena PDS merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya. Ini bukti pemerintah tidak menghargai buku, sastera, dan keuletan anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriak itu terdengar nyaring di telinga hati beberapa gelintir mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat. Mereka melakukan aksi damai di kampus, di halaman gedung Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dan menggalang dana “Koin Sastera Untuk PDS”, pada Senin 21/03/11, dimulai pukul 09.00 dan berakhir 17.00. Selain itu, di bawah terik matahari beberapa orang melakukan orasi. Sementara Dedik Priyanto dan Wahyu Syahputra membacakan puisi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  “Alhamdulillah, kami bisa mengumpulkan dana sejumlah Rp. 601.000,00,” kata Arlian Buana, salah seorang penggalang aksi dengan muka berlelhan keringat. “Besok kita akan lanjutkan lagi aksi serupa,” tambahnya dengan semangat. “Nanti hasilnya akan dikirim ke Pusat Gerakan #KoinSatera di Taman Ismail Marzuki (TIM),” tambah Ahmad Makki, penggalang dana yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-6680126678371880532?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/6680126678371880532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=6680126678371880532&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6680126678371880532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/6680126678371880532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/koin-sastera-untuk-pusat-domentasi-h-b.html' title='&quot;Koin Sastera Untuk Pusat Dokumentasi H. B. Jassin&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4952892558955105486</id><published>2011-03-19T12:13:00.000-07:00</published><updated>2011-03-19T12:20:13.930-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Maret"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Maret! Ya Maret. Bagi kebanyakan orang, tak lebih beda dengan bulan-bulan yang lain. Berisi tanggal-tanggal, untuk menandai hari-hari yang tercantum di kalender. Cuma memang kebetulan berakhir sampai 31. Ini juga tak aneh karena dua bulan ke depan juga penanggalan berakhir di angka yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendeteksi bulan berjumlah 31, saya diberi tahu guru matematika, sewaktu kelas lima SD. Tangan dikepalkan, katanya. Tulang pangkal jemari yang mencuat anggaplah sebagai gunung. Sementara cekungannya sebagai lembah. Gunung berarti 31, sementar lembah 30 atau 28. Gunung pertama adalah Januari berarti 31. Silakan cek di almanak. Lembah pertama, Februari mendapat keanehan yang selalu kekurangan, yaitu 28. Maret 31, April 30. Untuk Juli dan Agustus, gunung di kepalan tangan habis, lalu pindah ke kepalan tangan sebelah. Dan tentunya dimulai dengan gunung. Maka tanggalnya berjumah 31. Mudah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi orang atau lembaga tertentu Maret bulan yang istimewa. Biasanya berkaitan dengan ulang tahun. (memang ada tahun yang diulang-ulang? Aneh! Tapi nyata!)  Dan kalau pun ada hari-hari besar nasional, (kasihan ya, tanggal yang tidak disebutkan disebut hari-hari kecil) bulan-bulan lain pun tak kalah hebatnya. Berikut hari-hari besar nasional Indonesia bulan Maret hingga tanggal 11:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;1 Maret: hari kehakiman Indonesia&lt;br /&gt;1 Maret: peristiwa serangan umum 1 maret di Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;6 Maret: hari ulang tahun KOSTRAD&lt;br /&gt;9 Maret: hari wanita Indonesia&lt;br /&gt;11 Maret: hari surat perintah 11 maret atau supersemar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 1 bertepatan dengan hari kehakiman, berkaitan dengan hukum. Apa gunanya? Hukum di Indonesia tidak pernah beres. Bertepatan pula dengan hari serangan umum 1 maret di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kapan serangan khususnya? Dan konon peristiwa ini hanya dibesar-besarkan untuk kepentingan seseorang yang pernah jadi penguasa di negeri ini. Tanggal 6 Maret Hari Kostrad. (tangkap tuh teroris. Kamu kan punya strategi). Tanggal 9 Maret hari wanita. Kapan hari laki-lakinya ya? Lalu tanggal 11 hari Supersemar. Barangkali ini musuhnya Superman dan Superboy dan senang mengisap rokok Dajrum Super dan makan Supermie.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi sebagian orang memang tidak penting. Tapi bagi ibu saya lain. Dia telah berjuang untuk melahirkan kedua anaknya di bulan ini. Kemudian dia merawat, mengasuh dan membesarkan. Saya masih ingat ibu saya selalu berpuasa saat ulang tahun saya. Eh, pada hari yang bertepatan dengan tanggal saya lahir. Terima kasih ibu…Mmmmuah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Ciputat, 10 Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4952892558955105486?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4952892558955105486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4952892558955105486&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4952892558955105486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4952892558955105486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/maret.html' title='&quot;Maret&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7229837873018118729</id><published>2011-03-05T19:09:00.000-08:00</published><updated>2011-03-05T19:23:18.210-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>"Akhir September"</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Dalam kamar kost 3x4 yang nyaris tak pernah rapi, yang masa kontraknya habis tanggal 10 September, sambil tengkurap, dia menghitung, mengira-ngira, beberapa orang yang jadi target. Dia seperti orang yang sedang ngecak togel, tapi dia tidak sedang ngecak togel. Di pikirannya muncul beberapa nama, Asep, Abun, Bowo, Acil, Luqman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendata nomor-nomor telepon yang bisa dihubunginya, kenalannya atau saudaranya. Itulah mungkin jalan yang paling waras sebelum tanggal 25 Agustus setelah kenyataannya dia cuma bisa menggondol uang dua ratus lima puluh ribu rupiah dari kampungnya. Itu pun sudah habis-habisan, jual ini jual itu. Pinjam sana pinjam sini. Sementara dia harus membayar tujuh ratus lima belas ribu rupiah. Berarti tinggal lima ratus ribu lagi. Dari mana uang sebanyak itu, kalau selain pinjam. Mau minta bantuan ke pamannya yang tinggal di Tangerang? Ah, tak mungkin. Dia kapok ke sana. Saudara-saudara dan sepupunya pun tak pernah berkunjung. Mereka gentar sama isteri pamannya. Mereka ogah dikasih muka masam. Mau pinjam ke pamannnya yang di Condet? Ah, dia bukannya tak mau membantu, tapi apa mau dikata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, katanya SPP tidak pernah naik di kampusnya karena selalu diganjal oleh demo mahasiswa yang lumayan radikal, revolusioner sisa-sisa ruh angkatan 98 masih ngendon. Tapi itu dulu, kini angkatannya menjadi lambang ketertundukan. Mereka tak peduli sama masalah-masalah seperti itu. Mereka telah ditertibkan, dinormalisasikan untuk kemudian ditundukkan. Dan inilah yang diinginkan oleh birokrasi kampus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  Dia terbayang saat ayahnya meminjam uang sambil menekurkan muka, tapi dia cuma mendapatkan jawaban seperti ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kuduga sebelumnya,” kata Mbah Karta sambil menghisap rokok kretek Djarum Coklat. “Kalau tak punya duit kenapa berani-berani menguliahkan anak? Pak Oding saja yang punya penggilingan padi dan luas sawahnya kelabakan nguliahin si Ruslan. Aplagi kamu. Jangan mimpilah. Hidup ini harus realistis!”&lt;br /&gt;“Saya tak perlu penjelasan yang panjang lebar tentang itu, tapi sekarang bisa tidak pinjam uang buat menambah uang semesteran si Jalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duitnya sudah digondol sama si bungsu buat masuk sekolah pavorit di kota.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, tak bisa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kemirisan yang melunyah-lunyah saat dia mendengar cerita ayahnya. Cerita itu begitu menohok rabunya, menampar mukanya. Dadanya terasa sesak. Darahnya seperti ada yang mengaduk-aduk. Isi kepalanya seperti ada yang menekan-nekan. Benaknya pengap penuh sesak. Wajah ayahnya, ibunya, mbah Karta, melintas-lintas. Terbersit dia untuk DO daripada merepotkan orang tua. Dia telah mengorbankan perasaan ayahnya, menjual harga diri ibunya. Dia ingin rasanya hengkang ambil langkah seribu dari dunia perkuliahan yang membikinnya sakit hati. Jadi sarjana pun tak ada jaminan. Sarjana banyak yang nganggur. Dia harus berdesak-desakkan dengan mereka menambah pengangguran. Tapi niatnya itu ditolak mentah-mentah sama ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kepalang tanggung Jalu, satu petak kebun telah melayang. Sawah sudah digadaikan. Kamu kan sekarang sudah semester lima. Berarti kamu tinggal beberapa semester lagi. Sebentar lagi kamu jadi sarjana. Kalau jadi sarjana, nanti mudah cari  kerja. Kalau putus di tengah jalan, pasti tetangga kita tak kurang soraknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa mual dia mendengar kata ‘sarjana’ yang diucapkan ibunya. Entah kenapa kata itu seperti telah terpencil jauh-jauh di benak kepalanya. Kenapa juga urusan kuliah dihubung-hubungkan dengan masalah kerja. Apalagi jurusan yang digelutinya tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia kerja. Tapi dia menyadari logika ibunya mungkin seperti itu. Dia jadi merasa bersalah kenapa dulu memaksakan diri ingin kuliah. Dia merasa bersalah sampai saat ini masih belum mampu membiayai kuliah sendiri. Dia hanya menghisap keringat ayahnya sampai sebesar ini seperti kapitalis menghisap buruh tak henti-hentinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kuliah hanyalah untuk kelas sosial tertentu. Dari dulunya memang begitu, ditentukan oleh status sosial. Pada masa-masa kolonial hanyalah anak-anak bangsawan dan juragan-juragan yang bisa sekolah. Ironisnya itu tak jauh berbeda dengan sekarang. Orang yang bisa mengenyam bangku perguruan tinggi senantiasa didukung oleh status sosial tertentu. Orang miskin harus (di)singkir(kan). Dia harus tetap saja jadi subordinat. Subaltern. Orang miskin hanyalah diatasnamakan oleh wakil-wakilnya di parlemen, didefinisikan, diarahkan untuk kemudian ditundukkan oleh struktur yang sulit dilintasi. Jika hidup itu berputar kadang di atas kadang di bawah, jangan katakan padanya! Katakan saja pada orang lain. Putaran-putaran itu tak berlaku baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dapat juga dia mengmpulkan uang sehingga genap tujuh ratus lima belas ribu rupiah. Sebenarnya dia mau menunda pembayaran, tapi birokrasinya rumit luar biasa. Disuruh menemui pak ini kemudian disuruh menemui bu itu. Disuruh membikin pernyataan ini, bikin surat itu. Menunggu lama pak anu yang sedang asyik ngobrol dengan tamunya, tamu penting, kemudian disuruh menemui bu anu. Lempar sana lempar sini yang akhirnya pak Pudek bilang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang sudah tidak ada lagi kebijakan penundaan pembayaran. Usahakan dululah sampai akhir pembayaran. Paling juga ada emergency pada hari terakhir pembayaran. Kamu harus menemui pak Purek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi tak bisa, Pak?” Tanyanya seolah tak percaya atas apa yang didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan tak bisa. Tapi usahakan dululah sebelum akhir pembayaran. Masih ada empat hari lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pergi meninggalkan pak Pudek yang super sibuk yang sulit ditemui itu. Dia merasa kasihan juga padanya yang selalu padat jadwalnya. Dia mungkin tamu yang tiada artin baginya. Dia berjalan menuruni tangga darurat dengan kaki yang lemas. Dia malas turun lewat lift yang tak terlalu dipentingkannya. Terlalu mewah buatnya. Sekali turun saja mahal biaya operasionalnya. Cuma dia merasa semakin hebat kampusnya semakin rumit birokrasinya. Semakin cantik kampusnya, tapi berbanding terbalik dengan kesejahteraan mahasiswanya. Atau itu mungkin perasaan dia saja sementera teman-temannya tidak. Semoga dia saja yang punya perasaan begitu.&lt;br /&gt;Dari si Acil dia dapat pinjam dua ratus ribu. Itu pun duitnya buat beli komputer. Setelah menceritakan keadaannya dengan panjang lebar sejelas-jelasnya layaknya seorang diplomat negara dunia ketiga mengemis ke IMF, Acil mengabulkan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kapan kamu mau bayar, Jal? Sorry, soalnya aku membutuhkan banget itu komputer. Aku malas ngetik di rental mulu. Banyak virus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tertegun. Dia tahu bahwa dia tak tahu kapan dia punya uang. Dia tak bisa membayangkan dan memperkirakannya. Dia tak bisa menentukannya. Tapi seolah-olah ada yang  menggerakan lidahnya, dia bilang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhir September. Ya, akhir September.” Seperti tak disadarinya kata-kata itu meluncur seperti pesawat tempur tanpa dia bisa mengendalikannya. Tapi dia malu untuk menjilat ludah yang telah dikeluarkannya. Tiba-tiba tubuhnya menggigil seperti Muhammad yang didatangi Jibril di goa Hira. Tapi dia tak punya Khadijah untuk menyelimuti tubuhnya. Dia tak punya Waraqah bin Naufal untuk menerangkan kedatangan Jibril. Tapi  dia jelas- jelas tak didatangi Jibril. Tapi dia menggigil….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu, Jal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja pertanyaan itu membuatnya kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A…akhir September, Cil, akhir September.” Untuk kedua kalinya kata-kata  yang tak diinginkannya itu meluncur, seperti ada yang menggerakkan lidahnya. Dia tertegun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah. Aku tunggu akhir September. Aku percaya sama ente.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari si Asep teman sedaerahnya yang bekerja di koperasi, dia dapat pinjaman seratus ribu rupiah. Kalau dalam keadaan mepet begitu, teman yang tak begitu akrab pun didatanginya. Dia mencoba menggali empati temannya. Dia melakukan hal yang sebenarnya dibencinya. Tapi mau apalagi. Dalam keadaan seperti itu, meminjam adalah hal yang paling waras untuk mempertahankan kuliahnya. Soal malu dan harga diri lupakan dulu sebentar. Padahal kalau dipikir-pikir apa yang dicarinya di bangku kuliah. Sama ingin ijazah. Ingin ada potret yang berpakaian toga di ruang tamu rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku cuma bisa minjemin seratus ribu,” kata Asep. Soalnya kemarin aku habis beli tetraloginya si Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetraloginya si Pram?” Tanyanya terperengah bercampur gembira karena dia pernah mendengar nama besar buku karya Pram yang tak terbeli itu. Dia terperengah karena karena mahalnya buku karya pulau Buru itu. Dia gembira karena bakatnya sebagai peminjam buku bisa disalurkan. Si Anjung pernah bercerita, kalau sudah baca buku itu, sejarah Indonesia selesai. Dan, kalau baca buku-buku lain terasa hambar. Meski begitu, tetap saja dia tak bisa membayangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi sekarang belum bisa dipinjemin,”  kata si Asep seperti memahami urat yang tebelit di mukanya sebagai bakat seorang peminjam yang tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omongan tu sebenarnya menohok batok kepalanya dan menelanjangi isinya. Tapi dia mengakuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhir September ya, Sep,” katanya. Lagi-lagi kata itu keluar tanpa diinginkannya. Padahal Asep tak menanyakannya. Kata-kata itu keluar begitu saja persis ketika ditanya si Acil. Seperti ada titah yang tak diketahuinya. Kemudian tubuhnya menggigil. Bulu tengkuknya berdiri. Itu di luar pengetahuannya. Yang dia tahu adalah, bahwa dia tidak tahu kapan punya uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ratus lima puluh ribu ditambah dua ratus ribu ditambah seratus ribu jumlahnya lima ratus lima puluh ribu. Berarti untuk genap menjadi tujuh ratus lima belas ribu adalah seratus enam puluh lima ribu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin dia mendatangi si Luqman. Tapi dia juga sama kalut mikirin SPP.&lt;br /&gt;“Jalu, Jalu, mana gue punya duit. Gue juga semester ini babak belur,” katanya. “Aneh juga ya, kuliah ya kuliah, tapi yang dipusingin SPP. Bukannya mata kuliah. Buku-buku tak terbeli. Kost-an naik terus. Biaya hidup semakin mahal. Apalagi nanti BBM naik ke ubun-ubun. Mampus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini jakarta, Bung. Kata orang, ibu kota lebih kejam dari pada ibu tiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, elu bisa aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi emang bener kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya sih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi nggak bisa, Man?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entarlah kalau gue udah jadi koruptor. Makanya elu jangan dulu lulus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terus mendatangi teman-temannya, kenalannya, atau siapa saja yang kira-kira bisa meminjamkan duitnya. Dia bersafari dari kost ke kost seperti pejabat masa orde baru. Mula-mula dia bertanya tentang ini tentang itu, dari hal-hal yang ringan sampai masalah negara, dari pemikiran tokoh hingga demo mahasiswa, kemudian ujung-ujungnya kepada masalah pembayaran dan akhirnya dia sampai pada kata, bisa pinjam uang nggak, buat nambahin SPP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja itu membuat yang diajak bicara menjadi meringis seperti disengat tawon. Si Bowo, si Ikin, si Kairin dal lain-lain pernah merasakan sengatan tawon itu. Dia pernah mendatangi kawannya ketika di kampung yang sekarang bekerja di Tanah Abang, tapi dia juga sekarang lagi pahit. Dia pernah mendatangi kawan temannya yang tak begitu akrab, tapi dia mendapatkan jawaban yang tidak mengenakkan. Dia pernah mendatangi kawan dari teman kawannya, tapi mereka juga berhati-hati meminjamkan duit pada orang yang tak begitu akrab. Pedih juga dia rasakan ke sana ke mari cuma mau pinjam uang. Tapi mau apa lagi, ini mungkin jalan yang paling masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada hari terakhir pembayaran, uang itu bisa genap tujuh ratus lima belas ribu rupiah. Hasil dari pinjaman teman waktu di SMA-nya yang sebenarnya buat pembayaran kost, kurangnya ditambah oleh teman sekamarnya. Tentu saja dengan mengatakan dia akan membayarnya akhir September. Kata-kata yang tak pernah dikehendakinya itu selalu saja muncul. Tubuhnya menggigil. Dia menggadaikan akhir September.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadanya terasa lega, napasnya terasa plong, gedung kampusnya yang angkuh itu terlihat lagi, meski dia merasakan mukanya semakin tebal, seperti muka badak mungkin. Persetan dengan muka tebal. Persetan dengan muka badak. Persetan! Yang jelas sekarang adalah, bahwa dia masih bisa mempertahankan kemahasiswaannya. Peduli amat mahasiswa apa. Mahasiswa gotong royong, mahasiswa karbitan, mahasiswa dodol, agent of chang, agent of status quo. Untuk sementara, dia tidak memusingkan pelabelan-pelabelan semacam itu. Yang membuatnya pusing adalah: pembayaran. Yang lain tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus menggerogoti tanggal seperti rayap memangsa kayu keropos. Agustus habis, September pun datang. Dan September pun sekarang sudah hampir berakhir. Akhir September! Dia melewati tanggal demi tanggal bulan September dengan menggigil seperti ketika dia meminjam uang dari temannya. Akhir September menagih janji. Kata-kata yang diucapkannya menjadi bumerang. Senjata makan tuan. Dia tak bisa membayangkan uang dari mana. Dia tak bisa membayangkan muka teman-temannya dan kata-katanya. Barang-barangnya sudah dikeluarkan sama ibu kostnya karena masa kontraknya sudah ludes. Ada uang ada kostan, tak ada uang maka enyahlah. Barang-barangnya yang cuma sedikit, dia titipkan di temannya yang lain yang tak sempat dipinjami duitnya. Dia sekarang nomaden seperti di zaman batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kuliah sudah aktif, tapi dia belum berani memasuki kelas yang merasa bukan haknya. Anak-anak baru begitu cerianya setelah melewati propesa. Mereka menanggalkan pakaian seragamnya yang telah lama mengekangnya. Tapi sekarang mereka mengahadapi penyeragaman bentuk lain, penyeragaman pemikiran dan ideologi. Tapi yang jelas sekarang mereka adalah, m-a-h-a-s-i-s-w-a. Pak dosen sudah membusa di depan kelas. Mahasiswa tekantuk-kantuk di belakang atau menjadi pendengar setia. Tapi ada sedikit pertanyaan dan perdebatan untuk membuktikan bahwa kelas itu sedang ada proses: kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-temannya yang lain sekarang sibuk diskusi dan membikin makalah di forum studi. Badan Eksekutif Mahasiswa mempersiapkan seminar. Organisasi-organisasi mahasiswa sibuk mempersiapkan aksi menolak kenaikan harga BBM. Sementara tema-temannya yang lain sibuk mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana akhir Septembermu, Jalu???!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ciputat, akhir September 2005&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Terima kasih kepada putus asa, harap-harap cemas, dan kepada keinginan untuk tetap mengada&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7229837873018118729?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7229837873018118729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7229837873018118729&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7229837873018118729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7229837873018118729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/akhir-september.html' title='&quot;Akhir September&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-1188173058655026790</id><published>2011-03-05T17:42:00.000-08:00</published><updated>2011-03-05T18:56:41.291-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Mari Melarung Jauh-jauh Butha Kala…"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Hari Raya Nyepi yang dirayakan segenap umat Hindu tahun ini jatuh pada tanggal 5 Maret. Nyepi diisyaratkan dengan tidak melakukan Catur Brata, yaitu &lt;i&gt;amati gni&lt;/i&gt; (tidak menyalakan api), a&lt;i&gt;mati lalungaan&lt;/i&gt; (tidak bepergian), &lt;i&gt;amati lelanguan&lt;/i&gt; (tidak mengadakan hiburan), dan &lt;i&gt;amati karya&lt;/i&gt; (tidak bekerja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mnurut saya, hari raya Nyepi mengajak kita untuk refleksi diri, mengheningkan cipta dari gelombang hidup selama setahun; introspeksi diri atas apa yang dilakukan; menyepi sejenak dari ritus hidup kita, mengambil jarak dari omong kosong, tipu-daya, dari segala keluh-kesah dan sumpah-serapah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mengajukan tanya, apakah hidup yang kita jalani telah sesuai dengan apa yang dicita-citakan? Apakah kita lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, atau sebaliknya? Apakah kita telah mengecewakan orang dekat kita, orang tua, masyarakat? Dan barangkali kita sendiri? Apakah? Apakah? Apakah? Sekali lagi, marilah menyepi; mawas diri, introspeksi diri. Membangun kembali asa, cita-cita, menata diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kita larung Bhuta Kala.  Buang unsur-unsur Gayus, Edi Tansil, Idi Amin, Husni Mabarak, Fir'aun, Namrud, Rahwana dan segala apa pun yang merugikan kita dan orang lain. Itulah yang disimbolkan Hari Raya Nyepi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  Dalam tradisi Umat Hindu Bali, unsur-unsur jahat itu disebut Butha Kala yang dijelmakan dalam bentuk Ogoh-ogoh, sosok makhluk yang menyeramkan. Kemudian &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ogoh-ogoh itu, pada malam  Nyepi, diarak keliling kota Denpasar dan selanjutnya dibakar. Lalu, abunya dilarung ke sungai. Hal ini merupakan simbol untuk membuang sifat-sifat buruk kita, setidaknya selama setahun ke depan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selamat Hari Raya Nyepi...&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;4 Maret 2011&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-1188173058655026790?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/1188173058655026790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=1188173058655026790&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1188173058655026790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/1188173058655026790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/mari-membuang-butha-kala.html' title='&quot;Mari Melarung Jauh-jauh Butha Kala…&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7542403015101661872</id><published>2011-03-04T11:41:00.000-08:00</published><updated>2011-03-04T11:45:52.555-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>"Ingat Poppy, Kangen Kamu"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Ketika duduk di bangku SD, hari libur sekolah bagiku adalah hari libur mandi juga. Entah kenapa ya, malas banget mandi pagi. Eh, ternyata hingga sekarang. Bahkan lebih ekstrim: bisa seharian libur mandi. Anjuran-anjuran kesehatan dari dokter dan iklan tak mempan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, setelah sarapan dengan lauk ikan asin, sambal terasi, dan lalapan, aku bersiap main bersama teman-teman; main kelereng, main gambar, atau kucing-kucingan. Kemudian agak siang sedikit kami berenang di kali Cicatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hendak menyambangi Firman, teman sepermainanku, dari rumah tetangga terdengar nyanyian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Antara Jakarta dan Penang membelenggu rindu...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata suara itu bersumber dari seorang gadis yang sedang mengepel lantai. Kemudian menyiram bunga lidah buaya, rincik bumi dan kembang kertas. Waktu itu, rumah-rumah yang berisi seorang gadis selalu ada bunganya. (Gadis ini sudah sekolah di kelas menengah pertama, delapan km dari desaku. Bersama teman-temannya kadang terdengar melapal bahasa Inggris sesaat sebelum mengaji di madrasah, membuat kami yang masih kanak-kanak, mau tak mau harus takjub.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terus bernyanyi. Tapi hanya satu kalimat itu yang kuingat. Dan pada waktu itu kata Penang, terdengar seperti pena. Barangkali aku yang salah dengar atau dia yang salah ucap. Bertahun-tahun aku menganggap apa yang diucapkannya waktu kudengar itu kata “pena”. Padahal jika aku sedikit cerdas, mestinya meneliti bahwa Jakarta nama kota, berarti jika ada kata “antara” sebelumnya, ia meminta kota lain. Dalam ukuran jarak, mana mungkin nama kota dikaitkan dengan alat tulis. Tapi waktu itu tak terpikir kesana. Lagi pula dari mana aku bisa mendengar Penang? Barangkalai satu desaku tak tahu Penang, termasuk gadis itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;  Ketika kelas dua, selepas olah raga, biasanya kami berkumpul halaman sekolah yang lapang. Dari kelas satu hingga kelas enam turut serta sesuai kelas masing-masing. Guru kami yang jangkung, dengan rambut disisir rapi menyamping, bernama pak Yakub berdiri megah di hadapan kami. Tangannya menggenggam pluit yang terikat tali yang dikalungkan di lehernya. Jika ada anak yang tidak memperhatikannya, pluit itu akan menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bernyanyi. Mulai dari lagu wajib yang akan dinyanyikan saat upacara bendera di hari Senin sampai lagu-lagu “sunat” dan terkesan hiburan. Selalu saja ada lagu baru bagi anak kelas dua sepertiku, tapi basi bagi anak yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah kami bernyanyi diiringi tepuk tangan teratur. Aku mulai kenal lagu Satu Nusa Satu Bangsa, Halo-halo Bandung. Tapi ada juga nyanyian seperti ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;mandolo dipapale-pale mandolo dipapale&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingat sampai di situ. Selain itu, diperkenalkan pula tepuk pramuka, dan tepuk-tepuk lain. Kemudian menyanyi lagu bebas. Siapa pun boleh tampil. Dari kelas enam, tampilah anak bernama Hendra, dia bernyanyi dangdut. Liriknya seperti ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;jagalah mulutmu jangan asal bicara&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu yang kuingat. Tapi menurutku, dia berbakat jadi vokalis. Di kemudian hari dia jadi gitaris group dangdut Arista, kampung tetanggaku. Tetap dia berkiprah di jalur music, meski skalanya local.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian seorang perempuan mungil, adik kelasku tampil. Luar biasa. Dia pun bernyanyi,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Surat undanganmu pernikahan itu&lt;br /&gt;Kugenggam erat di tanganku&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Lirik lagunya lumayan kuingat lebih dari satu kalimat karena waktu itu, lagu ini sedang hits. Tapi sehits-hits-nya waktu itu, jauh berbeda dengan sekarang. Tivi, koran dan tabloid masih muskil. Hanya lewat tape dan radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kuingat anak itu menggerak-gerak tangannya kemuka, kemudian ditarik ke dada, tubuh agak dibungkukan ke depan, dan mimik muka menyiratkan sedih. Gerak-geriknya sangat alamiah. Di kemudian hari aku baru sadar. Bakat-bakat menyanyi itu bisa lahir dimana saja, termasuk di kampungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang adik kelasku ini, hingga sekarang aku tidak tahu kabar-kabarinya. Mungkin dia jadi artis lokal di daerah yang tak bisa kuduga karena dia sudah tidak tinggal di kampungku lagi. Padahal dia telah berjasa memberi jejak kenang tentang lagu surat undangan. Mungkin, ketika aku menulis ini, dia juga sedang mengingat pengalaman waktu menyanyikan lagu itu sambil menimang anaknya, di dekat suaminya. Atau barangkali dia tengah sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran teman-temanku, terutama perempuan, juga menyanyikan lagu itu? Siapa penyanyi sebenarnya?  Tanyaku dalam hati. Tapi pertnyaan ini terlindas kesibukan masa kecil, mengisi PR, mengaji, bermain gambar, kelereng, layang-layang dan sepak bola dan berenang di Cicatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari, waktu kelas tiga, baru aku tahu, penyanyinya bernama Poppy. melalui acara Selekta Pop di TVRI. Saat dia nyanyi, ada tulisan Poppy Mercury. Waktu itu aku melapalkan huruf “c” sebagaimana adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika aku menanggalkan dunia sekolah, aku bertemu kamu. Belakangan aku tahu kau juga menyukai lagu Poppy, disamping kagum Nike. Kamu hapal lagu-lagu kedua penyanyi bersuara emas di tahun 90-an ini. Tapi aku dan kamu tak pernah membicarakan kenangan masing-masing tentang keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah satu ketika, kami menaiki angkot. Meski kelihatan bagus, ternyata angkot ini rongsokan belaka. Lima belas menit bertolak, di sebuah belokan, angkot itu mogok. Dan sopir menyarankan untuk pindah ke lain angkot. Aku dan kamu pun turun. Tapi angkot tan muncul-muncul. Kalaupun datang, sudah terisi penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita mampir aja ke temanku, yuk!” katamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh, dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikut aku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun mengikutimu hanya 50 meter dari jalan raya. Sesampai di rumah temannya, kami disambut lagu seperti ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Hati siapa tak luka dan tak akan kecewa&lt;br /&gt;Bila cintanya berakhir duka&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini Poppy ya,” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya,” jawabmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika berganti dengan lagu baru, aku bertanya lagi, “Ini Poppy juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merdu ya suaranya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Dan cantik, lho!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh," tukasku. sebenarnya aku ingin menambah kalimat lain, "Kamu juga tak kalah cantik!" tapi lidahku kelu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lagu itu pun habis, aku tak bertanya lagi karena suaranya masih seperti sebelumnya. Sepertinya lagu itu diputar di program winamp di komputer, karena terus berputar berulang-ulang. Sepertinya album koleksi terbaik Poppy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu sudah sore. Kita pulang yuk,” katamu setelah ngobrol ngalor-ngidul bersama temanmu dan juga Poppy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku dan kamu pulang. Tapi sayang arah kita bertolakan. Kau ke utara dan aku ke selatan. Tak apa, besok aku dan kamu akan bertemu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang angkot, pikiranku masih melayang. Jiwaku belum sempurna terkumpul, hatiku masih terpaut di rumah itu kepada Poppy, dan kepadamu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Ciputat, 5 Maret 2011&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7542403015101661872?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7542403015101661872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7542403015101661872&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7542403015101661872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7542403015101661872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/ingat-poppy-kangen-kamu.html' title='&quot;Ingat Poppy, Kangen Kamu&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-8712551803519056489</id><published>2011-03-04T06:09:00.000-08:00</published><updated>2011-03-04T06:18:55.519-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumbang-fals'/><title type='text'>“Kapan Kami Angkat Kau sebagai Manusia Setengah Dewa?”</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Wahai presiden yang sudah tak baru lagi, kau hampir tujuh tahun memimpin kami. Puluhan menteri gonta-ganti membantumu. Ratusan program kau rencanakan. Berbagai manuver politik kau mainkan. Tapi kenapa ya, kami merasa kau jalan di tempat saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Wahai presiden yang sudah tak baru lagi, masih ingatkah waktu kau muncul dan mencalonkan diri, kami hingar-bingar menyambutmu -meski kau dikesankan seolah-olah korban? Tapi tak apa, karena waktu itu kami meyakinimu sebagai harapan, pemimpin bersinar dengan cita-cita tegar. Dengan suka rela kami angkat kau sebagai presiden pertama dipilih langsung yang segar, mempecundangi calon-calon yang lebih dulu terkenal dan berjuang sengit dihantam Orde Baru yang sudah tak laku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa ya, kami merasa memar dan kuyu? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Kau berputar-putar seperti kuda lumping. Kadang mengeluh kesakitan, terguling sampai nungging. Kemudian menuding pihak lain sebagai sinting. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; &lt;br /&gt;Wahai presiden yang sudah tidak baru lagi, masih ingatkah ketika kau baru saja ditahbiskan sebagai presiden? Kami tak minta apa-apa. Tak minta jatah menteri, uang atau kedudukan. Tapi  berikanlah kami pekerjaan secepatnya karena kau adalah pekerja kami. Tapi kenapa ya, kami merasa dikerjai?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Wahai presiden yang sudah tidak baru lagi, masih ingatkah waktu itu kami meminta turunkan harga selekasnya? karena di tanganmulah harga-harga bisa diturunkan. Jangan sampai kami berpuasa makan sambal, karena lidah kami biasa mencicipi pedas. Tapi kenapa ya, kok kami merasa tidak dihargai? Malah harga diri kami yang diturunkan? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Wahai presiden yang sudah tidak baru lagi, masih ingatkah waktu itu kami meminta tegakkan hukum setegak-tegaknya. Habisi mavia hukum. Babad semua koruptor. Dan, jangan tebang pilih dan pandang bulu. Tapi kenapa ya, kami merasa kau memandang bulu kami? Jadi kami yang sering dihukum?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;Wahai presiden yang tidak baru lagi, cepatlah penuhi apa yang kami pinta. Mumpung masih ada waktu. Kebaikanmu tiga tahun ke depan, akan menghapus segala kekhilafanmu. Kami tahu hidup ini hiburan dan permainan. Tapi kami tak mau dipermainkan dan dijadikan hiburan.&lt;br /&gt;Wahai presiden yang sudah tidak baru lagi, janganlah kau urus moral kami, karena kami bisa mencari sendiri. Lagi pula nanti kau kerepotan. Tak usah bikin undang-undang yang mengatur moral dan akhlak karena kami bisa menyelesaikan sendiri. Sudahlah, urus saja moral dan akhlakmu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;Wahai presiden yang sudah tidak baru lagi, jika kau memenuhi permintaan kami, Sungguh akan kuangkat kau manusia setengah dewa. Kau akan dikenang sepanjang zaman. Seperti Herkules. Seperti Musa. Hebat bukan? Atau kau mau memilih sendiri. Jadi Gatot Kaca, Bima atau Puntadewa. Atau legenda lain seperti Angling Dharna, Guruminda atau Ajisaka. Terserah, kau bisa memilih sesukamu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;Tapi, jika tidak, jangan salahkan jika kami angkat kau sebagai manusia setengah syetan. Kau akan kubenci laiknya Rahwana, Idi Amin, Marcos, atau denawa yang bisanya cuma makan, dandan, dan lawatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ciputat, 4 Maret 2011&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;berdasar lirik Manusia Setengah Dewa Iwan Fals &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-8712551803519056489?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/8712551803519056489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=8712551803519056489&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8712551803519056489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8712551803519056489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/kapan-kami-angkat-kau-sebagai-manusia.html' title='“Kapan Kami Angkat Kau sebagai Manusia Setengah Dewa?”'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-208696496576020176</id><published>2011-03-03T09:14:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T11:09:53.931-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerbung'/><title type='text'>"Kitab Remeh Temeh Ayat 2"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sementara aku malas untuk sekadar bangun dan cuci muka untuk menyambut pagi. Malah ingin tidur kembali melanjutkan mimpi-miampi. Badanku terasa lemas seperti baru saja melakukan perjalanan jauh tak berujung; menyisir gang-gang sempit tanpa tujuan. Atau seperti musafir di sahara tanpa perbekalan. Padahal aku tidak kemana-mana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kau rayu diriku,&lt;br /&gt;kau goda diriku,&lt;br /&gt;kau colek diriku&lt;br /&gt;eyyy kau tak tau malu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;sementara dari pojokan rumah membalas terdengar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Tek…tek..tek …tekek, tekek, tekek…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Aku menghitungnya hingga tjuh kali. Suara itu seperti membalas nyanyian Keong Racun, seolah raper. suaranya lantang seolah mengatakan aku “ada disini.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Oh, makhluk itu sedemikian menyendirinya. Dan kesepian. Kemudian mengajak bicara kepadaku. Tapi bahasa tak mampu saling mengerti. Ah, seandainya aku Sulaiman, atau Angling Dharma. Mungkin aku bisa bertukar cerita dengannya; tentang kesendiriannya, kesendirianku, sepinya dan sepiku. Tentang apa saja. Sejauh yang ingin dia ceritakan, sejauh aku ingin mendengarkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;“Sialan, listrik mati lagi,” teriak penghuni kamar sebelah kanan. Keong Racun pun berhenti sebelum sempat menuntaskan nyanyiannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian sepi. Sepi!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Sambil tiduran, aku melihat seekor semut di daun pintu. Ia berlajalan kesana kemari seolah tanpa tujuan dan lupa jalan dimana teman-temannya. Mungkin suasana seperti ini yang menginspirasi penyair indie; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Semut-semut kecil&lt;br /&gt;Saya mau tanya&lt;br /&gt;Apakah dirimu sesunyi diriku?&lt;br /&gt;Apakah dirimu sesunyi diriku?&lt;br /&gt;Apakah dirimu sesunyi diriku?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Memang sepi. Sepi!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suasana seperti ini juga yang menginspirasi seorang penyair yang mendedahkan puisi seperti ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;kini tinggal kupunya sepi&lt;br /&gt;duduklah kalian mengitari luka&lt;br /&gt;sementara kumatangkan perihnya &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Suasana seperti ini adalah abadi bagiku. Dan tak pernah menghasilkan apa-apa. Memang suatu yang sudah menjadi ritus tidak akan diketahui makna magisnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tiduran saja. Bangun malas, tidur pun tidak mau. Tiba-tiba bayanganku terpaut pada orang-orang sedang sibuk di jalanan untuk segera sampai ke tempat tujuannya. Motor-motor dan mobil berbaris saling mendahului. Berbagai jenis merk kendaraan itu berlomba menjadi penguasa jalanan. Kecelakaan bisa terjadi dengan tiba-tiba. Ada yang menabrak atau tertabrak. Begitulah mereka begitu sibuk dengan kegiatan masing-masing. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di suatu tempat, entah dimana, seorang suami sedang mengantar isterinya yang sedang hamil tua ke puskesmas. Dia belum cuci muka sama sekali karena bangun kesiangan. Itu pun setelah ditendang isterinya. Dengan mata masih berat, dia pun langsung menghampiri motornya. Memanaskannya. Tangan kannya merogoh saku jaketnya yang bau apek. Mukanya sumringah seperti seorang petapa yang baru mendapat pencerahan ketika jarinya menyentuh sebatang rokok kretek, sisa begadang tadi malam  sambil menonton sepak bola bersama teman-temannya di warung kopi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia pun membonceng isterinya, meninggalkan gang sempit, memasuki jalan raya, bercampur dengan pengendara-pengendara lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, matanya yang masih ngantuk tak bisa ditawarkan sebatang rokok karena lidahnya belum mencicipi kopi hitam. akhirnya motor itu menabrak tiang listrik. Di sebuah belokan, dia menabrak tiang telepon. Dia dan isterinya terjatuh. Isterinya menjerit histeris karena terlempar ke aspal dalam posisi terlentang. Orang-orang di pinggir jalan berteriak histeris pula. Ibu-ibu menutup mukanya. Suara klakson menjerit-jerit karena jalanan macet total. Beberapa orang berteriak menyuruh yang lain memanggil ambulans. Yang lain membalas untuk memanggil polisi. Beberapa orang mendekati perempuan hamil tua itu, yang lain meminggirkan motor yang penyok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Sementara si suami bangkit perlahan. Dia tidak kelihatan panik seperti orang-orang yang melihatnya. Dia biarkan isterinya yang jatuh tersungkur menjerit-jerit. Dia malah mencari sesuatu sesuatu diantara motornya. Dan, ya, puntung berasap itu.  Dia menemukan benda yang dicarinya. Kemudian menghisapnya dengan nikmat sambil menyaksikan isterinya merintih-rintih seperti menahan sesuatu. Tapi setelah itu, terdengar jeritan lain. Oh, ternyata dia melahirkan bayinya tanpa seorang bidan. Di kemudian hari, isterinya menjadi sering melahirkan. Selusin manusia keluar dari tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-208696496576020176?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/208696496576020176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=208696496576020176&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/208696496576020176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/208696496576020176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/kitab-remeh-temeh_03.html' title='&quot;Kitab Remeh Temeh Ayat 2&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-2167398614568021739</id><published>2011-03-01T14:11:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T11:06:48.805-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerbung'/><title type='text'>"Kitab Remeh Temeh Ayat 1"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Suara tarling dangdut Keong Racun menghentak dari kamar sebelah kananku. Seperti kemarin. Kemarinnya lagi. Bukan! Kemarin kemarinnya lagi. Setiap pagi. Mungkin sebelum lagu itu diciptakan, sudah diputar berulang-ulang di kamar sebelah. Mungkin lagu itu sudah sepaket dengan kamar itu dan penghunimya. Diputar terus-menerus entah sampai kapan. Mungkin ketika segala sesuatu di dunia ini musnah, lagu itu masih terus mengalun...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Dasar kau keong racun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Baru kenal kok ngajak tidur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kenapa lagu itu begitu sering diputar? Itulah pertanyaan yang sering menggelitik pikiranku. Mungkin dia gandrung isi lagu itu yang bercerita tentang kelakuan keong racun karena ada semacam persesuaian dengan hidupnya. Atau mungkin karena lagu itu sedang hits dan disukai banyak orang. Hal itu diceritakan dalam gosip atau di tabloid-tabloid. Datang saja ke kaki lima, tempat CD-CD bajakan dijual-belikan, pasti lagu itu tidak absen diputar. Seperti ketika munculya lagu SMS. Semua orang menyanyikan lagu itu. Mulai dari anak-anak hingga orang tua. Laki-laki maupun perempuan. Di acara live di televisi, di radio-radio, di acara hajatan, atau lomba karaoke, dll. dari kota hingga desa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Atau mungkin sekedar ikut-ikutan. Mungkin juga dia senang dengan iramanya yang menghentak-hentak. Saat pagi dibutuhkan lagu semacam itu untuk semangat menghadapi hari. Tanpa komando, dengan masih berpakain tidur, dia menggerak-gerakan anggota badannya mengikuti irama. Tangan di lempar ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan dengan hitungan-hitungan tertentu. Kemudian kaki ditendangkan ke depan, ke belakang. Kadang lutut ditekuk, pinggang digoyangkan. Semua sendi dicobanya untuk digerakkan. Kadang dia juga meloncat-loncat. Suara gedebak-gedebuk telapak kakinya merambat ke kamarku seolah ada gempa yang berkekuatan rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang-ulang dia memutar lagu itu, berulang-ulang pula dia bernyanyi dan menggerakan badanya. Jika dia memutarnya di komputer, pasti lagu itu diputar sendirian di program winamp. Jika memutarnya di DVD/VCD player, dia memijit remote control pada tombol reapeat.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, suhu tubuhnya mulai terasa panas. Jantung berdetak dengan cepat. Aliran darah beredar lancar. Pori-pori kulitnya terbuka. Keringat mulai meleleh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasa cukup, dia istirahat sebentar. Tapi lagu itu tetap diputar. Dia menyeka mukanya dengan handuk. Dia puas karena telah melakukan sesuatu yang sangat diperlukan tubuhnya. Semacam syariat yang diwajibkan dunia kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan masih tiduran, aku membayangkan di tempat lain, entah di mana, yang juga menyambut pagi dengan gerak; misalnya senam SKJ dan senam-senam jenis lain. Ada juga yang lari pagi menyusur jalan raya sekeluarga. Sesampai di rumah, mereka meneguk air susu putih hangat menyehatkan yang sudah dipersiapkan pembantunya. Mereka ingin sehat. Harapan hidup mereka menjadi panjang. Ritual mereka diabadikan dalam penyair besar kerajaan dangdut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;He, lari pagi (lari pagi) tua muda semua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lari pagi (lari pagi) dan sangat digemari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lari pagi (lari pagi) memang baik sekali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lari pagi (lari pagi) untuk bina jasmani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain, ada juga yang bergerak tanpa niat berolah raga, seperti petani yang mencangkul sawah, tukang becak, kuli bangunan, kuli panggul, dan kuli-kuli lain. Keringat mengucur deras. Otot-otot mencuat keluar. Badan liat kekar. Seperti itu pula ibu-ibu menandur atau menuai padi. Tanpa memakai cream penangkal sinar matahari, mereka menantang matahari. Bergerak tanpa niat senam atau olah raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kredo inilah yang jadi pedoman hidup menyambut pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lo harus gerak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lo harus gerak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh temanku lo harus gerak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lo harus gerak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lo harus gerak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bersambung ke &lt;/span&gt;&lt;a href="http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/kitab-remeh-temeh_03.html"&gt;http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/kitab-remeh-temeh_03.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-2167398614568021739?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/2167398614568021739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=2167398614568021739&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2167398614568021739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2167398614568021739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/kitab-remeh-temeh.html' title='&quot;Kitab Remeh Temeh Ayat 1&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4339512974278021348</id><published>2011-03-01T06:46:00.000-08:00</published><updated>2011-03-01T06:50:49.167-08:00</updated><title type='text'>“Cinta Itu Anugerah, Maka Menderitalah”</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;buat nyai antasarah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Antasarah, bagiku mengungkap cinta kepada seseorang tak semudah membalikan telapak tangan. Sungguh memerlukan keberanian; menawarkan rasa malu yang entah datang dari mana, keengganan, dan entah rasa apa lagi yang menumpuk berlapis-lapis, menggumpal dalam ketakutan. (Mungkin itulah sebab terciptanya mantera sugesti untuk mengungkapkan cinta)&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang takut biasanya akan menghindar dari apa yang ditakutinya. Dengan cara apa pun. Semakin rumitlah karena yang ditakuti justeru yang disukai. Benci, rindu dan barangkali dendam menjadi selimut malam dan siang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;Antasarah, begitulah, aku menjauhimu karena aku mencintaimu, entah jenis cinta apa. Mungkin cinta pecundang, rapuh dan kecele. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; &lt;br /&gt;Ingin saja aku melolong setinggi lolong anjing dan salak serigala atau menghantamkan tubuh ke batu karang, seperti Gatot Kaca saat menahan renjana pada Dewi Pergiwa; membawa mati rasa ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; &lt;br /&gt;Antasarah, cinta ternyata sumber penderitaan tersembunyi yang panjang. Layaknya jarum-jarum halus menghunjam di segenap pori-pori. Getarnya hanya bayang-bayang yang tak pernah kujangkau. Gemerincingnya hanya ilusi tak terperi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Antasarah, bilakah kita berjalan bergandengan tangan, membelah malam, meski tak ada tujuan? Bilakah kita kita menyusur pantai pasir putih dan kuukir namamu, meski sebentar lagi disapu ombak? Bilakah kita mengangsur kesempatan itu? Atau tidak akan pernah karena itu hanya harap-pengap yang tak berbalas? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;Antasarah, mendekatlah, setidaknya saat ini, karena aku tak bisa lagi bertahan Aku terlalu rapuh…! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;Antasarah, aku nyatakan rindu padamu, malam ini!&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost" &gt;&lt;b&gt;tgl x, bln x, thn x&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4339512974278021348?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4339512974278021348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4339512974278021348&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4339512974278021348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4339512974278021348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/03/cinta-itu-anugerah-maka-menderitalah_01.html' title='“Cinta Itu Anugerah, Maka Menderitalah”'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-477252868831223084</id><published>2011-02-09T04:56:00.001-08:00</published><updated>2011-02-09T05:26:09.606-08:00</updated><title type='text'>"Panon Hideung dan Jiplak-menjiplak"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;i&gt;Panon hideung&lt;br /&gt;Pipi koneng&lt;br /&gt;Irung mancung&lt;br /&gt;Putri Bandung&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kecil saya sudah mendengar  lagu ini. Terutama di radio pada program pop Sunda. Saya pun menyukainya karena memang nikmat didengarkan. Lagu ini sedikit melankolis dan terkesan mendayu-dayu. Kadang mirip tembang Cianjuran. Tapi, sepertinya sekarang ada versi dangdut dan disko. &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kenangan khusus dengan lagu ini. Begitu juga dengan Bandung. Nama kota ini saya kenal lewat lagu “Halo-halo Bandung” yang sering dinyanyikan sewaktu SD. Lagu ini bercerita tentang kota Bandung yang dihanguskan. Tentang lagu ini, Pramudya Ananta Toer berkomentar, orang Sunda yang lemah-lembut rela membakar kotanya demi perjuangan kemerdekaan. Menurut Remy Silado, sasterawan mbeling yang pernah menggawangi majalah Aktuil, semula Ismail Marzuki dianggap sebagai penciptanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;  Padahal lagu itu buah karya seorang prajurit Siliwangi bernama Lumban Tobing yang dinyanyikan bersama peleton Bataknya dari long march Yogya-Bandung di zaman revolusi.  Remy menambahkan, “Lagu ”Hallo-hallo Bandung” ciptaan Lumban Tobing ini hanya sama judul, tapi beda melodi dan lirik dengan lagu Belanda nyanyian Willy Derby pada 1929 ketika radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij) beroperasi di Bandung versi baru rekaman ini dinyanyikan lagi oleh Wieteke van Dort di TV Belanda dalam De Stratemakeropzeeshow, 1972, dan dicetak teksnya pada 1992 dalam De Wduwe van Indië.” (lihat:  http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/message/5980)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Baik, kita kembali ke Panon Hideung. Lagu ini bercerita tentang perempuan bermata hitam dengan pipi kuning (langsat) dan berhidung mancung. Perempuan itu berasal dari Bandung. Karena kecantikannya, membuat susah tidur dan terbawa mimipi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Dulu, pernah terlintas tanya, kok pipi perempuan cantik warnanya kuning? Kuning waktu itu selalu ingat warna Golkar. Wah, bagaimana ini, pipi kok mirip buah geledog (maaf pohon ini saya tidak tahu nama bahasa Indonesianya, apalagi nama latinnya). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, sahabat saya meminjamkan buku Pram tentang Jalan Pos Daendels. Ketika dia bercerita tentang Priangan, dia menyerempet Panon Hideung. Dia bilang begini,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;“Berpuluh tahun lagu ini berkumandang di darat, di laut dan udara. Sampai ketika ia dipenjara di Bukitduri pun ia mendengarnya saat belajar lagu-lagu Eropa dan Amerika dari seorang perwira TNI. Perwira ini memberi keterangan bahwa lagu Panon Hideung itu berasal dari Sunda, melainkan dari emigran Rusia kulit Putih setelah terlanda Revolusi Bolshewik.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian si perwira menyanyikan dalam terjemahan Inggris berjudul Far over Sea. Tetapi, Pram juga mendapat bantahan dari R. P. R Situmeang yang mengatakan, justeru sebaliknya; lagu itu adaptasi dari Panon Hideung. Pram akhirnya putus asa. Dia tidak tahu duluan mana? Dan menururtnya harus ada penelitian lebih lanjut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Betapa hebatnya lagu ini. Demikian pikir saya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu, tanpa sengaja, saya menonton sebuah program TV swasta di tempat seorang sahabat. Acaranya meliput tentang plagiasi karya. Liputan itu menunjukkan karya-karya anak negeri yang diplagiat; misalnya ref lagu Bongkar Iwan Fals diambil pemusik Jerman, salah satu lagu Paterpan ditukil bulat-bulat tanpa mencantumkan catatan kaki, nada lagu Padang Rembulan dijadikan lagu kebangsaan Malaysia. Begitu pula lagu “Rasa Sayange”. Sebaliknya anak negeri juga melakukan hal yang sama, d’Masive, Farid Hardja (Karmila) juga melakukan tindak kurang terpuji. Jadi, “sama-sama penyolong jangan saling mendahului”, demikian Remy Silado dalam tulisannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Remy Silado dalam tulisannya yang dimuat Kompas itu menunjukan berbagai lagu anak negeri yang mengambil mentah-mentah lagu orang. Salah satunya Panon Hideung (bisa diunduh http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/message/5980). Menurutnya, ”Panon Hideung” adalah lagu tradisional Rusia, diaransemen di Amerika oleh Harry Horlick &amp;amp; Gregory Stone dan masuk hak cipta pada 1926 di bawah Carl Fischer, Inc, lalu diperkenalkan di Indonesia, melalui Bandung pada tahun yang sama oleh pemusik Rusia bernama Varvolomeyev.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Cag!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:georgia;"&gt;&lt;b&gt;Ciputat, 9 Februari 2011&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Lirik lengkap Panon Hideung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;i&gt;Panon hideung&lt;br /&gt;Pipi koneng&lt;br /&gt;Irung mancung&lt;br /&gt;Putri Bandung&lt;br /&gt;Putri saha&lt;br /&gt;Di mana bumina&lt;br /&gt;Abdi resep&lt;br /&gt;Kaanjeunna&lt;br /&gt;Siang wengi&lt;br /&gt;Kaimpi-impi&lt;br /&gt;Hate abdi&lt;br /&gt;Sararedih&lt;br /&gt;Teu emut dahar&lt;br /&gt;Teu emut nginum&lt;br /&gt;Emut ka nu geulis&lt;br /&gt;Panon Hideung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-477252868831223084?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/477252868831223084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=477252868831223084&amp;isPopup=true' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/477252868831223084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/477252868831223084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/02/panon-hideung-dan-jiplak-menjiplak.html' title='&quot;Panon Hideung dan Jiplak-menjiplak&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4825864561152120885</id><published>2011-01-21T00:19:00.000-08:00</published><updated>2011-08-17T11:37:49.289-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>"Bedah Novel Lelaki Laut"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;“Novel Lelaki Laut ini enak dibaca,” ungkap kritikus sastera yang mengumumkan karyanya sejak SMA. “Saya membutuhkan waktu tiga jam melahapnya,” sambungnya.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bedah novel Lelaki Laut ini dimulai pukul 14.00,  pada kamis 20 Januari. Acara dilaksanakan atas kerja sama Piramida Circle, Senjakala, Ersous, dan PMII fakultas Dakwah. Mulanya, bedah novel ini akan dilaksanakan di gedung teater Fakultas Syariah, UIN Ciputat, tapi sehari sebelum hari H pengelola gedung membatalkan dengan alasan digunakan acara lain. Demikian ungkap Zakki, ketua panitia, pentolan tongkrongan sastera Senjakala pada sambutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya bedah novel ini menghadirkan pembedah lain, yaitu Radhar Panca Dahana dan Yanusa Nugroho, tapi keduanya berhalangan. Panitia bersyukur karena A S Laksana dan Faizah Aly Sybromalisi bisa hadir. Tampak pula sang penulis novel dan salah seorang perwakilan penerbit Gramedia.&lt;br /&gt;                                                                                                           &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  “Novel Lelaki Laut ini enak dibaca,” ungkap kritikus sastera yang mengumumkan karyanya sejak SMA. “Saya membutuhkan waktu tiga jam melahapnya,” sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasterawan yang biasa disapa Bang Sula ini kemudian menggeledah hal-hal teknis novel ini. Dia pun memberi catatan. Pertama, yaitu diksi dan ungkapan. Dia tidak kerasan dengan bahasa asing yang muncul, semisal care, inisiatif , dll. “Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja? Apa ada padanannya dalam bahasa Indonesia?” tegasnya.” Dalam hal ini, kita mesti berkaca pada kreativitas Chairil Anwar yang mencari padanan kata “marah”. Dia meminta berbagai keterangan teman-temannya hingga berhari-hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya punya pengalaman dalam hal ini, Tufik Ismail pernah bertanya tentang kenapa saya tidak menggunakan bahasa lain, semisal bahasa daerah saya di Semarang. Saya ingin menggunakan bahasa Indonesia sebaik-baiknya karena bahasa Indonesia sudah digunakan sewenang-wenang oleh penuturnya. Bahasa Indonesia justeru digunakan dengan baik sama demit. Misalnya Suzana yang berperan sebagai hantu selalu menggunakan kalimat lengkap.”Wahai manusia, akulah penunggu pohon ini.” Selorohnya sontak disambut tawa peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa nama Latin pepohonan dan ikan juga mendapat catatan dari lulusan FISIP UGM ini. Menurutnya, orang yang mau mencari bahasa Latin, dia akan mencarinya dalam ilmu hayat. Hal itu pula yang dilakukan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi. “Seandainya saya ketemu pengarangnya, saya juga akan menanyakan hal yang sama.” Ungkapnya. Di beberapa bagaian juga ada kata-kata yang sering digunakan para politisi, sebaiknya tak usah dipakai. Malah itu akan mengganggu rasa bahasa yang sudah dibangun dengan liris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karakter tokoh utama novel ini, Bang Jar, tidak dieksplor lebih jauh. Pembaca tidak diberi keterangan memuaskan kenapa ia terseret ke dunia gelap. Padahal ia berasal dari keluarga bai-baik. Sebuah cerita, demikian kata penikmat rokok kretek Gudang Garam Merah ini menegaskan, “sesurelis apa pun, akan dibenarkan pembaca sebagai cerita jika ditopang alasan kokoh. Misalnya “Adam Makrifat” karya Danarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Faizah Ali Sybromalisi didaulat jadi pembedah kedua. Dia merupakan dosen fakultas Usuludin dan Filsafat yang juga penikmat sastera. Sejak SD, ia telah melahap karya-karya Balai Pustaka; Salah Asuhan karya Abdul Muis, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dll. Karena kecintaannya terhadap sastera, meski kakinya sedang bermasalah, dan bentrok dengan rapat dekanat, dia tetap hadir dalam bedah novel yang dihadiri sekira 30 peserta. Menururt lulusan S1 hingga S3 al-Azhar, Mesir, novel Lelaki Laut ini sangat inspiratif dan menggugah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, meski novel ini bercerita tentang pulau kecil di kepulauan seribu, dia mengaitkan novel ini dengan kebetawaiannya. Misalnya, Bang Jar harus pulang sebelum maghrib, itu aturan yang diberlakukan dalam keluarga-keluarga Betawi. Juga ada beberapa kata khas Betawi yang ber-elu gua. Dan novel ini memunculkan kata masa kanak-kanaknya yang hilang dari pandangan mata selama bertahun-tahun, yaitu belarak, pelepah kelapa yang kering. Juga dalam novel ini memperlihatkan Bang Jar yang kembali sadar. Ini sesuai dengan ungkapan; Sejahat apa pun orang Betawi, pada akhirnya akan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang jelas, novel Lelaki laut” ini inspiratif, dan bernilai sedekah bagi penulisnya,” simpulnya disambut tepuk tangan peserta. Dia tidak ikut berdiskusi lebih lanjut bersama peserta karena ada kesibukan lain yang menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang dipandu Ahmad Makki, penikmat sastera, semakin hangat ketika Alamsyah M. Djafar, sang penulis, menjelaskan proses kreatifnya. Kemudian, dia mengungkapkan rasa senang novel perdananya diterbitkan Gramedia dan diapresiasi sahabat-sahabatnya. Dia menutup dengan ungkapan tak terduga, “Kalau Saudara ingin gaul, ubahlah nama Saudara dengan nama yang diambil dari layar tancap.”  Sebuah penutup yang menggelitik. Mengubah nama merupakan salah satu fragmen Lelaki Laut. Penulis menahbiskan diri Sona, nama yang terinspirasi film Pancasona, dan Refil, nama lain Bang Jar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian peserta dipersilahkan menguliti lebih mendalam Lelaki Laut dan teknik penulisan dengan bertanya langsung kepada penulis dan pembedah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mas Sula, Bang Jar, adalah tokoh darah daging. Artinya, dia memilki sisi baik dan buruk. Tidak seperti film Ayat-ayat Cinta yang tokohnya seperti malaikat, dan Sang Pencerah, yang tak memiliki cedera sama sekali. Apakah ada manusia seperti itu? Kenapa kisah Mahabarata menjadi klasik dan selalu digemari sepanjang waktu? Karena ceritanya berisi manusia yang manusiawi, punya kesalahan, rakus, di samping memiliki kebaikan. Dia pun memberi resep supaya cerita berlangsung apik. Penulis bisa menggunakan teknik deskripsi jika cerita berlangsung cepat. Sebaliknya, jika mandek, dialog bisa digunakan untuk mempercepatnya. Dia juga memberikan tips tentang karakterisasi. Menurutnya karakter tokoh yang baik takarannya, 2 sifat baik, satu negatif. Tokoh antagonis, 2 buruk 1 baik dan tokoh netral 1 baik, 1 buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa pun bisa komentar apa aja tentang Lelaki Laut ini, tapi Saudara Alamsyah sudah menerbitkannya,” demikian pengarang antologi cerpen “Bidadari yang Mengembara” mengakhiri paparannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ciputat, Januari 2010&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4825864561152120885?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4825864561152120885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4825864561152120885&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4825864561152120885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4825864561152120885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/01/bedah-novel-lelaki-laut.html' title='&quot;Bedah Novel Lelaki Laut&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7327164562281362340</id><published>2011-01-14T20:04:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T20:10:01.223-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>"Terpecahnya Identitas Mucikari"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dalam produktifitas mencipta lagu, penyanyi Doel Sumbang tak usah diragukan lagi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Jika disimak, dalam beberapa syairnya, kita bisa mencium aroma hibrida, percampuran budaya dalam seseorang. Identitas pun menjadi terpecah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Hal ini tidak lepas dari semakin mengerutnya dunia karena teknologi transportasi dan komunikasi. Jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lain begitu mudah. Misalnya, sesorang mandi pagi di Jakarta, makan siang di Hanoi, makan malam di Pyongyang, tidur di China dan menikmati sarapan pagi Moskow dalam waktu yang tidak lama. Informasi tersebar dengan cepat; berita pembajakan pesawat di Libya, demontrasi di Iran bisa terdengar di La Paz dalam waktu bersamaan. Hal itu memungkinkan perjumpaan berbagai latar belakang, mulai etnis, agama, negara. Dan, pernikahan pasangan berbagai identitas terbuka lebar. Percampuran antarlatar belakang pun tak bisa dihindari.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Bisa disimak dalam lagu berjudul Mucikari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bapak Taipei&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mama Indaramayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dia sendiri mirip Gadis Turki, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengaku lahir di Los Angeles &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana identitas si anak ini? Lahir di Long Angeles, kemudian identitas Taipei dan Indaramayu, sementara wajahnya mirip gadis Turki (mungkin kakek atau nenek dari pihak ibu atau ayah keturunan Turki). Tidak hanya sampai di situ, dia dibesarkan dan berkembang di berbagai tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SD-nya Bali, SMP di Bogor, dan SMA Bandung, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tempat ini memungkinkan terpecahnya idemtitas si anak. Keterpecahan semakin dahsyat karena selepas SMA di Bandung di amelanjutkan kuliah di lokalisasi. Tak tanggung-tanggung hampir semuanya pernah disambangi: Sunan Kuning (Semarang) Sarkem (Yogyakarta), Dolyy (Surabaya), Kramat Tunggak (Jakarta) dan Saritem (Bandung). Kemudian dia menjadi seorang mucikari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair ini memang seolah berakhir pada mucikari (karena keterbatasan dalam syair). Tapi karena dari awal Kang Doel bicara tentang keterpecahan-keterpecahan, saya yakin mucikari bukan akhir. Perjalanan identitas akan terus berlanjut dan terbuka. Mungkin saja dia menjadis seorang politikus yang senang mengelus kepala anak yatim di panti dalam jepretan kamera, pengusaha yang senang membangun yayasan kemanusiaan, penguasa yang gemar mencipta lagu, menteri yang pandai mem-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bail ou&lt;/span&gt;t bank atau penyeru agama yang punya jemaah fanatik di berbagai tempat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat, 13 Januari 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu ‘alam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik lengkap Mucikari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bapak taipei &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mamah indramayu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dia sendiri mirip gadis turki &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengaku lahir di los angeles &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SD nya Bali &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SMP nya Bogor &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SMU Bandung &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selepas sekolah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kuliah dilokalisasi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sunan kuning,dolly, kramat tunggak dan saritem &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semua pernah di singgahi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mucikari dia kini &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banyak langganan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mulai copet, rampok dan koruptor &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tak jarang para mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7327164562281362340?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7327164562281362340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7327164562281362340&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7327164562281362340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7327164562281362340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/01/terpecahnya-identitas-mucikari.html' title='&quot;Terpecahnya Identitas Mucikari&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-2327378888844971443</id><published>2011-01-14T13:57:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T14:01:13.199-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"Zaman Baru, Cara Baru"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Coba sebutkan 10 prestasi yang dicapai Indonesia di tingkat internasional?” pinta Ridawan Kamil kepada peserta PKPS 8. Peserta terdiam beberapa saat. Aula Pusdikbekang seolah tak berpenghuni. Sepi menggantung beberapa saat. Ridwan membiarkan peserta merenungi, mungkin juga meratapi keadaan bangsanya. Ia pun tertawa karena sudah menduga reaksi peserta. Kemudian ia melanjutkan. “Coba sebutkan 10 kebobrokan Indonesia.” Tak dinyana, pesrta dengan mudah merincinya. Bahkan berebutan. Ridwan Kamil kembali tertawa. Lagi-lagi, sepertinya dia bisa menduga akan reaksi peserta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Ya sudah. Itulah Indonesia. Negara kita. Tapi, walau bagaimana pun, kita berada di dalamnya. Ini adalah nasib. Dan mau tidak mau kita harus menjadikannya sebagai tugas. Indonesia memiliki banyak masalah. Dan kita jangan hanya mengeluh dan komplain saja. Tapi harus ikut memperbaikinya dengan cara kreatif, yaitu “berpikir dan bertindak di luar kebiasaan.” Artinya, kita sesuatu dengan cara pandang berbeda.” Tegas Ridawan yang bercita-cita mengembalikan keasrian dan keindahan kota Bandung. Ia pernah menawarkan konsepnya kepada wali kota Bandung. Tapi tidak direspon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Pria berkacamata ini pernah bekerja di perusahaan desain di Amerika dan Jepang. Di kedua negara ini dia memiliki kisah yang getir. Dia negeri Paman Sam, dia menjadi bawahan seorang Belanda yang memandang sebelah mata kemampuannya. Tapi dengan dedikasi yang keras, dia bisa membalik keadaan. Dia menjadi atasan orang bule tersebut. Di negeri Sakura, dia pernah dipecat dengan alasan tidak begitu jelas, padahal isterinya waktu itu sedang hamil. Tapi dengan skil yang dimilkinya, dia bisa kembali bekerja di tempat lain. Serasa cukup melanglang buana di luar negeri, akhirnya kembali ke tanah kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridawan menjadi salah seorang pemateri di pelatihan kepemimpinan putra Sunda PKPS 8) yang dilaksanakan Gema Jabar, November lalu. Dia menyampaikan materi kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, ibu dari segala masalah adalah miskomunikasi. Visi dan misi negara kita sudah jauh panggang dari api dengan tujuan pendahulu dan kebutuhan masyarakatnya. "Lalu, apa yang mesti kita lakukan? Mengubah Indonesia mulai di depan mata. Ingat, uang bukan segalanya. Kita bisa memanfaatkan perkenalan dengan hal-hal yang positif." Dia mengaku selalu merawat perkawanan dengan siapa pun dan dimana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun bercerita apa dan bagaimana prilaku kreatif dengan konkret. Salah satunya adalah rumahnya yang terbuat dari botol. Kemudian membuat sekolah yang tahan gempa di daerah bencana. Mengubah kampung yang kotor menjadi menawan dengan melibatkan masyarakatnya. Itu dia lakukan dengan memanfaatkan perkenalannya dengan berbagai kelangan. Salah satu medianya adalah internet dan ponsel. “Inilah zaman baru, cara baru dan kreatifitas yang baru,” demikian tutur pria muda yang menjadi ikon di sebuah iklan rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat, 14 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salam kompak buat sahabat-sahabat PKPS 8...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-2327378888844971443?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/2327378888844971443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=2327378888844971443&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2327378888844971443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2327378888844971443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/01/zaman-baru-cara-baru.html' title='&quot;Zaman Baru, Cara Baru&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-8477320872665248705</id><published>2011-01-13T12:25:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T12:41:52.088-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>Ada Apanya dengan  “Apa Adanya”?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan kirimkan aku &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kekasih yang baik hati &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang mencintai aku apa adanya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Rock, Munajat Cinta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat terakhir terdapat kalimat apa adanya. Simak juga dalam lirik lagu lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang aku mau kau belajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuk mencintai aku tulus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan apa adanya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Slank, Virus)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan “apa adanya”, pernah juga saya dengar di lirik-lirik lagu lain. Tapi lupa di lagu apa. Saya kesulitan mendeteksinya karena lupa penyanyi dan judulnya; mengingat begitu melimpahnya lagu yang ada. Jadi, saya hanya bisa pasrah, yaitu menunggu ingat atau lagu itu “menampakan diri”. Barangkali ketemu dengan tidak sengaja. Misalnya pas naik angkot sang sopir memutar lagu tersebut. Atau pas main ke pasar dan dari kejauhan terdengar pedagang CD kaki lima memutarnya, kadang sudah berlainan bentuk; menjadi dangdut koplo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Dengan demikian, kesimpulan sementara saya, beberapa komposer menyukai ungkapan ini. Tapi “apa adanya” itu bagaimana? Apa maksudnya? Demikian pertanyaan saya kepada beberapa sahabat. Tapi jawabannya berbeda-beda karena memang ungkapan ini mengundang untuk dipahami secara berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua lirik lagu ini ungkapan “apa adanya” selalu ditunjukan buat “aku”. Apa adanya di (keseluruhan) aku. Dalam Munajat Cinta, berisi harap-pengap “aku” yang selalu sendiri, tak berteman seperti malam  yang sudah-sudah; selalu sepi, karena cinta yang ada selalu pupus. Itu baru sebagian “apa adanya” aku. Sisi lain aku yang bajingan, sembrono, tidak pedulian, rapuh, baik, dst. tidak (perlu) diceritakan. Tapi tetap menginginkan seorang kekasih yang menerima “apa adanya”, seluruhnya. Inilah kekasih yang baik. Sedangkan aku tidak berjanji apa pun akan menerima “apa adanya” dari kekasih itu. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Egois bukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lagu Virus, selalu dimulai dengan aku yang tidak mau. Aku memang tidak mau jadi syetan, iblis, api, duri buat “kamu”.  Ini adalah syarat. Dan syarat membutuhkan asal. Asal kamu mau mencoba mengenal, mau belajar mencintai aku “apa adanya”. Apa adanya aku adalah aku yang tidak mau itu. Inilah aku yang bicara terus terang, terbuka, dan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Tapi simak lirik terakhir: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku bisa saja menjadi seperti virus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang melumpuhkanmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik ini bernada ancaman. Ancaman apabila kamu tidak. Tidak mencoba mengenal, mau belajar mencintai aku “apa adanya”. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menakutkan bukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Ciputat, 13 Januari 2010&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-8477320872665248705?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/8477320872665248705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=8477320872665248705&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8477320872665248705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/8477320872665248705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/01/ada-apanya-dengan-apa-adanya.html' title='Ada Apanya dengan  “Apa Adanya”?'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7295189443157444234</id><published>2011-01-11T02:32:00.000-08:00</published><updated>2011-01-11T02:36:53.275-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>"Jalan Aspal Bulan Lima"</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Masyarakat kampung Pojok terharu melihat drum-drum yang ada di pinggir jalan itu. Katanya berisi aspal. Sebentar lagi jalan mereka akan hitam seperti di kota. Cita-cita yang ditunggu bertahun-tahun kini hampir terlaksana. Mereka masih ingat dengan merelakan sebagian tanahnya untuk pelebaran jalan. Pohon kelapa, nangka, rambutan yang sedang berbuah diruntuhkan. Menurut pak kades, jalan kampung Pojok akan diaspal pada bulan lima tahun itu juga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Tapi bulan lima tahun itu pengaspalan tidak jadi. Masyarakat bertanya-tanya, tapi tak ada jawaban yang pasti. Pak kades jarang ada di kantor desa. Di rumahnya pun isterinya menggeleng kepala. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tak kuasa menagih janji. Kalau pun ada yang berani, mereka akan mendapat janji yang lain. Yang melenakan. Janji di atas janji. Mereka hanya bisa bersabar. Orang sabar disayang Tuhan. Mungkin bulan lima tahun depan. Mereka akan menunggu sambil membajak sawah, menyiangi kebun, membabat huma. Dan tetap membayar pajak karena pak kadus tak pernah absen menunaikannya meski kakinya sudah reumatik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Bulan lima tahun kemudian datang lagi. Ketika masyarakat kampung Pojok menanyakan perihal pengaspalan, pak kades menerangkan dengan berbelit-belit dan panjang lebar, yang tak sepenuhnya dimengerti. Lalu mereka pun pulang dengan menggondol tanda tanya, “ada apa dengan pak kades?” Akhirnya mereka kembali mencangkul sawah, menyabit rumput, menggembala kerbau, menyiangi kebun, membabat huma. Mereka kembali menunggu. Mereka orang-orang sabar. Orang sabar kan disayang Tuhan. Dan tentu saja tetap membayar pajak. Itu wajib! Karena pak kadus tak pernah absen menunaikannya meski kakinya belum sembuh dari reumatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lima datang lagi dengan harap-harap cemas. Lalu pergi tanpa pamit. Tanpa membawa aspal. Tanpa stoom. Mungkin tahun depan. Mungkin tahun depannya lagi. Ketika pemerintahan desa berganti, mereka berharap pada pemerintah desa yang baru. Tapi ketika ditanyakan, mereka hanya mendapatkan jawaban demikian, “Itu urusan pemerintah yang lalu, kami tidak tahu-menahu.” Kades yang baru sama saja. Tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Beda orang, tapi sistemnya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang tua ada yang mati. Sebelum mati, orang itu bilang pada anak-anaknya, “Bulan lima jalan kampung kita akan diaspal.” Orang-orang yang mendengar bertanya hampir berbarengan, “Bulan lima tahun kapan?" Tapi orang tua itu tak memberi jawaban karena keburu meregang nyawa. ?” Orang tua itu mati membawa kepenasarannya. Anak-anak pun banyak yang lahir. Generasi yang akan mendapat kabar dari orang tuanya bahwa kampung Pojok akan diaspal bulan lima.&lt;br /&gt;Akhirnya, masyarakat kampung Pojok berkesimpulan, jalan mereka akan diaspal bulan lima. Cuma peremasalahannya, entah bulan lima tahun kapan. Mereka tak bisa menentukannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center; font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan kini drum-drum aspal itu mulai dipanaskan. Stoom merayap seperti ulat meratakan batu kerikil. Para pekerja begitu sibuk. Ibu-ibu dengan suka rela membawa ceret dan gelas buat mereka. Anak-anak memperhatikan dari kejauhan. Orang–orang menunda pergi ke sawah dan kebun. Mereka hampir tak percaya akan pandangan sendiri. Jalan kampung Pojok akan hitam dan rata seperti di kota. Mobil dan motor akan lewat dengan mudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pengaspalan bukan pada bulan lima, melainkan bulan dua belas. Masyarakat hampir lupa kabar pengaspalan bulan lima. Dalam pikiran mereka, yang penting sekarang adalah, jalan diaspal. Tapi para orang tua yang ingat betul akan amanat orang tuanya yang sudah mati, sedikit heran, kenapa bukan bulan lima. Ini tidak sesuai dengan janji leluhur. Mereka digelisahkan oleh tanda tanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bermimpi almarhum orang tuaku datang. Dia bilang, jika pengaspalan terjadi bukan bulan lima, jalan tidak akan bertahan lama. Selain itu, akan datang petaka yang belum pernah terjadi.” kata salah seorang ketika ngobrol bersama teman-temannya di pos ronda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudnya mimpi itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak paham.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa jadi ada suatu hal yang tidak kita inginkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu. Pengaspalan jelas tidak sesuai dengan apa yang dikabarkan orang tua kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka sepakat akan bertanya perihal pengaspalan jalan kepada para pekerja esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa pengaspalan jalan bukan bulan lima?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidak tahu-menahu soal itu. Kami hanya pekerja. Cuma  menjalankan tugas. Coba tanya pada mandor kami," jawab pekerja itu sambil menunjuk kepada orang yang memakai topi, berpakaian rapi, berkacamata dan sepatu hitam mengkilap.&lt;br /&gt;Meski ragu, orang itu mendekati mandor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, kalau boleh saya tahu, kenapa pengaspalan jalan ini bukan bulan lima?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa?" orang itu balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setahu kami, pengaspalan jalan terjadi bulan lima. Begitulah orang tua kami menceritakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandor itu tertegun sebentar, kemudian tersenyum. “Kalau soal itu kami tidak tahu-menahu. Kami hanya menjalankan tugas atasan kami. Pada bulan satu nanti akan ada pilkada. Pemilihan bupati dan wakil bupati.” Kemudian mandor itu membisikan sesuatu ke telinga orang itu. Entah membisikan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak mengerti sepenuhnya, orang itu mengangguk-angguk. Tapi dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa pengaspalan jalan dihubung-hubungkan dengan pilkada, calon bupati dan wakil bupati yang tak dikenalnya. Bukankah pengaspalan jalan pasti terjadi karena sudah janji leluhur, tanpa ada pilkada sekali pun. Dia bingung bercerita kepada teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari berikutnya, mandor membagikan kalender kepada seluruh warga kampung Pojok sambil membisikkan sesuatu. Tapi mereka kembali tidak paham. Kenapa pengaspalan dihubungkan dengan kalender.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center; font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pengaspalan jalan pun selesai. Para pekerja pulang bersama stoom dilepas oleh pandangan anak-anak yang merasa kehilangan. Jalan kampung Pojok sekarang hitam dan rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor-motor berseliweran. Kadang-kadang mobil pun datang. Kalau sore, jalan aspal kelihatan ramai. Orang-orang kampung tetangga banyak yang datang hanya sekedar melihat-lihat. Kemudian anak-anak merengek minta dibelikan sepeda. Kalau tidak, dia tak mau makan dan tak berangkat sekolah atau mengaji. Orang tuanya terpaksa menjual kambing. Anak-anak muda mengasah golok setajam-tajamnya, lalu mengancam orang tuanya untuk dibelikan motor. Hatinya panas karena kekasihnya dibonceng pemuda lain. Orang tuanya terpaksa menjual kerbau atau sawah. Kredit motor merebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diduga, maling pun berkeliaran. Dengan mudah mereka mencungkil palang pintu dapur atau merobek bilik dengan golok. Kemudian kabur lewat jalan aspal. Kalau ada yang tertangakap, dibakar hidup-hidup. Hal yang tidak pernah terjadi dalam catatan ingatan orang kampung Pojok. Para orang tua menggeleng-gelengkan kepala. Mereka semakin yakin bahwa pengaspalan tidak sesuai dengan yang diceritakan almarhum orang tuanya. Bukan bulan lima. Dan akhirnya membawa petaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam bulan kemudian, aspal itu habis. Jalan kampung Pojok rusak berat. Kirikil-kerikil aspal copot. Anak-anak sudah bosan dengan sepeda karena pantatnya sakit. Anak-anak muda bosan dengan motor. Konon, calon bupati yang gambarnya ada di kalender itu menang. Mandor pengasapalan jalan sekarang jadi pejabat penting. Dia sudah lupa akan warga kampung Pojok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Ciputat 25 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;untuk segenap warga kampung Cilulumpang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7295189443157444234?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7295189443157444234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7295189443157444234&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7295189443157444234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7295189443157444234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/01/jalan-aspal-bulan-lima.html' title='&quot;Jalan Aspal Bulan Lima&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-5806968472349707781</id><published>2011-01-06T16:01:00.000-08:00</published><updated>2011-01-06T16:29:06.155-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>"2010, Amul Huzn Bagi Urang Sunda"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Di saat genting menghadapi Kafir Quraisy, Nabi Muhammad ditinggalkan dua sosok istimewa yang setia mendampingi; Khadijah, sang isteri tercinta dan Abu Thalib, paman sekeligus sang pembela.  Dalam sejarah Islam, tahun itu dikenal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt; amul huzn&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;, tahun duka cita. Peristiwa itu terjadi di tahun sepuluh kenabian. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Tahun 2010 lalu, merupakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;amul huzn&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; bagi Urang Sunda. Bagimana tidak, sejumlah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;inohong&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;nya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;mulih ka jati mulang ka asal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;. Mulai dari Abah Us-us, seniman komedian senior (meninggal dunia 8 Mei 2010), Mimi Rasinah, maestro tari topeng Cirebon (meninggal dunia 7 Agustus 2010), Tatang Benyamin Koswara (meninggal dunia 14 Agustus 2010), Nano S. seniman karawitan (meninggal dunia 29 September 2010), dan Kang Ibing (meninggal dunia 19 Agustus 2010).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Selanjutnya berpulang pula Saleh Basarah, tokoh nasional marsekal TNI AU (meninggal dunia 11 Maret 2010), Uka Tjandrasasmita, arkeolog Islam (meninggal dunia 22 Mei 2010), Wawan Juanda, promotor di dunia pertunjukan (meninggal dunia 5 Juli 2010), Achdiat K. Mihardja (meninggal dunia 8 Juli 2010), dan Setia Permana (meninggal dunia 7 Agustus 2010). Budayawan sekaligus sastrawan sunda HR Hidayat Suryalaga yang tutup usia pada usia 69 tahun di Rumah Sakit Santo Yusuf Bandung pada Sabtu (25/12) dini hari sekitar pukul 00.17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta PKPS 8 memiliki kenangan khusus dengan Hidayat Suryalga. Di hari ketiga, bertempat di aula Pusdikbekang, Cimahi,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; inohong&lt;/span&gt; yang biasa disapa Abah Surya ini didaulat sebagai pemateri Kebudayaan Sunda. Sesampai di tengah-tengah peserta, dia langsung bilang, "Mana mungkin saya menjelaskan Sunda dalam waktu dua jam. Sekarang saya tidak ingin menjelaskan dulu, tapi apakah kalian memiliki persoalan dan pertanyaan dengan kebudayan Sunda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia  menghampiri beberapa peserta dengan gesit, meski sesekali terbatuk-batuk. Dia berceloteh tentang batuknya itu, yaitu gara-gara di angkot, saat perjalanan tadi, melihat bulu ketiak seseorang yang tak jauh dari mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkeliaran bebas di tengah tengah peserta. Forum begitu dikuasainya. Sesekali lelaki berusia hampir 70 tahun ini muncul juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gumusep&lt;/span&gt;-nya, yaitu mengusap rambutnya yang lurus sambil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dicentok&lt;/span&gt;. Peserta pun tak bisa menahan gelak-tawa. Kantuk yang berlarut-larut itu lenyap seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta begitu antusias bertanya. Dan begitu tangkas dia menjawabnya tanpa membuka teks. Sunda sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sakulit sadaging&lt;/span&gt; dalam dirinya. Kadang dalam penjelasannya, dengan suara lantang dia berterik "hey hey hey..."dan jika menemukan huruf "r"dia akan memanjangkan huruf itu hingga terdengar "rrrrrrrrrrr".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara narasumber lain, Abah Surya paling &lt;span style="font-style: italic;"&gt;parigel &lt;/span&gt;dalam menggunakan bahasa sunda lisan, tidak seperti pembicara lain yang biasanya dimulai dengan;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Supaya lebih komunikatif, kita menggunakan bahasa Indonesia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking terkesannya, peserta PKPS 8 hendak ikut merayakan ulang tahunnya di Bulan Januari ini. Tapi sayang, begitu cepat dia dipanggil Sanghyang Keresa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melongok dua tahun lalu, Urang Sunda juga kehilangan Yoseph Iskandar yang sangat gigih mengangkat ajén-inajén Sunda melalui karya-karyanya. Ketika naskah Wangsakerta menjadi bahan polemik di kalangan para sejarawan, dengan berani Yoseph menulis novel-novel yang bersumber dari naskah kontroversial tersebut, seperti Perang Bubat (1998), Wastukancana (1990), Prabu Wangisutah (1991), Pamanahrasa (1991), Putri Subanglarang (1991), dan Prabu Anom Jayadéwata (1996). Dan di tahun 2006 sejarawan terbaik, pakar naskah Sunda Kuno, Edi S. Ekadjati, mendahului kita. Selamat jalan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena duka cita, Tuhan menggembirakan Muhammad dengan tamasya menuju hadirat-Nya dalam isra dan mi'raj. Lalu, bagaimana dengan Urang Sunda? Kita hanya berharap kegembiraan akan tumbuh seiring lahirnya tunas-tunas muda pengganti mereka. Saya ingat Teddy Muhtadin yang mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Yang lebih penting bukan mengapa mereka meninggal dunia, tetapi bagaimana penghargaan kita terhadap mereka."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, saya kutip lirik lagu Deddy Dores yang dinyanyikan Nafa Urbach&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt; berjudul Kota Kembang Kini Menangis Lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Baru saja kemarin kita menangis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Belum lagi kering air mataku &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagai suara petir memecah bumi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saat kuterima kabar itu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kota kembang kini menangis lagi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hujan air mata membasahi&lt;br /&gt;Berjuta pengagummu menangis pilu&lt;br /&gt;Seakan tak percaya tapi kenyataan&lt;br /&gt;Dia kebanggaanku&lt;br /&gt;Bunganya kebangganku&lt;br /&gt;Pergi berpulang menghadap yang kuasa&lt;br /&gt;Sudah suratan takdir&lt;br /&gt;Tak dapat dihindari&lt;br /&gt;Sadarlah kita semua...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya kota Kembang yang menangis, tapi seluruh Tanah Sunda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh Tuhan Pengasih &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sambutlah tangannya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;Kertamukti, 5 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-5806968472349707781?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/5806968472349707781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=5806968472349707781&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5806968472349707781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/5806968472349707781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2011/01/2010-amul-huzn-bagi-urang-sunda.html' title='&quot;2010, Amul Huzn Bagi Urang Sunda&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-180028568408034802</id><published>2010-12-20T09:07:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T09:13:44.762-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Membaca Lemah Cai'/><title type='text'>“Dicari, Manusia Sunda!”</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Bagaiamanakah konsep manusia Sunda? Sungguh ini pertanyaan yang berat bagi saya. Di satu sisi konsep manusia itu adalah tema yang luas, di sisi lain, basis kajian saya juga bukan antropologi. Orang sekaliber Ayip Rosyidi saja merasa sungkan untuk memaparkan tema ini. Tapi dia “memaksakan” diri untuk menuliskannya Dalam buku yang diterbitkan Pustaka Jaya, judul besarnya adalah “Mencari Sosok Manusia Sunda”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Coba pembaca renungkan apa yang dikehendaki jika seseorang mengugkapkan kata mencari. Pasti ada hal yang belum ditemukan. Kalau yang tidak ditemukan adalah masalah sepele, tentu ttidak akan memiliki pengaruh luar biasa. Tapi jika pandangan hidup atau panutan hidup, bukankah itu akan berakibat fatal? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;  Sungguh terlalu, setelah melewati jejak ruang dan waktu, urang Sunda masih mencari sosok idealnya. Ketika komunitas lain sudah menari-nari kita masih saja meraba-raba arah. Mungkin inilah yang menjadi penyebab keterpurukan urang Sunda dalam berbagai bidang. Sebagai contoh, dari seratus anggota DPRD Jawa Barat, Urang Sunda Cuma 30 %. Dari 6 orang yang berbisnis di Bandung Raya, 5 orang bukan orang Sunda. Jika kita melempar batu ke ITB, maka yang menjerita adalah orang Jawa. Tak heran keluar ungkapan dalam nyanyian Doel Sumbang, kamarana Urang Sunda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kenapa saya memberanikan diri menulis tema ini? Pertama, saya tidak berpretensi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tapi justeru untuk menjadi bahan renungan kita semua. Kedua, berdasarkan tulisan Ayip Rosyidi “Mencari Sosok” Manusia Sunda, setidaknya memaparkan beberapa masalah urang Sunda yang dirujuk dari masa lalu dari naskah dan pendapat orang yang saya baca. Jadi, tidak akan menjawab, tapi barangkali mempertebal pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manusia Sunda menurut Ayip &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengamatan Ayip Rosyidi, tokoh ideal kebanyakan orang Sunda adalah Prabu Siliwangi. Menururutnya, tokoh ini sangat terkenal dalam leluri, legenda, carita pantun Sunda dll., namun para ahli sejarah tidak berhasil menemukannya dalam sumber-sumber sejarah seperti prasasti, sehingga dianggap hanya sebagai tokoh sastera saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah ada yang mencoba mengidentifikasi tokoh sastera ini dengan data-data sejarah yang sudah ditemukan, antaranya Moh. Amir Sutaarga melalui karyanya Prabu Siliwangi (Duta Rakjat, Bandung, 1965) yang menyimpulkan bahwa tokoh Prabu Siliwangi itu adalah Sri Baduga Maharaja; yang disayangkan oleh Saléh Danasasmita dalam bukunya Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi (Kiblat Buku Utama, Bandung, 2003) argumentasinya kurang kuat karena lebih berdasarkan filologi bukan berdasarkan ilmu sejarah, meskipun dia sendiri sependapat bahwa Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja yang menjadi susuhunan Sunda di Pakuan tahun 1482 — 1521. Namun demikian data-data sejarah tentang Sri Baduga Maharaja sangatlah terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Siliwangi sebagai tokoh ideal orang Sunda, adalah raja yang adil palamarta, welas asih, sakti, bijaksana, punya pandangan jauh ke depan bak ahli ramal. Bahkan dalam buku Sejarah Jawa Barat, Yosep Iskandara mengatakan bahwa Prabu Siliwangi memiliki sifat keterbukaan dan pluralism yang luar biasa. Bagaimana tidak, keturunannya sendiri, Syarif Hidayatullah dibiarkan menyebarkan agama Islam di daerah Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebatan dan kesaktiannya dituliis dalam berbagai buku. Uraian yang paling representatif mengenai keyakinan akan keagungan, kehebatan, kesaktian Prabu Siliwangi, kita dapati misalnya dalam buku Sangkakala Padjadjaran: Upaya Awal Mengeja dan Menyingkap Makna Rumpaka yang ditulis oleh Ir. H. Setia Hidayat dan N. Syamsuddin Ch. Haesy (Bina Rena Pariwara, Bandung, 2004). Hanya berdasarkan teks rumpaka guguritan yang biasa dinyanyikan dalam Tembang Sunda Cianjuran, kedua penulis itu menguraikan tentang Pajajaran yang konon sekarang pun masih ada karena Pajajaran tak pernah sirna. Dengan mengutip “Spiritualis” yang anonim, dikemukakannya pendapat bahwa “Padjadjaran sirna justru terjadi di abad XX bersamaan dengan meletusnya Gunung Galunggung” dan itu pun masih meninggalkan artefak-artefak yang belum ditemukan yang baru akan musna kalau Gunung Guntur meletus (h. 96).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diyakininya bahwa suatu ketika Padjadjaran akan bangkit kembali. Dan tanpa menunjukkan bukti dan data yang jelas, dikemukakannya pula bahwa “telah hadir dan tumbuh generasi baru yang mapu menunjukkan identitas dan jati diri Padjadjaran”. Dan sebagai contoh dikemukakan bahwa “harumnya pasukan Siliwangi dalam lingkungan TNI, sebagai satuan pasukan darat yang unggul hingga kini” (h. 100). Agaknya kedua penulis itu tidak melihat bahwa pada masa revolusi sampai tahun-tahun sekitar 1965 memang pasukan Siliwangi unggul dan dihormati, tetapi pada awal Orde Baru, pamor Siliwangi telah dicéos oleh Suharto tanpa perlawanan sama sekali.&lt;br /&gt;Kedua penulis tersebut, dipercaya bahwa “pada setiap masa selalu akan hadir Prabu Siliwangi yang memiliki kualifikasi unggul sabagai pemandu arah perjalanan bangsa memasuki misteri masa depan” dan “nilai-nilai relijiusitas, kebangsaan dan kerakyatan yang diwariskan Prabu Siliwangi akan menjadi pedoman memasuki jaman baru” hanya berdasarkan satu baris (padalisan) guguritan yang berbunyi “geura gedé jeung pinanggih” (h. 100). Mendapati hal ini, Ayip berkomentar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sempurna tokoh Prabu Siliwangi itu dilukiskan oleh kedua penulis buku Sangkakala Padjadjaran, sehingga kita jadi tahu bahwa tidak ada manusia Sunda yang menyejarah yang dapat dibandingkan dengan baginda. Tetapi apakah apa yang dilukiskan oleh kedua penulis tersebut merupakan kebenaran faktual? Sulit diterima, karena tidak ada bukti otentik yang mendukungnya. Apa yang dilukiskan oleh keduanya hanyalah hasil imajinasi berdasarkan data-data fiktif belaka. Barangkali maksudnya untuk membuat orang Sunda punya percaya diri kalau diberitahu betapa hebat leluhurnya dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam akhir tulisannya, Ayip tidak secara jelas bagaimana konsep manusia Sunda. Karena tokoh idealnya sudah “dihabisi” sendiri. Kemudian Ayip menganjurkan untuk menguji otentisitas rumpaka diciptakan pada abad 18 dan 19 tersebut dan mengaitkannya dengan kondisi psikis urang Sunda yang terus-terusan dijajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sepakat dengan Ayip bahwa urang Sunda tidak bisa menyelesaikan masalahnya hanya dengan mimpi dengan imajinasi. Tetapi saya masih sangsi apakah ada hubungannya orang yang memiliki imaginasi tentang sosok yang ideal kemudian menjadi bangsa yang lemah?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ciputat, 26 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="font-style: italic; text-align: left;" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Makalah ini dipresentasikan dalam Silaturahmi dan Taaruf  Riungan Mahasiswa Sukabumi (RIMASI Jakarta), Vila Tanpanama, Sukabumi, 26-28 November 2010&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-180028568408034802?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/180028568408034802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=180028568408034802&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/180028568408034802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/180028568408034802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/12/dicari-manusia-sunda.html' title='“Dicari, Manusia Sunda!”'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4546280546610217278</id><published>2010-12-17T04:34:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T04:39:12.602-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>"Teks yang Saling Menyapa I"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah lazim satu karya ditanggapi karya lain. Bisa dengan bantahan, makian, mengamini atau memperjelas. Polemik bisa berlarut-larut di surat kabar, televisi atau media lain; melibatkan berbagai pihak. Tahun 70-an misalnya, pernah terjadi polemik atas karya Ki Pandji Kusmin berjudul “Langit Semakin Mendung”. Berbagai kalangan merasa terpanggil angkat bicara. Ujungnya, yang duduga sebagai pelaku, dipenjara. Tahun 80-an juga terjadi polemik sastera konstekstual; apakah “sastera untuk santera” atau “sastera yang berpihak” (untuk rakyat).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Begitu pula dalam musik. Satu aliran musik kadang membenci jenis musik lain. Itu bisa disimak dari lirik-lirik lagunya. Bisa disampaikan dengan vulgar, sebaliknya ada juga yang halus. Coba perhatikan potongan lirik berjudul “Pop Band” karya The Law:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ian Kasela elu pake kacamata&lt;br /&gt;Gue kiirain elu tukang pijit tunanetra&lt;br /&gt;Tapi ternyata elu vokalisnya Radja&lt;br /&gt;Ngeliat gaya elu gua jadi mau muntah&lt;br /&gt;Elu banyak gaya dan kayak rajasinga&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dalam lagu ini, Ariel Peterpan, Pasya Ungu, Krispatih, Didi Elemen, Bams Samson, juga menjadi sasaran sumpah-serapahnya. Tapi The Law memaki karena memang benci, tidak dijelaskan letak kebenciannya. Yang penting fuck pop band. Begitu pula kelompok Hip Hop Ball yang menghina Kangen Band habis-habisan. Tapi anehnya, Segitiga Bermuda yang sama-sama Hip Hop membela Kangen Band dan mencaci balik Ball. Simak lirik berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ini bukan pembelaan&lt;br /&gt;Ini lagu perlawanan&lt;br /&gt;Yang nggak seneng gua tantang&lt;br /&gt;Jangan cuma main belakang&lt;br /&gt;Heh Ball dengerin&lt;br /&gt;Satu band celaka&lt;br /&gt;Emang mereka beda&lt;br /&gt;Tampang cemen&lt;br /&gt;Elu bilang kayak pengamen&lt;br /&gt;Gue pikir lagu lu keren&lt;br /&gt;Terus pengennya ngetrend&lt;br /&gt;Tapi elu nggak bisa nandingin pamornya kangen band&lt;br /&gt;Orang-orang suka kangen band urusan mereka&lt;br /&gt;Mungkin sekarang zamannya sudah beda&lt;br /&gt;Bukannya harus dengerin lagunya Dewa&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Mati Anjing memaki d’Masiv. Ia memaki dengan kebencian beralasan; d’ Masiv diduga melakukan perbuatan paling(!) tercela dalam karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pake dong otak&lt;br /&gt;jangan cuma jadi benalu&lt;br /&gt;daripada plagiat mending jadi pekcun&lt;br /&gt;plagiat sama dengan bangsat&lt;br /&gt;bangsat sama dengan pencuri&lt;br /&gt;pencuri terakhir pasti masuk bui&lt;br /&gt;band luar negeri elu copy&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 70-80-an dangdut pernah dipandang sebelah mata. Konon, musik yang digawangi Rhoma Irama dkk. ini sering dijadikan bulan-bulanan jenis musik lain. Di film-film, dangdut dicitrakan sebagai milik kaum kampungan. Yang paling kentara, dalam film Menggapai Matahari II yang dibintangi Rhoma Irama, Yati Octavia dan Ikang Fauzy. Di film ini, (meski menurut saya keterlaluan), kelompok Ikang Fauzi, yang berbeda aliran musik membubarkan pertunjukan dangdut. Rhoma Irama yang sebelumnya berniat pensiunt, merasa terpanggil kembali berdangdut. Dalam film Begadang II yang dirilis tahun 78, ada lagu yang berjudul “Musik”. Menurut saya, lagu ini tercipta untuk menanggapi situasi yang ada pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;bermacam-macam itu jenis musik&lt;br /&gt;dari yang pop sampai yang klasik&lt;br /&gt;muksi yang kami perdengarkan&lt;br /&gt;musik berirama melayu&lt;br /&gt;siapa suka mari dengarkan&lt;br /&gt;yang tak suka silakan minggir&lt;br /&gt;bagi pemusik anti-melayu&lt;br /&gt;boleh benci jangan mangganggu&lt;br /&gt;biarkan kami mendendangkan lagu&lt;br /&gt;lagu kami lagu melayu &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid Hardja, pemusik bertubuh gemuk, berkaca mata hitam, yang tergabung dalam kelompok Bani Adam ikut memprihatinkan nasib dangdut. Penyanyi yang terkenal lewat “Karmila” (diduga plagiat) dan “Ini Rindu”, yang juga bermusik di tahun-tahun itu menciptakan lagu “Dunia Dangdut” :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;oh lagu dangdut&lt;br /&gt;engkau lahir di negeriku&lt;br /&gt;lagu dangdut&lt;br /&gt;sungguh aneh nasib kamu&lt;br /&gt;lagu dangdut&lt;br /&gt;ada yang suka dan anti&lt;br /&gt;lagu dangdut&lt;br /&gt;aku sering mendengarmu&lt;br /&gt;oh, lagu dangdut&lt;br /&gt;oh, lagu dangdut&lt;br /&gt;oh musik dangdut&lt;br /&gt;oh, goyang dangdut&lt;br /&gt;itulah dunia selalu ada dua&lt;br /&gt;ada yang suka dan tidak&lt;br /&gt;ketabahanmu membuatku kagum&lt;br /&gt;berdendanglah dikau di sana&lt;br /&gt;berulang kali namamu jadi berita&lt;br /&gt;suka dan anti semakin keras melanda&lt;br /&gt;oh….&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dari lirik lagu ini betapa gawatnya situasi yang dihadapi dangdut waktu itu. Tapi dia tabah dan tetap berjoged dangdut. Dan, dangdut terbukti bisa bertahan, meski terus bergeser dari warna aslinya. Aliran musik lain, Projec Pop mengakui dangdut sebagai is &lt;i&gt;the music of my country&lt;/i&gt;. Dangdut &lt;i&gt;never day&lt;/i&gt;! bahkan mengglobal. Rohma Irama pun mengklaim dangdut didengar dimana-mana. Coba simak Viva Dangdut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;di gunung, di dusun, sampai di kota-kota&lt;br /&gt;irama Melayu bergema berkumandang&lt;br /&gt;di Jepang, Eropa, bahkan di Amerika&lt;br /&gt;irama melayu orang mulai tahu&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, saya mengutip lagu Bang Haji yang berjudul “Dilarang Melarang” yang dinyanyikan Noerhalimah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dilarang melarang&lt;br /&gt;Kesenangan orang&lt;br /&gt;Asal tak mengganggu lain orang&lt;br /&gt;Dilarang melarang&lt;br /&gt;Kemauan orang&lt;br /&gt;Asal maunya tak terlarang &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang, Bang Haji mengingkari diktum ini. Ia melarang Inul bergoyang (ngebor) yang tidak sesuai dengan syariat dangdut. Karenanya dia pernah mengeluarkan fatwa haram atas ayat-ayat dangdutnya dinyanyikan Inul. Sungguh terlalu!!!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Ciputat, 17 Desember 2010&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4546280546610217278?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4546280546610217278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4546280546610217278&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4546280546610217278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4546280546610217278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/12/teks-yang-saling-menyapa-i_17.html' title='&quot;Teks yang Saling Menyapa I&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7701058659237838031</id><published>2010-12-15T20:00:00.000-08:00</published><updated>2010-12-15T20:06:58.042-08:00</updated><title type='text'>"8 Fakta Menarik Tentang Angka 8"</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh Erik Pratama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What: Simbolisme dan Semiotika adalah suatu bentuk ilmu yang ditujukan buat menganalisis perlambangan atau tanda – tanda makna dari setiap perwujudan yang kita liat dalam kehidupan sehari – hari.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Semiotics covers the sign not only for the sign that can be taken from our daily speech but also for another sign in our life. In semiotics environment, sign can be produced by words, images, sounds, gestures, and object. On the other hand semiotic is the study about how meanings are made and how the factual are described (Saussure).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini lengkapnya 8hollic, setiap perwujudan yang kita liat pasti mengandung makna atau tanda, karena di dalam suatu perwujudan, biasanya mengandung suatu makna yang bisa dikaji….gini ilustrasinya:&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Di dalam kehidupan sehari – hari, sering kan kita jumpai yang namanya Tanda Perboden, wujudnya berupa tiang dengan lingkaran di atasnya yang berwarna merah trus dikasih garis strip putih, sadar ga sadar dengan alamiahnya kita tidak berani memasuki area yang terpasang simbol itu, karena secara tidak langsung simbol tersebut memberi pesan atau jelasnya bermakna “dilarang masuk”…so, itulah simbolisme, seru kan? hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut nih 8hollic, kajian seperti ini sering kita temui kok, contohnya seperti dalam karya – karya Dan Brown, JK. Rowling atau Dewi Lestari, pasti udah pada bacalah…di sana banyak sekali pengungkapan dengan gaya simbolisme….tapi tenang dulu, masih banyak kok contoh yang lain, seperti: tulisan, rumus dalam ilmu logika, angka hitungan itu juga merupakan simbol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leaning on that statement, di sini saya mencoba seru – seruan dengan menguak makna di balik angka 8…yah harapannya agar kita semuanya bisa bertambah bersyukur dan bangga karena kita bisa menjadi bagian dari kegiatan PKPS 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut ya 8hollic, ini dia beberapa fakta yang membuat angka 8 menjadi sangat unik dan berbeda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Satu&lt;/i&gt;. 8 berarti baik: why? Karena 8 adalah satuan angka yang digunakan untuk menilai dan mengukur suatu kualitas yang memenuhi standar atau berpredikat “baik”. Inilah karakter yang seharusnya kita bisa tanamkan pada diri kita. Dan mudah2xn menjadi suatu catatan tersendiri di benak orang2x bahwa setiap pribadi di generasi ini merupakan pribadi dengan kualitas nilai baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dua&lt;/i&gt;. 8hollic, angka 8 bisa jg bermakna sakral, contohnya: bulan 8 atau Agustus adalah bulan di mana bangsa Indonesia merayakan kemerdekaanya, 17 – 8 – 45. Kemudian, bagi umat Islam, bulan 8 (atau Syaban dalam Hijriah) merupakan satu dari tiga bulan yang sangat dimualiakan oleh Rosul (bulan ini disebut juga bulan Rosul), hal tersebut tentunya bisa mengilhami kita, bahwa spirit kesakralan angka ini bisa menambah positif pada kualitas generasi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tiga&lt;/i&gt;. 8 berarti sehati dengan Sunda, gak percaya? Coba hitung kata ini WEST JAVA, ada berapa jumlah hurufnya?cocokan.. heheh…Maknanya adalah semoga kita yang tergabung dengan generasi 8 ini bisa menjadi pribadi yang benar – benar bersinergi dengan kebudayaan Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Empat&lt;/i&gt;. Group of Eight (G8), atau kelompok 8, pasti sering mendengar tentang kelompok tersebut kan? maklum nama itu sering nongol wara – wiri di setiap pemberitaan. Jelasnya, kelompok tersebut adalah kelompok koalisi 8 negara termaju di dunia (Negara macam: USA, Canada, Jepang, UK, Prancis, Jerman, Italia dan Uni Eropa). Dari fakta di atas, kita berharap generasi 8 ini, menjadi tempat berkumpulnya orang – orang besar dan sukses, sama seperti kelompok 8 (G8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Lima&lt;/i&gt;. Hal lainya yang bisa kita temui dari angka 8 adalah bentuknya yang berbeda. Coba kita liat cara penulisan angka 8, Unity kan? Bentuknya, boleh dikatakan paling berbeda dengan angka yang lainnya, susunan bentuk angka ini tidak berpangkal dan juga tidak berujung…semuanya tersusun sehingga membentuk satu kesatuan atau “strict to be the one as a unity”.Hal ini persis seperti yg kita alami di kegiatan kemarin, di mana perkenlan dan keakraban kita tidak diketahui permulaannya, secara alamiah, kita menjalin suatu persahabatan dan keakraban layaknya kita sudah saling mengenal selama bertahun2x. Tentunya, ikatan relasi yg sudah kita bangun ini dapat meniru kepada susunan bentuk yang terdapat pada angka 8, dimana ikatan kekeluargaan yang sudah tercipta ini, tidak memiliki ujung dan akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Enam.&lt;/i&gt; Perhatikanlah penjumlahan dan perkalian dengan angkat 8 berikut ini. Kalian akan tahu bahwa angka 8 memang mempunyai keunikan yang khas. Marilah kita mulai !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 + (8 x 1) = 9&lt;br /&gt;1 + (8 x 12) = 98&lt;br /&gt;1 + (8 x 123) = 987&lt;br /&gt;1 + (8 x 1234) =9876&lt;br /&gt;1 + (8 x 12345) = 98765&lt;br /&gt;1 + (8 x 123456) = 987654&lt;br /&gt;1 + (8 x 1234567) = 9876543&lt;br /&gt;1 + (8 x 12345678) = 98765432&lt;br /&gt;1 + (8 x 123456789) = 987654321&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya luar biasa sekali, ternyata unik bukan angka ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hal di atas, kita bisa memetik suatu pelajaran bahwa, segala keunikan yang terjadi di generasi ini bisa menjadi suatu hal yang pofitif bila kita bisa mengembangkan dan mengemasnya menjadi lebih positif. Kenapa, karena sayang apabila potensi yang dimiliki oleh setiap individu di generasi ini tidak dikembangkan. Setiap individu memiliki keunikan dan kekhasan yg tidak bisa dimiliki oleh orang lain, baik secara bakat atau kemampuan, tapi bila kita tetap yakin, dan melebur menjadi satu tanpa adanya suatu eksklusivisme atau sebuah dinding pembatas, pastinya, apabila tiap entitas dan keunikan itu digabungkan, akan menjadi suatu kekuatan yang beridentitas keren. Bukankah generasi kita unik, koordinatornya aja ada 2?haha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tujuh&lt;/i&gt;, 8hollic, did u know? Jikalau Angka 8 ini sering disebut Bintang kekayaan dan termasuk ke dalam angka berkatagori white star. Konon, setiap kehadirannya selalu membawa keberuntungan ekstra dimanapun kita berada. Usut punya usut ni 8hollic, angka 8 ini adalah angka periode sekarang. Praktisi feng shui bintang terbang mengetahui bahwa angka 8 ini adalah angka yang paling menguntungkan untuk periode 8. Angka 8 adalah angka keberuntungan sekarang dan sampai tahun Februari tahun 2024. Dunia bisnis memakai angka ini sebagai akhiran nomer rekening bank, nomer plat kendaraan, nomer rumah, nomer telepon, dan segala bentuk yang menggunakan nomer. So, semoga keberuntungan angka 8 ini dapat berimbas pada generasi kita ya..heheh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Delapan&lt;/i&gt;, 8=Ajaib. Sekarang kita liat hasil perhitungan matematika sebagai berikut : 1:81= 0,012345679…Ups!!!!!! Angka 8 nya hilang dan terlewat. Ajaibkan, hehe. Padahal angka yang lain secara periodik muncul. Gak perlu heran 8hollic, hilangnya angka 8 ini sebenernya cuma ilusi, dan nilai resiprokal angka 81 adalah “alamiah”, pastinya akan menghasilkan satu seri system decimal bilangan 0,1,2…dan seterusnya. Dan system itu bukan buatan manusia tapi buatan Alloh swt. Tapi, kenapa hanya angka 8 yang hilang, diduga angka ini berhububungan dengan angka 19, tepatnya bilangan prima ke 8 adalah 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al-Qur’an, angka 8 merupakan jumlah dari malaikat, force yang menjunjung “Arsy” (Kursi,Singgasana), mengatur keseimbangan ", yang bermakna power and authority dominion, baik sebelum ataupun sesuadah kiamat (Al – Haqqah 69:17, red). Sebagian mufasir, macam Muhammad Abdul Halim, memaknai “Arsy dengan istilah “Majelis Langit” 4 atau “Wilayah Pemerintahan Kosmos”. Di mana di sana tidak sama sekali terdapat batasan, “di bawah “Arsy sendiri terdapat (unsur) air” (Hud 11:7, red), berlimaph unsur hydrogen, elemen kimia yg paling ringan dari unsur air, H2O, and luasnya jauh lebih dari alam semseta (universe). Nah, dalam kalender Komariyah (Perrhitungan Bulan), taun kabisat terjadi pada setiap 19 tahun sekali atau bilangan prima ke -8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga nilai keajaiban terbut, bisa mengilhami kita bahwa setiap langkah kita tidak akan terlepas dari yang namanya keajaiban Alloh swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, eighthollic, itulah tadi keistimewaan dan keunikan dari angka 8. Gak salah, kalo emang ni angka selalu dekat dengan kehidupan sehari – hari kita, banyak ko hal lainnya yg bisa ditemui dari angka ini, kayak penggunaan kelipatan 8 dalam hitungan computer (16,32,64,128), hitungan dalam not music, acuan dalam gerakan olah – raga, arah angin pun berjumlah 8. Mudah2xn, hal tersebut bisa menambah kebanggan kita sebagai pihak yg berada di generasi 8, apapun itu, kita patut berharap, semoga label 8 yang berada di dalam generasi kita bisa membawa dampak positif atau tepatnya energy yang positif yang dapat membuat kita bisa berguna bagi Sunda yg kita cintai ini. So, ayo berkarya n berkreatifitas..tunggu apalagi kawan. &lt;i&gt;For a better life for a better Sunda…..&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(disarikan dari berbagai sumber)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Bandung, 16 Desember 2010&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7701058659237838031?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7701058659237838031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7701058659237838031&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7701058659237838031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7701058659237838031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/12/8-fakta-menarik-tentang-angka-8_15.html' title='&quot;8 Fakta Menarik Tentang Angka 8&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4321211420147311297</id><published>2010-12-11T06:35:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T06:46:22.058-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>"Profesor Tua yang Merasa Tua"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Georgia, serif; " &gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Baru-baru ini, saya ketemu sama sahabat yang selalu bercerita tentang pentingnya bersilaturahmi. Dia yang memang supel bergaul memiliki banyak manfaat dan pengalaman tentangg hal itu. Salah satu yang berkesan bagi saya adalah silaturahminya dengan seorang profesor tua. Meski intensitas pertemuannya semakin berkurang, tapi keduanya masing sering merawat silaturahmi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Begini ceritanya:&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari, sahabat saya tersebut bersilaturahmi ke profesor tua. Entah pertemuan ke berapa. Di akhir perpisahan, sang profesor yang berusia 60 tahunan ini mengungkapkan hal yang mendalam dari silaturahmi. “Dulu, rumah saya selalu dikunjungi para mahasiswa. Berbagai hal memang niat kedatangan mereka. Ada yang meminjam buku, berdiskusi, meminta pendapat, numpang menginap bahkan minta makan dan uang. Mereka seperti anak saya sendiri. Dan setelah lulus, silaturahmi masih terus terjalin.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persinggunya dengan para mahasiswa, sebenarnya menyita waktu istirahat dia dan keluarganya, banyak buku yang hilang dan rusak, dan tentu saja uang gajinya selama satu bulan sebagian disedekahkan untuk mereka sebagai jamuan alakadarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi sang profesor tidak berfikir seperti itu. Dia bisa memahamkan keluarganya atas kehadiran tamu-tamunya. Buku-buku yang hilang bisa ia beli kembali. Dan, soal uang, ia selalu mendapatkan rezeki di luar gajinya yang tak seberapa, meski datangnya tidak disangka-sangka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sahabat saya mengangguk-angguk mendengar cerita profesor yang sedeng menumpahkan magma kental dalam rabunya. Tak terasa, lahar hangat pun mendesak-desak kelopak matanya. Progfesor itu melanjutkan cerita dengan suara sesak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tapi kini semua itu telah berlalu. Saya sudah merasa tua melampaui usia saya sekarang. Jarang sekali ada mahasiswa yang datang bersilaturahmi murni ke rumah saya, atau sekedar berdiskusi. Yang ada sekarang hanyalah mahasiswa yang membawa proposal untuk sebuah seminar yang membahas persoalan sepintas lalu. Dan paling menyedihkan, mahasiswa yang datang hanya untuk minta nilai. Sungguh saya merasa tua dan kesepian.” Lahar panas di matanya tak dapat ia tahan. Beberapa titik air mata jatuh!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendengar cerita sahabat saya tersebut, saya ingat tulisan Mahfud M. D. tentang Magnet Silaturahmi Gus Dur…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ciputat, 8 Desember 2010&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4321211420147311297?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4321211420147311297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4321211420147311297&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4321211420147311297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4321211420147311297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/12/profesor-tua-yang-merasa-tua_11.html' title='&quot;Profesor Tua yang Merasa Tua&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-4644717827040756893</id><published>2010-12-06T16:28:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T16:53:25.751-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>"Pernik PKPS 8"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seratus orang pangilinggisik, pagaliwota selama seminggu, tentu melahirkan kisah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada mulanya di Pusdikbekkang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya siap jadi ketua angkatan” kata Iir dari kelompok Kariding, sambil tegak berdiri. Karena dia berada di barasin depan, untuk sementara, pusat gravitasi tatapan peserta berada di anak kelahiran Cianjur yang berambut ikal ini. Jari telunjuknya tegak lurus dengan langit-langit aula pusdikbekkang sambil berteriak. “Saya menantang kalian. Seratus orang lawan satu!” tegasnya. Kemudian dia sambil berjalan tegap ke podium calon ketua, bak Mundinglaya Dikusumah menantang Jongrang Kalapitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta terdiam mendapat tantangan tersebut. Beberapa saat terjadi bisik-bisik antarkelompok. Kemudian perwakilan beberapa kelompok maju, Joyo dari kelompok Kacapi, Erik dari Goong, Asep Ashly Angklung, Samsam dari Kacapi. Setelah mereka duduk di di hadappan peserta, Bisik-bisik terdengar kok calon jajaka semua. Mana mojangnya. Tampilah Icha dari kelommpok Saron sebagai penyelamat. Dia laiknya Dewi Sartika yang berani tampil di tengah pendidikan dikuasai laki-laki pada zamannya. Tepuk tangan buat Icha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon pun mengetengahkan visi dan misinya. Sebelum menyampaikan visi misi, Iir berteriak, “Saya mengundurkan diri!” Lura biasa peserta yang bernama asli Virdian ini mampu mengacaukan imajinasi peserta. Perdebatan kemudian timbul bagaimana mekanisme pencalonan.  Sungguh luar biasa karena masing-masing, kecuali saya, adalah orang terbaik di masing-masing organisasi. Mereka sangat lihai dalam urusan mekanisme ini. Waktu pun molor dari durasi yang disediakan panitia. Dan pemilihan ketua angkatan pun urung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah salah satu moment dari Pelatihan Kepemimpinan Putra Sunda ke 8 yang diselenggarakan oleh Gerakan Masyarakat Jawa Barat (GEMA Jabar). Pelatihan dimulai tanggal 7 sampai tanggal 13 November. Empat hari bertempat di&lt;span style="font-style: italic;"&gt; indoor&lt;/span&gt;, yaitu di Pusdikbekang Cimahi. Pusdikbekkang ini pernah diselewengkan oleh salah seorang peserta sebagai pusat pendidikan dan pembangkangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan di indoor dimulai dengan pendaftaran ulang peserta, perkenalan panitia dan peserta, menyanyikan mars PKPS. Mars tersebut adalah buah karya alumnus PKPS 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Senin, pelatihan dibuka oleh kesbang Jawa barat, disaksikan oleh ketua GEMA JABAR, kang Jaka Badranaya. Kemudian acara dilanjutkan dengan diskusi. Salah satu pembicaranya adalah pendiri Gema Jabar yaitu kang Martoyo Wiranata Kusumah. Beliau merupakan trah menak bupati Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, peserta makan siang dengan menu istimewa. “Wah, kalau begini, lebih baik pembukaan aja tiap  hari,” kata Joyo, yang diamini dengan tawa teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, hari-hari selanjutnya peserta dijejali materi-materi, yaitu: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wawasan Kebangsaan,Pengenalan potensi dasar,Management Waktu, Komunikasi, Sejarah, Budaya dan norma,Politik, Ekonomi, Sosial, Kepemimpinan (leadership), Inspiring leadership/succces story, Lingkungan hidup. &lt;/span&gt;Lihat: http://pkps8.blogspot.com/2010_10_01_archive.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap panitia dan pemateri, kecuali Abah Surya (Hidayat Suryalaga) sering mengawali ungkapan, “kita menggunakan bahasa komunikatif ya." Komunikatif di sini artinya menggunakan bahasa Indonesia. Dalam hati saya bertanya, apakah bahasa Sunda tidak komunikatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padepokan Tengkorak Hitam atawa Barak Hitam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, tiba-tiba muncul istilah barak hitam. Saya beraumsi seperti ini. Teman-teman yang kebetulan berada di barak kedua, penghuninya rata-rata perokok berat dan pembegadang yang tangguh. Tiap malam, ketika waktunya istirahat, kami asyik ngobrol ngalor ngidul. Kita seolah teman lama yang sedang mencurahkan rasa sono yang menumpuk. Perkenalan pun semakin bertambah erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bermalam-malam dihabiskan seperti itu, Erik, peserta asal Purwakarta nyeletuk "barak hitam" yang kemudian berkembang menjadi "tengkorak hitam". Di lain hari, saya tahu, ternyata tengkorak hitam adalah padepokan yang ada di kampungnya. Pembaca bisa membuka situs ini: http://www.facebook.com/?ref=home#!/group.php?gid=122457988016&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan sekali, salah seorang peserta adalah salah satu keturunan D.K. Adiwinata. Tokoh Sunda belasteran Sulawesi dan Sunda yang menulis novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Baruang Ka Nu Ngarora"&lt;/span&gt;. Novel ini diterbitkan pertama kali tahun 1914. Jika dilihat dalam pembabakan novel modern Indonesia, novel ini terbit 6 tahun sebelum angkatan Balai Pustaka melahirkan roman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salah Asuhan&lt;/span&gt; karya Abdul Muis dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siti Nurbaya&lt;/span&gt; karya Marah Rusli. D.K. Adiwinata ini adalah pendiri sekaligus ketua pertama Paguyuban Pasundan, yang menurut Edi S. Ekadjati sebagai titik awal kebangkitan Urang Sunda dalam bentuk organisasi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ke Hutan Lembang, Pusdikpassus dan Gunung Sunda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah empat hari mendekam di barak, pusat kegiatan dialihkan ke hutan lembang yang selalu dikabarkan dengan cuaca buruk dan suhu yang dingin. Tapi peserta tak peduli, yang penting suasana baru. Kami bernyanyi sepanjang jalan Cimahi-Lembang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barak hitam…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barak hitam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca mulai dingin ketika kami diturukan di sebuah pertigaan di hutan Lembang. Di pertigaan itu berdiri tegak sebuah plang dengan angkuh bertuliskan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; “RAGU-RAGU KEMBALI SEKARANG JUGA”. &lt;/span&gt;Tulisan ini teror psikologis bagi yang bernyali ciut sekaligus melahirkan tanya, ada apa di balik hutan ini. Beberapa peserta berpotret ria dengan latar tulisan tersebut. Kemudian, berdasarkan kelompok, kami berjalan kaki dengan formasi selang antara laki-laki dan perempuan. Menurut kang Herdi, perjalanan yang akan ditempuh memakan waktu setengah jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, kurang lebih satu jam kami sampai pada tempat yang ditentukan. Di  tempat itu sudah berdiri tenda sebagai pusat pertemuan, tenda panitia dan MCK . Di situ kami dijelaskan tata cara hidup di hutan, tata tertib, pembagian kelompok baru, dan pembuatan tenda kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja di hutan Lembang yang lembab; dengan pepohonan tua dan kokoh, semak-semak perdu yang rapat dan aliran sungai yang jernih. Suasana sibuk seperti sedang mendirikan perkampungan baru. Kami mempersolek tenda kelompok dan mempersiapkan api unggun. Selepas maghrib, peserta digiring ke aula Pusdikpassus. Dalam suasana dingin yang menggigit kami menerima materi tentang Bela Negara oleh Wadan Kopassus Joko Andiko. Pria bertubuh tegap ini menjelaskan bahwa bela negara tidak hanya memanggul senjata, tapi menjadi pelajar pun adalah bela negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat pagi kami menggerakan badan di tepi Situ Lembang yang tenang dan jernih. Sekelilingnya ditumbuhi pepohonan yang kokoh berlumut. Siangnya kami menerima materi dari kang Udin tentang bagaimana bertahan hidup di hutan Lembang. Dia memperkenalkan tetumbuhan seperti: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;begonia, honje, pinding, harendong, bongboretean, saliara, papandanan, bingbin, antanan, kisilet, cibeunying, korejat dan lain-lain.&lt;/span&gt; Lihat http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/11/sahabat-lama-yang-terlupa.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada malam Sabtu, di tengah cuaca yang buruk kami dihangatkan oleh kehadiran Abah Iwan. Selain tokoh pencinta lingkungan hidup, ternyata lelaki berusia 60 tahunan ini adalah tokoh silat, pencipta dan penyanyi. Karir musiknya, dia bergabung dengan Bimbo. Lagunya Melati dari Jayagiri pernah digandrungi banyak orang. Lihat http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/11/pkps-8-melati-dari-jayagiri.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ke Gedung Sate&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu Gedung Sate di TVR Bandung. Itu pun ketika saya kecil. Sebentar lagi akan saya masuki gedung orang nomor satu di Jawa Barat itu. Mengenai gedung itu, pernah terpikir dalam benak, apakah hubungan Urang Sunda dengan sate? Bukankah sate begitu lekat dengan orang Padang dan Madura? Ah, saya tidak tahu. Yang jelas, gedung ini buah karya kolonial Belanda yang direncanakan sebagai istana negara. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai, peserta yang baru turun gunung diberi waktu satu jam untuk bersih-bersih. Dan saat penutupan nanti harus mengenakan baju seragam pelatihan, baju berlengan pendek, berwarna hitam, berlambang kujang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan malam, acara diisi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Putra Sunda. Sayang pak gubernur dan wakilnya tidak hadir. Sebagai penggantinya adalah pejabat bagian kepemudaan, entah apa namanya. Kemudian acara dimulai dengan sambutan panitia, kang Kiki, ketua Gema Jabar, kang Jaka, salah seorang pendiri, dan dari pihak pemerintah sekaligus penutupan pelatihan. Acara diakhiri dengan ramah-tamah.  Kemudian pileuleuyan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pileuleuyan, pileuleuyan, paturay patepang deui…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lima hal yang melekat di benak peserta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah iseng. Saya menginventarisir hal-hal yang (barangkali) melekat di benak peserta. Tentu saja, siapa pun boleh berbeda dengan pendapat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nyawa peserta seharga muk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika makan siang di hari hari pendaftaran ulang, cara makan peserta didisiplinkan dengan mengikuti cara tentara. Makanan dialasi nampan yang khas tentara juga. Kemudian tempat minum adalah muk yang terbuat dari logam berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang panitia meneror, “Muk itu pertaruhan nyawa kalian. Jika hilang, urusannya bukan dengan panitia, tapi langsung dengan tentara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gojing iwok-iwok &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adalah pelemasan saat berganti materi atau acara. Kang Boled, yang  gemar bercelana pendek ini adalah jagonya. Dia memperkenalkan goyang gojing iwok-iwok yang langsung disambut peserta. Tak urung dia menjadi pavorit peserta. Guna, salah seorang peserta dari Garut sangat kesengsem goyang ini. Sehingga dalam perjalanan ke Lembang, berkali-kali meminta kami untuk menyanyikanya. Dan, hal ini terbukti pula, yel-yel yang diminta peserta kepada panita meminta gojing iwok-iwok. Seperti sadar akan alam bawah sadar peserta, setelah pelatihan berlalu, panitia pengupload potret ini hingga dikomentari banyak peserta dan panitia. Namun sayang kang Ame tidak ikut gojing iwok-iwok, sehingga muncul ame iwok-iwok, yang menurut dia sangat garing! Peace kang Ame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Barak hitam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba simak lirik lagu Iwan Fals berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Isi kepala di balik topi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semua serdadu pasti tak jauh berbeda &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tak peduli perwira, bintara atau tamtama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tetap tentara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kata berita gagah perkasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apa lagi sedang kokang senjata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Persetan siapa saja musuhnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perintah datang karangpun dihantam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah tentara, setidaknya menurut Iwan Fals. Mereka ditakdirkan untuk turut pada perintah. Karang pun dihantam jika disuruh. Hal ini berbanding terbalik dengan mahasiswa yang (idealnya)bebas berkreasi dan aksi, kritis terhadap keadan di sekeliling. Jika terjadi ketimpangan, protes, demontrasi dan sebagainya. Sehingga lahirlah ungkapan barak hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gunung Sunda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut kang Ame, mengutip T Bachtiar, di sekitar situ Lembang merupakan bekas letusan Gunung Sunda purba. Guunung ini sering disebut-sebut, tapi sudah tidak ada bentuknya. Seperti itu pula istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil, klasifikasi geografis dalam peta Indonesia yang mulai hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memiliki ketua angkatan dua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik terakhir di tepi Situ Lembang, peserta memilih ketua angkatan. Calon tinggal empat yaitu, Joyo, Samsam, Ashly, dan Icha. Masalah mekanisme kembali menjadi perdebatan yang alot. Tapi akhirnya Reza sebagai pemimpin pemilihan memutuskan ketua dipilih berdasarkan kelompok. Sehingga calon ditentukan atas dasar dinamika kelompok. Kemudian perwakilan masing-masing kelompok angkat bicara dengan argumen masing. Hasilnya 3 kelompok untuk Joyo, 3 kelompok untuk Ashly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan muncul lagi karena masing-masing kelompok bertahan pada pilihan masing-masing. Sementara waktu semakin mendesak dan hujan seperti hendak turun kembali. Cecep Sopandi, peserta asal Karawang  yang kemudian menjalaskan tentang angka dua. “Udah jelas-jelas seperti ini. Ya udah biarkan saja. Koordinor ada dua. Ini pertama kali! PKPS memiliki dua ketua angkatan” Akhirnya, ketua angkatan pun ada dua Joyo dan Ashly. Selamat untuk keduanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tepuk tangan untuk peserta…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tepuk tangan untuk panitia… &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ciputat, 7 Desember 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Salam yang khidmat sedalam-dalamnya Untuk PKPS 8: seuweu-siwi siliwangi! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-4644717827040756893?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/4644717827040756893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=4644717827040756893&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4644717827040756893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/4644717827040756893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/12/pernik-pkps-8.html' title='&quot;Pernik PKPS 8&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7011311355814966234</id><published>2010-11-21T09:04:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T09:06:36.042-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>"Domba Ketujuh"</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Di tempat yang sama, dengan pakaian  yang serupa, lautan manusia, dari berbagai suku bangsa bersatu memenuhi  undangan-Nya. Dalam satu suara mereka melapal, Labaika Allahuma labaik.  Angkasa dipenuhi gemuruh takbir yang merayap ke pangkuan-Nya. Dalam satu  nafas, mereka berharap ridonya. Gema takbir, tahlil dan tahmid  berhamburan mengagungkan asma-Nya, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu  Akbar walillahilhamd. Mereka mengelilingi baitullah. Berhaji. Mereka  berharap mabrur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Bagi mereka yang tdak berhaji, pagi harinya  berbondong ke lapangan atau masjid-masjid menunaikan shalat Idul Adha.  Tadi malam, bedug bertalu. Takbir membahana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Hari itu dinamakan  hari Tasyrik. Selama tiga hari setelahnya diharamkan puasa apa pun. Bagi  orang yamg mampu disunahkan untuk berkurban dengan menyembelih domba,  kerbau, sapi, atau sejenisnya. Hari itu banyak berceceran darah binatang  di mana-mana. Tanah basah dengan darah. Konon, ritual qurban berasal  sari usaha penyembelihan Ibrahim pada Ismail untuk memenuhi janjinya  pada Tuhan. Tapi gagal. Kemudian Jibril datang membawa domba dari surga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pagi  itu di sebuah kampung ada acara penyembelihan hewan qurban. Tujuh ekor  domba jantan yang bagus dan seekor kerbau gemuk yang diserahkan beberapa  orang kaya pada DKM untuk dibagikan kepada yang berhak menerimanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kira-kira  pukul 08.30, setelah shalat Ied, orang-orang berkumpul di halaman  masjid yang lapang. Matahari bersinar dengan teriknya. Langit biru cerah  tak terhalang awan sedikit pun. Beberapa ekor burung melayang rendah di  udara. Angin cuma sepoi-sepoi saja. Anak-anak sudah ramai. Pakaian  mereka bagus-bagus. Mereka menikmati suasana itu. Mereka bermain  sesukanya. Tawa bahagia berderai. Mereka ingin menyaksikan darah yang  mengalir deras dari tenggorokan, kemudian menyentuh bumi. Para orang tua  banyak juga yang telah datang. Mereka membawa alat seadanya untuk  membantu penyembelihan. Mereka telah siap menyaksikan darah yang akan  mengalir dari tenggorokan kemudian mencium bumi, lalu ada tubuh yang  bergelinjangan sekarat meregang nyawa. Ibu-ibu dengan masih memakai  pakaian lebarannya juga telah hadir sambil tak henti-hentinya ngobrol  soal apa saja. Anak-anak gadis membentuk kelompok sendiri. Mereka  ngobrol soal yang berbeda. Mereka sudah siap melihat darah yang mengalir  deras mencium bumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sementara yang akan disembelih seperti tidak  tahu-menahu kejadian apa yang akan menimpanya. Kerbau itu tenang-tenang  saja memakan rumput hijau yang diletakkan di atas karung. Dia tidak  tahu darahnya akan dialirkan hari ini, kemudian sekarat, kemudian  dikuliti, kemudian dicincang, kemudian diiris, disate, disemur, dan apa  pun namanya. Dia tidak tahu-menahu sama sekali. Dia tidak tahu ini  adalah hari terakhirnya. Cuma dia mungkin merasa asing karena ada  makhluk lain yang ramai-ramai di sekelilingnya. Tujuh ekor domba juga  sama seperti itu. Mereka tidak tahu-menahu darahnya akan dialirkan hari  ini ke perut bumi. Mereka hanya memakan rumput liar di halaman masjid  itu. Kadang-kadang ada yang berkeliling mengitari pancung berusaha  melepaskan diri dari tambang yang mengikatnya. Tapi tambang itu begitu  kuatnya. Ada juga yang digoda anak-anak, kemudian dia mundur mengambil  ancang-angang hendak menanduk anak-anak tersebut. Mereka berhamburan  sambil tertawa. Ada juga yang sedikit cemas takut tambang pengikatnya  tiba-tiba saja putus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Tidak berapa lama kemudian beberapa orang  ahli penyembelihan mendekati kerbau yang asyik merumput. Dengan  hati-hati sekali, mereka mampu menggulingkan kerbau tersebut hingga  posisinya memudahkan untuk disembelih. Kerbau itu tak bisa berkutik  karena tambang telah meringkusnya. Dia tak berdaya sama sekali. Semakin  dia banyak bergerak semakin tambang itu meringkusnya. Tenaganya sia-sia  belaka. Dia meraung mencoba hendak berdiri. Tanduknya  dibanting-bantingkan sekenanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Seseorang maju ke depan. Rokok  yang sudah hampir menjadi puntung dibuangnya. Dia mencabut golok dari  sarungnya menantang cahaya matahari. Mata golok berkilauan. Rupanya dia  sang penjagal. Dengan golok terhunus dia mendekati makhluk yang sudah  tak berdaya itu. Seorang kiai siap memimpin doa. Si pemilik kerbau  menyaksikan di belakangnya. Orang-orang yang menyaksikan melingkar agak  jauh dari kerbau tersebut. Pandangan mereka terpusat pada leher kerbau.  Tapi ada juga yang miris melihat penyembelihan itu. Tambang yang  meringkus setiap kaki kerbau dipegang kuat-kuat oleh beberapa orang  lelaki muda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Penyembelihan dimulai setelah doa dibacakan. Golok  itu melukai tenggorokan sang kerbau. Darah mengalir deras mencium lubang  di bawahnya. Dari mulutnya keluar ngorok bercampur darah. Tubuh itu  meregang melepas nyawa. Kakinya kejang-kejang beberapa lama. Napas  terakhir habis. Kemudian sekarat, kemudian mati, kemudian dikuliti,  kemudian dicincang, kemudian ditimbang, kemudian dibagikan. Kepala dan  hatinya dipisahkan buat kiai. Pahanya buat ketua DKM. Pahanya yang satu  lagi buat pak kades. Kulitnya buat bedug yang semalam bolong  terus-terusan dipukul. Sisanya dibagikan buat mereka yang berhak  menerima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Domba-domba jantan itu pun tak jauh berbeda nasibnya  dengan kerbau tersebut. Lehernya dipenggal. Darah mereka mengalir  menciumi bumi. Kemudian dagingnya dibagi-bagikan. Kepalanya buat kiai  kampung tetangga. Buat bapak kepala dusun. Buat bapak ketua RT, bapak  pertahanan sipil, anggota DKM dan sesepuh kampung. Kakinya jadi rebutan.  Kulitnya dijual kepada tengkulak kulit yang beberapa hari sebelumnya  sudah memesan. Sebagian untuk dimasak waktu itu juga bagi yang bekerja  membantu penyembelihan. Sisanya dibagikan buat mereka yang membutuhkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Matahari  semakin meninggi. Siang semakin panas saja. Penyembelihan terakhir  adalah domba ketujuh. Orang-orang sudah kelelahan. Orang-orang yang  menyaksikan tidak sebanyak penyembelihan sebelumnya. Pak kiayi sudah  pegal mulutnya menghembuskan doa-doa. Sang penjagal sudah gonta-ganti.  Darah yang berceceran sudah mengental. Seseorang menuntun domba itu ke  lubang penyembelihan bekas kawan-kawannya. Domba ketujuh itu tidak  berontak sebagaimana domba sebelumnya. Dia pasrah. Ketika golok itu akan  menggorok lehernya, setelah doa dibacakan, saat setiap pasang mata  terpusat pada lehaernya, tiba-tiba dengan lantangnya domba ketujuh itu  bicara,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Sebentar, sebentar, sebelum golok ini menggorok leherku,  sebelum darahku jatuh ke tanah, sebelum nyawa ini melayang, sebelum  tubuh ini dikuliti, izinkan aku bicara dulu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kontan saja sang  penyembelih mundur beberapa langkah menabrak orang-orang yang ada di  belakangnya. Orang-orang di belakangnya menabrak orang-orang di  belakangnya pula. Orang-orang seragam dalam kekagetan. Orang yang  memegang tali pengikat kaki domba itu kabur tunggang-langgang. Matanya  terbelalak. Mulutnya ternganga. Tapi ada juga yang tetap diam terkena  sihir. Tak bergerak seperti patung kedinginan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Penyembelih itu  terkesiap. Goloknya terlepas hampir mengenai kakinya. Wajahnya  kehilangan darah. Dia hampir saja kabur kalau beberapa orang tidak  menceghnya. Napasnya sengal-sengal seperti baru saja dikejar setan.  Keringat sebesar biji-biji jagung keluar dari mukanya yang kehitaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Orang-orang  yang menyaksikan penyembelihan itu mematung. Mereka seperti kena  hipnotis. Mereka hampir tak percaya akan mata dan pendengarannya  masing-masing. Untuk beberapa saat mereka diam. Kemudian mereka saling  bertanya atas kejadian itu, dan kemudian mereka saling tidak tahu  jawabannya. Di antara mereka ada yang mengusulkan untuk membatalkan  pemyembelihan domba ketujuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Bagaimana kiyai, apakah  penyembelihan ini akan dilanjutkan?” Tanya seseorang di sampingnya yang  merupakan ketua DKM.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pertanyaan ketua DKM itu memecah keheningan  kiayi. Dia mengusap keringat di wajahnya beberapa kali dengan sorbannya.  Mulutnya mengucap istighfar. Tapi dia belum menjawab pertanyaan itu  seolah tidak tahu apa yang harus dikatakan dan dilakukan. Dia menghela  napas dalam-dalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Wahai manusia, kenapa kalian tampaknya  keheranan mendengarku bicara? Tidak ada yang luar biasa bagi-Nya. Aku  hanyalah seekor binatang yang sudah tak berdaya. Tak perlu diherani  apalagi ditakuti. Kejadian ini biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa.  Kalau mau disembelih, sembelihlah aku! Itu lebih baik bagiku. Tapi  sebelum itu, izinkan aku bicara barang sebentar”, kata domba ketujuh  dengan suara lantang dan jelas sehingga setiap telinga dapat  mendengarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Orang-orang masih diselimuti keheranan. Mereka  hanya mematung. Tak bergeming. Orang yang tadi kabur pontang-panting  datang kembali dengan orang yang ingin melihat penyembelihan itu.  Orang-orang masih saja diam. Hanya kiayi yang bicara. Dia mencoba untuk  tenang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Kalau kamu mau bicara, bicaralah! Kami bangsa manusia  akan memberikan kesempatan bagimu. Kami siap mendengarnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Baik,  baik,” kata domba ketujuh, kemudian berhenti sebentar. Tenggorokannya  seperti tersedak. “Tapi tolong, tambang yang mengikat leherku  dilonggarkan sedikit supaya aku leluasa bicara. Percayalah aku tidak  akan kabur. Aku tidak akan ngamuk. Kematian adalah hal yang biasa saja,”  katanya lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Beberapa orang dengan sigap, ragu-ragu  melonggarkan tambang pengikat leher domba ketujuh. Mereka sudah tidak  canggung lagi sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Begini, bangsa manusia,” kata domba  tersebut sambil tetap dalam posisi untuk disembelih. Sementara tubuh dan  keempat kakinya masih diringkus. “Sebelum napas terakhirku habis,  nyawaku hilang melayang-layang, darahku mencium bumi, tubuhku dikuliti,  dagingku dicincang diiris-iris kemudian kalian masak dengan berbagai  macam cara dan selera. Aku rela. Aku ikhlas. Karena itu garis takdir  yang dituliskan atas diriku. Tapi sebelum semua itu terjadi, aku punya  satu permohonan.’’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Jangan bertele-tele, wahai domba ketujuh.  Kalau boleh tahu, apa permohonan terakhirmu itu? Kalau kami mampu, kami  bisa mengabulkannya,” kata kiyai itu mulai agak akrab. Orang-orang yang  menyaksikan pun keheranannya sedikit mencair. Mereka memasang mata dan  telinga masing-masing seolah tidak ingin terlewatkan satu huruf pun atas  kata-kata domba ketujuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Begini bangsa manusia, sudah kukatakan  bahwa aku ikhlas seikhlas-ikhlasnya jika aku dijadikan qurban. Aku rela  leherku disembelih, darahku mambasahi bumi, tubuhku dikuliti, dagingku  dicincang, aku tidak akan menangis, keluargaku pun tidak akan bersedih  karena itu tidak akan berlaku dalam duniaku. Anak-anakku pun tidak akan  melakukan balas dendam karena kami tak mengenal itu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Lantas apa  maumu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Tapi aku dan kawan-kawanku tak rela sama sekali. Tak  rela.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Kamu tak mau disembelih?” tanya kiayi. “Kalau itu maumu,  kami bisa mempertimbangkannya.” Lanjut kiayi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Bukan itu  permasalahannya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Lantas?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Kenapa daging kawan-kawanku  dan mungkin juga aku bagian yang banyak hanya dinikmati oleh kiyai,  ketua DKM, kepala desa, kepala dusun, pak RT, pak pertahanan sipil dan  sesepuh kampung? Kenapa mereka yang didahulukan? Mereka itu orang yang  berada. Mampu membeli tanpa dibagi. Mereka sering makan daging.  Biarkanlah orang-orang miskin, anak-anak yatim, orang-orang jompo  menikmati daging lebih banyak saetahun sekali. Mereka jarang-jarang  makan daging.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kiayi itu merah mukanya. Kata-kata itu menohok  mukanya. Ketua DKM tertunduk. Orang-orang yang mendengar itu  berbisik-bisik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;“Sebelum kalian menyembelihku, sembelihlah  napsumu! Sembelihlah hasratmu. Potonglah kerakusanmu! Sembelihlah  keangkuhanmu. Penggaallah kesombonganmu. Potonglah keserakahanmu!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;"Kenapa  kalian bengong? Sembelihlah aku! Sembelihlahlah aku! Aku ingin segera  menghadap-Nya. Menyusul teman-temanku"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Semuanya diam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;"Baiklah  kalau kalian tidak mau menyebelihku, biarlah aku yang akan menyembelih  diriku sendiri, mencincang sendiri, dan biarlah aku membagikannya ke  faqir miskin, anak yatim, orang-orang jompo. Aku tidak mau merepotkan  kalian...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sukabumi, 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7011311355814966234?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7011311355814966234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7011311355814966234&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7011311355814966234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7011311355814966234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/11/domba-ketujuh.html' title='&quot;Domba Ketujuh&quot;'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-7343970632481649166</id><published>2010-11-16T10:45:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T10:51:24.636-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>Sahabat Lama yang Terlupa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Jumat pagi, 11 November 2010, peserta PKPS 8 digiring ke suatu tempat mirip pertunjukan teater. Peserta dipersilakan duduk di bangku memanjang setengah lingkaran yang terbuat dari dahan kayu. Di sana sudah tampak kang Heldi dan teh Ami, beberapa orang panitia dan seorang lelaki muda berambut ikal, berjenggot tebal; kang  M. Sya’dudin namanya. Dia pemateri kali ini yang akan menjelaskan bagamana cara survive di hutan, termasuk di hutan Lembang. Salah satu materinya adalah memperkenalkan tumbuhan yang layak dimakan dan beracun.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Lelaki yang murah senyum ini kemudian memperlihatkan beberapa tumbuhan. Kepada seluruh peserta, dia bertanya nama, sifat-sifat dan cara memanfaatkannya. Tapi sedikit sekali yang menjawab. Itu pun kadang salah. Peserta seolah diperkenalkan dengan benda asing. Tidak tahu begonia, honje, pinding, harendong, bongboretean, saliara, papandanan, bingbin, antanan, kisilet, cibeunying, korejat dan lain-lain. Padahal, dulu, tumbuhan itu begitu akrab dengan orang tua peserta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa terjadi demikian? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Manusia dalam pandangan Barat merupakan pusat kosmos. Cara pandang ini berasal dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;cogito ergo sum-nya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; Rene Descartes. Salah satu konsekuensi dari cara pandang ini menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki hak penuh atas alam. Kemudian menjadikan alam sebagai suatu yang mesti dieksploitasi. Konsekuensi lainnya, perusakan alam yang bisa menyebabkan bencana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Hal ini berbanding terbalik dengan dengan alam pikir Nusantara. Misalnya orang Timika, Papua, menganggap gunung adalah ibunya. Dan sungai-sungai mengalir adalah air susu ibu. Dengan demikian mereka sangat menghargai alam. Ketika Freeport menggasak hasil bumi, mereka bilang, “Kepala mama telah dipenggal.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Begitu pula orang Sunda zaman &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;baheula&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;. Mereka berpandangan, manusia dan alam sama-sama mikrokosmos. Dengan cara pandang ini, alam dijadikan sahabat, saling memelihara dan ketergantungan. Unus Suriawiria dalam bukunya “Urang Sunda dan Lalapan” memaparkan bahwa manusia Sunda begitu dekat dengan tumbuhan. Buktinya mereka senang dengan lalapan. Sebelum akrab dijadikan lalapan, tentu saja manusia Sunda melakukan penelitian dan uji coba apakah tumbuhan itu beracun atau tidak. Mencengangkan! Unus menginventarisir sekitar 120 tumbuhan yang biasa dijadikan lalapan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Lantas, apa hubungan antara cara pandang Barat dengan peserta PKPS yang asing dengan tumbuhan tersebut? Mungkin tidak ada hubungannya. Tapi alangkah lucunya, memperkenalkan kembali sahabat lama yang terlupa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lembang 11 November 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-7343970632481649166?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/7343970632481649166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=7343970632481649166&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7343970632481649166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/7343970632481649166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/11/sahabat-lama-yang-terlupa.html' title='Sahabat Lama yang Terlupa'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-3539889131492226778</id><published>2010-11-16T08:19:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T08:22:17.883-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><title type='text'>“PKPS 8: Melati dari Jayagiri”</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Melati dari Jayagiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Kuterawang keindahan kenangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Hari-hari lalu di mataku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Tatapan yang lembut dan penuh kasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Petikan jemari Abah Iwan lumayan menghangatkan aula Pusdikpasus tanpa dinding itu. Angin malam yang berhembus kencang dan kabut yang berkerumun ikut bersedekap menyimak. Lelaki yang penuh dedikasi dan kenyang pengalaman hidup sedang melantunkan Melati dari jayagiri. Lagu ini ditulis tahun 1967, kemudian dipopulerkan Bimbo tahun 1971. Peserta PKPS 8 yang diselenggarakan Gema Jabar takjub akan kelihaian petolan Wanadri, sebuhah kelompok pecinta alam tertua di Indonesia yang didirikan di Bandung, sekitar tahun 64. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Peserta semakin terbengong ketika diberitahu bahwa lagu Burung Camar yang dipopulerkan Vina Panduwinata juga adalah buah karyanya sendiri. Dia pun menyanyikan lagu itu. Sungguh sensasi luar biasa mendengar nyanyian dari penciptanya sendiri. Apalagi di malam dingin yang membacok tulang belakang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Di sela bernyanyi, Abah Iwan menunikil hasil penelitian T. Bachtiar bahwa Pusat Pelatihan Kopassus ini terletak pada letusan Gunung Prasunda atau Jayagiri setinggi empat ribu meter lebih. Gunung itu meletus pada 500.000-560.000 tahun yang lampau. Saat itu, lava yang panasnya mencapai seribu derajat Celsius mengalir ke lembah-lembah, salah satunya jalur yang dilalui Sungai Cibeureum. Abah Iwan kembali memetik senar:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Mentari kelak kan tenggelam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Gelap kan datang dingin mencekam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Harapanku bintang kan terang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Memberi sinar dalam hatiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Lagu ini bercerita tentang hidup yang suatu waktu gelap pasti akan datang. Tapi jangan sampai putus harapan. Kita berharap bintang akan bersinar. Demikian Lelaki berkepala plontos ini mengurai makna dari lagu yang ditulis di Jayagiri ini. Kemudian dia bercerita tentang persahabatan, cita-cita, dan lekuk garis hidup yang kadang tak terduga dan mencengangkan. Di usianya yang berkepala enam, dia telah mendaki berbagai gunung tertinggi di dunia. Menurutnya, Gunung Kilimanjaro di Afrika merupakan pencapaian yang mengesankan dan mengagumkan. Di gunung yang diabadikan Ernest Hemingway dalam novel Salju Kilimanjaro ini, dia menyanyiakan lagu Mentari sambil mendekap sang saka Merah Putih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Beberapa kali lelaki yang memiliki hobi berlatih silat sendirian di tepi danau, bernyanyi untuk ombak dan tebing, menegur peserta yang tidak konsentrasi. Menurutnya, calon pemimpin itu mesti bisa mendengarkan yang berbicara. Itu artinya, menghargai siapa pun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Kuingat di malam itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Kau beri daku &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Senyum kedamaian &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Mungkinkah akan tinggal kenangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Jawabnya tertiup di angin lalu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jayagiri, November 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-3539889131492226778?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/3539889131492226778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=3539889131492226778&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/3539889131492226778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/3539889131492226778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/11/pkps-8-melati-dari-jayagiri.html' title='“PKPS 8: Melati dari Jayagiri”'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-2229565481702599239</id><published>2010-11-13T17:51:00.000-08:00</published><updated>2010-11-13T17:55:37.639-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Membaca Lemah Cai'/><title type='text'>Menempa Kepemimpinan Pemuda Sunda: Berkaca Dari Carita Pantun</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Oleh Abdullah Alawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Beberapa hari lalu, kita telah memperingati hari Sumpah Pemuda yang sangat krusial pada zamannya. Sumpah ini kemudian menghasilkan tiga rumusan yang kemudian dikenal dengan sumpah pemuda, yaitu berbahasa satu, bahasa Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan bertanah air satu, tanah air Indonesia. Sejarah membuktikan, bahwa Sumpah Pemuda sebagai tonggak perjuangan pergerakan kemerdekaan secara nasional. Sebelumnya, perjuangan bersiafat kedaerahan, riak pergerakan yang mudah ditekuk Belanda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Namun, setelah 80 tahun Sumpah Pemuda, negara ini, setidaknya menurut Yudi Latif, seolah ada keluhan panjang tentang kemacetan regenerasi kepemiminan di tingkat nasional, seolah-olah bangsa kita bukan lagi tempat persemaian yang subur bagi perkembangan talenta-telenta muda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Yudi kemudian melanjutkan, Indonesia harus mengalami kembali sutu proses “creatif destruction”, lewat kepemimpinan kaum muda. Kaum muda dituntut merobohkan kelaziman politik yang merasionalisasikan kepentingan individual untuk dibayar oleh irasionalitas kehidupan kolektif. Politik harus kembali ditempatkan sebagai usaha resolusi atas problem-problem kolektif dengan pemenuhan kebijakan kolektif. Hanya dengan memuliakan potensi kreatif pemudalah, Indonesia bisa meraih kembali marwah kehormatannya di pentas dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dari pernyataan tersebut, timbul pertanyaan bagaimana regenerasi pemuda dalam budaya Sunda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Saya tidak berkompeten dalam menjawab pertanyaan berat ini. Tapi setidaknya, hal ini bisa dicari dari khazanah kebudayaan Sunda sendiri. Salah satunya bersumber dalam carita pantun Sunda. Meski hal ini hal ini sudah lewat dan terlupakan, dan oleh sebagian orang Sunda sendiri dianggap sebagai hal yang tidak perlu. Hal ini wajar, karena memang carita pantun bukan sejarah faktual menurut sejarah konvensional, tapi lebih kepada etika, yaitu ajaran mengenai apa yang sepantasnya dan sebaiknya dipakai seseorang dalam cara pandang nenek moyang kita. Dan anak cucunya, kita mengkajinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Menurut Bambang Q. Anees, jika kita menelusur naskah-naskah Sunda Buhun, kita akan menemukan peran pemuda. Kita akan menemukan sosok Guru Minda dalam Wawacan Lutung Kasarung, Sangkuriang, Ciung Wanara, Mundinglaya Dikusumah, dan Guru Gantangn, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dalam hal ini, penulis akan mengambil contoh dua carita pantun, yaitu sosok Guru Minda dalam Wawacan Lutung Kasarung, dan Mundinglaya Dikusumah dalam Wawacan Mundinglaya Dikusumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Penempaan Pemuda dalam Dua Carita Pantun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Cerita pantun atau lakon pantun, yaitu ceita yang biasa dilakonkan oleh jurupantun dalam pergelaran ruatan (ritual) yang disebut mantun. Di dalam pergelaran pantun ada bagian yang diceritakan, dan ada bagian yang ditembangkan sambil diiringi petikan kecapi. Cerita pantun lahir sebelum abad ke- 14 karena dalam Cerita Pantun Ciung Wanara dikisahkan Kerajaan Galuh dan dalam Cerita Pantun Lutung Kasarung dikisahkan Kerajaan Pasir Batang. Kedua kerajaan tersebut jauh telah hadir sebelum Kerajaan Pajajaran berdiri. Bukti tertulis adanya cerita pantun adalah Naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1440 Saka, 1518 Masehi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Di dalam naskah tersebut dijelaskan ada empat judul cerita pantun, yaitu Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, dan Haturwangi. Struktur atau susunan cerita pantun itu terdiri atas rajah, ada bagian yang diceritakan, ada bagian yang didialogkan, dan ada bagian yang ditembangkan. Cerita pantun diawali oleh rajah pembuka --- mangkat cerita --- mendeskripsikan kerajaan dan tokoh-tokoh sentral yang dilakonkan --- ditutup oleh rajah penutup atau rajah pamunah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dalam tulisan ini, penulis memilih dua sosok pemuda dalam carita pantun Lutung Kasarung dan Mundinglaya Dikusumah. Berikut ringkasan kedua carita pantun tersebut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Carita pantun Lutung Kasarung (artinya Lutung yang Tersesat) adalah cerita pantun yang mengisahkan legenda masyarakat Sunda tentang perjalanan Sanghyang Guruminda dari Kahyangan yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (Bumi) dalam wujud seekor lutung (sejenis monyet). Dalam perjalanannya di Bumi, sang lutung bertemu dengan putri Purbasari Ayuwangi yang diusir oleh saudaranya yang pendengki, Purbararang. Lutung Kasarung adalah seekor mahkluk yang buruk rupa. Pada akhirnya ia berubah menjadi pangeran dan mengawini Purbasari, dan mereka memerintah Kerajaan Pasir Batang dan Kerajaan Cupu Mandala Ayu bersama-sama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sedangkan carita pantun “Mundinglaya Dikusumah mengisahkan perjalanan pemuda Mundinglaya untuk mengambil jimat layang salaka domas, yang diperlukan untuk mencegah negara dari kehancuran akibat malapetaka. Dengan berserah diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa, sang pangeran pergi melewati berbagai hutan lebat untuk menemukan Jabaning Langit dan bertemu dengan para guriang. Dalam perjalanan, pangeran Mundinglaya melewati kerajaan kecil Muara Beres (atau Tanjung Barat) yang merupakan bawahan dari Pajajaran. Disana pangeran Mundinglaya bertemu dan jatuh hati dengan putri kerajaan yang bernama Dewi Kania atau Dewi Kinawati. Perjalanan pun dilanjutkan, tapi dia mesti menghadapi hambatan raksasa Janggrang Kalapitung. Tapi akhirnya, Mundinglaya bisa membawa jimat layang salaka domas. Kemudian dia menjadi pemimpin menggantikan ayahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Karya sastra lama mengandung berbagai pelajaran, petuah, dan nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini. Salah satu nilai yang terkandung dalam naskah-naskah kuno tersebut adalah nilai kepemimpinan. Dalam kedua carita pantun ini terlihat ada kekacauan dan ketidakadilan. Di pantun Lutung Kasarung, ada ketidakadilan di negara Pasir Batang yaitu, Purbasari sebagai pemegang tahta direbut semena-mena oleh Purbararang. Sedangkan dalam Mundinglaya Dikusumah ada kekacauan di negeri Pajajaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dalam situasi seperti ini, tampilah sosok pemuda yang sedang mangkat birahi, yaitu Guru Minda yang menyukai perempuan mirip ibunya. Dan Mundinglaya Dikusumah yang menyukai Dewi Kania atau Dewi Kinawati. Perasaan suka ini tertunda disebabkan menjalankan tugas. Akan tetapi, keduanya harus mengalami penderitaan. Guru Minda harus berubah terlebih dahulu menjadi lutung, sedangkan Mundinglaya harus bertempur Janggrang Kalapitung. Kemudian di ujung cerita kedua oang pemuda ini bisa menjalankan tugas dan mencapai impiannya, kemudian menjadi pemimpin yang adil makmur gemah ripah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dari dua carita pantun ini, terlihat bahwa calon-calon pemimpin itu mesti ditempa dengan berbagai perjalanan cobaan yang berbahaya, penderitaan, perlakuan tidak adil, dan lain-lain. Dalam perjalanan ini sosok pemuda bisa mengasah daya pikir dan pengalaman yang kelak akan berguna. Di samping itu, sosok orang tua adalah memberi kepercayaan, penunjuk dan pendukung. Dalam Lutung Kasarung, Sunan Ambu memberikan petunjuk bahwa perempuan yang dicari Guru Minda ada di Pasir Batang. Sedangkan dalam Mundinglaya Dikusumah, memperlihatkan sosok orang tua yang memberi kepercayaan penuh pada pemuda. Terakhir, memohon pertolongan padaYang Maha Kuasa, tempat manusia bersimpuh berserah diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dengan berkaca terhadap sosok pemuda pada carita pantun ini, sepertinya bangsa Indonesia, khususnya Sunda, yang menurut Yudi bermasalah dalam regenerasi, tentu bisa diatasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ciputat, Oktober 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4928256999003814579-2229565481702599239?l=abdullahalawi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/feeds/2229565481702599239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4928256999003814579&amp;postID=2229565481702599239&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2229565481702599239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4928256999003814579/posts/default/2229565481702599239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdullahalawi.blogspot.com/2010/11/menempa-kepemimpinan-pemuda-sunda.html' title='Menempa Kepemimpinan Pemuda Sunda: Berkaca Dari Carita Pantun'/><author><name>Abdullah Alawi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17264972694031302649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_xbK4HwMZlsU/TUcFqZhoGDI/AAAAAAAAACg/C95zx0O5krU/s220/abh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4928256999003814579.post-2239086021984570139</id><published>2010-10-31T14:53:00.000-07:00</published><updated>2010-10-31T14:58:37.343-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah'/><title type='text'>Perempuan Dinarasikan, Ditafsirkan, Ditindas</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Abdullah Alawi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Quran, perempuan dinarasikan, setidaknya, dalam dua narasi. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;konseptualisasi yang berwatak kesetaraan. Hal demikian biasanya disinggung dalam ayat yang menyangkut hal-hal umum, misalnya ibadah, identitas kemanusiaan, kejadian manusia, keadilan, dan sebagainya.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; konseptualisasi yang bersifat ketidaksetaraan. Hal ini biasanya disinggung oleh ayat-ayat yang berkaitan dengan hal-hal khusus seperti kehidupan rumah tangga, perkawinan, dan sebagainya.  Begitu pula narasi perempuan dalam hadis Nabi dan qaul ulama. Ada narasi kesetaraan dan sebaliknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Implikasi dari narasi yang kedua adalah munculnya rasa takut dan berdosa bagi kaum wanita apabila ingin menggugat atau menolak penafsiran atas dirinya. Akibatnya mereka menerima kenyataan diskriminatif, bahwa laki-laki serba lebih dari perempuan, adalah makhluk lemah karena tericpata dari tulang rusuk yang bengkok, wanita separuh harga laki-laki, wanita boleh diperisteri empat, wanita tak boleh jadi pemimpin negara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa hal itu bisa terjadi? Dan bagaimanakah cara menghapuskannya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Untuk menjawab pertanyaan pertama, penulis mengutip Husein Muhammad. Menurutnya, ada sejumlah kemungkinan yang menyebabkan mengapa terjadi tindak kekerasan terhadap perempuan dengan legitimasi agama.&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Pertama,&lt;/span&gt; terjadi kekeliruan dalam menginterpretasikan teks-teks keagamaan.  Kemudian dengan mudah membuat kesimpulan bahwa laki-laki menurut Tuhan ditakdirkan sebagai pemimpin, penguasa, pengendali atau  pendidik perempuan, sebaliknya perempuan diposisikan  sebagai yang dipimpin, dikuasai, dikendalikan atau dididik.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; cara penafsiran teks yang dilakukan secara partikulatif; penafsiran secara sepotong-potong, tidak utuh literalistik (mengartikannya  secara  harfyah)  dan  tanpa  mengaitkannya  dengan  ayat  lain, keterangan lain.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; boleh jadi karena didasarkan pada hadis-hadis yang lemah dan palsu. Dua yang pertama dari kemungkinan-kemungkinan ini pada akhirnya bermuara pada satu hal, yaitu cara penafsiran tidak menempatkan teks-teks itu pada setting sosio-kultural dimana dan kapan ia diturunkan. Sedangkan kemungkinan terakhir merupakan cara penafsiran dengan memanipulasi hadis-hadis Nabi untuk kepentingan-kepentingan tertentu.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sementara jawaban pertanyaan kedua, untuk membebaskan Islam dari patriarkhisme, kita harus bisa membedakan mana agama dan pemikiran agama.  Sebab, kadang kita tidak bisa membedakan mana yang agama dan mana yang pemikiran keagamaan. Padahal banyak hal yang selama ini dianggap agama ternyata pemikiran keagamaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Bukti dari itu semua kita sering memiliki tafsir yang berbeda dalam mendekati teks yang sama. Ini dikaenakana kita memiliki pandangan yang berbeda atas sumber-sumber agama kita.  Menurut Syafiq,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-style: italic;"&gt;“Meskipun kita membaca al-Quran dan hadis yang sama, namun tidak ada jaminan bahwa kita akan menghasilkan tafsir dan pengertian yang sama. Dalam membaca (menafsirkan) sebuah teks seorang pembaca tidak hanya dibebani oleh kesadaran keimanan, tetapi juga dibebani juga oleh kesadaran lain seperti kesadaran politik, kesadaran sejarah, dan kesadaran jenis kelamin: bahwa kesadaran jenis kelamin laki-laki akan menghasilkan bacaan yang berbeda dengan kesadaran jenis kelamin perempuan. Karena itu, posisi sumber tekstual Islam yaitu al-Quran dan hadis berada pada posisi yang diperebutkan oleh banyak pembacanya.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Munculnya pemahaman yang berbeda ini dipengaruhi banyak pertimbangan. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;subyektivisme individual, misalnya jenis kelamin.  Seseorang dalam membaca sumber Islam sebagai teks keagamaan akan dipengaruhi oleh hal-hal subyektif yang ada dalam diri seseorang tersebut. Subyektivisme ini bukan faktor tunggal, namun ia mengait dengan kemungkinan untuk ditafsirkan sesuai dengan subyektivisme individual tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: 
